Anak guru (9) – SMP Rondole pindah ke gedung bekas pabrik rokok

Anak guru (9) – SMP Rondole pindah ke gedung bekas pabrik rokok di Pati.

Pertempuran lima hari di Semarang, dimana murid dan guru SMP Rondole Pati ikut berperang untuk mempertahankan kemerdekaan, berdampak positip sekali. Ikatan murid dan guru bertambah erat. Inilah ceritera bapak tentang pertempuran lima hari di simpang lima Semarang, yang terjadi Oktober 1945.

Ketika itu ada sekitar 400 orang veteran2 AL Jepang yang pernah bertempur di Solomon, Pasifik akan dipekerjakan untuk mengubah pabrik gula Cepiring (30 km sebelah Barat Semarang) menjadi pabrik senjata. Begitu masuk kota Semarang, tawanan Jepang ini memberontak, bahkan menyerang tentara Indonesia dan polisi Indonesia yang bertugas mengawal mereka.

Orang2 Jepang ini melarikan diri dan bergabung dengan Kidobutai Jatingaleh Semarang, yaitu batalyon Jepang setempat. Mereka bergerak dengan dalih mencari orang2 Jepang yang tertawan. Ada desas-desus bahwa cadangan air di Candi diracuni.

Pertempuran mulai pecah dinihari 15 Oktober 1945. Ratusan tentara Jepang Kidobutai dan ditambah ratusan batalyon Jepang yang sedang singgah di Semarang, dengan bersenjata lengkap, bertempur melawan ribuan orang Semarang, gabungan pemuda, TKR dan BKR Semarang yang amat minim persenjataannya. Sebagian dari kisah heroik rakyat Semarang, sesudah sholat subuh saudara2 muslim keluar dari masjid Agung Semarang bersenjatakan keris, tumbak, bambu runcing, pentungan dibawa bertempur, sebagian besar dari mereka gugur diterjang peluru Jepang.

pejuang SMP Rondole Pati

pejuang SMP Rondole Pati

Pertempuran paling seru terjadi di Simpang Lima, ribuan orang Semarang bertempur, termasuk puluhan murid2 dan guru SMP Rondole yang datang dari Pati ikut berperang. Tidak ada rasa takut, karena murid dan guru SMP Rondole sedang dibakar dengan semangat mempertahankan kemerdekaan. Setelah lima hari bertempur lalu cease fire. Korbannya luar biasa banyaknya, ada kira2 2000-an rakyat Semarang gugur dan ada 200 tentara Jepang yang tewas.

Murid putri dari SMP Rondole Pati ikut perang, mereka bergabung dengan Palang Merah Indonesia. Mereka menjalankan tugasnya digaris depan memberi pertolongan kepada korban2 pertempuran. Berkat PMI banyak korban yang dapat diselamatkan dan sebagian dari mereka dapat kembali ke medan pertempuran.

Kondisi ayah dan ibu saya waktu awal kemerdekaan memprihatinkan. Gaji sebagai guru tidak pernah dibayar. Maklum suasananya masih suasana perang. Beras tidak selalu ada. Uang juga tidak selalu dimiliki oleh ayah dan ibu. Ayah sering meninggalkan ibu di Pati, ayah berjuang bersama murid2 SMP Rondole Pati yang sudah dilatih perang oleh Jepang. Mbah Minah dengan dibantu seorang pembantu yang bisu dari Bakaran Wetan, namanya Pele, setiap bulan datang membawa beras dari kampung. Semoga amal mbah Minah mendapat pahala berlipat ganda nanti diakherat. Amin.

???????????????????????????????Awal tahun 1947 SMP Rondole resmi dipindahkan dari desa Rondole ke kota Pati. Menempati gedung bekas pabrik rokok yang dimiliki oleh seorang pengusaha Tionghoa. Ayah saya dengan didukung oleh pejabat Pati waktu itu, yaitu bapak Bupati, Ketua DPRD, dan pejabat Muspida Pati berusaha mati-matian agar gedung eks pabrik rokok yang kosong itu bisa dipakai unutk tempat belajar anak-anak. Namanya diganti dari SMP Rondole menjadi SMP Negeri Pati. Ayah dipercaya untuk menjadi Kepala Sekolah SMP Negeri Pati yang pertama. Perjuangan bapak dengan dibantu guru-guru SMP Negeri Pati antara lain bapak Sumadi, bapak Salyo, bapak Peket, bapak Sudjono, ibu Sutji sungguh tak ternilai, dengan gigih beliau-beliau berjuang agar gedung bisa dipakai secara permanen. Orang China pemilik gedung eks pabrik rokok tidak ikhlas kalau gedungnya dipakai untuk SMP Negeri Pati, tanpa bayar. Banyak tekanan yang diterima ayah dan kawan-kawan guru SMP N Pati untuk pindah keluar dari gedung. Tekanan itu berlangsung dari 1947 – 1950 – 1960 – 1965. Dengan berbagai taktik dan cara.

Belanda tidak bersedia mengakui kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Belanda menganggap kemerdekaan Indonesia baru terjadi pada 27 Desember 1949, ketika soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Wakil Indonesia adalah Bung Hatta.

Belanda khawatir bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan politionele acties (agresi militer) pada 1945 – 1949 adalah ilegal.
Pengalaman berperang selama 4 tahun sangat membekas dihati ayah saya. Ayah saya merasakan bahwa menjadi tentara itu bukan bidang yang diminatinya. Ayah memutuskan keluar dari BKR. Beliau memutuskan untuk kembali ke profesinya sebagai guru. Senjata laras panjang yang selama ini dibawa ayah diserahkan ke komandan BKR di Pati.

smp n 1 1950 a

Foto 1950, guru-guru SMP N 1 Pati ditengah-tengah murid2 SMP N Pati.

Di tahun 1947-1948 kurikulum SMP Negeri Pati pun diperbaharui, pelajaran di kelas lebih diutamakan. SMP Negeri Pati menjadi sangat populer. Bayangkan bahwa di Karesidenan Pati, yang meliputi Kabupaten Jepara, Kabupaten Kudus, Kabupaten Pati, Kabupaten Blora hanya ada 1 (satu) SMP. Yang ketika itu setingkat MULO. Murid2 berdatangan ke SMP N Pati dari Jepara, Kudus, Djuwana, Blora dan Rembang.

djuwana stasiun k.a.

Murid2 dari Djuwana dan Rembang setiap pagi berangkat sekolah naik kereta api uap. Distasiun Juwana sudah disediakan gerbong khusus untuk anak sekolah SMP. Statsiunnya masih bersih dan teratur. Anak SMP harus bangun jam 4 pagi untuk bisa naik kereta api jam 5.

Ketika kereta melewati gedung sekolah SMP Negeri 1 Pati, sebagian dari murid laki2 berani meloncat turun dari kereta yang sedang berjalan. Murid2 perempuan turun di halte alun-alun, lalu berjalan kaki kesekolah. Murid lain ada yang naik sepeda dengan ban sepeda biasa dan lebih banyak yang berjalan kaki.

Dari usia dini, ayah dan ibu sudah melatih dan mendidik putra-putrinya untuk berlaku jujur, mandiri dan bertanggung jawab. Dimulai dari tugas harian menyapu dan mengepel lantai rumah, sore hari mengasah gerep agar tajam, menjaga kebersihan rumah, pakaian kotor harus diletakkan diember didekat sumur. Dengan lemah lembut ibu mengajarkan hal-hal yang kecil dan sepele tetapi amat sangat penting terutama kebersihan, disiplin, kerapihan, sopan santun, budi pekerti.

Sampai kelas 4 SR saya masih memakai sabak (batu tulis) dan gerep, baru dikelas 5 saya memakai buku tulis, alat tulisnya pensil, setip, pen celup dan tinta. Kami diajarin menulis halus dirumah oleh ibunda tercinta. Tulisan bapak dan ibu saya sangat indah sekali, apalagi kalau memakai pen celup. Luar biasa indahnya seperti melukis.

Kehidupan kami penuh dengan kasih sayang, ayah dan ibu amat mencintai anak2nya. Kehidupan kami termasuk sederhana tetapi berkecukupan, gaji ayah sebagai guru dan kepala sekolah masih cukup dibelanjakan membeli barang2 keperluan keluarga. Kalau pagi ayah mengajar di SMP Negeri, siang dan sore mengajar di SMP Partikelir. Peranan pendidikan anak2 ditangani oleh ibunda tercinta. (bersambung)

ati

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir, pendidikan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Anak guru (9) – SMP Rondole pindah ke gedung bekas pabrik rokok

  1. munadiakrom says:

    Nice story Pak….

    Sepertinya Ortunya Pak seangkatan dengan almarhum kakek saya atau kakek saya yang adik angkatannya…krn pd thn itu, kakek saya juga tentara. Ortu, om dan tante saya juga lulusan SMP 1 Pati…mungkin saja Pak Gufron seangkatan ortu saya.
    Terima kasih Pak…atas jasa almarhum Ortu Pak Gufron, kami bisa pernah merasakan pendidikan di SMP 1 Pati.

    Salam,
    Munadi

    • Gufron Sumariyono says:

      Ananda Munadi yg baik,
      Ayah saya guru, bekerja secara iklhas, tanpa mengharapkan imbalan apa-apa didunia, kecuali imbalan amal jariah. Siapa nama kakek anda? ortu anda? barangkali kami kenal.

  2. saya sekarang ngajar di SMP 1 Pati pak,
    ada data apa gak kapan tepatnya SMP 1 (Rondole) didirikan?

    • Gufron Sumariyono says:

      Ananda Mukhsinin yang baik,
      Paguyuban Eks Pelajar SMP Rondole Pati. pernah mengadakan Reuni Platinum, di tahun 2003. !943 – 2003 = 60 tahun.
      Ada sekitar 35 orang dari Angkatan Pertama 1943, yang berhasil dihimpun, tetapi tidak semuanya tinggal d Jakarta. Dari merekalah tanggal berdirinya ‘Syuu Dai Ichi Shoto Chu Gakko’ ditetapkan, memori mereka masih bagus, beliau-beliau berdiskusi, hari apa. tahun berapa, bulan apa dan tanggal berapa, SMP Rondole Pati mulai kegiatan belajar mengajar. Ada buku Kenangan yang diberi nama : Santi Hayu, Kenangan Reuni Platinum, Eks Pelajar SMP Rondole Pati, Pati Syuu Dai Ichi Shoto Chu Gakko, 1943 – 2003. Bukunya masih dicari, saya yakin saya bisa menemukan buku yang sangat bernilai itu.
      Menurut saya 13 Mei 1943 dapat dipertanggung jawabkan.
      Salam
      Gufron Sumariyono

  3. terima kasih pak gufron
    tulisan dan infonya sangat bermanfaat bg kami
    salam

  4. Budi Lationo says:

    cerita yang perlu diketahui oleh setiap alumnus SMP Neg. I Pati. Thanx a lot Bp. Gufron Sumariyono !!!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s