Anak guru (4) – Ibu Saya Alumni Kweekschool Salatiga

kweekschool 1c

Murid Kweekschool perempuan semua, baju putih model encim2 ada renda dan bross di dada, bawahnya kain batik. Itu seragam Kweekschool.

kweekschool 1a Sekolah guru Kweekschool voor Inlander adanya di Salatiga. Situasi di awal 1940. Ada murid sekolah masih muda bernama Sri Jahjoe nan cantik, putih, gadis dusun asal desa Bakaran Wetan, kecamatan Djuwana, terlihat sangat sedih sekali. Berhari-hari Sri Jahjoe menangis sampai matanya bengkak. Hal ini disebabkan karena baru saja diberi tahu oleh guru pembimbingnya Mevrouw Suminah yang menerima surat dari paman Sri Jahjoe, bahwa ayah nya Sri Jahjoe, telah meninggal dunia. Sudah berbulan-bulan kakek terbaring dirumah, karena penyakit lever.

Sri Jahjoe berangkat ke Salatiga pada hari Selasa dan kakek meninggal pada hari Kamis, hanya terpaut 3 hari saja. Pada usia 14 tahun Sri Jahjoe sudah mejadi anak yatim.

Masih terbayang-bayang wajah kakek yang terbaring ditempat tidur pada hari Selasa pagi, beberapa jam sebelum Sri Jahjoe naik andong.

Inilah dialog yang terjadi pada hari Selasa pagi, seperti yang diceriterakan ibu kepada saya :

Kakek : ‘Kowe disangoni piro karo ibumu nduk ?’
(Kamu disangoni berapa oleh ibumu nak)

Sri Jahjoe : ‘Seringgit pak’
(satu ringgit di tahun 1938 = 2,5 gulden dan itu banyak sekali).

Kakek : (lalu menarik uang dari bawah bantal)

“Iki tak tambahi seringgit meneh, dadi kabeh rong ringgit. Wis kowe ora usah ngrukoke omongane wong2 liyo, kowe kudu manut karo omonganku, kowe kudu mangkat sekolah nang Salatiga. Aku njaluk didongakke supoyo biso waras, nek aku wis waras mengko aku niliki kowe nang Solotigo”.
(Ini saya tambahi satu ringgit lagi, jadi semuanya dua ringgit. Kamu tidak usah mendengarkan omongan orang lain, kamu harus menurut apa yang saya katakan, kamu harus sekolah guru di Salatiga. Saya minta didoakan saja agar dapat sembuh. kalau sembuh aku akan menengok kamu di Salatiga).

Sri Jahjoe : Nggih pak, kulo dongakaken supados bapak saged pulih sehat. Mangke nek sampun sehat nuweni kawulo ing Solotigo. Kulo nyuwun pamit nggih pak.
(Iya pak, saya akan mendoakan agar bapak dapat sembuh. Kalau sembuh bapak bisa menengok saya di Salatiga, Saya mohon diri ya Pak).

Kakek : Yo wis nduk mangkato saiki supoyo ora ketinggalan sepur.
(ya sudah nak berangkatlah sekarang juga agar tidak ketinggalan keretanya).

Ibu lalu bersujud, mencium ujung kaki kakek, mencium lutut kakek, mencium tangan kakek dan terakhir mencium pipi kakek. Kedua orang itu berlinang airmata. Dengan dibantu paman, kakek bangun dan kakek mencium kening putrinya yang disayangi, Sri Jahjoe.

Menurut penjelasan ibu, perpisahan pada hari selasa pagi itu sangat mengharukan. Dalam kondisi sakit lever yang berat, tidak bisa bangun, kakek tetap kokoh memberi semangat kepada putrinya. Nenek, para famili, paman, bibi dan adik2nya Ibu turut menyaksikan dan semuanya menangis.

Tiga hari sesudah ibu berangkat ke Salatiga kakek meninggal dunia. Innallilahiwa’ inailaihi rojiun. Andaikata Sri Jahjoe nan cantik berangkatnya ke Salatiga ditunda 3 hari lagi, nasibnya akan lain sama sekali. Nasib manusia sungguh benar ada ditangan Yang Maha Kuasa.

Tiga bersaudara dari Bakaran Wetan, Djuwana. Ibuku putri no1, Oom Yasir Muryono putra no 3, Tante Karlina putri no2. Sangat rukun, saling menghormati dalam pembagian warisan orang tua. Dana hasil warisan orang tua semua dipakai untuk biaya pendidikan. Dokter Pram, putra Oom Yasir, spesialis penyakit dalam berpraktek dikota Pati.

Nasib yang kurang beruntung terjadi pada adik kandung ibu yang kedua bernama Sri Karlin, kami biasa memanggil Bulik Lien. Beliau tidak jadi disekolahkan ke Salatiga, walau sudah dijanjikan oleh kakek. Walau sudah disurati ibu untuk segera datang ke Salatiga. Walau kakek sudah meninggal tetapi harta warisan kakek masih banyak. Tetapi spirit dan keberanian Bulik Karlin beda dengan ibunda tercinta. Apalagi setelah mendapatkan gelang, kalung, liontin, dan perhiasan lainnya. Akhirnya Bulik Karlin tidak jadi berangkat ke Salatiga. Tante Karlin meninggal diusia 83 tahun dan tetap menetap di Bakaran Wetan, tidak pernah pindah-pindah. Adik ibu terakhir Oom Yasir sekolah di Semarang SGMT Sekolah Guru Menengah pertama, lalu menjadi guru STN di Semarang. Oom Yasir mempunyai 3 anak, tetapi yang satu meninggal diusia masih muda karena gagal ginjal. Putra sulung Oom Yasir bernama Dr. M.Agung Pramudjito SpPD, dinas di RSUD dikota Pati sebagai spesialis penyakit dalam. Oom Yasir pun sudah meninggal tahun 1995. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir, pendidikan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s