Rossall School (7) – Success never come easy nor cheap

002ab001ha010i004ca02a01001d008001b005001b00201a00aadzaman globalisasi Menjadi orang tua di zaman globalisasi saat ini tidak mudah. Setiap orang tua mengharap anaknya pintar, taat dan salih. Menyerahkan ke sekolah tidaklah cukup. Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan dirumah tidak mungkin. Membiarkan anak lepas bergaul diluar, risikonya tinggi. Saya ingin menjadi orangtua yang bijak dan arif agar anak-anakku taat pada syariah.

Saya sharing diepisode ini, bagamana kami mengasah akal anak untuk berpikir yang bena.

Pertama memberikan informasi yang benar bersumber dari ajaran Islam. Meliputi rukun iman, rukun islam dan hukum syariah. Saya berikan secara bertahap sesuai dengan kemampuan nalar si anak. Yang penting merangsang anak untuk mempergunakan akalnya secara benar, dengan sabar dan dengan penuh kasih sayang. Mengapa? Karena harus diajarkan berkali-kali. Anakku Dhani tidak langsung mengerti dan menurut keinginan kita. Misalnya sholat, yang tidak bisa didoktrin apalagi diancam, Mama ga belikan mainan kalau malas sholat atau ga sholat dosa. kami tidak mengajarkan Dhani seperti itu. Yang kedua, jadilah teladan bagi anak. Ini pentinguntuk menjaga kepercayaan agar Dhani tidak ganti mengomeli ortunya, karena ortunya hanya pandai menyuruh. Ortu harus memberikan contoh.

Sejak masih dikandung oleh mamahnya, kami berdua selalu berdoa agar Allah melindungi anak kandung yang merupakan titipan Nya. Dari lahir sampai menginjak usia sekolah, Dhani kami didik sesuai syariah Islam. Membaca Al Quran, sholat berjamaah, berolahraga, ada silat ada berenang. Kami pun mengajak Dhani untuk melihat dunia luar, trip ke US selama 3 minggu merupakan awal perubahan cara berpikir dan bahwa proses menuju ke tujuan itu perlu proses, perlu kesungguhan dan perlu berdoa yang terus menerus ke pada Sang Khalik.

Wawasan Dhani pelan-pelan terbentuk, sangat mengagumi tentang bumi ciptaan Allah ini. Akal dan pikiran sudah berkembang. Ini merupakan slah satu sebab, mengapa kami melepas Dhani ke Inggris diusia masih belia yaitu 13 tahun.

Dhani join Rossall tahun 1997 dan mulai tahun 1998 Dhani mendapat beasiswa dari Rossall School berupa  potongan pembayaran yang besarnya 50% dari biaya normal. Alhamdullilah. Dan itu berlaku sampai tahun 2001, tahun terakhir bagi Dhani di Advance Level. 1ag Rossall6 bulan pertama di Rossall School, Dhani belajar Inggris. Lalu baru join GCSE di Rossaall School di UK. Apa itu GCSE? Selevel SMP  di UK denga sistim pendidikan UK. Inilah keunikan dan kelebihan dari sistim pendidikan di UK dibanding dengan sistim pendidikan di tanah air tercinta.

Bedanya banyak sekali dan sangat fundamental. Semua pelajaran di UK itu mempunyai bobot yang sama, para murid diwajibkan untuk tes kemampuannya dan bakatnya, yang mengetes biro pscycholog ISCO, singkatan dari Independent Schools Careers Organisation bekerja sama dengan the Morrisby Organisation. Termasuk aptitude test dan vocational questionnaire, yang merefleksikan interests dan performance dari si anak. Level of ability diberikan dengan membandingkan a wide range of other people of their age.

Hasil tes diberikan kepada orang tua murid dalam hal saya diberikan kepada guardian parent. Dengan cara ini orang tua akan membantu si anak memilih careernya dan memutuskan on the best way to gain the necessary qualifications and training. Untuk referensi hasil tes Dhani saya lampirkan. Dari hasil tes dan menjawab questionnaire, Dhani dan Rahma sudah tahu dibidang apa anak-anak nantinya akan bekerja sesuai bakat dan kesenangan masing-masing.

– Dhani cocok banget bekerja di pekerjaan yang berhubungan dengan “people”, pokoknya semua pekerjaan yang berhubungan dengan ‘orang’ itu cocok.
– Pekerjaan yang berhubungan dengan ‘information’ dinilai biasa-biasa saja. Tidak diberi prioritas utama, dia bisa melakukan tetapi setelh cukup lama akan merasa bosan.
– Pekerjaan yang berhubungan dengan ‘things’ prioritasnya sangat rendah. Harus dihindari, karena akan kontradiksi dengan jiwa dan minatnya. Istilahnya chemicalnya ngga bisa nyampur, harus dihindari.

Hasil dari test dilengkapi dengan gambar dan grafik, yang garis tebal itu berisi jenis pekerjaan yang diminati Dhani. Yang bergaris tipis adalah pekerjaan yang janga disentuh. Atas dasar itu maka Dhani bisa memilih mata pelajaran di GCSE dan di Advance Level.

Kalau ditanah air tercinta, tidak semua sekolah mempunyai tes pscychologi seperti ini, umumnya matematika adalah parameter nomor satu, artinya kalau ada murid yang nilai matematika rendah dia dianggap “bodoh”. Kasihan… padahal belum tentu. Di Inggris semua bidang sama, semua pelajaran sama bobotnya. Yang utama dan pokok anak-anak dikembangkan bakatnya dengan semaksimal mungkin. Teman-teman Dhani yang orang Inggris ada yang memilih sejarah, ada yang memilih Leisure and Travel, ada yang memilih sports juga ada yang memilih memasak. Padahal mereka itu jago2 matematika, kata Dhani.

Bill dan Carol, Guardian Parent dari Dhani selama sekolah di Rossall, mewakili saya berdiskusi dengan para guru dan supervisor di Rossall dengan menggunakan hasil tes ISCO ini untuk membantu Dhani memilih mata pelajaran di GCSE dan di Advance Level. Dhani yang menyukai “people” dan ‘analysing” mampu menghadapi ujian di GCSE dan ‘A’ level. Waktu ujian dalam satu ruang ada 2 guru dan muridnya hanya 10 – 15 orang saja. Tidak boleh nyontek dan tidak boleh ngepek. Harus dikerjakan sendiri. Selama ujian Dhani tidak stress.

Lain dengan Rahma, dia kalau ujian selalu stress. Dan bisa kehilangan kepercayaan diri, malahan pernah dalam satu ujian, semua yang dipelajari bisa lupa. Ini terjadi di GNVQ di Wigan College. Rahma menyampaikan kepada guru dan supervisornya, dan jalan keluarnya adalah nilai yang diambil dilihat dari beberapa hasil karya tulis/essay (60%) sedang sisanya diambil dari keaktifan dikelas dan informal test lisan. Luar biasa. Dan itu bisa resmi menjadi nilai di ijasahnya. Buktinya sekarang (sejak 2008) Rahma mendapat pekerjaan sebagai dosen di Fashion Business College ‘Lassalle’ yang lokasinya di kompleks Sahid. Dari feedback murid2 yang diminta menilai semua trainer2 dan dosen2 Lassalle, Rahma mendapat nilai 84%, termasuk yang bagus sekali. Rahma disukai oleh para murid. Baik cara mengajar maupun materi yang diajarkan. Bahasa yang dipakai mengajar adalah Inggris (60-70%) dengan aksen London yang kental. Rupanya itu disukai para murid.

Kembali ke ceritera tentang Dhani. Selama setahun di tahun 2001, tahun terakhir di Rossall, Dhani menyiapkan diri untuk meneruskan kuliah di salah satu University di UK. Bimbingan dan supervisi dari mentornya di Rossall menjadi lebih sering dilakukan agar Dhani memilih kuliah yang sesuai dengan minat dan bakat kesenangan pribadi. Para psycholog didatangkan lagi dan Dhani menjalani serangkaian testing tertulis dan wawancara yang cukup comprehensive.

Bahwa semua mata pelajaran di ‘Advance’ level di Rossall mempunyai nilai dan bobot yang sama. Murid2 bebas memilih. Yang suka olahraga diarahkan ke olahraga, yang suka musik diarahkan belajar musik dengan benar, yang suka sejarah diarahkan belajar sejarah, yang suka memasak diarahkan belajar memasak, yang suka matematika, agriculture, biologi, economy, engineering, chemical, hukum, bahasa, semuanya diajarkan dengan sungguh2 agar anak2 siap ketika masuk ke University.

Pertengahan 2001 Dhani lulus Advance Level, dan mulai mencari University di UK. Selama mencari University, semua proses administrasi lamaran dikerjakan sendiri.
Dhani sudah memiliki rasa percaya diri, mempunyai keberanian dan independen, optimis dan idealis, dia sudah bisa mengatur uang, dia sudah bisa mengatur waktu. Lamaran-lamaran (ada 6) ke University cukup dilakukan dari Rossall. Ada referensi tertulis yang dibuat Rossall, dan itu dipakai untuk melengkapi ijasah Advance Levelnya.

Dengan interview singkat lewat telpun, antara Dhani dengan staf dari University, akhirnya Dhani dapat diterima kuliah di Oxford Brookes University mengambil jurusan Computer Science. Lamanya kuliah 3 tahun, ditambah setahun job training, sehingga total menjadi 4 tahun.

Sebagai orang tua, saya dan istri amat bangga dengan hasil pendidikan yang diperoleh Dhani di Rossall. Pendidikan karakter di Rossall ibaratnya pendidikan budi pekerti plus. Yang melibatkan aspek pengetahuan , perasaan, dan tindakan. Anak2 di Rossall umumnya cerdas emosinya, hal yang sangat penting untuk mempersiapkan dan menyongsong masa depan, sebagai modal menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

Dhani kuliah di Oxford Brookes University di Oxford. Ijasah S-1 dan Ijasah S-2 diperoleh dari Oxford Brookes University. Di usia Dhani 23 tahun, dia telah menyelesaikan S-2 nya. Alhamdullilah.

Karakter Dhani sudah British sekali.  Santun, jujur, tanggung jawab, respect kepada aturan, kepada guru dan orang tua, Tradisi, budaya dan karakter British telah mengental di jiwanya Dhani. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kehidupan sehari2 di Rossall dan sekitarnya yaitu Fleetwood dan Lancashire. Tradisi yang masih dipelihara dan dipraktekkan oleh masyarakat pedesaan dan kota kecil di Inggris. Masyarakat Inggris asli di Fleetwood itu friendly dan suka menolong orang lain, tidak ada perbedaan apa dia orang asli Inggris atau pendatang. Ada sifat gotong royong yang dilakukan mereka juga. Orang Inggris pada umumnya sangat menghormati peraturan, menghormati orang tua, sopan dan santun dalam bertutur dan berkata-kata, menghormati hak orang lain. Kejujuran sangat dijunjung tinggi. Untuk orang Inggris jujur itu biasa. Untuk Indonesia jujur itu langka.

Dhani amat mencintai mamanya, setiap pulang ke Indonesia, mamanya meminta Dhani membaca Al Quran paling kurang satu ain sehari. Pada April 2007, Dhani kembali ke Jakarta. Dia memutuskan untuk pulang ketanahair, mendarma baktikan ilmunya dan pengalaman 10 tahun di Inggris untuk tanah air tercinta. Sejak 2007 Dhani bekerja di Citibank sebagai Management Associate (MA). Dia amat menyenangi pekerjaannya sekarang. Foto-foto Rossall #7 klik disini. (bersambung)

http://picasaweb.google.com/g.sumariyono/Rossall7#

Rossall  School (8) – Reaching a success never come easy nor cheap.

This time … (essay by Dhani Shelbyono)

Dhani during visiting SunderlandI was never a high achiever at school. I was always doing alright, but I never actually bother to try to get more. My motto was just to sit back and let the good time roll. This carries on until my final years at Rossall School and it nearly got me into trouble. My final year school results was average. That my 1st choice university turned me down. I was lucky at the time that due to my persuasiveness, I still managed to get into my 2nd choice university, despite the below requirement marks. Basically, I gave the course leader a call, and tell him (in my own special way of course) that I won’t let him down if he took me in. Well .. it was funny now when I think about it, because my batchelor degree mark was only merit, although it wasn’t that bad either.

My motivation to work hard really kicked in only in the final year of my master, when I actually realised that I need to get good grades so that I can get a good job. That common sense somehow never really crossed my mind up until then. So I decided to do my master degree afterwards and pursue to get the best that I can get. And the best I got indeed. I got high merit grade, just 3% off distinction. This grade has landed me the management trainee job at Citibank a large financial institution in Indonesia, a job which is considered as one of the best in the industry.

People now think that I’m somekind of a wizz-kid whose been consistently high achieving through-out my academic life. But I know, along with those who knew me long enough, that is all just a bunch of crap. I’m nothing but a jammy git who managed to pull it off before it was too late. Looking back at that time I was doing the master degree though, it was one of the most hectic time of my life. I really dedicated my life to study. All day and all night, I was accompanied by at least a book or a lecture note. I stopped seeing my friends as often as I used to. I didn’t watch much football. I didn’t even go to my bestfriend’s farewell party, and I truly regretted that.

There was also a time in the first few years as an undergraduate student, when I felt that I have so much time in my hand. So I decided to take up a sport seriously and try to be an athlete. The team I chose to join was American Football, a game that is not really popular in the UK. I wasn’t really thinking about to joining it seriously, but only just to try. But I seemed to got hooked on it that I never missed a practice since I first came. Yup .. I was determined back then that I should be one of the best player in the team. I used to spend 5 days a week training, 4 days of training was not with the team. I used to go out jogging early in the morning before lectures and late in the cold winter night where the temperature is below zero.. I used to go to the gym like it was a second home to me. I started a new diet regime, changing my food with tasteless, low fat and sugar level but high protein and that it helped me lose body fat and gain muscle weight. In 4 months, I lost 5 kgs of body fat. (well .. I wasn’t that fat so 5 kgs was quite significant) , and gained 10 kgs in muscles. My body felt much lighter and I ran a lot faster. It was surprising that during the final game, the head coach mentioned my name in the game programme (he usually only mentioned his best players) and call me “the star of the future”. I was awed. I really felt like I was an important person for the team. But looking at the time during the whole year of intensive practice, I guess the hardwork did pay off.

Reaching a success never come easy nor cheap. There’s always a high price to pay. Sometime you spent loads of money, sometimes loads of your time, you have to see your friends and family less, or used your brain or muscles to the point where it gets you really stresses and tired-out.

I have to admit that with the job that I have right now, along with family and relationship situation I’m in, I’m not really feeling my best. Now I understand why does suicide rate is high among stressed-out professional. But I also knew that it is silly for me to expect things to be easy and it won’t get any easier later too. I’ll just have to keep it up, stay consistent and let things roll and realise that sometimes things doesn’t always have to go my way.

(Essay by Dhani.)

13a2oxford 001a5oxford 30bDhani dan mamah nya yang sangat bangga dengan prestasi Dhani lulus S2 dari Oxford Brookes University, UK, diusia 23 tahun, di tahun 2006. Kenikmatan dari Allah yang kami syukuri. Alhamdullilah.

2d

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in asrama, dormitory and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s