Anak guru (6) – Tora ! Tora ! Tora !

Ayah mulai membangun rumah tangga dengan ibu tahun 1941. Ketika bapak ibu menikah dua-duanya berprofesi sebagai guru, ayah adalah guru di Sekolah Menengah Khusus, setingkat SMP tetapi bukan MULO, dan ibu sebagai guru SR Puri di Pati. Penganten baru ini menyewa rumah dijalan Pasar no 65 di Pati, sekarang diganti Jalan P. Diponegoro. Kota Pati didesign oleh Belanda dengan rapi dan apik, ada jalan Daendels, yang membelah kota Pati, sekarang diganti jalan Sudirman. Ada rel kereta api disepanjang jalan Daendels yang dilewati kereta api uap. Jalan Pasar sejajar dengan jalan Raya Daendels.

Gubernur Jendral Daendels yang membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan kurang lebih 1.000 kilometer yang diselesaikan dalam waktu 1 tahun dengan kerja paksa/rodi. Waktu itu di setiap 7 kilometer dibangun pos jaga. Zaman yang sangat sengsara buat rakyat Jawa yang dijajah Belanda
Referensi lain yang termasuk penting yang saya pakai untuk menyusun cerita ini adalah dokumentasi keluarga, yang ditulis dalam bahasa Jawa. Ayah mempunyai buku besar yang disebut ‘Buku Keluwargo’ yang isinya kejadian2 penting yang dialami oleh keluarga. Diawali dengan cerita dihalaman pertama yang menceriterakan suasana perkawinan ayah dan ibu. Dihalaman lain ada catatan tentang zaman Penjajahan Hindia Belanda dan ada catatan di zaman Pendudukan Jepang. Mengagumkan bahwa dizaman itu ayah sudah mempunyai buku penting, yang memudahkan kami putra putrinya tahu dengan pasti kapan dilahirkan, sampai detik2nya dan siapa yang menolong.

Dari buku itu, saya membaca bahwa Negeri Belanda diduduki Jerman pada Mei 1940, yang terpaut beberapa bulan setelah ayah meninggalkan Belanda. Akibat dari pendudukan Belanda oleh Jerman, komunikasi Negeri Belanda dengan negeri2 jajahannya terputus.

Tanpa ultimatum, Jepang menyerang Pearl Harbour, pangkalan Angkatan Laut Amerika di Hawaii pada awal Desember 1941, yang menjadi awal pertempuran Pasifik. Sandi yang terkenal adalah ‘Tora! Tora!’ yang artinya (Harimau! Harimau!)

Seperti difilm “Tora ! Tora ! Tora ! ” para penyerang dari Jepang kembali ke pangkalan dengan meninggalkan kepingan-kepingan baja dan kepingan-kepingan manusia dan meninggalkan pula ….. dendam Amerika.

Ibu berceritera bahwa, tahun 1940-1942 yaitu sebelum zaman Pendudukan Jepang, di kota Pati ada 6 orang Jepang yang memiliki toko kelontong. Mereka menjual barang2 ‘Made in Japan’ yang lebih murah dari barang2 Eropa. Yang paling laris adalah kain2 karena sangat murah. Selain itu juga ada panci2, teko, piring, gelas, buku tulis dan alat2 kantor lainnya, semua made in Japan.

Orang Jepang di Pati itu lebih disenangi dari pada orang Belanda, karena orang Jepang tahu aturan, sangat hormat dan mukanya selalu tersenyum. Hampir semua orang Pati bersimpati kepada orang Jepang. Simpati ini diperoleh dengan menaklukkan perasaan orang Pati dengan cara menghormati adat istiadat dan bersikap yang baik. Orang Pati itu menganggap orang Jepang lemah lembut dan sopan santun, lain dengan orang kulit putih yang umumnya kasar.

Tiba2 secara mendadak ke 6 orang Jepang itu menghilang tanpa pamit dan tak seorangpun tahu, termasuk pelayan toko. Tetapi toko tetap buka, dikelola oleh pembantu yang senior. Banyak barang yang tadinya ada, menjadi tidak ada. Penduduk Pati jadi bertanya-tanya, kemana mereka pergi ? Untuk berapa lama ? Belakangan baru diketahui bahwa mereka itu mata2 Jepang yang ditempatkan di karesidenan Pati.

Anggapan bahwa orang Jepang itu baik, sopan dan lemah lembut itu sirna setelah bala tentara Jepang menduduki kota Pati. Badan orang Jepang memang kecil2 dibanding tentara Belanda, tetapi galak2 dan suka menyiksa siapa saja yang berani melawan. Siksaan2 dilakukan oleh Kenpeitei atau Polisi Rahasia.

Mengapa Jepang berani memulai perang di Asia Pasifik ? Karena orang Jepang benci dan dendam kepada kekuatan raksasa kelompok negara Barat seperti Amerika, Inggris, Belanda dan Australia yang tidak memberi kesempatan kepada Jepang untuk mengembangkan industrinya. Jepang sangat memerlukan sumber daya alam dari luar. Mulai 1939 setiap tahun datanglah utusan dagang Jepang ke Batavia, mereka meminta agar Pemerintah Hinda Belana bersedia menjual crude oil dan gas alamnya ke Jepang. Selama ini crude oil dan gas hasil alam Indonesia dijual ke AS dan Australia. Jepang meminta agar mereka diperbolehkan membeli dengan harga yang sama. Namun sia-sia, Pemeritah Belanda selalu menolak dan kalau mau beli harganya lebih mahal. Jepang kecewa dengan sikap Belanda. Jepang dendam kepada Belanda dan konco2nya. Akhirnya Jepang memutuskan bahwa untuk mendapatkan crude oil dan gas alam dari Indonesia, maka Belanda harus diusir dari bumi Indonesia dengan jalan perang.

Jepang ingin mendapat dukungan dari bangsa Asia yang sedang dijajah bangsa Barat. Jepang ingin merebut Asia dengan cara berperang. Dengan slogan membebaskan Asia dari penjajahan Barat, Jepang membuat propaganda menggalang Kemakmuran Bersama di Asia dibawah Pimpinan Dai Nippon. Jepang menjanjikan kepada negara2 yang dibebaskan dari penjajahan Barat dengan janji kemerdekaan. Sesudah Jepang menduduki Indonesia Jepang meningkatkan pendidikan di negara2 Asia, yang sudah diduduki, termasuk meningkatkan pendidikan di Indonesia.

SMP Rondole dikota Pati dibuka tahun 1943 oleh Pemerintah Militer Jepang. Pada waktu itu merupakan satu-satunya lembaga pendidikan umum tertinggi diwilayah Karesidenan Pati, yang menyerap lulusan sekolah rakyat dari daerah2 kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Rembang dan Blora. Sebelum itu belum ada sekolah setingkat SMP di Karesidenan Pati. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir, pendidikan and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s