Nama ayah saya (Almarhum) Mathias Soegijono, lahir di Jogja, keturunan ketiga dari Pakualaman dari garwa selir, didalam darah ayah mengalir setitik kecil darah biru. Ayah lebih dikenal oleh masyarakat kota Pati, kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, dengan nama Pak Giek.
Ayah adalah alumni Sekolah Guru zaman Belanda namanya : Normaalschool di Muntilan, kota kecil yang terletak diantara Magelang dan Jogjakarta. Sekolah guru dengan sistim asrama ini didirikan tahun 1904 oleh Pastor Gregorius Yosephus Van Lith SJ. Alumni dari Perguruan Van Lith dikenal sebagai kelompok orang-orang katholiek generasi pertama di pulau Jawa dan guru-guru yang handal. Sebagian dari lulusan Van Lith Muntilan beralih profesi dari guru menjadi politikus, pegawai negeri dan pengusaha dan umumnya sukses antara lain Frans Seda, Doeriat, Kasimo.
Sekolah Guru Van Lith itu gedungnya di Muntilan masih kokoh berdiri dan sekarang menjadi Kampus SMU Pangudi Luhur Van Lith, dengan asrama putra yang dapat menampung 100 murid dan asrama putri 40 orang. Prestasi SMU Pangudi Luhur sangat hebat, setiap tahun mengikuti lomba dan selalu menang. Berbagai macam Lomba Science seperti Kimia, Fisika dan Matematika. Juara lomba berdebat dalam bahasa Inggris di Sanata Dharma. Juara lomba mendesign website dan drumband se Jawa Tengah. Hal itu dimungkinkan karena fasilitas fisik dari kampus lengkap sekali. Disitu ada laboratorium kimia, fisika, botani, bahasa Inggris dan komputer yang dikelola dengan benar dan apik. Sistim pendidikan betul2 sangat diperhatikan untuk membina anak2 dengan guru2 pembimbing yang bagus2 dan berdedikasi tinggi.
Setelah ayah lulus Sekolah Guru di Muntilan, sekitar tahun 1939an, ayah melanjutkan pendidikannya ke kota Maastricht di Negeri Belanda selama hampir 3 tahun. Ayah kembali ke Indonesia tahun 1941 dan langsung memilih kota Pati sebagai kota dimana ayah mengabdi sebagai guru. Menurut mantan murid ayah, gaya ayah saya waktu itu sangat elegan dan perlente. Pakain dinasnya adalah celana putih, berdasi, berjas putih dan bertopi model Vietnam warna krem. Kendaraan ayah waktu itu sepeda, merknya Fongers buatan Belanda. Di Pati ayah dikenal dengan nama Meneer Soegijono. Banyak gadis2 Pati yang jatuh hati dengan pemuda Soegijono.
Ibu saya bernama Sri Jahjoe kelahiran desa Bakaran, Juana, lulusan Kweekschool, sekolah untuk guru SR, dari Salatiga. Ibu lebih dikenal dengan nama bu Giek.
Ayah jatuh cinta kepada ibu, ketika ibu mengikuti kursus bahasa Belanda yang dipimpin ayah. Ini artinya guru mencintai muridnya sendiri. Dan lahirlah 12 orang anak dari rahim beliau. Saya putra ke-2 dari 12 orang.
Ayah dan Ibu adalah pendidik sejati, beliau berdua alumni sekolah guru yang terkenal saat itu dan membaktikan seluruh hidupnya sebagai guru sekolah. Foto disini. (bersambung)

keluarga muda Soegijono
Tags: anak guru, van lith, muntilan, pati, jawa tengah, katholik, sugijopranoto, frans seda