Rossall School (5) – dampak krisis, Rahma pindah ke Wigan College

Dari awal sampai pertengahan 1998, dampak dari krisis ekonomi mulai langsung meruntuhkan ekonomi kami. Saya dan istri memutar otak bagaimana bisa mengatasi problem pembiayaan sekolah anak-anak yang sekolah di Inggris baru memasuki tahun ke-2 ? Sanggupkah kami menyelesaikan proyek ‘menyekolahkan anak-anak ke Inggris’ sampai tuntas? Jangan2 kami tidak sanggup dan terpaksa memulangkan anak-anak ke Indonesia, karena kesulitan biaya. Saya dan istri terus menerus berdoa, mohon pertolongan Allah, untuk menyelesaikan proyek ini. Apapun yang terjadi itu memang sudah kehendak Allah, itulah yang terbaik bagi kami. Kami ber-ichtiar dan mencari jalan keluar. Hasilnya kami serahkan kepada Allah.

Mula2 kami ke British Council di jalan Sudirman, untuk mencari nama dan alamat beberapa Charity Foundation yang memberi beasiswa. Setelah dapat, kami menghubungi 3 Charity Foundation di Inggris. Intinya meminta bantuan scholarship bagi kedua anak kami yang sedang sekolah di Rossall School. Dua menjawab bahwa mereka tidak menyediakan beasiswa untuk level highschool. Beasiswa disediakan untuk program master dan program doctor. Yang satu mengirimkan jawaban yang memberi harapan. Namun setelah kami mengisi formulir, dijawab negatip.

Saya mengirim surat ke Dean of Rossall School dan menceriterakan kondisi buruk ekonomi Indonesia, yang berdampak kepada financial kami. Saya mengajukan permohonan scholarship atau diringankan pembayaran sekolah anak-anak. Dalam surat saya tuliskan bahwa kalau kami tidak mendapat jalan keluar masalah biaya sekolah, maka anak-anak akan saya tarik pulang ke Indonesia.

Biaya sekolah di UK tinggi sekali, kalau di-rupiahkan. Diawal Januari 1997, 1 Pound sterling itu sama denga Rp 3.100. Diawal januari 1998, nilainya sudah terbang menjadi Rp 20.000 per 1 pound sterling. Gila. Saya menyalahkan kepada pemerintah Indonesia yang tidak becus mengurus Negara.

Pada pertengahan 1998, terlihatlah titik terang. Dimulai Juli 1998 upaya mencari sekolah di UK yang bermutu dan gratis bagi anak-anak mulai memperlihatkan sinar terang. Alhamdullilah. Rahma kami pindahkan ke Wigan and Leigh College, dikota Wigan, Sekolah milik Pemerintah di kota Wigan, dekat Liverpool dan dekat dengan rumah Carol. Disekolah itu Rahma tidak dipungut biaya sekolah sepeserpun alias gratis. Nama sekolahnya GNVQ yang dikelola oleh Wigan College. Saya hanya membayar biaya pondokan dan biaya hidup saja. Peranan Bill dan Carol pun amat besar dalam memindahkan Rahma ke Wigan. Mereka berdualah yang mencarikan sekolah dan mencari pondokan yang sesuai untuk Rahma.

Tanpa banyak hambatan Rahma dapat menamatkan GNVQ. Karena diberi kesempatan, Rahma meneruskan kuliah di HND (high national diploma) selama 2 tahun, di College yang sama yaitu Wigan College, semacam D2 kalau di tanah air, yang penting Rahma dapat sekolah yang mutu dan gratis.

Tanpa hambatan yang besar, Rahma pun dapat menyelesaikan HND dalam waktu 2 tahun, tepat pada waktunya.
Dengan ijasah HND Rahma, diberi kesempatan untuk meneruskan mengejar gelar Bachelor Degree di Sunderland University. Alhamdulilah, disini juga tidak perlu membayar Tuition Fee. Dengan bangga Rahma menerima degree BSc sambil gendong anak pertamanya.

Keberuntungan ada dipihak Rahma, jadi sesudah dihitung-hitung selama Rahma sekolah di UK 10 tahun, saya hanya membayar Tuition Fee selama 2 tahun di Rossall. Selama 8 tahun berikutnya, Rahma mendapat scholarship dari Pemerintah kota Wigan melalui semacam Lembaga Santunan untuk para murid yang perlu disantuni.

Semua itu berkat upaya Rahma sendiri yang rajin bertanya kiri dan kanan, menghubungi departemen di Wigan College dan Balai kota Wigan yang ngurusin scholarship. Dan Rahma mampu meyakinkan petugas disana bahwa Rahma patut mendapat scholarship.

Rahma itu aktivis kampus, pernah 2 tahun menjadi Head of Student Association of Wigan College, yaitu ketika masih kuliah di HND. Anak buahnya semua bule-bule lokal, kalau ada kegiatan kampus dia memberi perintah dan mengatur kerja bule-bule itu. Selain kuliah, Rahma pun rela bekerja sebagai upaya menambah uang saku, mulai kerja sebagai cashier di supermarket, sebagai clerk di Barclays Bank, sebagai pekerja dipabrik roti. Anak perempuan saya ini memang tahan banting.

Selama tinggal di kota Wigan tempat kost nya Rahma pindah2, selama 4 tahun terakhir dia mondok di keluarga keturunan Bangladesh, selain lebih murah disini sholatnya lebih terjaga karena sama2 muslim, kedua anak perempuan dari keluarga Bangladesh ini sangat dekat dengan Rahma sudah seperti saudara kandung.

Rahma pulang ke Indonesia awal 2004 dengan membawa izasah HND dan acceptance letter dari Sunderland University. Sampai di Jakarta dia kerja di perusahaan advertising Australia. Belum cukup setahun di Jakarta, Rahma dilamar oleh pemuda pilihannya. Kami merestui hubungan kedua muda-mudi. Maka kami kawinkan Rahma dengan Didik, pemuda yang menjadi pilihannya, pada bulan Mei 2005.

Seminggu setelah dia nikah bersama suaminya, Rahma kembali ke UK. Keduanya meneruskan kuliah sampai selesai. Rahma wisuda bachelor degreenya, Juli 2006 di Sunderland University, dan dilakukan di Stadium Sunderland. Sambil menggendong bayinya yang baru umur 3 bulan Rahma tampil ke stage untuk menerima izasah Bsc nya. Mengharukan sekali. Saya melihat ibunya meneteskan airmata, karena teringat akan perjuangan yang telah ditempuh untuk mencapai BSc. Jalan menuju ke stage sarat dengan batu terjal, batu yang tajam, dan disertai airmata. Dan doa kepada Yang Maha Rahman. Alhamdullilah.

Nopember 2007 Rahma pulang ke Jakarta membawa dua bayi, kedua bayinya lahir di London. Benar-benar perjuangan yang gigih, suatu demonstrasi tentang kecerdasan emosi dan spiritual yang ulet dan pantang menyerah.

Ibaratnya harimau jangan terkurung dalam kandang. Jangan takut untuk meninggalkan kandang yang nyaman yaitu Jakarta. Berupaya sebaik mungkin untuk mengukir masa depan. Harus berani mengatasi segala tantangan. Prinsipnya sekali layar terkembang pantang biduk surut kebelakang, maju terus apapun problemnya. foto klik : https://picasaweb.google.com/114259313118540161207/GraduationDayForRahma?authkey=Gv1sRgCJ_O9_-FmZWlFA(bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in asrama, dormitory and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s