Di dunia ini konon ada dua hewan yang berumur panjang, yaitu burung bangau dan kura-kura. Keduanya bisa hidup hingga ratusan tahun. Padahal, beberapa kaisar di Cina dulu cuma bisa hidup sampai usia 50 tahunan.
Seorang Kaisar lalu memanggil seorang tabib untuk mencari tahu rahasia di balik umur panjang kedua hewan itu. Rahasia itu akhirnya dibongkar. Berdasarkan kajian si tabib, rahasianya ada pada gerakan kaki (seperti kesimbangan kaki burung bangau) dan putaran leher (kura-kura saat berjalan). Kedua gerakan itulah yang diadopsi dalam olah tubuh ala taichi.
Taichi adalah olah tubuh warisan kuno Cina yang mengutamakan gerakan lemah gemulai dan anggun, napas yang dalam, dan konsentrasi mental untuk mendapatkan harmoni antara badan dan jiwa.
Karena taichi adalah aktivitas yang tidak keras, maka taichi sangat dianjurkan bagi manula yang sedang mengalami penurunan kesehatan atau persoalan fisik lainnya. Taichi juga olahraga yang mudah dilakukan di mana saja, tidak memerlukan peralatan khusus, dan bisa dilakukan kapan saja.
Sejumlah penelitian telah menunjukkan manfaat taichi bagi para warga senior, antara lain menurunkan tekanan darah, mengurangi kekakuan sendi, serta mengurangi lemak tubuh.
Guru Tai Chi saya bernama Ibu Tjandra Herawati Widjaja, umurnya 81 tahun. Masih lincah, gerakan tai chinya luwes, jalannya tegap dan kalau mengajar distage masih bagus. Kegiatan olah raga tai chi sudah dijalani bu Tjandra selama 25 tahun.
Guru Tai Chi yang kedua adalah Mr. Hu Xiao fei, dari beijing. Dia ngajarin Tai Chi 8 gaya selama satu hari. Semua gerakan taichi ada tujuan. Ada organ tubuh yang dilatih agar sehat dan bebas dari penyakit.


“Taichi membuat fisik saya lebih sehat dan lebih kuat” kata ibu yang langsing dan bersemangat yang memang masih terlihat bugar dan tegap ini. Dengan kedisplinan tinggi dalam melakukan olahraga pernapasan itu, ibu Tjandra mampu bertahan dari hari ke hari, meski sudah berumur 81 tahun. Ibu Tjandra yang pernah sukses membawa timnya dari Jakarta merebut kejuaraan dunia 3 kali perlombaan Tai Chi,di Beijing 2009, di Seoul dan di Singapore tahun yang sama.
Ibu Tjandra menjelaskan bahwa gerakan ringan Tai Chi Cuan dengan menggerak-gerakkan tangan, menepuk-nepuk punggung tangan dengan telapak tangan yang lain, dan menepuk bahu semua ada manfaatnya.
“Gerakan-gerakan seperti itu bertujuan untuk menghidupkan saraf-saraf yang masih tertidur”, demikian kata wanita berusia 80 tahun yang masih tampak bugar dan energik. Olahraga tai chi menekankan pada pernafasan yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, antara lain mencegah stroke, mencegah kepikunan.
Awam akan melihat taichi seperti tarian yang indah, dengan gerakan yang lambat, mengalir dan tak berkeputusan. Namun justru dalam kelembutannya tersembunyi tenaga yang kuat. “Kalau habis berlatih badan bisa basah oleh keringat karena gerakan taichi banyak yang bertumpu pada lutut,” papar ibu Tjandra.
Taichi menekankan pernapasan perut yang dalam, sehingga paru-paru terpakai maksimal dibandingkan pernapasan dada pada umumnya. Dengan latihan Taichi yang teratur akan meningkatkan detak jantung sehingga bisa membantu kesehatan jantung dan paru. Selain paru-paru dan jantung, taichi pun dapat menyehatkan ginjal, memperkuat otot dikaki dan semua persendian. Darah mengalir dengan lancar.
Walaupun gerakan lambat, sebenarnya siapa pun boleh melakukan taichi. Satu kali latihan perlu satu jam, yang terdiri dari 20 menit pemanasan, 20 menit latihan taichi, dan 20 menit pendinginan sambil melepaskan sisa tenaga dalam. Berkeringat dan badan berasa bugar. Saya lakukan 3 kali seminggu kadang empat kali seminggu. Kalau tertarik, bergabunglah latihan porpi dan taichi chuan setiap hari di Senayan Pintu 9, dari jam 06 pagi dan selesai jam 07.