Realino (9) – Polisi menangkap ‘agen CIA’ di Realino

“Polisi DIY telah menangkap mahasiswa UGM agen CIA” demikian headline di harian lokal Kedaulatan Rakyat Yogyakarta yang terbit di awal Maret 1964. Koran KR memberitakan bahwa nama agen CIA itu adalah Endang Sariman, Mahasiswa Teknik Kimia UGM tingkat 2, yang tinggal di Asrama Realino di jalan Gejayan. Penangkapan agen CIA oleh polisi DIY karena ada yang melapor. Pelapornya adalah mahasiswa yang mengaku sangat dekat dengan Endang Sariman. Di koran KR ada foto Endang Sariman sedang diborgol dengan diapit oleh polisi DIY.

Hari itu gegerlah asrama Realino. Sebagian Realino-wan ada yang ketakutan, sebagian lagi ada yang biasa-biasa saja. Umumnya para Realino-wan mengatakan tidak mungkin bahwa Sariman adalah agen CIA. Kasus penangkapan Endang Sariman oleh polisi DIY, telah membuat Romo Willemborg dan ke empat pengurus Realino repot sekali.

Siapakah Endang Sariman ?

Sariman adalah mahasiswa berdarah Jawa-Sunda. Bapaknya orang Jawa, ibunya orang Sunda, tinggal di Palembang. Kedua orang tuanya bekerja di pengilangan minyak Sungei Gerong, milik oleh PT. Stanvac. Nama aslinya Sariman. Oleh ibunya dia sering dipanggil “Endang” panggilan umum terhadap bocah laki-laki asal Sunda. Kalau di Pati bocah laki-laki suka dipanggil “thole”. Maka namanya pun berubah menjadi Endang Sariman.

Sariman menamatkan SMA di Palembang, lalu meneruskan kuliah di Fakultas Teknik Kimia UGM, agamanya islam. Orang nya tinggi kira2 174cm dan suka bercanda, suka mengobrol ngalor ngidul, dengan siapa saja bisa akrab. Kalau bicara ceplas ceplos, seenak nya sendiri, terlalu percaya diri dan sok tahu. Di Realino Sariman adalah pemain biola yang pandai, dan guru bahasa Inggris di Realino English Club karena fasih berbahasa Inggris. Di luar asrama, Sariman adalah anggauta HMI yang aktif sekali. Dia termasuk dijajaran Pengurus HMI Komisariat Fak Teknik UGM.

Gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan keaktifannya di HMI menjadikan perhatian tersendiri bagi mahasiswa lain. Anak GMNI selalu mengamati Sariman, apalagi anak CGMI, kelompok mahasiswa yang pro PKI pada waktu itu. Sariman berani mengkritik Bung Karno dan mengkritik Pemerintahan Orde Lama. Kritikan yang selalu diulang-ulang, dilakukan didepan kelompok mahasiswa Teknik Kimia pada waktu menunggu kuliah atau menunggu praktikum di depan laboratorium. Cilakanya ada teman kuliahnya dari Ormas CGMI (ybs muncul sebagai saksi di pengadilan) yang melapor ke polisi dan menuduh bahwa Sariman itu agen CIA.

Pada suatu sore hari, datanglah beberapa polisi ke Realino untuk menangkap Endang Sariman dan dia langsung dijebloskan di penjara Wirogunan. Tuduhannya adalah : “Sebagai agen CIA”. Keesokan harinya kota Yogyakarta geger. Koran-koran lokal dan nasional ramai-ramai memberitakan bahwa :”Seorang mahasiswa Teknik Kimia UGM yang tinggal di Realino ditangkap karena menjadi agen CIA”.

Nama Endang Sariman menjadi terkenal. Koran2 Jakarta pun memberitakan kasus penangkapan Endang Sariman sebagai agen CIA. Sangat luar biasa dan mengejutkan. Pada waktu itu kondisi politik di tanah air sedang giat-giatnya meng-ganyang antek-antek Nekolim dan antek-antek Amerika. Munculnya berita bahwa ada seorang mahasiswa dituduh menjadi agen CIA jelas membuat heboh. Para politikus dan analis hukum memberikan komentar dan ditulis dikoran lokal dan nasional bahwa hukuman paling ringan adalah hukuman seumur hidup dan paling berat adalah hukuman mati.

Jadilah Endang Sariman menanti detik-detik antara hidup dan mati dibalik jeruji di penjara Wirogunan, di jalan Taman Siswa Yogyakarta.

Yang paling sibuk adalah romo Willemborg wakil pimpinan Realino sekaligus guru musik dan sahabat nya Endang Sariman. Beliau berkali-kali mondar-mandir ke kantor Polisi untuk meyakinkan polisi bahwa Endang Sariman, anak berdarah Jawa-Sunda, tidak mungkin menjadi antek dan agen CIA. Karena gigihnya romo Willemborg, yang bertampang “londo bule”, semakin memperkuat dugaan polisi bahwa Endang Sariman benar-benar agen CIA. Buktinya dia banyak bergaul dengan londo-londo dan bahasa Inggrisnya Endang Sariman fasih sekali. Karena gencarnya pemberitaan dari koran lokal dan nasional, dan karena ketakutan, maka sebelum diadili, Rektor UGM telah membuat vonis dengan mencoret nama Endang Sariman sebagai mahasiswa Teknik Kimia UGM. Nasib Sariman sedang apes sekali.

Sahabat-sahabat dan kawan-kawannya Sariman di asrama Realino tidak bisa berbuat apa-apa. Ada satu dua Realino-wan yang punya nyali baja mendatangi penjara Wirogunan untuk menjenguk Endang Sariman, membawa makanan sambil membesarkan hatinya. Tetapi sebagian besar tidak punya nyali, bahkan ketakutan jangan-jangan nantinya ikut tersangkut, terutama kawan sekamar Endang Sariman. (bersambung)

penjara wirogunan yogyakarta

penjara wirogunan yogyakarta

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in dormitory and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s