Anak guru (2) – kisah asmara bapak ibu

Kota Pati ditahun 1939-an adalah sebuah kota yang damai, bersih dan kecil, para pendatang baru dikota Pati akan cepat sekali dikenal dan diketahui oleh para penghuni lama. Demikian juga dengan ayah saya, dengan postur tinggi 174 cm, muda, simpatik, selalu senyum dan sangat agama-is, ayah cepat diterima oleh penduduk kota Pati. Ayah saya dianggap ‘priyayi’ yang terpelajar karena pernah sekolah di Belanda, dan sangat potensial sekali untuk menjadi pemimpin dan guru yang handal, mengalahkan guru2 lain di kota Pati.

Kepopuleran Meneer Soegijono dan terutama kursus Bahasa Belanda yang didirikan beliau menjadi magnit yang dahsyat yang mampu menjadi daya tarik gadis2 remaja dikota Pati. Ruangan untuk mengajar yang berkapasitas 30 orang menjadi penuh sesak dalam waktu yang sangat singkat, dan harus pindah ke ruangan yang lebih lebar untuk menampung animo yang meledak.

Bagaimana ayah jatuh cinta ke ibu? Cerita menurut ibu begini, ketika itu ayah sedang membina hubungan serius dengan seorang guru cewek muda nan cantik. Waktu mau dilamar maka ayah mengajukan permintaan agar upacara pemberkatan perkawinan diadakan di Gereja Katholiek. Ayah meminta ibu guru muda nan cantik itu untuk dibabtis dulu menjadi katholiek. Jawaban dari cewek guru muda nan cantik mengagetkan ayah, dia tidak bersedia dibabtis menjadi katholiek, karena orang tuanya tidak setuju. Singkat cerita hubungan asmara kedua sejoli yang sama2 memiliki profesi sebagai guru putus.

Berita ini menyebar diantara murid kursus bahasa Belanda dengan cepat bagai kilat. Karena hubungan sudah putus, maka ayah mulai mengalihkan cintanya ke gadis lain. Diantara murid kursus bahasa Belanda yang diasuhnya, terdapat ‘ibu saya’ yang baru berumur 18 tahun, baru beberapa bulan ikut kursus bahasa belanda, tetapi ibu saya sudah menunjukkan bakat bahasa yang luar biasa.

Untuk menghindari patah hati yang kedua, yang merupakan pengalaman bercinta yang pahit, maka ayah menghindari berpacaran seintensif yang pertama. Ayah langsung meminta ibu saya apa bersedia menjadi istri ayah? Apa ibu saya bersedia masuk katholiek ? Apa ibu saya bersedia kawin digereja ? Jawaban ibu saya lurus2 dan langsung, kalau Meneer Soegijono serius maka Meneer harus menghadap ke nenek Suminah, ibunya ibu ini yang sudah janda ditinggal mati kakek ayah dari ibu. Waktu itu rumah mbah Minah di desa Bakaran Wetan, kira 6 km dari Juwana.

Tanpa menunggu lama, hari Minggu Meneer Soegijono dan gadis muda nan cantik Sri Jahjoe berangkat. Dari Pati ke Juwana naik spoor boemel, istilah yang lain sepur truthook, karena kalau spoor berjalan berbunyi thook thook. Tenaga loko penarik kereta api ini berasal dari boiler yang dibakar dengan kayu api, setelah air di boiler menjadi uap maka tenaga uap ini dipakai untuk menggerakkan roda loko yang besar dan berat. Asap lokonya berwarna putih mengepul ngepul keluar dari cerobong di kepala loko, bunyi peluitnya melengking .. tuiiiiit .. tuiiiit …

djuwana stasiun k.a.

Stasiun Djuwana di tahun 1940. Bersih dan sangat teratur.

Dokar jadul 01

Dokar jaman dulu

Dari stasiun kereta api Juwana kedua muda-mudi itu pindah naik ‘andong’, yaitu kereta dengan roda kayu berlingkaran besar dan ditarik oleh kuda, menuju ke desa Bakaran Wetan, menemui Nenek ‘mbah Minah’. Jalan ke desa Bakaran rusak berat kalau kereta ‘andong’ sedang jalan para penumpangnya harus berpegangan dipinggiran, karena banyak lubang dijalan yang cukup dalam, walau 6 km jaraknya, tetapi memerlukan waktu kira2 sejam dan cukup membuat pinggang sakit.

Sebelum mengambil keputusan mbah Minah berembuk dahulu dengan para pini sepuh dari famili beliau. Ayah saya ditanya atau lebih tepatnya ‘diinterograsi’ oleh tim yang menanyakan asal usulnya, pekerjaannya, sekolahnya, dan lain lain. Semua berlangsung dengan bahasa ‘Jawa Kromo Inggil’. Keputusan dari tim investigasi, semua setuju kalau putri mbah Minah yang cantik jelita, Sri Jahjoe, akan dijadikan istri oleh Meneer Soegijono, dan setuju kalau ibu masuk katholiek.

Bukan main bahagianya ayah saya mendengar sendiri bahwa mbah Minah dan pini sepuh menyetujui semua permintaan ayah saya. Kebahagiaan itu pun ada di pihak famili dari ibu saya, mbah Minah sendiri dan para famili yang lainnya, karena akan mendapat mantu ‘priyayi’ dari Jogja, yang berkwalitas tinggi, orangnya gede duwur, gagah dan punya bayaran (gaji) yang tinggi.

Ayah saya menjadi tontonan dan dikagumi semua saudara2 ibu, pakde, paman, bude, bibik yang masih sederhana2 dan miskin2. Sebagian besar dari mereka hanya sekolah SR 2 tahun, sekedar bisa baca dan menulis. Sedang ibu saya yang lulusan Salatiga sudah dianggap terpelajar sekali.

Desa Bakaran Wetan ditahun 1941 masih sangat tradisionil, rumah dari bambu gedeg, jalan batu belum ada aspal dan betul2 desa yang tertinggal. Almarhum Kakek saya, suaminya mbah Minah itu seorang pedagang yang kaya di Bakaran Wetan. Sawah nya banyak, tambak bandengnya banyak, kerbaunya banyak, toko kelontongnya besar dan merupakan satu-satunya toko kelontong di Bakaran Wetan. Kalau kakek saya ‘kulakan’ minyak goreng kacang selalu membeli dari pak Loo dikota Juwana, satu2nya pabrik minyak goreng dengan bahan baku kacang tanah. Pak Loo adalah warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Juwana dan yang sudah menyatu dengan pribumi.

Biaya sekolah ibu saya selama ibu sekolah di Kweekschool, sekolah guru SR, di Salatiga, berasal dari keuntungan dagang kakek saya. Kakek meninggal karena sakit lever dan ketika meninggal ibu saya sedang sekolah di Salatiga.

Ayah dan Ibu menikah awal 1942, dengan sederhana, dan ada makan2 malam yang dimulai jam 19:00 dan yang dihadiri tetangga dan kawan2 dikota Pati. Ditengah2 pesta kawin tiba2 menggelegar bom diluar kota Pati yang ditembakkan oleh kapal2 Jepang yang berlabuh di pantai dekat Juwana. Maka pesta kawin langsung bubar dan masing2 tamu menyelamatkan nyawanya sendiri2. Pengantin belum sempat berfoto, karena tukang fotonya sudah keburu pergi, maka tidak ada dokumen perkawinan yang berupa foto.

Akhirnya pesta kawin di Bakaran Wetanpun dibatalkan karena suasananya sudah mencekam sekali. Beritanya bala tentara Jepang sudah mendarat di Semarang dan Juwana dan sedang maju untuk menguasai kota Pati. Semua orang ketakutan lebih2 orang2 Belanda yang tinggalnya di kota Pati mereka berusaha menyelamatkan nyawanya dengan mengungsi ke pedesaan dan lain2nya. Sebagian dari barang2 berharga dititipkan ke orang lain, ayah saya juga ketitipan barang2 orang belanda ini. Foto disini (bersambung)

bapakku dan ibuku

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir, pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s