Anak guru (5) – Pati sebagai penghasil gula

Ayah saya mulai bekerja sebagai guru di Pati tahun 1939. Waktu itu Pemerintahan Hindia Belanda masih menguasai Indonesia, termasuk pulau Jawa. Kota Pati menjadi ‘Ibukota Karesidenan Pati’ membawahi Kabupaten Kudus, Rembang, Blora, Jepara dan Pati sendiri. Ada beberapa orang Belanda yang bekerja dipemerintahan sebagai pegawai Pemerintahan Hindia Belanda, antara lain Residen, ada yang di pekerjaan umum. Ayah sangat fasih berbahasa Belanda hal ini membuat ayah cepat menjadi akrab dengan kelompok orang2 Belanda di Pati. Berbagai fasilitas untuk mereka antara lain : ada kuburan khusus untuk orang2 Belanda, lokasinya tidak jauh dari rumah. Area kuburannya luas dengan ratusan kuburan yang tertata rapi, apik, ada patung2, ada marmer putih2, dan aneka design. Sewaktu masih sekolah di SR, saya dan kawan2 sering berburu burung memakai ‘plintheng’ atau ketepel.

Hasil bumi dizaman kolonial Belanda yang terkenal di Karesidenan Pati adalah gula. Di Karesidenan Pati ada 5 pabrik gula yang besar, 2 di Kudus dan yang 3 ada di Pati. Kesejahteraan penduduk Pati sangat bagus, kata ayah. Penduduk Pati umumnya makmur2 dan sejahtera.

Informasi lain saya dapatkan dengan membuka website tentang gula dizaman Hindia Belanda, disitu tertulis bahwa produksi gula di Jawa (sebelum 1945) adalah 14,8 MT/ha, dengan rendemen rata2 10%. Bandingkan dengan angka dari Dep Pertanian tahun 2002, produksi gula rata2 7,15 MT/ha dengan rendemen 6%. Kok bisa ya? Dua2nya ngedrop, rendemen dari 10% ke 6% berarti tinggal 60%. Kenapa? Saya tidak tahu pasti. Hal ini menyebabkan gula yang dihasilkan pun drop dari 14,8 MT/ha ke 7,15 MT/ha atau tinggal kira2 40%. Saya tidak habis berpikir, tanahnya sama, jenis spesies tebunya sama, sisitim dan teknik penanaman sama, namun hasilnya berbeda.

Industri gula dipulau Jawa menjadi primadona ekonomi pada zaman Belanda, untuk jangka waktu kira2 50 tahun, dimulai awal 1900. Itulah zaman keemasan industri gula. Saya masih ingat ada orang Belanda dari pabrik gula di Trangkil yang dijuluki ‘dokter gula’. Kemana-mana naik jip Willys, gaya nya seperti orang kaya dan sangat dihormati oleh para ‘inlander’. Kalau datang bertamu dirumah, biasanya bersama Romo Belanda, sambil membawa beberapa apel merah, keju dan 2-3 kaleng Corned beef. Besoknya ibu akan membuat roti diolesin mentega dan corned beef. ‘Ini makanan londo’ kata bapak ibu.

Mengapa industri gula bisa menjadi primadona ekonomi? Beberapa faktor yang utama antara lain :
– bahwa terjadi pemerasan tenaga kerja ke bangsa kita,
– bahwa masih diberlakukan sistim tanam paksa,
– bahwa upah para buruh sangat rendah,
– bahwa sistim sewa tanah berjangka panjang,
– bahwa pola cocok tanam yang sangat bagus dan
– bahwa manajemen Belanda yang tangan besi, disiplin membuahkan hasil yang bagus.

Hal2 itu membuat pabrik2 gula di Jawa menangguk untung besar sekali, sebagian besar pemilik pabrik gula adalah perusahaan belanda. Kemana keuntungan yang besar sekali itu diparkir? Semua keuntungan itu dipakai untuk membangun kota-kota di Negara Belanda. Negeri Belanda sendiri itu tidak punya apa-apa, tergolong negeri miskin di Eropa

Angka lain yang mencengangkan saya adalah, volume produksi gula di pulau Jawa zaman Hindia Belanda mencapai 3 juta ton per tahun, dengan jumlah export 2 juta ton per tahun. Artinya 66% dari 3 juta Ton produksi gula itu diexport keluar negeri. Kalau dinilai uang, pemasukan devisa dari export 2 juta MT per tahun = 2.000.000 x harga gula/mt = sangat besar. Luar biasa.

Bandingkan dengan kondisi sekarang, dari data di Dep Pertanian tertulis bahwa Indonesia membutuhkan gula di tahun 2003 sebanyak 3,3 juta ton/tahun. Yang diimport sebanyak 2,2 juta ton sedang produksi dalam negeri 1,1 juta ton. Kalau dahulu devisa masuk, sekarang sebaliknya kita yan harus keluar uang. Memprihatinkan.

Berapa luas tanah yang ditanami tebu ditahun 1940-an? tentu sangat luas sekali dan memang saya masih ingat dengan jelas, bahwa ditahun 1955 kalau saya ke Trangkil dan Tayu, desa2 yang terletak diutara kota pati, maka sepanjang jalan puluhan kilometer pemandangan yang saya lihat adalah tebu melulu. Apalagi kalau tebu sudah agak tua dan siap panen, maka bunga tebu merupakan pemandangan yang indah. Tebu yang dipanen akan diangkut ke pabrik gula menggunakan lori yang ditarik kereta uap, yang kecil mungil. Pemandangan ini masih bisa dilihat di Trangkil, Pati atau di Madukismo Yogyakarta.

tebu diangkut kereta api

tebu diangkut kereta api

Dampak yang positip dari makan tebu adalah pada kesehatan gigi saya dan abang saya yang sangat bagus, masih utuh dan akarnya kuat sekali, belum ada yang dicabut. Ketika masa kanak2 kami suka makan tebu. Sesudah pulang sekolah, kami ramai2 pergi ke kebun tebu, mencuri tebu yang tua dan memakan tebu. Kami makan tebu disawah diterik matahari yang panas dengan enak sekali. Ada tebu yang hijau agak lunak dagingnya tapi kurang manis, ada tebu yang kuning agak keras dagingnya dan rasanya manis sekali. Gigi kami terbiasa untuk mengupas kulit tebu. Pisau hanya satu tetapi dipakai ramai2, karena kami tidak sabar maka gigi kami pergunakan untuk mengupas kulit tebu. Kami melakukan ritual memakan tebu hampir setiap hari, pada saat tebu belum dipanen. Setahun hanya 1 kali atau 2 kali musim tebu tergantung musimnya. Selesai giling sudah tidak ada tebu lagi disawah.

Kadang2 kami membawa 3-4 lonjor tebu kerumah dan kalau ketahuan ibu sering ditanya, dan dinasehati oleh ibu ‘agar jangan mencuri tebu, itu dosa’. Ibu menasehati dengan lemah lembut sambil menyiapkan makan siang, dan besoknya kami lakukan lagi.

Disetiap kebun tebu selalu ada mandor jaganya, terlebih-lebih kalau tebu2 itu sudah tua, siap panen dan sudah muncul bunga2nya. Kami sering sekali kepergok mandor tebu, kalau ini terjadi maka terjadi permainan kucing2an di kebun tebu. Umur saya waktu itu baru 9 tahunan dan saya melakukan pencurian tebu sampai umur 13 tahun. Asyik sekali main kucing2an menghindari mandor tebu. Pernah saya ketangkap sekali takutnya bukan main. Saya masih ingat, mandornya kurus hitam dan membawa clurit dipinggangnya, saya digelandang kekantor kelurahan. Dikantor Kelurahan tebu yang saya curi dan bunga tebu yang saya ambil ditaruh dimeja dan mandornya lalu berbicara dengan orang disitu. Secara kebetulan tiba2 keluar anak kecil yang seumur saya, dan ternyata si kecil itu kawan sekolah saya di SR Kanisius. Saya masih sempat dinasehati oleh orang kelurahan dan kemudian disuruh pulang. Besoknya saya dan kawan saya itu pulang sekolah bersama-sama naik sepeda, kerumah dia dan ritual makan tebu terjadi lagi. Sekarang makan tebunya di rumah pak Lurah yang sebelumnya stafnya pernah memarahi saya. Kadang2 saya disuruh makan siang, pulangnya masih membawa 2 – 3 lonjor tebu. Saya sangat menikmati masa-masa itu yang menjadi kenangan yang indah dalam hidup saya. (bersambung)

suka makan tebu

suka makan tebu

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir, pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s