Anak guru (1) – alumni normaalschool Muntilan, Jawa Tengah

Nama ayah saya (Almarhum) Mathias Soegijono, lahir di Jogja, keturunan ketiga dari Pakualaman dari garwa selir, didalam darah ayah mengalir setitik kecil darah biru. Ayah lebih dikenal oleh masyarakat kota Pati, kota dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, dengan nama Pak Giek.

Ayah adalah alumni Sekolah Guru zaman Belanda namanya : Normaalschool di Muntilan, kota kecil yang terletak diantara Magelang dan Jogjakarta.

kampus van Lith sekarang

Sekolah guru dengan sistim asrama ini didirikan tahun 1904 oleh Pastor Gregorius Yosephus Van Lith SJ. Pastor van Lith sangat fasih berbahasa Jawa. Beliau menjalin hubungan yang sangat akrab dengan para kyai pengasuh Pesantren di sekitar Muntilan. Bnyak kegiatan para nasionalis dan para kyai yang disokong oleh Pastor Van Lith. Karena Pastor Van Lith anti penjajahan. Pastor Van Lith dimusuhin oleh para pengusasa belanda di Jawa. Dianggap berbahaya. Sekolah guru di Muntilan yang didirikan Pastor Van Lith bertujuan untuk menciptakan kelompok intelek di Jawa. Lulusan Perguruan Van Lith Muntilan diharapkan mampu mendirikan sekolah-sekolah di Jawa dan di luar Jawa. Hubungan dengan pesantren dipererat. Alumni dari Perguruan Van Lith dikenal sebagai kelompok orang-orang katholiek generasi pertama di pulau Jawa yang cinta damai dan guru-guru yang handal. Sebagian dari lulusan Van Lith Muntilan beralih profesi dari guru menjadi politikus, pegawai negeri dan pengusaha dan umumnya sukses antara lain Frans Seda, Doeriat, Kasimo.

03c

Sekolah Guru Van Lith itu gedungnya di Muntilan masih kokoh berdiri dan sekarang menjadi Kampus SMU Pangudi Luhur Van Lith, dengan asrama putra yang dapat menampung 100 murid dan asrama putri 40 orang. Prestasi SMU Pangudi Luhur sangat hebat, setiap tahun mengikuti lomba dan selalu menang. Berbagai macam Lomba Science seperti Kimia, Fisika dan Matematika. Juara lomba berdebat dalam bahasa Inggris di Sanata Dharma. Juara lomba mendesign website dan drumband se Jawa Tengah. Hal itu dimungkinkan karena fasilitas fisik dari kampus lengkap sekali. Disitu ada laboratorium kimia, fisika, botani, bahasa Inggris dan komputer yang dikelola dengan benar dan apik. Sistim pendidikan betul2 sangat diperhatikan untuk membina anak2 dengan guru2 pembimbing yang bagus2 dan berdedikasi tinggi.

Setelah ayah lulus Sekolah Guru di Muntilan, sekitar tahun 1939an, ayah melanjutkan pendidikannya ke kota Maastricht di Negeri Belanda selama hampir 3 tahun. Ayah kembali ke Indonesia tahun 1941 dan langsung memilih kota Pati sebagai kota dimana ayah mengabdi sebagai guru. Menurut mantan murid ayah, gaya ayah saya waktu itu sangat elegan dan perlente. Pakain dinasnya adalah celana putih, berdasi, berjas putih dan bertopi model Vietnam warna krem. Kendaraan ayah waktu itu sepeda, merknya Fongers buatan Belanda. Di Pati ayah dikenal dengan nama Meneer Soegijono. Banyak gadis2 Pati yang jatuh hati dengan pemuda Soegijono.

Ibu saya bernama Sri Jahjoe kelahiran desa Bakaran, Juana, lulusan Kweekschool, sekolah untuk guru SR, dari Salatiga. Ibu lebih dikenal dengan nama bu Giek.

Ayah jatuh cinta kepada ibu, ketika ibu mengikuti kursus bahasa Belanda yang dipimpin ayah. Ini artinya guru mencintai muridnya sendiri. Dan lahirlah 12 orang anak dari rahim beliau. Saya putra ke-2 dari 12 orang.

Ayah dan Ibu adalah pendidik sejati, beliau berdua alumni sekolah guru yang terkenal saat itu dan membaktikan seluruh hidupnya sebagai guru sekolah. Foto disini.

keluarga muda Soegijono

=”alignnone” keluarga muda Soegijono

quote : sumber dari Kisah 150 tahun Jesuit di jawa.
Kisah Cinta Van Lith dengan Masyarakat Pribumi Jawa
Begitu tiba di tanah Jawa, Romo Van Lith memasuki situasi masyarakat yang sangat asing. Kehidupan yang diwarnai kemiskinan, minimnya pendidikan, bahkan ketidakadilan dan penindasan di bawah cambuk Belanda, bangsa beliau sendiri. Inilah awal dari pergulatan iman beliau. Namun di dalam suramnya kehidupan para pribumi, Romo Van Lith menemukan hal-hal menarik. Budaya yang menawan, dan masyarakat yang santun dan terbuka. Dan setelah cukup lama hidup bersahabat, merakyat, dan melarat bersama mereka, Romo Van Lith pun jatuh hati. Atau bisa disebut CINLOK, cinta lokasi, dalam bahasa pergaulan anak muda sekarang. Namun cinlok yang dirasakan Romo Van Lith ini berbeda, begitu tulus.
Ketulusan cinta ini terus tumbuh dan melahirkan keberanian untuk memperjuangkan nasib masyarakat pribumi Jawa. Maka dengan gigih beliau memperjuangkan hak-hak mereka, yakni pendidikan dan keadilan, mekipun ini berarti membuat pihak Belanda membenci beliau.
Romo Van Lith berpendapat bahwa pendidikan adalah hak semua orang. Jadi menurut beliau, anak-anak pribumi pun berhak mendapat pendidikan. Dengan demikian bangsa Indonesia dapat memperbaiki nasib dan masa depan mereka. Romo Van Lith yang menganggap dirinya sebagai sarana, dengan gigih dan senang hati mengusahakan hak mereka untuk mendapat pendidikan yang layak. Maka beliau pun mendirikan sekolah-sekolah desa Normaalschool di tahun 1900, Kweekschool tahun 1904 dan pendidikan guru-guru kepala pada tahun 1906.
Beliau yakin bahwa pendidikan / sekolah adalah cara yang paling tepat untuk mengembalikan hak-hak rakyat pribumi. Merintis sekolah laksana membangun rumah, dan Romo Van Lith-lah tukangnya. Beliau meletakkan batu fondasi iman Katolik dan semangat, mendirikan tiang-tiang budi pekerti , dan memasang lampu ilmu dan pengetahuan. Beliau yakin, kelak rumah ini akan berguna bagi masyarakat pribumi. Dan ternyata, keyakinan Romo Van Lith terbukti, yaitu dengan terlahirnya orang-orang pribumi yang istimewa seperti Mgr. Soegijapranata, Yos Sudarso, I.J. Kasimo, dan Cornelius Simanjuntak sebagai buah dari sekolah desa yang beliau rintis.
Inilah kekuatan pendidikan yang sebenarnya, yaitu bahwa dengan pendidikan kita dapat meraih harapan. Namun apakah saat ini kita masih menyadari kekuatan ini? Mungkin ya, bagi anak-anak yang rajin membuka-buka buku pelajarannya. Mungkin juga tidak, bagi anak-anak yang lebih suka menggunakan buku pelajaran mereka untuk penghalau gerah. Maka, dengan keteladanan hidup Romo Van Lith ini, kita disadarkan kembali akan kekuatan pendidikan, sehingga kita lebih menghargai pendidikan dan juga menyadari bahwa pendidikan yang dapat kita peroleh dengan mudah saat ini adalah hasil dari usaha beliau.
unquote.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in asrama, dormitory, memoir, pendidikan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s