Istriku (1) – Kisah perkenalan saya dengan istri.

Bagaimana saya berkenalan dengan istriku? Siapa mak comblangnya? Kapan saya berkenalan dengan istri? Bagaimana ceriteranya? Kisah ini saya tulis untuk dokumentasi bagi anak dan cucu.
Istriku itu kawan adikku yang waktu itu kuliah di AIP Ancol. Saya dikenalkan oleh adikku waktu ada pesta Dies Natalis AIP dimana para kadet AIP di Sekolah AIP Ancol boleh membawa pacar atau teman atau saudara untuk menikmati malam Dies Natalis AIP.

Sejak Januari 1971, aku mulai menetap di Jakarta.

Dimana aku indekost ?

Aku indekost di Bungur Besar no 25 A Kemayoran. Pemilik rumah adalah bapak Sugiharto, seorang businessman yang kaya yang sedang membangun karir di bidang politik. Beliau bergabung dengan Golkar. Beliau mendirikan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia dan dipilih sebagai Ketua Umum. Beliau terpilih sebagai Ketua Fraksi Golkar di DPR Pusat. Tamu-tamu beliau adalah tokoh-tokoh partai Golkar dan pejabat Pemerintah, termasuk menteri-menteri.

Istri pemilik rumah bernama Hermiyanti, dipanggil mbak Yanti. Ayah mbak Yanti itu teman sekelas dengan ayah saya. Beliau berdua adalah alumnus dari Sekolah Guru van Lith di Muntilan, Magelang. Mbak Yanti orangnya sangat baik sekali. Sikapnya supel, hangat, penuh pengertian dan dermawan. mbak Yanti mau menerima saya indekost dirumahnya karena saya perlu ditolong dan dibantu. Setiap bulan saya membayar Rp 10.000 ke mbak Yanti.

Sejak 1 Januari 1971 saya bekerja di PT IBM Indonesia. Saya mempunyai adik namanya Jadiek, waktu 1971 itu dia masih mahasiswa Akademi Ilmu Pelayaran yang berlokasi di di Gunung Sahari Ancol. Setiap Sabtu dan Minggu dia pasti ke tempat indekostku di Bungur Besar, karena letaknya dekat sekali. Dia datang ke Bungur Besar dengan membawa teman-temannya dari AI

Pada bulan Maret atau April 1971, AIP akan mengadakan pesta Dies Natalis di gedung AIP. Para taruna boleh mengundang orang luar untuk berpesta di AIP. Boleh mengundang pacar atau saudara. Ada acara dansah dimana para taruna membawa partner sendiri. Saya diundang dan sekaligus dicarikan partner agar tidak sendirian. Salah satu dari teman adikku namanya Subandriyo, dipanggil Yoyok. Kakak perempuannya kawin dengan pilot Merpati, dan tinggal di Kompleks Merpati di Kemayoran.

Pada malam minggu itu mobil Fiat kakaknya dipinjam Yoyo untuk menjemput cewek-cewek yang akan menjadi menjadi partner dansah. Karena mobilnya kecil, hanya muat 5 maka hanya 2 cewek yang diundang. Dua cewek ini pramugari Merpati yang baru mulai bekerja di Merpati. Namanya Irna dan Nuraeni. Irna sudah lama dikenal Yoyok karena asal dari Yogya. Kedua cewek pramugari Merpati, muda dan cantik, tinggal sekamar di indekost di Gondangdialama. Sebenarnya masih ada cewek ketiga, muda dan cantik, yaitu Kiki cewek Sunda dari Bandung. Karena mobilnya kecil, tidak diajak.

Pandangan pertama.

Kami berlima lalu meluncur ke Aula AIP di Gunung Sahari di Ancol.

Adikku sengaja mengenalkan aku dengan Nuraeni, pramugari Merpat nan cantik dan berkulit putih. Adikku sengaja agar aku berduaan di pesta AIP. Adikku sengaja memberikan kesempatan agar aku bisa mengobrol dengan gadis cantik nan putih kulitnya.

Di Aula AIP saya ditinggal pergi oleh adikku Jadiek dan Yoyok yang ngeloyor ke sudut lain yang jauh. Saya dibiarkan berduaan ditengah pesta dikursi kuliah. Maka kami mulai mengobrol. Waktu saya ajak berdansa diapun tidak menolak. Sikap kami berdua sangat sopan, berbicaranya pun hati-hati, masing-masing saling menjaga agar tidak tersinggung.

Latar belakang cewek ini saya gali dengan bertanya, dan tahulah saya bahwa dia lahir di Kendari, besar dan tinggal di Makassar. Kuliahnya di IKIP Makasar. Menjadi pramugari Merpati baru beberapa minggu. Dia baru selesai kursus pramugari. Baru pindah indekost di Gondangdialama, sekamar diisi 3 cewek semuanya pramugari Merpati yang baru lulus. Dia kenal dengan Yoyok adiknya mas Gunadi, pilot Merpati yang pernah terbang sama-sama. Pestanya selesai jam 23:00 malam dan kami pulang ke Gondangdialama, ditengah jalan mobilnya mogok karena kehabisan bensin, terpaksa membeli bensin eceran.

Kesan pertama sangat positip, bahwa cewek ini baik, parasnya cantik, suka bergaul, agamais, islami dan gaya mahasiswanya masih kentara. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya sudah mempunyai firasat inilah calon istriku, inilah calon ibunya anak-anakku. Waktu itu dia belum punya teman banyak di Jakarta. Dan yang penting, malam itu saya sudah mendapat green light akan bertemu malam minggu berikutnya di indekost nya dia di Gondang Dialama. Cihuiiiiii

Malam minggu yang dinanti akhirnya tiba dan aku sudah berada di indekos cewek yang baru kukenal seminggu lalu. Yah masih kaku dalam berbicara karena aku belum tahu siapa dia sebenarnya. Aku orang Jawa dari Yogya, dia orang Makassar asli Kendari. Lucu sekali, karena komunikasi belum mulus, belum lancar. Walau sudah dipancing namun dia belum membuka diri sendiri. Masih kaku sekali. Walau masih kaku, tetapi setiap malam minggu aku apel ke indekos nya dia. Pokoknya kejar terus sampai dapat. 1aza1bzb

Sebelum perkawinan saya mengajak ke Pati untu bertemu dengan orang tua saya dan adik adik saya yang masih kecil kecil. Walau masih terlihat kaku namun calon istri dapat bercanda dengan adik adik saya yang masih kecil kecil (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in keluarga and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s