Realino (1) – kesan pertama Realino

Asrama Mahasiswa UGM Yogyakarta

Asrama Mahasiswa UGM Yogyakarta

Realino adalah nama asrama mahasiswa di Yogyakarta yang didirikan 1952. Universitas Gadjah Mada berdiri tahun 1948, terpaut 4 tahun. Pada waktu itu banyak generasi muda dari seluruh Indonesia berdatangan untuk menuntut ilmu di Yogyakarta. Menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada adalah impian setiap pemuda dan pemudi, yang datang dari pelbagai daerah, pelbagai suku dan pelbagai agama. Pondokan di Yogya tahun 1960 an sangat jelek, baik kamar dan fasilitas toiletnya. Jumlahnya pun sedikit dan masih sederhana.

Tahun 1961, Realino mempunyai gedung sendiri yang amat mewah, di jalan Gejayan, yang mampu menampung 130 mahasiswa. Kompleks Realino menempati area seluas 20 ha, dengan tiga blok bangunan bertingkat, kuat dan megah, 2 blok untuk asrama dan 1 blok (waktu itu 1963) untuk IKIP Sanata Dharma. Ditengah antara blok Utara dan blok selatan ada 2 refter (ruang makan besar) mampu menampung 130 anak, ada dapur tempat memasak makanan, ada ruangan belajar, perpustakaan, ada kapel (chapel). wah .. pokoknya lengkap sekali. Untuk olahraga nya sangat lengkap ada 2 lapangan tenis, basket, badminton, dan lapangan sepakbola.

Saya masuk Realino tahun 1963, hampir 7 tahun saya tinggal di Asrama Realino. Keluar dari asrama Realino tahun 1970.

Saya akan menceriterakan pengalaman pribadi selama hidup di asrama.

Waktu melamar mau masuk asrama, ada formulir yang menjawab latar belakang calon. Selanjutnya akan saya di interview oleh pengurus Realino, setelah lulus baru boleh masuk asrama Realino.

Pertama kali masuk asrama saya terperanjat. Saya melihat tempat tidur yang akan saya tempati kasurnya beralaskan tikar pandan alias kloso. Dalam hati saya membathin: ” miskin sekali .. mosok gedung sebegini megah dan bagus.. sepreinya tikar pandan ??” Bayangan saya tadinya kalaupun tidak waahh, paling sedikit nyamanlah untuk tidur dan istirahat.

Terus terang saya kecewa berat. Namun sesudah duduk sebentar diatas tikar pandan (yang butut) saya langsung merenung .. ” aku ini siapa ? ” Suara hati saya menjawab : ” Mar kamu adalah insan yang dikaruniai Tuhan dengan keberuntungan. Masih banyak yang tidak seberuntung kamu, masih banyak orang lain yang lebih parah keadaannya”.

Aku sadar, Tuhan telah membuka mata hatiku melalui ..tiikaarr … Sungguh Maha Bijaksana Dia ! Ternyata aku menemukan hal yang sama. Rupanya semua orang diperlakukan yang sama. Siapa pun dia, apakah anak pejabat, anak pengusaha, anak petani, anak bangsawan, anak orang kaya anak orang miskin , pribumi dan non pribumi …semuanya sama.

Begitulah pengalamanku pertama di Realino. Selanjutnya semua berlangsung dengan mulus. Seminggu kemudian saya dapat kiriman seprei baru dari ibu. Disiplin Realino antara lain bangun pagi jam 05:30 dengan suara besi velg mobil yang dipukul dengan pemukul besi juga .. kerasnya bukan main. Makan malam jam 19:30. belajar maksimum sampai jam 23:00 malam, kemudian lampu harus padam.

Sikap disiplin, kejujuran tertanam tanpa disadari. Kebenaran, kebersamaan dan tanggung jawab tidak bisa terlepas dari lingkungan yang amat positp. Kalau makan daging atau potus berupa pisang goreng atau singkong goreng, setiap orang hanya punya jatah satu potong. Tidak boleh ndobel, kalau nekat ndobel . harus rela diteriakin “maling” yang akhirnya akan bertentangan dengan suara hati nuraninya sendiri. Semua itu sudah saya temui di Realino.

12 isi kamar

Kamar di Realino, untuk 3 mahasiswa. Bapak Buah (1) dan kakak buah (1) dan anak buah (1). Yang senior membimbing yan yunior.

Apakah setiap orang mampu dan sanggup menerima “kebersamaan” itu sebagai sikap hidup di Realino ?? Jelas tidak . Bagi mereka yang ragu-ragu paling kuat bertahan hanya beberapa minggu, bahkan mungkin beberapa hari untuk selanjutnya angkat tas mencari pondokan yang lain (bersambung)

10 vila utara

Lorong di vila Utara, asrama Realino

04 vila selatan atas

Lorong menghadap ke salatan

03 tangga selatan

Tangga ber-sejerah, dari ground ke lantai atas.

07 refter

beranda di lantai dasar, didepan kamar kamar mandi

Tanggapan dan komentar dari eks Realino-wan :
From: Normin Pakpahan – angkatan 1964.

DR Normin Pakpahan, pensiunan Peg Tinggi Dep Keu

DR Normin Pakpahan, pensiuna Peg Tinggi Dep Keu

Berbicara pengalaman pertama kali menginjakkan kaki di Realino tentu sangat “seru dan kocak” bahkan kadang “mengenaskan” . Apabila semua ex penghuni Realino menuliskan pengalaman mereka tentu bisa berjilid-jilid bukunya…pasti akan melebihi seri cerita Sam Kok atau mungkin Nagasasra Sabuk Inten (bacaan wajib di Realino dan di UGM di tahun 60-an; Malah ada cerita, ngibul atau benaran …entahlah, bahwa sebelum “maju”, malamnya baca cerita silat dulu baru pagi-pagi menjelang subuh mempersiapkan diri untuk “maju” dan anehnya “lulus” pula. Sengatan tinggi tidak mempan. Wah..wah.. ini baru Yogya (Realino), he…he…he. ..

Tahun pertama di UGM (1963) kata Bhs Jawa yang pertama kali kupelajari secara otodidak adalah “saru” sebagai “resultante” dari pelajaran super kilat meminta penganan tempe dengan logat dan tekanan ucapan yang “benar”kepada teman mahasiswi yang diajarkan oleh sukarelawan “guru” lokal rekan mahasiswa. Serentak teriakan “saru-saru” melengking dari mulut-mulut mungil dari wajah-wajah “ayu” mhs putri..Seterusnya. ..anda bisa bayangkan…

Pengalaman sejenis pasti rekan rekan alami baik dilingkungan asrama kita maupun dilingkungan fakultasnya masing-masing.

Hok An, yang paling mengesankan saya dari anda adalah dentingan piano yang anda mainkan. Dari kejauhan saya sudah tahu pasti yang main piano Hok An. Meskipun saya tidak pandai main piano, dentingan hasil jari jemari anda khas dan tegas…(Bolehlah berpura-pura jadi kritikus musik, ha..ha..).

Sebetulnya masih ada kesan-kesan khas yang saya alami. Mungkin di kesempatan berikut.
SeV, Normin Pakpahan

Adakah kesan mendalam yang pak Titus rasakan selama bermukim di Realino?

Jawaban pak Titus Kurnia :

Jelas ada dan banyak! Yang paling menonjol ialah ke­bersamaan. Mahasiswa yang berasal dari kota, dari desa, anak pejabat, anak petani atau anak pedagang, semua mem­peroleh tempat tidur yang spreinya….. klasa. Yang punya kain panjang, ya boleh menyingkirkan “klasa”nya yang me­mang waktu itu merupakan tempat hunian paling ideal bagi “tinggi” atau kutu busuk. Mandi bareng, makan bareng. lsti­rahat juga bareng-bareng di aula. Mereka yang kurang se­mangat kebersamaannya otomatis tersisih dari pergaulan. Dan orang-orang semacam itu biasanya tidak betah lama-­lama tinggal di asrama. Kemudian kebhinnekaannya. lni memang paling istimewa. Barangkali tidak salah kalau di­katakan bahwa asrama seperti Realino yang menghimpun orang-orang dari segala macam suku, agama, adat istiadat tanpa pembedaan, hanya ada di Mrican atau Gejayan, Yogyakarta, sekalipun asrama itu kepunyaan Misi Katolik.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in dormitory and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s