Realino (11) – perjuangan sesudah bebas

Misterius. Itulah yang bisa disimpulkan dari proses keluarnya Sariman
dari Penjara Wirogunan. Begitu sidang pengadilan dibuka, lalu seperti
biasa panitera pengadilan membacakan tata tertib dan ringkasan sidang
terdahulu. Waktu sidang akan dimulai, ketua sidang pengadilan, yaitu
Ketua Hakimnya minta diskors, karena akan membacakan telegram yang
barusan diterima. Isinya yaitu menghentikan sidang perkara tuduhan
Sariman sebagai agen CIA, atas perintah Presiden RI dan Pemimpin Besar
Revolusi. Alasannya Sariman bukan agen CIA. Selesai dibaca, lalu Ketua
Hakim menutup sidang dan bubar. Aneh sekali.

Koran lokal di Yogyakarta, seperti KR dan lain2 keesokan harinya
memuat berita ini. Tempatnya di halaman yang tidak strategis. Kecil,
singkat dan tidak menyolok. Masyarakat dan tokoh2 politik lokal di
Yogya maupun tokoh ormas2 tidak ada yang protes, tidak ada yang
ribut-ribut. Pemberitahuan ke pimpinan Realino pun dilakukan melalui
telpun dari staf di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Suasana politik
ditanah air memang sedang memanas pada awal 1965. Para mahasiswa yang
aktif di ormas2 politik setiap hari berkumpul dimarkasnya
masing-masing. Mereka diminta berjaga-jaga dan menunggu berita baru
dari markas pusat Jakarta, walau setiap hari mendapat briefing
pimpinan di Yogya

Berita yang muncul di headline dikoran lokal maupun nasional, yang
menegangkan, bukan dihentikannya proses pengadilan Sariman, tetapi
perintah dari pimpinan ketua PKI, DN Aidit, yang ditujukan kepada
ormas mahasiswa CGMI, underbouwnya PKI, agar CGMI berjuang membubarkan
HMI. Disertai `ancaman’ yang bernada humor bahwa kalau ormas mahasiswa
HMI tidak bisa dibubarkan, maka DN Aidit memerintahkan agar semua
anggauta CGMI memakai sarung. CGMI dianggap lembek dan tidak pecus
berjuang.

Proses penjemputan Sariman dari penjara Wirogunan ke asrama Realino
dilakukan oleh romo Willenborg dan Realino-wan, dengan hati2 dan
waspada. Keluar dari penjara Wirogunan Yogyakarta, Sariman langsung
menuju Asrama Mahasiswa Realino di jalan Gedjajan. Sariman masih
diijinkan tinggal di Realino.

Masalah yang dimiliki Sariman waktu keluar dari penjara adalah dia
tidak mempunyai uang. Ditambah status kemahasiswaan Sariman dalam
keadaan dipecat, masih belum direhabiliter. Semua tahu bahwa
rehabilitasi perlu waktu yang mungkin cukup lama. Sariman perlu hidup,
kondisi tabungan yang dimilikinya sudah kosong. Romo Willemborg
memutuskan untuk membolehkan Sariman tinggal gratis di Realino, sampai
selesai rehabilitasinya. Tapi Sariman memutuskan lain, dia memilih
untuk kost diluar asrama Realino.

Untuk mencari makan, diam-diam Sariman menjadi tukang becak dan
pedagang kaki lima yang menjual dagangannya/asongannya di trotoir
Malioboro. Tapi itu hanya berlangsung dua bulan. Sampai suatu saat
Sariman ketemu orang bule dari Amerika yang sedang melancong ke Yogya.
Sariman diajak bekerja di perusahaan farmasi yang baru berdiri di
Jakarta. Beberapa bulan kemudian Sariman pindah kerja ke Amerika,
masih dengan orang bule Amerika yang dikenalnya di Yogyakarta.

Setelah kira-kira 2 tahunan di Amerika, Sariman kembali ke Yogyakarta
dengan membawa uang yang cukup. Dia ingin kuliah lagi di Teknik Kimia
UGM. Kegiatan diawal 1969 Sariman mengurus status kemahasiswaan dan
berhasil. Namanya bisa direhabilitasi oleh rektor UGM yang baru,
alangkah gembiranya dia. Dengan tekun, semangat tinggi dan gigih
Sariman bisa meneruskan kuliah di Teknik Kimia UGM hingga selesai.
Gelar insinyur teknik kimia, yang diimpikan oleh Sariman dan semua
familinya akhirnya dapat digenggam di akhir 1973.

Tidak lama dia lulus insinyur dia lalu kawin. Namun cobaan hidup masih
terus dihadapi. Beberapa tahun kawin, Sariman belum juga dikaruniai
anak. Singkat cerita, Sariman lalu mengambil anak angkat, atas
persetujuan istrinya.

Perjalanan kehidupan seseorang tidak sama dengan yang
dicita-citakannya. Ijasah Insinyur Teknik Kimia hanya disimpan
dilemari. Sariman lalu memimpin lembaga pendidikan yang berazaskan
Islam, semacam pondok pesantren, dengan diawali anak santri sebanyak
30 orang. Semakin lama semakin banyak hingga mencapai 200 santri.

Sariman tidak terjun ke dunia politik, menurut dia dunia politik tidak
sesuai dengan hati nuraninya. Sariman menekuni ilmu agama Islam dengan
sungguh-sungguh.

Penampilan Sariman saat hadir di reuni Realino tahun 2000 di rumah mas
Bambang, pemimpin dan pemilik Trubus dan Bina Swadaya, membuat kami
semua terkejut. Sariman memakai surban seperti Aak Gym, bajunya gamis
putih panjang. Sangat percaya diri, semangat dan antusias. Begitu
masuk rumah langsung berkata keras sekali : “Assalamu’alaikum” Semua
yang hadir disalami dan yang akrab dipeluk.

Ditengah acara reuni tahun 2000 itu Sariman diminta syering
menceriterakan pengalaman dia sewaktu di penjara di Wirogunan. Dengan
gaya bicaranya yang ceplas ceplos seperti dulu, Sariman berceritera
dari awal dia dijemput polisi di Realino, melakoni suka duka kehidupan
di penjara selama setahun. Sariman menceriterakan dengan terbuka dan
disertai humor2 khas Sariman. Diceriterakan juga suasana di pengadilan
dan terror yang dihadapi selama masa persidangan. Sariman masih ingat
beberapa nama anak Realino yang bezuk dia, antara lain mas Hasan Basri, mas Darmanto, sambil membawa nasi gudeg
Demangan. Makanan itu sangat dinikmati Sariman, untuk menambah gizi
katanya.

Dari antara teman2 Sariman, diakuinya bahwa yang paling banyak dan
paling sering membezuk Sariman dipenjara adalah teman2 dari Realino.
Yang mengherankan adalah kawan2 dari HMI dan kawan2nya dari Sumatra
Selatan jarang menengok, mereka datang hanya sekali-sekali saja.
Dengan lantang dan bersuara keras Sariman mengatakan bahwa anak
Realino adalah sahabat sejati, teman tulen yang datang menjenguk
Sariman disaat Sariman sedang down dan sedang mendapat musibah. Motor
nya adalah romo Willemborg. Itu tidak bisa dilupakan. Realino benar2
mendapat tempat yang sangat istimewa dihatinya. Sariman semakin rajin
sembahyang lima waktu dan semakin yakin bahwa itu semua memang sudah
ditakdirkan terjadi dan sebagai cobaan hidup yang harus dilaluinya.
Dia ikhlas menerima semuanya itu.

“Pendidikan mental spiritual di Realino adalah yang terbaik yang
pernah dijalani. Realino diakui sebagai sarana untuk kaderisasi para
pemimpin masyarakat dan bangsa Indonesia. Lintas agama, lintas suku
bangsa, lintas fakultas, lintas ormas dan lintas golongan. Semuanya
ada. Dan itulah Indonesia mini yang benar dan baik. Sariman yakin
Indonesia memerlukan tempat pengkaderan yang baik dan benar seperti
Realino.” kata Sariman dipenutup syeringnya.

Drama kisah Endang Sariman dengan perjalanan hidupnya yang penuh
lika-liku, yang penuh suka dan duka benar-benar mengagumkan dan luar
biasa. Yang patut diacungi jempol adalah ketabahan, kesabaran,
keuletan dan kegigihan dalam menghadapi problem kehidupan. Dia sangat
yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Adil. Dia sangat yakin bahwa
kebenaran itu pasti akan muncul. Di pertemuan reuni tahun 2000 itu
Sariman menyatakan bahwa peranan romo Willemborg selama di penjara
sangat besar sekali. Beliau benar-benar bernyali besar, bernyali baja,
berani membantu Sariman habis-habisan tanpa pamrih dan tanpa
mempedulikan risiko dan nasib dirinya sendiri. Suatu demonstrasi
“Sapientia et Virtus” atau kebijakan dan kebajikan yang luar biasa.

Sejak pertemuan reuni Realino ditahun 2000, kami tidak pernah menerima
kabar beritanya lagi, kami menebak bahwa Sariman sibuk dengan kegiatan
mengelola pesantrennya di Palembang. Jumlah santrinya lumayan banyak,
hampir mendekati 200-an.

Setelah lima tahun tidak ada kabar beritanya, di awal tahun 2005 kami
para eks Realino-wan baru menerima berita lagi bahwa Sariman telah
meninggal dunia di Palembang. Sebelum wafat Sariman menderita sakit
beberapa bulan. Innallilahi wainaillaihi rojiun … Semua yang berasal
dari Allah dan pasti akan kembali ke Allah. (bersambung)

& Komentar
1.
R. Darmanto Djojodibroto, Realino angk 1963, memberi komentar.
Februari 8, 2009 pada 10:17 am
Mas Mariyono dan teman-teman,
Mas Mariyono telah menulis dengan jelas tentang mas Endang Sariman. Ada beberapa yang saya tidak tahu sekarang menjadi tahu, terima kasih mas GS. Untuk teman-teman yang tidak mengalami kejadian ini, saya akan menambah tulisan mas Mariyono.
Pada suatu malam mungkin sudah jam 21.00 ada telepon, saya yang kebetulan dari kamar mandi atau toilet menerimanya. Telepon dari polisi meminta agar dikirim kasur ke kantor polisi. Telepon saya sampaikan kepada Romo Stolk. Saat itu saya tidak tahu kalau mas Sariman ditahan polisi, baru esok harinya saya tahu bahwa polisi minta kasur untuk mas Sariman.

dokter darmanto, angk 64

dokter darmanto, angk 64

Yang sering membezoek mas Sariman di Wirogunan setahu saya mas Hasan Basri Pase (psychology UGM), saya pernah sekali bersama mas Hasan membezoeknya.
Gedung pengadilan untuk mengadili mas Sariman letaknya di sebelah selatan kantor pos besar Yk, berseberangan dengan Universitas Respublika milik Baperki.
Mas Sariman juga dituduh telah mendengarkan radio Malaysia. Saat itu Pemerintah RI melarang rakyat mendengarkan radio Malaysia. Malahan Menteri Agama RI menyatakan bahwa mendengarkan radio Malaysia hukumnya haram. Memang saat itu aneh, mendengarkan radio Peking (sekarang Beijing) yang komunis boleh, radio Malaysia yang sering mengumandangkan adzan dianggap haram. Hakim bertanya kepada mas Sariman apakah dia tahu hukumannya mendengarkan radio Malaysia. Mas Sariman menjawab hukumnya haram menurut Menteri Agama RI. Yang menghadiri sidang tertawa.
Suasana di masyarakat saat itu saling curiga mencurigai. Bung Karno menganggap orang yang tidak berpolitik itu tidak etis. Orang harus memihak. Suasana di asrama Realino tidak-terlalu terpengaruh, walau masih ada pembicaraan keras antara penghuni Realino pendukung Bung Karno dan yang tidak mendukung. Tentang Realino saya singgung di buku yang saya tulis “Tradisi Kehidupan Akademik” terbitan Galang Press 2004.
Ingatan saya tentang mas Sariman: Nampak lebih dewasa dibandingkan saya, mungkin beliau kelahiran sebelum tahun 1939. Berkacamata, pandai meniru pembicaraan singkek, tangkapan saya, dia sekolah dibiayai atau tugas belajar dari PT Stanvac (Standard Vacuum Oil Company), itulah sebabnya baru masuk FT UGM tahun 1962, mature student.
Mas Mariyono sekali lagi terima kasih atas tulisannya yang mengembalikan kenangan. Mohon diperiksa lagi spelling nama Romo. Ingatan saya namanya Romo Prof. Mr. Drs. Willenborg, SJ. Bukan Willemborg
Salam – RDD

komentar-2 :
Re: Fw: Gufron Sumariyono; Pengalamanku di Realino

J.Mulyanto dan istri (angk - 1962)

J.Mulyanto dan istri (angk - 1962)

Saya satu angkatan dengan sdr.G.Sumariyono pada waktu diasrama Realino. Tulisan
pengalaman yang dibuat oleh beliau menunjukkan “memori” yang masih sangat bagus
dan jernih dari G.Sumariyono. (kapan tulisan itu dibuat ?) Apa yang dikisahkan
memang apa yang saya alami juga selama di asrama Realino ditahun-tahun itu.
Terutama tentang Endang Sariman, seorang figur kontroversial.yang
humoris.,ceplas ceplos , yang dengan kelucuannya itu justru membawanya ke
penjara. Itu merupakan cost dari Endang Sariman.Dulu ,Endang Sariman kalau
ketemu saya dan kakak saya selalu cakap Melayu…Dialek Melayunya sangat
persis….Bagi yang mendengar bualan melayunya itu sepertinya memang
ngece..terhadap pemerintah yang sedang berkonfrontasi dengan Malaysia , tapi
itulah dan begitulah Endang Sariman , berani mengutarakan yang bagi orang lain
justru dihindari..
Tulisan sdr.G.Sumariyono membawa kita kekenangan masa lalu di asrama Realino.
Tapi saya juga punya kenangan kecil dengan G.Sumariyono.. suatu pagi buta saya
mau kestasiun Tugu…diundak-undakan vila selatan berpapasan dengan
G.Sumariyono yang mau naik kekamar..saya pikir baru dari kamar mandi. Waktu
saya tanya dari mana..jawabannya… ” aku bar mimpi sepedaku ilang..tak tiliki
neng tempat sepeda jebule isih ana..” He..he..he.. ymulyanto (realino 62)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in asrama, dormitory and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Realino (11) – perjuangan sesudah bebas

  1. pasti pak. Bapak pasti diajak asalakan menulis terus di blog dan kompasiana

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s