Realino (7) – revolusi hijau

Realino Discussion Club. Disingkat RDC, apa itu ?

Kejadiannya tahun 1964. Seminggu sekali mahasiswa yang di asrama  Realino di Gejayan Yogya, diajarain berdiskusi, memimpin rapat, memberikan presentasi, mengajukan pertanyaan, memberikan jawaban… pokoknya berdebat secara ilmiah dan terstruktur. RDC wajib diikuti semua penghuni. Sebagai mentor adalah romo Stolk sendiri, dan senior-senior Realino.

Salah satu topik yang memakan waktu sampai berbulan-bulan menjadi bahan diskusi RDC adalah Revolusi Hijau ditanah air, yaitu program intensifikasi dan modernisasi dalam produksi pertanian. Ini terjadi tahun 1964, saya baru di semester 3 Teknik Kimia UGM. Singkatnya adalah para petani dipaksakan untuk memakai benih hibrida, pestisida dan herbisida buatan pabrik Monsanto dll. Tujuannya adalah untuk pertumbuhan produksi padi, ketahanan pangan dan swasembada pangan. Kelompok yang pro Revolusi Hijau adalah mas-mas penghuni Realino dari Fak Pertanian dan Fak Teknik Kimia.

Kelompok yang anti Revolusi Hijau adalah penghuni Realino dari berbagai fakultas, latar belakang mereka umumnya adalah anak petani tulen. Bapak-ibu-paman-tetangga-lingkungannya adalah petani lokal yang mempunyai lahan sendiri. Pengetahuan mereka atas cara-cara memproduksi pupuk sendiri, membuat pestisida untuk melawan hama dari bahan2 asli setempat, sungguh luar biasa. Baru sekarang saya mengakui mereka itu jempol dan hebat. Petani tradisionil di Pati Juwana dan di Jawa punya ilmu mengendalikan hama secara alami, bagaimana memelihara keseimbangan antara hama dan padi, bahkan teknik menumbuhkan padi/benih sendiri itu ada tata caranya. Sayang seribu sayang , kearifan ini dihancurkan oleh teknologi revolusi hijau. Cara-cara bertani tradisionil pelan-pelan hancur. Kegiatan bertani diarahkan untuk memproses memproduksi komoditas seperti padi, kedelai, jagung agar menghasilkan lebih banyak, dan mengabaikan ekosistim.

Selama ribuan tahun, tanah di Pati Juwana di Jawa Bali dan seluruh tanah air, telah ditanami berbagai macam tanaman dengan menggunakan teknologi budidaya tradisionil dengan landasan ekologis, yang berprinsip kepada keanekaragaman varietas, kekhasan ekologi lokal dan keseimbangan ekosistim. Aman dan lestari. Ada keseimbangan antar alam dan manusia, tidak ada kimia buatan pabrik yang “berdampak negatip”.

Dimana saya berada ? Saya “dipaksa” masuk kedalam barisan anti Revolusi Hijau. Kenapa ? Ibu saya asal Juwana, memiliki sawah yang berpetak-petak, banyak paman-paman saya di Juwana adalah penggarap sawah yang berhasil. Mereka jagoan bagaimana mengatur siklus air, siklus hara, kesuburan tanah, pembenihan, penanaman, pemanenan, melawan hama melawan tikus dll dll yang kesemuanya untuk mempertahankan kemandirian kehidupan petani. Tanpa bantuan dari luar desa. Semua bahan baku ada didesa. Gratis. Setiap musim tanam, sebagian dari benih yang dipanen musim sebelumnya ditanamkan kembali oleh petani. Didesa diseluruh Jawa tersedia benih padi spesies asli Jawa, asli Indonesia yang jumlahnya mencapai ratusan bahkan ribuan spesies. Spesies rojolele, bengawan solo, cimelati, cisantana, sigupai merupakan varietas yang paling unggul, karena rasa dan aromanya tidak bisa ditandingi oleh padi manapun juga. Kabarnya sigupai masih ditanam di Aceh.
Diladang sudah ada keseimbangan alami antara serangga predator dan hama, kesuburan diperkaya dengan pemasukan pupuk kandang, daun-daunan, sisa panen semuanya didapat dari lingkungan. Sumber daya alam dilestarikan bagi generasi berikut. Ada suatu lingkaran yang lengkap, ada siklus regenerasi yang berkesinambungan. Dan itu sudah terjadi selama ribuan tahun.

Keikut sertaan saya di Tim anti Revolusi Hijau yang dipaksakan oleh senior2 Realino, karena lahir sampai tamat SMA saya ada di Pati. Waktu masih kecil saya sering ke Juwana pergi ke sawah2 milik mbah Minah yang sedang digarap paman. Varietas padi lokal yang masih ingat antara lain : Rojo lele (top), buyung, ketan kuthuk, gethok, leri, kenongo, rening, mainan, wantean, gropak dll dll wuahh .. lupa, pokoknya banyak lah. Disawah juga ditebar ikan yang akan dipanen beberapa waktu kemudian. Ikannya kecil-kecil tetapi menyenangkan, rasanya saya bangga kalau bisa ‘”nyerok” ikan. Kotor ? Jangan ditanya.

Periode diskusi Revolusi Hijau membuat saya sering pulang ke Pati lalu ke Juwana untuk mencari “amunisi” untuk diskusi, mencoba membawa dalih-dalih baru guna melawan kelompok pro Revolusi Hijau. Ramai dan seru sekali ..

padi disawah hijau royo-royo

padi disawah hijau royo-royo

Saya percaya bahwa telah ribuan tahun petani kita bertani dan mampu menghasilkan tanaman padi dan palawija dengan baik. Petani kita punya budaya memupuk tanaman yang tradisionil, budaya melawan hama serangan wereng, melawan tikus, mosok mau diganti begitu saja dengan benih-benih hasil research, bahan-bahan kimia buatan pabrik. Dalam hati kecil saya melawan dan namun untuk bilang tidak perlu alasan. Eee … terbukti sekarang orang-orang gandrung kembali kepada pertanian organik..

Contoh ini hasil memori (maaf sudah karatan) dan tanya ke saudara di Juwana.

Lamtoro. Daun lamtoro dan daun kacang-kacangan yang masih hijau dimasukkan ke karung dicampur dengan kotoran ternak lalu ditutup. Dimasukkan ke ember yang besar dengan perbandingan 1:2 (kalau ga salah), taruh batu agar karung terendam air, Biarkan selama 2-3 hari. Kalau mau dipakai, sampur dengan air semprotkan pupuk ini kesekitar tanaman, sekali sehari pada musim kemarau, tiga hari sekali pada musim hujan.

Sirsat atau mindi. Digunakan untuk ulat grayak dan wereng, daun yang segar ditumbuk halus, campur air, disaring. Waktu mau dipakai campur air 1 : 20 dan disemprotkan.

Paitan. Daun paitan direndam seminggu lalu airnya disiramkan untuk pupuk dan sekaligus obat anti hama.

Mahoni. Adalah pestisida yang ampuh, daunnya bisa dipakai membasmi serangga pembuat lubang di tanaman padi.

Bahan-bahan baku ada disekitar kita, misal Koro pait, loncak, mahoni, mangkokan, manisah, mengkudu, nanas, nila, pacar, paitan dll dll.

Romo Stolk senang melihat bahwa kelompok anti Revolusi Hijau mengadakan perlawanan ke pro revolusi Hijau. Dan itu semua terjadi di RDC.

Pengalaman ini berguna ketika saya ditugaskan ke DKI di tahun 1972. Teknik2 RDC digabung dengan teknik pemasaran IBM terbukti ampuh dan bisa meyakinkan pak Ali Sadikin untuk mempercepat komputerisasi di DKI. Yang paling saya sukai. karena semua saya lakukan dengan bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. He he he .. Inggrisku masih payah ..

Apa sih dalih dalih yang dipakai kelompok pro revolusi Hijau ? Nantikan di tayangan berikutnya. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in dormitory and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s