Realino (x) Mencuri makanan romo romo

Balada tengah malam di Realino. Apa itu ?

Tiga orang romo-romo Realino memprotes kepada bruder Wrekso, mengapa makanan di refter untuk romo romo tidak pernah komplit. Selalu berkurang. Sosis cepat habis, keju cepat habis, roti pun cepat habis, buah juga cepat habis “Apa banyak tikus disini” tanya romo Stolk pada suatu hari. Bruder Wrekso yang bertanggung jawab atas makanan pun membatin “Apa ada tikus ya ?”

“Hei ..bruderr .. apa… ituu.. bruder tidak sediakan ituu .. roti .. en .. ituu buaah .. buat .. ituu romo .. romo .. ?” tanya Romo Stolk. “Sudah romo sudah komplit” jawab bruder ..Sekarang bruder Wrekso yang terpekur karena disentil oleh romo pimpinan asrama kalau kerjanya tidak beres. “Kurang ajar tenann .. aku yang kena marah romo..Siapa yaaa.. tikus..tikus ..yang suka ngambil makanan di refter romo….”

Maka malam itu jam 23:00 diam-diam bruder Wrekso mengintip dari kandang skuter romo yang berjarak hanya 5 meter dari pintu refter, dan sengaja lampunya semua dimatiin. :”Biar kuintip dari sini.. siapa yang tengah malam masuk ke refter romo yang memang tidak pernah dikunci.”

Dan memang betul, sekitar jam 0200 tengah malam ada 3 anak Realino mengendap-ngendap masuk ke refter romo-romo. “.Waah enak ya rotinya .. buahnya segarr .. enak .. ” Sementara itu bruder Wrekso gemetar karena sudah siap menangkap anak Realino yang kelaparan itu.. tapi beliau takut juga ..

Akhirnya sambil menyalakan lampu garasi motor dan lampu didepan pintu masuk refter, bruder Wrekso berteriak keras sekali : Maliiiing ..maliiing .. ono .. maliing ..

Seketika ketiga anak lari keluar dari refter, tapi dihadang bruder yang ketakutan jadi sama-sama ketakutan.

Sementara itu penghuni vila selatan bangun dan bertanya-tanya : “mas .. ada maling .. bangun . mas” . kata anak-anak membangunkan penghuni kamar disebelah .. Sambil membawa apa adanya ada yang penggaris panjang, ada yang gantungan baju, pentungan para penghuni vila selatan turun dari lantai dua dan berkumpul didepan refter. Melihat bruder Wrekso tergeletak dilantai, mereka bertanya :” Mana malingnya bruder ?? ….

” Maluuu .. akuu .. maluuu .. aku.. Ooh mereka tak punya kemaluan .. maluuu.. aku..” kata bruder.

“Sialan .. kiraiin maling beneran, enggak tahunya temen sendiri .. ”

Akhir cerita, setiap tahun di Realino selalu ada generasi2 baru yang menjadi maling tradisionil ..ngelayap ditengah malam ..bergerilya masuk kerefter romo .. ambil buah .. ambil roti .. untuk sekedar pengganjal perut ditengah malam.. (bersambung)

dokter andhy hendrawan (d/h tjiu hok an),

dokter andhy hendrawan (d/h tjiu hok an),

komentar mas Tjiu Hok An (dokter Andhy) :

Dik GS, tahun berapa ya kejadian itu? Karena terus terang saja, saya juga pernah jadi malingnya. Sama teman2 bertiga, atau berempat. 2 orang jaga lingkungan dan 2 orang masuk ( satu didepan refter romo dan satu masuk). Waktu saya itu, memang ketahuan, tapi kebetulan saya jaga lingkungan , didepan kapel, jadi tidak ketahuan. Waktu itu, yang ketahuan masuk refternya, dikeluarkan dari asrama oleh romo Stolk (siapa ? aku dah lupa, otak dah error). Kok anda tau juga ya, mengenai balada tengah malam. Aku kira para Forsino-wan gak ada yang tahu, jadi saya diam2 saja, he he he. Memang lama2 keterlaluan, jadi konangan. Ada roti bantal satu, disikat semua. Ada sop sa basi, coklat, disikat semua. Sopnya enak lho, sop LONDO, sing kental, nganggo sosis. Awake dewe, sampai bongkok ning Realino, ora bakal menangi sop seperti itu, he he he. Paling disisakan sedikit untuk romo Blot, karena beliau yang makannya paling larut malam. Tapi kalau roti dan buah, lama kelamaan disikat semua, jadi bikin curiga. Memang orang itu kadang2 terlalu serakah. Kalau ga konanga, yo semakin parah. Maapin. (Hok An)

.

21 Agustus 2012. Pengakuan dari dokter Wini, dan gengnya (Djauhari- Dubes RI untuk Rusia dan Elias Ginting- Dubes RI untuk Finlandia)………..

.

Romo Bolsius Yang saya hormati dan sayangi,
Alamat e-mail saya yang lain, .

.

. wini_57@yahoo.com
Terimakasih banyak, romo masih mau terlibat, masih mau mendidik saya sampai hari ini, lewat mail-list Forsino.
Ngomong-ngomong, maaf sekali lagi (terakhir bertemu romo di Jakarta, saya sudah minta maaf lho), karena dulu sewaktu di asrama Realino, saya sering mencuri makanan di refter romo. Itu tidak lain karena pengaruh buruk dari Elias Ginting dan Djauhari Oratmangun. Saya sendiri sebenarnya orang baik-baik yang maunya sih mentaati 10 perintah Allah (jangan mencuri)….hehehehe…
Tapi Tuhan berkehendak lain (yang saya tidak mengerti), Elias dan Djauhari sekarang bisa jadi Duta Besar….. sedangkan saya yang relatif lebih baik dari mereka, hanya menjadi dokter jiwa.
Masih terbayang dalam ingatan saya, ketika sering kita bertiga mencuri di refter romo. Secara bergiliran 1 orang menjaga di selatan, 1 orang menjaga di utara, 1 orang masuk refter romo untuk mencuri.

Elias Ginting dan Djauhari Oratmangun

Pada giliran Djauhari dan Elias yang masuk refter, mereka membuka kulkas romo dan meminum air dingin di botol. Ternyata yang diminum “wine”….. Ketika mereka keluar, saya bingung karena mereka sempoyongan mau jatuh karena mabuk…hehehehe…
Kalau saya giliran masuk, yang paling saya suka adalah mencuri “oseng-oseng hati sapi masak kecap” dan ayam goreng. Kemudian dimakan di WC, tulang-tulangnya dilempar ke luar jendela……
Mohon ampuni saya romo…. saya sudah mengaku dosa…saya kepingin masuk surga. Kalau Elias dan Djauhari memang sudah bakatnya, tidak ada penyesalan, jadi biarkan mereka masuk “api pencucian” dulu….hihihihi….
Sekedar selingan, agar tidak tegang terus…..
(dokter Wini – RS Jiwa Malang)

.

Temans, saya dokter Eko Rahardjo, sekarang di Calgary, pernah mencuri di refter Romo :

Hahahaha… soal pencurian makanan di refter Romo memang masalah warga yang kronis. Sesungguhnya menurut KUHR (Kitab UU Hukum Realino) ini adalah termasuk salah satu dari “the Seven Capital Sins”. Perkara ini pernah hampir menyebabkan perpecahan persahabatan diantara Romo-Romo pimpinan. Romo Bolsius curiga bahwa Romo Stolk suka ngantongi Swiss cheese yang berlobang-lobang itu, sementara Romo Stolk mengira Romo Suaso suka minum Jesuit wine terlalu banyak, sedangkan Romo Suaso sudah lama mensinyalir Romo Bolsius suka bawa roasted beef ke kamarnya. Untunglah akhirnya ketiga Romo SJ tsb sepakat untuk menuduh Bruder yang di wisma Realino (yang suka tersenyum dan rambutnya berombak pakai pomade) hahaha…. Oleh karena pengorbanan Bruder tsb Forsino sekarang punya 2 Dubes dan 1 Dokter Jiwa. Saya kira Mas Wini, Bang Elias dan Bang Djau perlu menemui Bruder yang baik hati tsb untuk minta maaf sebab siapa tahu beliau sampai sekarang masih dipersalahkan hahaha….
Salam,
Eko Raharjo’78 (Calgary Canada)

.

Dulurs, saya Djauhari nyong Ambon, sekarang Dubes di Moscow, saya pernah mencuri makanan Romo.
.

Semua yang terlibat diskusi harus berterima kasih sama Eko, karena berkat dialah Romo Bolsius turun gunung dan Wini ngaku dosa…..he he he.
Wini, kalau ngaku dosa jangan bawa yang lain dong. Setahu saya jam ini orang ambon sudah bisa clooning, jadinya yang dihipnotois Wini itu clooning dari Ambon. He he he he
.

Sejujurnya….kami semua senang mendengar berita dari romo, karena itu sang ahli jiwa coba mengungkit ungkin masa lalu. Entah maksudnya apa, mungkin sudah kehabisan akal sama pasien jadi “kreatifitas” masa lalu dianalisa.
Karena itu secara sadar, saya juga meminta maaf utk mai bertiga, pertama utk calon ahli jiwa, wini, kedua, korban calon ahli jiwa, korban wini, dan ketiga “hasil clooning” dari ambon, ya saya sendiri, sembari berdoa pada Tuhan YME agar Romo tetap sehat selalu dan diberikan usia yang panjang.
01 CIMG0932.

Dulu (1978) Djauhari pernah mencuri makanan di refter Romo-romo di Realino. Sekarang (2012) Duta Besar RI Berkuasa Penuh di Rusia Moskow. Luar biasa.

.

Sekarang kami sudah sadar semua sehingga, bersama sama Felix sedang atur strategi agar Labuhan Marpaung bisa segera punya pasangan lagi.
.

Salam hangat dari Moscow,
Djauhari (Dubes RI untuk Rusia)

.

PS. Sejak dulu penerawangan calon ahli jiwa sdh mengakui bahwa kami berdua akan jadi duta besar, jadinya dia sejak dulu baik sekali sama kami berdua.
He he he. Pizzzz Wini……… (Djauhari)

Reuni Realino bersama Sri Sultan HB thn 2009

 

 

 

 

 

 

 

Cara pembuatan teh :

– Daun teh yang mau dijadikan teh hijau dihentikan proses fermentasinya dengan pemanasan Cara ini dilakukan dengan melewatkan daun daun teh segar pada silinder panas sekitar 5 menit. Atau bisa juga dengan proses steaming, yaitu dengan melewatkan daun pada uap panas bertekanan tinggi untuk beberapa saat.. Menurut proses teh hijau Sosro, setelah didinginkan daun teh digulung dengan mesin jackson untuk memecah sel daun teh, tetapi diusahakan daun teh sedapat mungkin tidak remuk hanya tergulung saja. Tujuan dari proses ini adalah untuk mendapatkan rasa daun yang lebih sepet. Setelah itu baru dilakukan pengulangan proses pengeringan lagi untuk menurunkan kadar airnya. Cara tradisional Jepang dengan menggunakan uap atau cara tradisional Tiongkok dengan menggongseng di atas wajan panas, agar kadar airnya menurun dan menjadi tehh hijau kering seperti yang kita kenal.

– Teh hijau wangi melati : untuk membuat tehh wangi melati, saya sebut tehh hijau wangi melati atau camomile (Matricaria recutita), proses fermentasinya singkat hanya 2-3 hari. Bahan dasar yang digunakan adalah teh hijau dan bunga melati/camomile. Teh hijau tersebut dikeringkan kembali dan menghasilkan teh yang berwarna coklat kehitaman yang dalam situs tersebut disebut sebagai Coi-coi. Kemudian Coi-coi tersebut dilembabkan kembali dengan menambah kadar air sekitar 20%. Kemudian teh ditebarkan bersama-sama dengan bunga melati untuk proses pewangian. Kalau proses chinese jasmine tea, melati tidak dicampur, melainkan disimpan bersama-sama teh dalam satu ruangan hingga bunga melati layu dan diganti lagi dengan bunga baru. Proses penggantian bunga dilakukan hingga 5-7 kali. Setelah proses pewangian selesai, teh dikeringkan kembali untuk menurunkan kadar airnya. Itulah sebabnya kenapa teh hijau wangi melati / wangi camomile warnanya hitam, sehingga sering dikira sebagai teh hitam.

– Teh hitam atau teh merah : pada proses pembuatan the hitam, bahan dasarnya sama yaitu tehh segar dan dilakukan pengeringan awal dengan menghembuskan angin pada kotak pelayuan. Setelah daun2 layu dilakukan proses berikutnya yaitu memecah daun teh dengan tujuan agar proses fermentasi terjadi secara merata. Pemecahan daun teh, kalau dengan sistim Orthodox dilakukan dengan proses penggilingan, sedangkan sistim CTC (curl tear crush) daun teh dipotong-potong dengan mesin pisau pemotong. Daun teh dibiarkan teroksidasi secara penuh sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling umum di Asia Selatan (India, Sri Langka, Bangladesh) dan sebagian besar negara-negara di Afrika seperti: Kenya, Burundi, Rwanda, Malawi dan Zimbabwe.

Apakah itu berarti teh hijau tersebut bisa berubah menjadi teh hitam? Menurut saya tidak. Yang berubah hanya warna daun teh keringnya. Aroma dan rasa tehh hijau tidak akan sama dengan teh hitam yang telah mengalamai full fermentasi. Hanya untuk kualitas rasa dan aroma dari teh hijau tersebut sudah mengalami reduksi. (bersambung) ,, (Dihapus)..
No 5.
Berdasarkan kwalitasnya ada 3 macam kwalitas teh :
– Kelas super : Inilah teh kwalitas utama. Daun teh akan tergulung rapi kesatu arah. Bisa tergulung memanjang seperti batang korek api yang panjang (umumnya teh hitam) atau tergulung kearah dalam mirip biji-bijian yang kering. Kalau sudah disedu dengan air panas daun itu akan memuai dan akan kembali berbentuk daun teh berwarna hijau. Inilah teh yang masuk ketegori kelas baik atau kelas super.
– Kelas menengah : Kelompok teh kedua disebut tehh yang rusak. Daunnya sudah tidak utuh, daunnya sudah rusak, hal ini bisa terjadi pada waktu proses pengeringan, pewangian, penggosongan dan handling di pabrik teh. Gulungan teh yang macam2 itu sering dicampur dengan batang-batang yang kering. Disupermarket dapat ditemukan dengan merk Thong Djie, Sosro, Gopek, Slawi dll. Kalau sudah disedu akan kelihatan kalau daunnya sudah tidak utuh dan tercampur dengan batang2 tehh.
– Kelas terendah : Berupa bubuk teh, ini yang paling bawah. Bentuknya tidak berupa daun kering tetapi berupa ‘bubuk pasir hitam’. Disetiap pabrik tehh selalu ada sisa2 atau kotoran2 tehh yang tidak bisa dijual. Sisa2 ini dikumpulkan untuk dijual murah kebeberapa orang. Orang ini lalu menghancurkan tehh sisa menjadi ‘bubuk pasir hitam’ Bubuk tehh pasir ini disemprot dengan berbagai parfum, lalu dibungkus dikertas putih, diberi tali, dan diberi merk Lipton atau Sosro, dikenal dengan nama teh celup. Orang-orang akan membeli tehh celup ini karena murah, dan praktis. Minumnya harus masih panas, karena kalau sudah dingin aroma parfum instant akan turut menguap dan rasa tehnya hilang sama sekali. Para penikmat teh akan minum teh celup kalau terpaksa, karena tidak ada pilihan lain. (selesai)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in health and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s