Anak guru (3) – ibu dari Djuwana.

ibunda 17 tahun 01

Ibu saya Theresia Sri Jahjoe berasal dari Djuwana, ibu meninggalkan kota Djuwana tahun 1940, ibu alumni Sekolah Guru Kweekschool Salatiga.

Kondisi kota Juwana ditahun 1940 an menurut ceritera ibu.Djuwana adalah suatu Kecamatan yang kecil, kurang bersih, kekurangan air minum. Para penduduk Djuwana dan desa sekitar Djuwana umumnya masih sederhana cenderung miskin, mereka bekerja sebagai petani dan petambak ikan bandeng. Sebagian penduduk Djuwana mempunyai tradisi dan budaya kesukaan adu jago atau menyabung ayam. Salah satu tempat menyabung ayam adalah di halaman belakang dari Pakde saya di Bakaran Wetan. Permainan menyabung ayam jago adalah hiburan yang sangat mengasyikkan di Djuwana, dan selalu disertai dengan taruhan uang.

djuwanaPelabuhan sungai Djuwana menjadi tulang punggung kekuatan ekonomi kota Juwana. Sungai Djuwana merupakan sungai besar dan amat penting bagi pelabuhan tempat bersandarnya kapal-kapal ikan dan kapal-kapal dari Kalimantan yang memuat kayu. Disebelah kiri dan kanan ada beberapa galangan kapal kayu, antara lain galangan kapal Bajo, sekarang industri galangan kapal kayu itu tutup karena ordernya berkurang drastis dan adanya pendangkalan alur sungai oleh sedimen lumpur.

Penerangan dirumah-rumah masih memakai lampu minyak tanah, radio masih belum banyak yang memilikinya. Radionya kakek model lama, besar mereknya Philips. Hiburan lain adalah kethoprak, yang gedung dan panggung masih sederhana, ada di tengah kota Juwana.

Rumah kakek saya terletak dipinggir jalan Bakaran Wetan, dirumah kakek ada lampu minyak tanah yang bagus, dikenal dengan nama ‘Lampu Belanda’ atau ‘Dutch Lamp’. Lalu ada lampu petromax. Rumah kakek di Bakaran modelnya Joglo, besar dan luas dan atapnya tinggi sekali membuat udara didalam rumah sejuk dan nyaman sekali. Rumah joglo ini terbuat dari kayu jati kuno yang kayunya tua sekali, pintu utamanya ukuran tinggi 4 atau 5 meter, lebar 2 x 1 meter lebih. Yang luar biasa adalah ketebalan dari pintu jati tersebut, kira2 tebalnya 10 cm atau mungkin 15 cm. Saya tidak kuat membuka, sangat berat sekali. Dirumah itulah ibu saya dilahirkan tahun 1925, dibesarkan dilingkungan pedesaan dan sekolah di sekolah SR desa sampai tamat.

Ibu menceriterakan kisah beliau bersekolah guru di Kweekschool di Salatiga tahun 1940. Inilah ceriteranya.

Kakek termasuk orang kampung Bakaran yang kaya dan visioner, beliau mempunyai cita-cita mengirim anak2nya sekolah setinggi-tingginya. Kakek sering berhubungan dengan teman2 dagangnya yang berasal dari Semarang, Kudus dan Juwana, umumnya para pedagang keturunan Tionghoa, maka beliau tahu sekolah2 di Semarang dan sekitarnya termasuk sekolah guru SR di Salatiga.

Setelah ibu saya tamat SR di Juwana di tahun 1939, ibu saya ditawari oleh kakek untuk sekolah guru di Salatiga, dan ibu mau dan senang ditawari sekolah. Kakek amat bangga mempunya putri pertama seperti ibu, kulitnya kuning langsat, cantik dan rajin membantu kakek ditokonya. Ibu setiap hari melayani pembeli dan mencatat uang masuk dan uang keluar. Kakek sudah punya feeling kalau ibu punya bakat sekolah. Kakek menceriterakan rencana beliau kepada ibu saya, bahwa uang yang disimpan kakek sudah lumayan banyak dan mencukupi untuk membiayai sekolah anak2 yang berjumlah 3 orang, termasuk membiayai ibu sekolah di sekolah guru di Salatiga.

Rencana ibu untuk sekolah guru berjalan dengan tidak mulus, ada halangan yang datangnya dari nenek. Pada suatu malam nenek mengajak ibu berbicara, nenek membujuk ibu untuk membatalkan niat ibu pergi sekolah guru di Salatiga, menurut nenek ongkos sekolah dan asrama mahal sekali. Kata nenek, uang sekolah guru akan dibelikan emas dan akan diberikan kepada ibu saya semuanya, berupa kalung, gelang krincing, anting2, giwang dll dll. Ibu menolak bujukan nenek, pokoknya ibu saya ingin sekolah guru di Salatiga, ibu saya ingin jadi guru SR. Perlu diketahui bahwa pada tahun 1939, ibu saya adalah satu2 nya perempuan muda yang berani membuat rencana sekolah sampai ke Salatiga, ibu adalah pendobrak dan perintis kemajuan dari desa Bakaran Wetan. Berita kalau ibu akan sekolah guru di Salatiga sudah membuat heboh seluruh desa Bakaran Wetan.

Mereka kawatir, kalau ibu sakit siapa yang merawat ? Kalau ibu rindu orang tua siapa yang akan mengantar pulang ke Juwana ? Kalau ada gangguan di Salatiga siapa yang akan melindungi ? Kalau kehabisan uang bagaimana cara mengirimkannya ? Kalau ibu rindu masakan bandeng siapa yang akan mengantar bandeng ke Salatiga ? Umumnya penduduk desa Bakaran Wetan masih menganut konsep hidup : Mangan ora mangan pokoke biso kumpul bareng.

Saya kagum akan keberanian dan semangat dari ibu. Ibu tidak mudah dirayu, walau ibu diiming-imingi emas dan uang oleh nenek. Ibu tetap pada pendiriannya dan ibu tetap berniat untuk masuk kesekolah guru di Salatiga.

Ceritera ini sering diceriterakan ibu kepada putra dan putrinya yang berjumlah 12 orang. Sebuah pelajaran spiritual yang amat tinggi dan dalam sekali. Bahwa ilmu yang diperoleh dengan sekolah, ilmu yang diperoleh dengan perjuangan nilainya lebih tinggi dibanding emas. Bahwa harga diri seorang manusia itu tidak boleh dijual atau diganti dengan emas. Ibu saya ditahun 1939 sudah memiliki karakter dan prinsip hidup yang luar biasa tingginya. Ibu saya sekarang masih hidup, berumur 82 tahun, fisik beliau memang lemah, terkena osteophorosis sehingga kekuatan tulang tinggal 40% alias kropos. Tetapi daya ingatan beliau masih sangat kuat sekali. Kami semua amat menghormati dan amat mencintai ibu kami, Theresia Sri Jahjoe Soegijono.

Keinginan ibu untuk sekolah guru di Salatiga sudah tidak bisa dicegah oleh siapapun. Maka dipagi hari diawal tahun 1940, dengan mantap dan yakin ibu berangkat ke Salatiga, paman diminta kakek untuk mengantar ibu sampai Salatiga, karena kakek sudah mulai sakit2an. Famili yang ngantar dari Bakaran Wetan ada kira2 ada 5 andong masing2 berisi 5-6 orang, mereka ngantar sampai stasiun Juwana. Dengan berlinang air mata para paman, bibi, saudara2 lain melepas ibu berangkat. Kata Ibu perjalanan dari Bakaran ke Juwana dengan andong lancar, dari Juwana ke Semarang naik sepur bumel lancar, lalu dari Semarang ke Salatiga naik kereta api gunung, yang relnya ada 3 karena ditengah ada gerigi untuk naik gunung pun lancar.

Pemandangan sekitar Salatiga bagus sekali karena ada pegunungan, ada danau dan sangat hijau sekali. Berlainan dengan Djuwana-Pati yang datar dengan pemandangan sawah yang ditanami padi atau tebu. (bersambung)

ibuku dari Djuwana

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir, pendidikan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s