Di Indonesia pemakaian terbanyak metanol adalah pada industri formaldehyde dan produk turunannya seperti urea formaldehyde, phenol formaldehyde, dan melamine formaldehyde (adhesive resin).
Sampai 1997, Indonesia hanya memiliki satu kilang methanol yaitu Kilang Methanol Bunyu (kapasitas 330.000MT/th) milik Pertamina. Distributor tunggal metanol adalah Humpuss. Dan baru tahun 1997 ada tambahan kilang metanol milik PT Kaltim Methanol Industry (KMI) di Bontang Kalimantan Timur (kapasitas 660.000MT/th), yang dibangun Nisho Iwai dan Humpuss. Total kapasitas produksi 990.000 ton per tahun.
Maret tahun 2009, kegiatan produksi Kilang Methanol Bunyu (KMB) yang dikelola anak perusahan PT Medco Energi Internasional tbk, PT Medco Methanol Bunyu dihentikan karena minimnya pasokan gas.
KMI menggunakan gas alam dari Badak Gas Field Cenetr sebagai bahan baku yang dipasok oleh perusahaan production sharing Pertamina, yaitu Total Fina Elf Indonesie, Vico Indonesia dan Chevron. Gas alam pertama kali di alirkan pada tanggal 23 Januari 1997 dan dilanjutkan dengan plant commissioning, kemudian start up pada tanggal 31 Maret 1997.
Pemakai terbesar methanol adalah industri formaldehyde, acetic acid, MTBE dan industri lain yang menggunakan methanol sebagai bahan baku.
Untuk Indonesia, 80% pembeli methanol adalah industri formaldehyde yang menghasilkan adhesives untuk plywood dan industri wood processing lainnya. Formaldehyde ini menjadi bahan baku untuk main raw material untuk adhesive, seperti UF (Urea Formaldehyde adhesive), MUF (Melamine Formaldehyde adhesive) and PF (Phenol Formaldehyde adhesive), masing-masing dipakai untuk pabrik-pabrik plywood, particle board and MDF. Industri plywood ditahun 1980 sampai 1999 berkembang sangat pesat sekali. Kebutuhan methanol pun ikut berkembang, karena produksi di Bunyu milik Pertamina terbatas maka dibangunlah kilang methanol kedua oleh NishoIwai dan Humpuss.
Produksi dari PT. Kaltim Methanol Industri telah dipasarkan berbagai wilayah Indonesia maupun luar negeri. Untuk pemasaran luar negeri dilakukan oleh Sojitz Corporation sebesar 70% (480.000 MT) dan sisanya 30% (180.000 MT) untuk wilayah Indonesia oleh PT. Humpuss Trading.
Sekarang ini market share Indonesian untuk kebutuhan dunia akan tropical hardwood plywood masih cukup tingi yakni sekitar 70%. Total plywood exports dari Indonesia bernilai sekitar US$ 4 milyar per annum atau 12.25% dari total value of Indonesia’s non-oil/gas foreign exchange earnings. Industri Plywood di Indonesia masih mampu menyediakan lapangan pekerjaan sekitar 16 juta disemua lini mulai hulu sampai hilir, dan diseluruh tanah air Indonesia.
Harga adhesive terus naik, mengikuti harga methanol yang costnya juga ikut naik. Sebagai contoh harga methanol CIF di Jepang naik dari USD 332 (Sep 2010) ke USD 490(Nov 2010) naik lagi ke USD 500 (dec 2010).Mengakibakan harga plywood, MDF dan Laminated Lumber ikut naik, kira-kira YEN 3.5 sampai Yen 4, untuk setiap Yen 10 kenaikan methanol.
Humpuss Trading sebagai distributor metanol di Indonesia yang lama dan besar, maka kami selalu mendapat undangan untuk mengikuti international methanol conference yang diadakan setiap tahun satu kali. Tempatnya berganti ganti, sekali di Asia dan tahun berikutnya di Eropa atau di USA. Network dari HT dapat bertambah dari conferenec tersebut. Para manufacturer methanol akan bertemu dengan distributor dan trader yang berkelas internasional. (bersambung)
