Rossall School (4) – hidup diluar negeri dan krisis ekonomi

sejak 1997 tinggal di Inggris

sejak 1997 tinggal di Inggris

Bagi banyak orang kata ‘luar negeri’ sering menjadi sebuah simbol kemewahan, kemajuan, kemapanan, juga harapan akan kehidupan yang lebih baik dari pada hidup dinegeri sendiri. (Dahulu) saya pun tak luput dari memiliki pandangan semacam itu. Setiap ketemu kawan ada beberapa orang yang berterus terang menyampaikan kepada saya. “Enak banget anda ya, bisa punya anak tinggal dan sekolah diluar negeri !” Dan setiap mendengar kalimat ini, biasanya saya hanya tersenyum penuh arti sambil mengucap didalam hati. “Terima kasih, alhamdullilah, tapi belum tentu enak lho ?”

Bagi saya LN itu untuk menambah wawasan, menambah ilmu, persiapan sebelum terjun ke masyarakat di Indonesia. Saya amat mencintai Indonesia dan ingin memberikan kontribusi dalam membangun Indonesia tanah airku tercinta agar rakyat bisa lebih sejahtera. Anak-anak saya ajarin dan saya arahkan untuk belajar dimasa muda dan bekerja di masyarakat membangun Indonesia kalau sudah selesai. Banyak masalah sosial disini yang perlu ditangani oleh putra bangsa sendiri. Hiruk pikuk politik membuat saya prihatin sekali, mengapa mereka menghamburkan uang ber milyar milyar bahkan bertriliun untuk menduduki singgasana di pemerintahan ? Sungguh memprihatinkan sekali.

Sewaktu masih di asrama Realino Yogyakarta, kami diajarin untuk jujur, tanggung jawab dan lebih peduli kepada penderitaan orang lain, bukan untuk berhura-hura mencari jabatan. Dan itu saya lakukan kepada anak-anak, kejujuran, tanggung jawab, peduli kepada sesama, mencintai Indonesia, sekolah boleh ke LN, tetapi berkarya harus di tanah air.

Saya beruntung memiliki kesempatan mencicipi kehidupan luar negeri, 2 tahun tinggal di Bangkok dan setahun tinggal di Hongkong. Waktu itu 1977-1980, oleh IBM saya diberi tugas sebagai IBM Trainer di IBM Education Center di IBM Regional Education Center, untuk wilyah Asia Tenggara, Hongkong, Taiwan serta Korea. Dari pengalaman tinggal di LN saya dapat membuat perbandingan antara ‘tinggal’ dan ‘jalan-jalan’ ke LN. Yang ‘tinggal’ adalah menetap untuk beberapa tahun dan tinggal di rumah/apartemen dan yang ‘jalan-jalan’ adalah hanya beberapa hari, tinggalnya pun di hotel. Bagi saya menetap di tanah air lebih mendapat prioritas, karena banyak yang bisa dikerjakan.

Kata “jalan-jalan” dengan ‘tinggal” meskipun sama-sama diluar negeri memiliki arti yang berbeda-beda. Selayaknya orang numpang, hak orang asli Inggris yang mereka terima tentu tidak sama dengan warga pendatang.

.01d004 01d003 02a011 03aa 03v5 008d

Di asrama Rossall, tidak ada perploncoan, tidak ada’bullying’ yang dilakukan oleh para senior kepada para yunior. Yang terjadi para senior ‘sangat friendly’ mereka akan membantu yang yunior untuk settle down maksudnya agar mereka betah tinggal di Rossall. Selama di Rossall, anak-anakku mulai merasakan hidup tanpa pembantu mbok Inah yang siap sedia memasak, mencuci pakaian, ngelap sepatu, disuruh ambil minum, disuruh ini dan itu. Kenikmatan mempunyai pembantu menghilang lenyap dan semua harus dikerjakan sendiri. Anak-anak saya harus mulai belajar segalanya dari awal untuk bisa betah tingal di Rossall. Mereka terpaksa harus menyesuaikan diri dengan kondisi serba berbeda dengan dirumah sendiri. Lelah ?? Jangan ditanya !

Semakin lama anak-anakku tinggal di Inggris semakin membuka mata mereka bahwa hidup diluar negeri tak selalu berarti kemudahan, tetapi lebih merupakan perjuangan. Semakin lama mereka hidup diluar negeri, semakin menggebu pula keinginan mereka untuk pulang. Tanpa dipungkiri, selalu ada perasaan rindu menyelinap untuk kembali menjalani hidup disebuah tempat dimana anak-anak bisa berbicara dalam bahasa ibu mereka sendiri, setiap hari bermandikan sinar matahari dan setiap hari makan makanan super lezat hasil masakan ibunya sendiri yang siap disantap setiap pulang sekolah. Ditempat itulah hati mereka nyaman tertanam, namanya .. kampung halaman.

01d002

Peranan Bill dan Carol sebagai Guardian Parent nya Rahma dan Dhani sungguh luar biasa. Rahma dan Dhani sering curhat dan sering mengeluh tentang berbagai hal, Bill dan Carol  dengan sabar dan bijaksana menjawab permasalahan anak-anak , anak-anak diminta tabah menghadapi kondisi Inggris yang berbeda dengan kondisi Indonesia.

Kedua anakku diajarin keterampilan berpikir kreatif, memecahkan masalah, mengambil keputusan, kemampuan imajinasi, mengetahui cara bekerja, dan menggunakan logika. Menjelaskan pentingnya memiliki kualitas kepribadian, mempunyai harga diri, kemandirian, tanggung jawab individu, tanggung jawab sosial, kekokohan pribadi, bisa bekerja sama, mencari dan memperoleh informasi. Diajarain juga bagaimana mengetahui, membentuk, dan menggunakan sistem, memahami dan mampu menggunakan teknologi komputer. Carol dan Bill orang Inggris yang berhati baik. Kalau berbuat salah Dhani dan Rahma pasti ditegur.

.

.imf soeharto

Memasuki tahun 1998 kita semua menjadi saksi bagi mulainya tragedi perekonomian Indonesia. Seperti efek bola salju, krisis yang semula berawal dari krisis nilai tukar Baht Thailand Juli 1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi lalu krisis sosial dan krisis politik. Saya masih ingat faktor yang mempercepat efek bola salju adalah hilangnya kepercayaan masyarakat, memburuknya kesehatan pak Harto, ketidakpastian suksesi kepemimpinan, sikap plin-plan pemerintah dalam mengambil kebijakan, besarnya utang luar negeri yang segera jatuh tempo.

Krisis ekonomi yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi Indonesia dengan cepat menghancurkan sendi2 ekonomi. Puluhan bahkan ratusan perusahaan, mulai sektor kecil hingga konglomerat bertumbangan dan tutup. Sekitar 70% perusahaan di pasar modal menjadi ‘insolvent’ alias bangkrut.

Nilai rupiah yang ditutup pada level Rp 4.800/dolar di Agustus 1997 dengan cepat meluncur ke Rp 17.000/dolar di pertengahan tahun 1998, atau terdepresiasi 80 %. Gila sekali.. benar-benar gila.. semua orang panik.

Adrenalin masyarakat yang sebelumnya tenang, menjadi beringas. Kemarahan rakyat atas ketidak berdayaan pemerintah mengendalikan krisis segera berubah menjadi aksi protes, kerusuhan dan bentrokan berdarah di Ibukota, yang menuntun tumbangnya pak Harto pada tanggal 21 Mei 1998.

Apa kabar bailout IMF yang 43 milyar dolar itu? Sampai detik ini, uang itu entah di mana. Ada beberapa percik dicairkan tahun 1999-2000, tak sampai seperempatnya. Dan tidak menolong apa-apa. Yang terbukti bukan mencairkan dana yang dijanjikan, tapi meminta pemerintah indonesia supaya mencabut subsidi bbm, subsidi pangan, subsidi listrik, yang membuat rakyat indonesia tambah miskin dan sengsara. Anehnya, semua sarannya itu diturut oleh pemerintah rendah diri, penakut, inlander ini. Harusnya Pemerintah membela rakyatnya. Pemerintah yang tolol bin gebleg.

Dari media Koran waktu itu, yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman, bukan bantuan, diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit IMF tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.

Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan  perusahaan negara, seperti Telkom, Indosat, Pertamina, BNI 46, BBD dan lain2nya. IMF itu preman internasional. IMF itu perampok kekayaan Indonesia. Generasi muda Indonesia hayo bangkit. Lawan. Rebut. Kuasai kekayaan Indonesia oleh orang Indonesia. Perkuat rasa nasionalisme. Bersatu.

Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?

Munculnya pemerintahan baru yang tidak memiliki legitimasi tidak banyak menolong, mereka lebih sibuk merebut hati rakyat. Begitulah kita semua telah menyaksikan sendiri episode terburuk perekonomian Indonesia dimulai tahun 1998 dan berlangsung hingga kini. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in asrama, dormitory and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s