Realino (10) – sidang pengadilan

Dari Maret 1964 Sariman meringkuk dibalik jeruji penjara Wirogunan Yogyakarta. Bagi Sariman waktu berjalan dengan sangat lambat sekali. Mula2 Sariman susah bergaul dengan para penghuni penjara. Sebagian besar dari mereka adalah penjahat yang dihukum karena melakukan tindak pidana. Sariman dipenjara karena ulah lawan politiknya, bukan karena tindak pidana. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan dijalani tanpa ada kejelasan kapan mau disidangkan perkaranya. Sementara itu Romo Willemborg dengan penuh kasih dan sayang menjenguk Sariman seminggu sekali sambil membawakan makanan.

Sembilan bulan kemudian barulah muncul tanda-tanda bahwa perkaranya akan disidangkan. Detik-detik menghadapi pengadilan adalah saat yang menegangkan dan menggelisahkan. Romo Willemborg masih tetap rajin mengunjungi Sariman, membawa makanan sambil selalu memberikan dorongan moril kepada Endang Sariman. Dia diminta agar tenang dan tabah menghadapi percobaan hidup dari Tuhan yang sedang dialami.

Sidang Pengadilan Negeri Yogyakarta dengan 3 hakim pun akhirnya digelar dengan mendapat perhatian yang sangat luar biasa. Hakim yang memimpin Prof Sudikno SH dosen Fakultas Hukum UGM merangkap hakim profesional.

Kawan-kawan yang bersimpati ke Sariman banyak yang hadir dipersidangan antara lain dari HMI, dari Realino, dari PMKRI dan dari mahasiswa2 Sumatra Selatan. Saya ikut hadir di pengadilan untuk mengetahui suasana dan situasi pengadilan, suatu tempat yang tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Dorongan “ingin tahu” mengusik hati saya, sehingga dibela-belain mbolos dari kuliah.

Kelompok yang berseberangan pun turut hadir seperti kelompok CGMI, mereka tidak menggerombol jadi satu tetapi memecah diri menjadi kelompok kecil 2-3 orang. Wajah mereka masih saya ingat karena mereka menjadi panitia mapram ketika saya baru masuk.

Wartawan pun banyak yang hadir untuk meliput persidangan. Ada atribut yang dipasang di baju mereka sehingga bisa terbaca oleh orang lain.

Pada Sidang pertama jaksa membacakan dakwaannya, dengan semangat dan berapi-api, intinya menuduh Endang Sariman sebagai agen dan antek CIA. Sariman dituduh sebagai manusia yang sangat berbahaya karena intelektualitas nya tinggi dan pengaruhnya besar, bisa melemahkan perjuangan negara dan bangsa untuk mengenyahkan nekolim dari bumi pertiwi dan dunia. Kira-kira begitulah kalimat-kalimat yang dibaca pak Jaksa.

Pada sidang kedua dan ketiga, selang sebulan-sebulan, ada beberapa saksi yang dihadirkan. Saksi yang memberatkan adalah kawannya sendiri mahasiswa Teknik Kimia UGM seangkatan Sariman dari CGMI ormas mahasiswa dibawah PKI. Jumlahnya ada 2 orang.

Lalu ada saksi yang meringankan antara lain Romo Willemborg. Beliau dengan berapi-api menjelaskan ke hakim bahwa Endang Sariman bukan agen CIA. Tidak ada hubungan dengan Amerika. Orang tua Sariman bekerja di PT Stanvac milik Amerika, tetapi itu tidak ada hubungan dengan CIA. Selama di Yogya, Sariman kuliah di Teknik Kimia UGM, dan berorganisasi di HMI, disitu Sariman belajar soal politik. Sariman bergaul dengan room pastor yang tidak pernah ngurusin politik praktis. Sariman adalah penganut islam yang taat beribadah.

Ketua Asrama Mahasiswa Realino, mas LukmanTambunan, mahasiswa tugas belajar dari AURI pun memberikan kesaksian bahwa Sariman bukan agen CIA. Mas Lukman hadir diruang pengadilan mengenakan seragam AURI lengkap dengan tanda pangkat nya. Orang batak yang satu ini gagah, ganteng, putih dan sangat simpatik sekali.

Sudah setahun lebih Endang Sariman meringkuk dibelakang terali besi, bercampur dengan narapidana lain. Dia sangat terpukul, menderita lahir maupun batin.

Sidang sudah berlangsung tiga kali, belum ada tanda-tanda kapan hakim akan menjatuhkan keputusan. Benar-benar menegangkan. Menurut Realino-wan mas Waluyo Sejati dari Fak Hukum UGM, kasus ini tergolong baru dan landasan KUHP nya belum ada. Bukti-bukti bahwa Sariman adalah agen CIA itu belum cukup untuk menjatuhkan vonis. Ini adalah urusan politik bukan pidana, mungkin yang akan di”salah”kan adalah menghina Bung Karno dan mengkritik pemerintah ditempat terbuka. Tetapi hakim nya pun takut.

Secara mengejutkan, pada sidang yang diadakan diakhir Pebruari 1965, ada berita yang diumumkan oleh Ketua Hakim Pengadilan bahwa Bung Karno mengirim surat yang mengatakan bahwa Endang Sariman “bukan agen CIA”. Sariman harus segera dibebaskan dari penjara dan namanya direhabiliter. Berita di persidangan ini disambut denga gembira oleh kawan2 dan sahabat2 Sariman yang hadir di sidang itu. Berangkulan, bersalaman, berpeluk2an sambil menitikkan airmata. Airmata kegembiraan yang keluar sendiri karena saking gembiranya. Sidang hari itu hanya sebentar , hanya setengah jam saja, lalu Sariman dibawa kembali ke rumah tahanan Worigunan. Proses berita acara keluarnya Sariman memerlukan waktu dua hari.

Romo Willemborg beserta Realino-wan yang mempunyai sepeda motor menjemput Sariman ke penjara Wirogunan. Sariman akhirnya sudah bebas dan dia bisa menghirup udara segar. Badannya lebih putih dan lebih kurus.

Di Realino Sariman disuruh cerita pengalaman suka dan duka dia selama di penjara. Yang mengenaskan antara lain makanan yang kurang gizi, tempat penjara yang jorok dan tidak bersih, wc nya yang bau dan jorok sekali, pergaulan dengan para penghuni yang umumnya kelas rendahan dan bersifat kasar dll. Yang menyenangkan yaitu dia merasa dekat dengan Tuhan, rajin sembahyang dan berdoa dengan khusuk, selalu memohon pertolongan dan perlindungan kepada Tuhan, dan dia yakin bahwa kebenaran akan muncul.

Problem Sariman meringkuk dipenjara sudah hilang. Namun muncul problem yang baru. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in dormitory and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s