Realino (8) – melawan revolusi hijau

Kejadian ini terjadi di akhir 1964 sampai awal 65.
Dengan berjalannya waktu, diskusi RDC tentang Revolusi Hijau semakin “panas dan intens”. Terlebih-lebih setelah kelompok anti Revolusi Hijau, turun kedesa sekitar Realino, seperti mas Sumartono (FE UGM) sawahnya di Prambanan dekat candi mBoko, mas Sutarno (T.Arsitek UGM) sawahnya di Klaten, saya sendiri sawahnya di Juwana, ada yang ke Muntilan, ke Kebumen, ke Sukoharjo dekat Solo. teman-teman ini mengumpulkan cerita2, formula2 membuat pupuk organik, formula2 membuat pestisida organik dan pengalaman di pesawahan2, sampai ke bibit unggul di desa.

Sebaliknya kelompok yang pro Revolusi Hijau mempunyai bahan diskusi yang lengkap. Mereka menyebutnya “Program Bimas”. Bahan diskusi diperoleh dari Dinas Pertanian dan dari Fakultas Pertanian UGM yang mendapat tugas dari Pemrintah sebagai “agent of change”. Proyek Bimas ini dananya banyak sekali, ber jut-jut lah … Dapat kredit dari World Bank, ADB dan IMF.

Di proyek Bimas ada program benih hibrida, subsidi pupuk, ada kredit pertanian,ada penetapan harga dasar gabah, ada Bulog, penanaman bibit seragam dan berbagai penyuluhan pertanian. Khusus penyuluhan di desa dikerjakan oleh para mahasiswa pertanian UGM, sebagai bagian dari mata pelajaran, dengan nilai kredit poin. Selama 3 – 6 bulan didesa sebagai penyuluh pertanian, para mahasiswa digaji oleh fakultas pertanian. Padahal hampir semuanya menginap dirumah pak Lurah tanpa mbayar sesenpun. Selesai Bimas, para mahasiswa (umumnya semester 6-7) menjadi lebih percaya diri. Ada beberapa yang kembali ke kampus membawa istri, yang dikawinin sewaktu kerja Bimas. Ada yang anak lurah, anak camat atau anak orang kaya di desa itu.

Di program Bimas, petani hanya dipandang sebagai obyek yang harus patuh pada penguasa. Hak petani untuk mengekspresikan sikap dan kehendak diabaikan. Begitu pula hak untuk menentukan produksi mau nanam apa atau memakai teknologi apa, bisa sirna begitu saja. Semua lenyap dan hanya ada satu aba-aba yaitu : Bimas. Titik.

Sistim tanam yang lama yaitu pemulihan tanaman, memelihara keanekaragaman genetik dan pengembangan kemampuan tanaman untuk memperbaharui tanaman itu sendiri, diganti dengan yang baru. Sistim tanam yang baru itu mengunakan teknologi seperti bibit “unggul hibrida” hasil dari riset center IRRI Philipines, diharuskan memakai pupuk kimia, insektisida, pestisida, hasil produksi pabrik. Para Realino-wan dari fakultas Pertanian UGM menjelaskan bahwa kimia-kimia itu akan mengatasi problem,sehingga mampu mengatasi keterbatasan alam.

Awalnya, perekonomian Jawa sangat tergantung pada persawahan. Kerajaan-kerajaan kuno di Jawa, seperti Tarumanegara, Mataram, Majapahit sangat bergantung pada panen padi dan pajaknya. Jawa terkenal sebagai pengekspor beras sejak zaman dahulu, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan penduduk pulau ini.

Pada Revolusi Hijau di tahun 1963-an rakyat pedesaan diseluruh Jawa dan Bali, diharuskan mempunyai Penyuluh Lapangan. Dari pusat memerintah ke Gubernur, lalu ke Bupati, lalu ke Camat , lalu ke Lurah. Proyek Bimas menjadi amat populer.

Sekarang baru diakui (oleh ekonom pemerintah) bahwa penyuluh pertanian lebih berperan sebagai agen perusahaan kimia. Para penyuluh tidak memahami dan tidak mengerti tentang lingkungan hidup .. mereka hanya sebatas melaksanakan pekerjaan Bimas yang diberi gaji dan bonus. Mereka jago dalam mengelola usaha tani bukan mengelola ekosistim. Mereka melihat lahan pertanian sebagai pabrik.

Peserta RDC yang anti Revolusi Hijau tetap melawan, karena peranan kami memang harus anti. Kalau kami merasa kalah, kami minta diskusi ditunda dulu, lalu rombongan anti Revolusi Hijau mencari strategi baru dan turun kedesa untuk mengumpulkan amunisi untuk melawan yang pro RH. Memang benar-benar susah melawan mereka.

Seingat saya, waktu RDC berlangsung, ada yang menjelaskan bibit padi unggul hibrida adalah benih “ajaib”. Artinya : pendek umur, tinggi hasilnya dan tahan penyakit. Itulah promosi dari pro Revolusi Hijau, dan smbil membagi-bagikan kaos dengan berbagai merk seperti Monsanto, Hydrasyl dll.

Waktu saya ke Juwana, saya ceritain ke paman saya. Apa jawab paman saya ? Ngapusi. Yang dikatakan, benih hibrida “ajaib” itu benih yang tidak unggul. Mengapa ? Benih itu masuk kategori benih mandul. Benar-benar mandul. Karena benih padi dari hasil panen sebelumnya tidak bisa ditanam kembali. Jadi benar-benar padi mandul. Seperti ayam broiler itu kan juga mandul, tetapi lihatlah dalam waktu 5 minggu ayam itu sudah bisa mencapai 1,5 kg beratnya. Sama dengan padi ini. Paman saya ini namanya Lik Darsuki (almarhum) menceriterakan kepada saya dengan sembunyi-sembunyi, karena takut dimarahin pak lurah.

petani dipaksa ikut program bimas

petani dipaksa ikut program bimas

Benih hibrida yang mandul ini haus pupuk buatan, haus pestisida, haus air. Benih “ajaib” dan mandul ini sangat tergantung obat-obatan dan rentan penyakit. Para penyuluh memperkenalkan sebagai hasil riset dari luar negeri (IRRI-Phillipines) untuk meningkatkan produksi, sehingga diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat petani.

“Gombal”. kata paman saya. Setiap kali paman mau nanam padi harus beli benih, yang harganya mahal. Paman harus kredit, harus utang. Lho ?? “Mosok bibit saja harus beli, kan kebangetan”, katanya. Sejak awal program modernisasi pertanian didengungkan oleh pemerintah melalui program Insus dan Supra Insus lik Darsuki langsung menolaknya. Nalar lik Darsuki tak bisa ditipu. Beliau sudah membayangkan, dengan konsep revolusi hijau yang dijabarkan melalui Panca Usaha Tani, nantinya petani akan sangat bergantung pada perusahaan-perusahaan penyedia sarana produksi. Kemampuan petani untuk membuat benih dan pupuk secara mandiri akan hilang. Benih-benih galur murni akan lenyap dari rumah-rumah petani, sebab petani wajib menanam benih hibrida yang berkonsep sekali pakai. Oleh karena itu ketika diadakan sosialisasi insus dan supra insus lik Darsuki langsung menolak. Tidak hanya itu, dengan ketelatenannya, dia berupaya keras melestarikan benih-benih padi local yang hendak dimusnahkan .
Ada padi yang berwarna hitam legam (bukan ketan), yakni padi Malika. Padi hitam yang saat ini jadi primadona untuk penderita diabetes, sebab tidak hanya aman tapi juga ada unsur penyembuhannya. Beras merah yang tekstur berasnya empuk, berbeda dengan beras merah yang untuk pakan burung. Beras menthik yang berwarna putih susu seperti beras ketan. Adalagi beras berlian, yang malai nya berwarna kuning keemasan. Sehingga bila menjelang panen pada bulan purnama, warna kuning emasnya memantulkan cahaya mirip kerlip kunang-kunang. Disamping ada juga tanaman padi yang tingginya sampai 160 cm, sehingga bila lik Darsuki masuk ke lahannya, langsung hilang tidak kelihatan ditelan rimbun batangnya. Dan masih banyak varietas lain, yang kelestariannya dijaga oleh lik Darsuki.

Saya bawa cerita ini ke RDC, dan Realino-wan yang pro revolusi mengakui bahwa padi hibrida itu memang mandul. Kalau mau nanam para petani harus beli benih lagi. Kalau ga punya uang petani bisa kredit. Wah …. Saya menganggap bahwa Revolusi Hijau itu salah besar.

Padi unggul yang asli dari Jawa banyak dibawa ke IRRI Philipines, jumlahnya ada 6.500 species. Phillipines lah yang menyimpan benih padi unggul Jawa asli yang sudah ditanam oleh moyang kita selama ribuan tahun, dan hanya dikirim atau dibuag begitu saja. Sungguh sangat disayangkan. Dimana karakter nasionalisme para ekonom dan pertanian kita? Luntur disogok dengan uang dan fasilitas dari bangsa asing. Sekarang kita di Jawa hanya mempunyai sisa sedikit benih padi Jawa asli. Para petani di Jawa selalu diinstruksikan menanam benih padi hibrida hasil riset IRRI. Kasihan petani Indonesia.

KEBERADAAN varietas padi lokal sekarang dalam keadaan kritis. Diperkirakan ada 6.500 varietas padi lokal telah lenyap dari ladang petani. Berbagai pemaksaan yang dilakukan pemerintah untuk menanam padi varietas unggul nasional dan hibrida berbasis spesies indika. Padahal, Indonesia kaya plasma nutfah padi lokal spesies Javanika, yang berpotensi untuk dikembangkan.

Pemaksaan yang dilakukan pemerintah kepada petani untuk menanam varietas padi unggul, justru membunuh kreativitas petani. Tanaman padi lokal hilang dan varietas padi unggul tidak bisa dipastikan sebagai produk yang maksimal. Kearifan lokal masyarakat pertanian yang sudah ribuan tahun menciptakan sistem pertanian dengan penyilangan antara benih satu dengan yang lainnya, dikalahkan oleh padi hibrida yang dicanangkan pemerintah. Inilah bentuk keputusan pemerintah yang tidak bijaksana, tidak arief, dan tidak berpikir panjang.

Sampai akhir tahun 1960-an petani secara turun temurun masih menanam ribuan varietas padi lokal. Diperkirakan ada 6.500 varietas padi lokal yang bagus, yang bisa dikembangkan. Varietas padi yang unggul seperti angkong, bengawan, engseng, melati, markoti, longong, dan ribuan varietas padi lokal asli Indonesia lainnya sudah lenyap.
Saat ini terdapat 50 perusahaan benih nasional, sedang perusahaan benih multinasional berjumlah 17 perusahaan. Di antara perusahaan multinasional itu terdapat nama-nama beken seperti Monsanto Group, PT Dupont Pioneer Indonesia, Syngenta, Bayer Group, dan sebagainya.

Perusahaan multinasional tadi begitu agresif melakukan penetrasi pasar di Indonesia. Mereka gencar berpromosi dan melakukan pendampingan petani di lapangan. Maklum, pasar benih di Indonesia sangat menjanjikan. Keuntungan yang diraih diperkirakan trilyunan rupiah per tahun.

Karena hasil panennya yang tinggi, petani pun makin banyak yang tertarik dan menggunakan benih produksi perusahaan asing tersebut. Afrizal Gindow, Ketua Umum Asosiasi Produsen Perbenihan Hortikultura Indonesia, yang juga direksi PT East-West Seed Indoensia.

Dominasi perusahaan benih multinasional ini seakan mengecilkan peran produsen benih nasional dalam memenuhi kebutuhan benih secara nasional. Bahkan, produsen benih pelat merah sekelas PT Sang Hyang Seri (PT SHS) pun terkesan hanya kebagian peran relatif kecil.

Untuk padi hibrida, misalnya, PT SHS hanya memasok rata-rata untuk tahun 2008-2012 sebesar 3.576 ton atau 35,8% dari kebutuhan nasional sebesar 9.977 ton untuk luas pertanaman 665.000 hektare. Apa kita diam saja? Saya tetap kepada pendirian saya semula, lawan revolusi huijau, kembalikan kejayaan Indonesia sebagai Negara agraris.

(bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in dormitory and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s