Anak guru (8) – latihan militer

Suasana SMP Rondole Pati ditahun 1944. Setiap pagi anak2 murid SMP Rondole Pati pergi kesekolah dengan naik sepeda yang ban rodanya dari karet mati, sebagian besar berjalan kaki menyusuri galengan sawah dan jalan setapak. Didepan Keibodan, yang naik sepeda harus turun, sepeda dituntun pelan2, kalau berani menaiki sepeda si murid akan ditampar oleh tentara Jepang.

Kinrohosi merupakan tugas wajib bagi murid laki2 dan perempuan, program kerja rodi yang digalakkan pada waktu itu adalah menanam jarak. Buah jarak ini akan diambil minyaknya dan dikumpulkan disuatu gudang, selanjutnya orang Jepang akan mengangkut minyak jarak ketempat yang dirahasiakan. Tentara Jepang mengumpulkan anak muda dari desa, yang berbadan sehat, setelah terkumpul lalu diangkut dengan naik truk keluar kota Pati. Mereka sebagai romusha disuruh kerja rodi mengerjakan proyek tentara Jepang. Memperbaiki jalan, membuat benteng pertahanan di daerah Demak. penjajahan_jepang

 

jepang RomushaMurid SMP Rondole diperintahkan untuk latihan militer oleh tentara Jepang yang diselenggarakan pada saat ada liburan. Semua murid laki2 dan semua guru laki2, mulai ayah saya sebagai kepala sekolah dan semua guru lainnya, yang masih muda2 diwajibkan menjalani kegiatan training PETA (Pembela Tanah Air). Mereka dipinjami pakaian hijau yang berlengan panjang dan bercelana pendek, dipinjami senjata laras panjang dan topi baja yang besar dan berat. Selama latihan satu bulan semua peserta PETA tidur dibarak tentara, didipan kayu beralas tikar pandan bantalnya terbuat dari kapuk yang tipis.

Setiap hari terumpet ditiup sebagai tanda bangun pagi, disambung olahraga dan kakeysu atau lari2 pagi. Istirahat hanya sekejap disambung dengan memeriksa laras bedhil yang panjang. Kalau dalam pemeriksaan terdapat pasir, si murid akan digampar oleh pelatih. Mandi hanya sebentar ramai2, diteruskan makan pagi dengan menu tahu dan tempe. Lalu semua murid dan guru masuk ruang kelas. Mata pelajaran yang diajarkan teori perang, teori mengadapi musuh, berkelahi dengan musuh, pertahanan dll dll. Disambung praktek dilapangan, biasanya dibukit yang tandus. Ada merayap 1,2,3,4 (dai ichi, dai ni, dai sam, dai yon hoofuku). Lelahnya bukan main dan tenggorokan kering sekali karena kehausan. Karena tidak disediakan air minum, para peserta training PETA minum air dari parit yang ada disitu, airnya jernih carana mengambil airnya dengan memakai topi/boshi. Herannya tidak ada yang sakit perut. Siang pulang ke barak untuk makan dan istirahat. Jam 1500 kumpul lagi untuk latihan nyanyi2 dipimpin Chudanco dibantu Shodanco atau Bundanco. Sore baru boleh mandi, istirahat dan makan malam yang sederhana. Malam ada pelajaran teori tentang senjata. Setiap malam jam 22.00 ada apel malam, baru boleh tidur.
Jepang menyerah kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Bala tentara Jepang di Pati kehilangan semangat. Mereka tidak bernafsu untuk merintangi pemuda2 Pati yang sedang terbakar semangatnya mengumumkan kemerdekaan. Para pemuda di Pati sudah tahu bahwa Soekarno-Hatta telah memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Dengan bambu runcing dipundak, para pemuda dan rakyat di Pati keluar kejalanan menyambut kemerdekaan.

jepang 01Tentara Jepang di Pati berusaha menyelamatkan diri dari dendam rakyat di Pati dengan jalan mengurung diri didalam asrama. Mereka baru membela diri apabila diserang oleh pemuda2 dari Pati yang berusaha merampas senjata mereka. Usaha merampas senjata yang pada mulanya hanya bersifat perorangan kemudian meningkat menjadi gerakan massa yang lebih teratur. Polisi2 Pati dibantu murid2 SMP Rondole Pati dan guru2nya, yang pernah dilatih PETA oleh Jepang, berperan sangat aktif untuk melucuti kesatuan tentara Jepang dan mengambil senjata, perlengkapan dan alat-alat militer lainnya. Aksi melucuti dan merebut senjata Jepang di Pati boleh dikatakan sukses.

SMP Rondole

Pengalaman dilatih Jepang di PETA berguna pada waktu perang kemerdekaan ditahun 1945-1950. Para murid dan guru SMP Rondole Pati bergabung di BKR (Badan Keamanan Rakyat). Ayah saya juga ikut bergabung di BKR memanggul senjata dan ikut berperang membela kemerdekaan di Palagan Semarang, Pucakwangi, dan Surakarta.

Murid2 dan semua guru SMP Rondole Pati sangat aktif membela kemerdekaan dan selalu meminta ditempatkan di front terdepan. Umur rata2 para murid masih belasan tahun, umur para guru rata2 masih kepala 2, pangkat yang diberikan bermacam2. Karena sudah pernah dilatih PETA, maka dianggap sudah terdidik, tidak ada yang sebagai prajurit biasa saja. Pangkatnya mulai sersan, sersan mayor, letnan paling tinggi kapten. Beberapa diantara murid meninggal terkena peluru yang ditembakkan tentara Belanda dan tentara Gurka. Kisah2 heroik ditulis oleh para alumni SMP Rondole Pati dan dikumpulkan didalam buku saku kecil yang dibagikan setiap ada pertemuan reuni SMP Rondole.

Murid2 putri SMP Rondole Pati turut berjuang membela kemerdekaan dan umumnya mereka bekerja dikesehatan bergabung dengan Palang Merah Indonesia, sebagian murid putri ditempatkan di dapur umum. Mereka menyatu dan berhubungan erat sehingga mempertebal rasa persaudaraan diantara pejuang2 muda murid SMP Rondole Pati.

Reuni mantan SMP Rondole di Jakarta 1995. Setelah pisah 50 tahun lebih.

Sampai sekarang beliau2 yang masih hidup, yang rata2 berumur sekitar 80 tahun, masih suka kumpul2. Markas eks Tentara Pelajar SMP Rondole Pati di jalan Borobudur no 1, Jakarta. Pemilik rumah namanya Ibu Wahjoeni, kelahiran 1928, angkatan ke-1 SMP Rondole Pati. Sebagian dari alumni menjadi tokoh nasional memegang jabatan yang prestigius dan berbobot.

Selama Zaman Pendudukan Jepang keluarga Soegijono amat menderita. Gaji ayah tidak cukup untuk membiayai hidup keluarga, makan dijatah. Abang saya lahir akhir Desember 1943 dalam kondisi prihatin. Ibu setiap bulan bolak balik ke Bakaran Wetan, Juwana untuk mengambil beras dari mbah Minah. Almarhum Kakek meninggalkan warisan sawah yang ditanami padi. Ayah pernah sakit typhus dan dirawat di Rumah Sakit Suwondo Pati, saking kritisnya karena kekurangan obat dan perawatan yang amat minim ayah hampir meninggal dunia. Alhamdullilah, setelah 2 bulan dirawat di RS ayah sembuh dan diijinkan pulang. Suwondo adalah murid SMP Rondole yang gugur dimedan perang melawan Belanda di daerah Demak, dekat Semarang. Nama almarhum Suwondo diabadikan untuk Rumah Sakit Umum Daerah di Pati.

Balada anak-anak Ndole
(4)
jembatan emas terbangun dengan berbagai teman sebagai tumbal
gugur sebagai syuhada di palagan semarang, pucakwangi, surakarta
atau menggeluti pertempuran di dulangmas, dibawah naungan gunung slamet, ciremay, galunggung atau gunung sawal
demi bangsa dan tanah air
berbekal rondole seishin, gelora perjuangan bung karno
perhitungan arief bung hatta
ketegaran melanda pantangan penyair chairil anwar
kelembutan desau cinta dan keindahan ibu pertiwi ismail marzuki
melantunkan elan revolusi

(5)
diseberang jembatan emas kemerdekaan
anak-anak ndole berjuang memperkokoh
pilar-pilar bangsa
melalui ilmu pelbagai lembaga pendidikan
di tanah air, di kaki gunung fuji
dilembah pegunungan alpen
dibawah kibaran stars and stripes banner
dalam kawalan infanteri dangir marwoto
gilasan roda panser sahuntung
dan jajaran baterai artileri eddy achir
kebhayangkaraan kardi, koenadi dan darto

(6)
kini tepat lewat 59 tahun
wajah ayu dara-dara dan tampang gagah jejaka ndole
telah menjadi nenek keriput dan kakek setengah pikun
namun percaya diri dan kearifan hidup
dan bersatu dalam benang merah kebersamaan
mensyukuri kurnia Illahi
dan ketulusan silaturahmi
dibumi pandan aran

(7)
sisa hidup kami
untuk berbakti pada tanah air dan bangsa
dan kebahagiaan keturunan kami
serta kejayaan bunda pertiwi
melalui iman, takwa, amal dan silaturahmi
sampai detak jantung kami terhenti (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir, pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s