Realino(2) – hidup tidak terkotak2

gedung asrama Realino, villa utara

gedung asrama Realino, villa utara

Indonesia kecil

Indonesia kecil

SV singkatan dari Sapientia et Virtus. Adalah moto Realino yang artinya kebijakan dan kebajikan. Dengan dijiwai semangat “Sapientia et Virtus” yang tak pernah padam, kelompok muda Realino dipersiapkan sebagai calon pemimpin bangsa, diajak peduli kepada yang kurang beruntung sambil mempererat kebersamaan diantara sesama penghuni.

Apa benar begitu ? Sekarang saya berani mengatakan bahwa hal itu benar. Di Realino berkumpul mahasiswa dari berbagai daerah dengan beragam suku bangsa, beragam adat istiadat, berbagai kepercayaan. Kumpulan gado-gado anak-anak muda itu dilatih, diajar dan diasuh untuk hidup bersama dalam suasana damai. Kita bisa hidup bahagia dalam Indonesia mini di Realino yang penuh keragaman. Kita tidak pernah hidup terkotak-kotak. Kamu agama ini, kamu suku itu, kamu hitam, kamu putih.. wah .. nggak ada itu kotak-kotak di Realino. Semua sama saja tidak ada perbedaan.

Saya pernah sekamar dan sangat akrab dengan kawan Realino yang bernama Oei Sioe Djien J.A. asal dari Bojonegoro yang kuliah di Fakultas Kehutanan Gadjah Mada. Namun keakraban saya dengan Sioe Djien terasa ada ganjalannya. Dalam hati saya bertanya mengapa dia tidak mau menggunakan nama Indonesia sedangkan kepribadiannya, integritasnya seratus persen Indonesia. Pada suatu kesempatan saya berterus terang kepadanya : ” Djien, kenapa sih kamu tidak ganti nama Indonesia? Kau lahir di Bojonegoro, besar di sana juga dan kau paling doyan tempe, tahu, pecel apalagi sambel terasi.”

Siu Djien

Siu Djien

Saya tahu Oei Sioe Djien bukan tipe orang yang mudah dipengaruhi. Dia terdiam sebentar tapi saya tahu otaknya berpikir, karena dia tipe orang yang tidak mudah dipengaruhi. Tak ada tampang munafik dalam dirinya. Dia langsung menjawab : “Mar, tolong tunjukkan kepada saya mana yang dikatakan nama Indonesia itu. Namamu sendiri sendiri Gabriel Sumariyono campuran Barat dan Jawa. Ahmad Wahib, Ahmad Nur, Hasan Basri, Faishal jelas diimpor dari Arab. I Putu Nantra, Sutrisno, Sutarno itu kan nama Sangsekerta. Bernard Rivai Siregar impor Barat dan Batak.”

Saya benar-benar KO dan pembicaraan putus sampai disitu. Namun puluhan tahun kemudian (1999) ketika saya memimpin perusahaan HPH saya bertemu dengan dia dalam rapat APHI. Nama Oei Sioe Djien sudah berubah dengan Johannes A, Hoesada, dengan jabatan Sekretaris Badan Litbang, Departemen Kehutanan. Saya yakin Sioe Djien tak kan pernah lupa hal itu. (APHI = Asosiasi Pengusaha Hutan Indon)

Terus terang penjiwaan nasionalisme saya secara utuh tumbuh di Realino. Waktu baru masuk Realino tahun 1963, Indonesia sedang gencar-gencarnya mengganyang Malaysia setelah sebelumnya perjuangan merebut Irian Jaya. Perlawanan PRRI/Permesta dan DI/TII pun baru saja berakhir 2 atau 3 tahun. Hal itu membuat rasa kedaerahan saya tinggi dan kecurigaan terhadap orang dari daerah lain masih melekat. Hal itu tanpa saya sadari dan ikut melatar belakangi sikap hidup saya sehari-hari.

Saya merasa bersyukur kepada Tuhan karena hal itu tidak berlangsung lama. Dari hari kehari pergaulan saya makin bertambah dengan kawan-kawan dari berbagai suku. Di Realino saya mengenal sifat-sifat orang Madura, Flores, Timor, Jawa, Sunda, Toraja, Bali, Palembang, Padang, Menado, Kalimantan Dayak dan lain-lainnya. Tanpa saya sadari hilang sifat curiga dan tumbuh rasa kebersamaan yang bermuara kepada rasa senasib dan seperjuangan.

JIka saya renungkan kembali tumbuh perasaan kagum dan takjub didalam hati saya. “Alangkah hebatnya ide mendirikan Asrama yang dilandasi Bhineka Tunggal Ika seperti Asrama Realino ini”. Kawan-kawan saya yang muslim, termasuk Ahmad Wahib (almarhum) Ahmad Nur dari Madura, Hasan Basri dari Aceh, Syahrir dari Padang merasakan sentuhan rasa saling hormat menghormati dan harga menghargai terhadap pemeluk agama lain. Dibulan Puasa Ramadhan, seorang Broeder (namanya Van Zon almarhum) menyiapkan makan sahur selama sebulan penuh. Dan makanan untuk buka puasa lengkap dengan kolak pisang waktu maghrieb. Penghuni yang lain makan malam seperti biasa yaitu jam 19:30. Alangkah indahnya.

Sewaktu masih di Pati, tempat saya lahir sampai tamat SMA, rasa simpati saya kepada kawan-kawan etnis Cina tipis sekali. Mungkin itu disebabkan karena mereka lebih suka menutup diri dalam pergaulan. Antar mereka digunakan bahasa leluhurnya yang membuat curiga dan salah paham. Kalau pun berbahasa Indonesia, lebih-lebih yang senior, logatnya patah-patah dan kurang jelas. Misalnya: ‘ Hei Mal, lu abis pigi mana” maksudnya : “Hai Mar kamu habis pergi dari mana”.

Semua pengalaman di Pati itu berubah total, hilang dan habis sifat curiga kepada etnis Cina. Selama di Realino dari perasaan curiga menjadi simpati. Rasa takjub menyeliputi saya karena bertemu dengan manusia-manusia baru. Dengan mata kepala dan telinga sendiri saya melihat, mendengar, bagaimana kawan-kawan etnis Cina di Realino bercanda, berbicara, memaki dengan bahasa Jawa sekalipun antar mereka sendiri.

hidup tidak terkotak-kotak

hidup tidak terkotak-kotak

Saya beruntung akrab dengan mas Loe Boen Hian, senior saya di Teknik Kimia UGM. Orangnya kalem tenang asal Juwana, periang dan terbuka. Setiap pagi melayani pastor di kapel sebagai pelayan misa. Dialah tempat saya bertanya kalau ada permasalahan di Teknik Kimia.

Boen Hian

Boen Hian

Mas Loe Boen Hian sampai meminjamkan catatan kuliah tingkat 1 kepada saya untuk mencocokkan isinya. Dan memberi soal-soal ujian tahun sebelumnya. Kawan-kawan dari etnis Cina di Realino umumnya mereka sangat menonjol dibidang olahraga dan organisasi. Seperti Realino Discussion Club, Realino English Club, badminton, pingpong, sepakbola dan basket. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in dormitory and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s