Anak guru (10) – suka duka mengasuh 12 anak

foto 1969

Bapak dan ibu mempunyai 12 putra dan putri. Kami 12 bersaudara.

foto 2009

Ibunda bersama 12 putr dan putrinya. Foto 2009.

Ibunda bersama 12 putra putri. Foto 2009

Ulang tahun ke 80, foto 2005
HUT Ibunda 85 thn. Foto 2009

Ulang tahun 85 tahun. Foto 2009)

Bapak dan ibu mempunyai tugas membesarkan 12 orang putra putrinya. Visi beliau berdua yaitu semua 12 orang anaknya ‘jadi orang’. Untuk mencapai visi ini bapak dan ibu mempunyai cara mendidik yang diajarkan dan diawasi dengan bagus. Sejak masih kecil semua anak diajarin mandiri, bekerja dan berguna untuk keluarga. Kebersamaan keluarga dipentingkan, pekerjaan rumah dibagi rata, tugas kegiatan ekonomi keluarga dijunjung bersama. Dengan telaten dan sabar sekali kami putra putri melaksanakan tugas itu, dengan ibu sebagai pusat dari kegiatan dikeluarga.

01 gufron01a1aPeriode 1963 – 1970 adalah periode yang prihatin. Bapak dan ibu harus pontang panting bekerja keras sekali untuk mencari nafkah guna menghidupi 12 orang anaknya. Bapak sangat berperanan memotivasi kami semua. Bapak berichtiar mencarikan jalan agar putra tertua no 1, putra no 2 dan putra no 3 sekolah yang benar dan sekolah yang baik. Bapak mencarikan jalan agar mendapatkan beasiswa bagi putra-putranya. Alhamdullilah berhasil.
– Anak ke-1 mendapat beasiswa Colombo Plan, sekolah di Sydney Australia.
– Saya anak ke-2 sekolah di FT Kimia, UGM Yogyakarta.
– Anak yang ke-3 dapat beasiswa sekolah di AIP di Jakarta.

Bapak pensiun dari guru di tahun 1963, ketika 12 putra putrinya belum ada yang mentas. Bapak dan ibu lalu berwiraswasta kecil-kecilan. Bapak dan ibu bekerja srabutan untuk menghidupi adik-adik yang masih sekolah di Pati. Dengan bekerja keras, dengan dipimpin oleh orang tua dan terus menerus adik adik saya diberikan pengertian, agar mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga besar. Banyak suka dan dukanya. Yang hebat adalah bapak dan ibu tetap menjaga agar suasana dirumah tetap riang gembira. Keuntungan tinggal di kota Pati, sebuah kota kecil yang beaya hidupnya relatip murah. Adik-adik terus dipacu agar bersemangat dalam sekolah, sambil bekerja membantu orang tua mencari uang.

Kami berdagang naftol/wenter/pewarna baju. Bapak setiap bulan belanja bahan naftol dari Yogya. Ber drum-drum dibeli oleh bapak dan dinaikkan kereta api dari Yogya ke Semarang dan diangkut dengan truk dari Semarang ke Pati. Kegiatan bisnis kecil-kecilan ini dilakukan dengan penuh semangat. Berkat kejujuran bapak maka barang2 bisa dipesan, lalu barang dagangan dikirim melalui ekspedisi dari Yogya ke Pati. Pembayaran dilakukan setelah barang sampai.

Adik-adik setiap malam membungkusin es mambo yang diplastik kecil-kecil dan sebelum tidur dimasukkan ke refrigerator. Setiap pagi adik adik membawa termos berisi es mambo ke warung-warung untuk dititipkan untuk dijual. Selain jualan es mambo, adik adik pun mengirimkan wenter yang sudah dibungkusin kecil kecil kebeberapa toko untuk dititipkan dijual.

Kegiatan keluarga Sugiyono telah berubah total, dari keluarga guru yang sederhana lalu menjadi keluarga yang berwiraswasta kecil. Adik-adik telah mengenal wiraswasta sejak mereka masih kecil, masih sekolah SD, SMP dan SMA. Bapak dan ibu sebagai bos dirumah, sebagai trainer, sebagai manajer produksi, manajer keuangan, manajer pemasaran. Sekarang baru kami sadari, bahwa latihan itu membuat 12 anak penghuni Jalan Diponegoro 108 Pati, memiliki karakter kokoh, ulet dan tidak mudah putus asa menghadapi kehidupan. Dik Andre no 9 dan dik Kris no 10, setiap pagi berboncengan membawa 3 bahkan kadang 4 termos, berisi es mambo, untuk dititipkan ke warung disekitar sekolah SD Kanisius Pati. Pulang sekolah mereka mengambil termos kosong dan membawa uang hasil penjualan untuk diserahkan ke ibunda tercinta. Ibu menerima dengan senyum sambil mengelus-elus sayang adik Andre no 9 dan dik Kris no 10. Ibu menyuruh adik cuci tangan dan kaki, ganti baju yang basah karena keringat dengan baju yang kering. Makan siang yang telah disediakan dimeja. Sekarang dik Andre berdagang bahan kimia melayani pabrik2 kimia seluruh Indonesia. Komoditi lama dagang “es mambo”, diganti komoditi sekarang “metanol, melamin dan urea”. Konsep dagangnya sama: kejujuran, tanggung jawab dan dipercaya pemegang saham, dipercaya pelanggan. Ajaran klasik dari bapak ibu yang penuh nilai-nilai yang tinggi. Rata-rata kami semua memiliki sifat dan nilai hidup yang tinggi ajaran bapak ibu. Namanya integritas. Kami bergerak aktif setiap hari, anti menyuap, anti menyogok, anti korupsi. Kami bekerja yang sungguh2. Kami bekerja mencari uang yang halal.

Ibu juga rajin mengikuti berbagai arisan sambil membawa barang dagangan seperti kain kain batik, bahan kebaya. Oleh teman teman tionghoa di Pati, ibu pun kadang diajak untuk berdagang komoditi hasil pertanian seperti kacang, beras dan garam. Ibu menyetor modal kerja, lalu yang menjalankan teman ibu dan setelah berhasil modal ibu dikembalikan ditambah keuntungannya. Subhanallah alhamdullilah….

Dengan cara itu ekonomi keluarga berjalan mulus. Subhanallah. Allah memberikan rezekinya dari sudut yang tidak pernah terduga. Kami makhluk Allah berupaya sebaik mungkin dan hasilnya serahkan kepada YME. Dan rezeki itu mengalir ‘mencukupi’ kebutuhan keluarga besar.

01 gufron01baTahun 1970 – 1980 strategi untk membiayai sekolah berubah. Tiga orang anak tertua sudah menyelesaikan sekolahnya dan sudah bekerja. Bapak dan ibu meminta kesediaan kami bertiga untuk membiayai sekolahnya adik2.

Caranya adalah kakak no-1 membiayai sekolahnya adik no 4, no 7 dan no 10. Saya sebagai anak ke-2 membiayai sekolahnya adik no 5, no 8 dan no 11. Lalu adik saya anak ke-3 membiayai sekolahnya adik no 6, no 9 dan no12. Alhamdullilah, rencana ini pun berjalan dengan permasalahan yang relatip masih bisa diatasi.

Terima kasih kapada bapak dan ibu yang selama ini mengajarkan kepada kami tentang kejujuran, tanggung jawab, semangat bekerja yang rajin tanpa pamrih, belajar yang giat agar kelak dapat berguna bagi nusa dan bangsa, budi pekerti, keuletan dalam belajar, kesabaran dalam hidup yang sederhana, hidup yang damai dengan tetangga, menghormati yang tua, menghormati guru. Luar biasa.
Hidup itu seperti siang dan malam, tidak sama apa yang direncanakan dengan kenyataan. Harus siap untuk susah dan senang. Jangan terlalu sedih kalau sedang mendapat kesusahan, jangan terlalu senang kalau sedang mendapat keuntungan.
Mulai usia dini kami sudah diajarkan apa arti hidup, misalnya jangan lekas panik, jangan lekas marah, jangan cepat emosi. Hidup didunia hanya sebentar, kata Ibu dengan lemah dan lembut kepada kami, maka hiduplah yang biasa2 saja, jangan habis2an.

Disamping pitutur, bapak dan ibu pun memberikan contoh beramal yang nyata. Mulai dari menolong 2 orang paman dari Bakaran Wetan, Juwana untuk disekolahkan ke SGB di Pati, yaitu sekolah untuk calon guru SR. Kedua paman itu (lik Warso dan lik Rakim) dari Bakaran tinggal bersama kami. Beramal membagikan rezeki kepada fakir miskin, terlebih kepada saudara dan famili yang kekurangan dan tidak beruntung dalam mencari rezeki.

Dalam hal belajar di sekolah kami diajarin harus serius, bersemangat dan yakin bahwa nantinya setelah dewasa akan menikmati hasilnya. Setiap malam bapak dan ibu selalu menungguin kami belajar, sering ibu menggorengkan pisang atau singkong untuk kami. Kalau akan ujian maka makanan kami diistimewakan dengan menambah telur goreng.

Kenangan yang indah dan sangat menawan hati adalah kisah nyata yang penuh suka dan penuh duka, tak terbayangkan bahwa orang tua saya seorang guru SMP mampu dan sukses menyekolahkan putra-putri yang berjumlah 12 orang. Kini ke 12 orang bersaudara sudah mampu mandiri. Suatu kenikmatan yang diberikan Allah yang selalu kami syukuri. Gambaran kami ini adalah cerminan doa dan tirakat dari orang tua. Bapak sudah meninggal Desember 1996, beliau tidak menyaksikan putra putrinya yang berjumlah 12 anak. Namun kami selalu mendoakan almarhum bapak setiap hari.

ibunda (85 th) diapit putra no1 dan no 12

ibunda (85 th) diapit putra no1 dan no 12

dik Ien (no5), dik Nunuk (no 7), di Mawar (no 8), di Titik (no 11, ibunda tercinta), foto tahun 1970

dik Ciput (12), dik Titik (11), dik Kris (10), dik Andre (9), dik Mawar (8), dik Nunuk (7) foto tahun 1965

ibunda dan adik no 8, adik no 11, adik no 7 dan adik no 5

dik Mawar (no 8), dik Titik (no 11), dik Nunuk (no 7), dik Ien (no 5) ibunda tercinta , foto tahun 2010

Adik no 12, Romo Agung Christiputro O Carm., sekarang menjadi Rektor Universitas Katholik Widya Mandala di Malang. Adik no 7 ibu duta besar RI untuk Vietnam, tinggalnya di Hanoi.

bapak 06a

12 putra dan putri ‘Pak Giek’ berfoto bersama didepan peti mati ‘pak Giek’ . Pendidikan karakter bapak sangat dirasakan oleh putra dan putri almarhum bapak.

bapak 01a

karangan bunga turut berduka cita dari pak Tommy Suharto

bapak 02bBila kita ingin menuai benih kebahagiaan, taburlah benih kebaikan. Ayah almarhum telah melakukannya berserta ibunda tercinta. Karena disuruh penjajah Jepang, tahun 1942, ayah almarhum mendirikan SMP di Pati. Satu-satunya SMP di Karesidenan Pati yang meliputi Kabupaten-Kabupaten Jepara, Kudus, Pati, Rembang dan Blora. Sampai akhir hayatnya 6 Desember 1996, ayah tetap mengabdi dibidang pendidikan. Bayangkan 54 tahun lamanya beliau setia dibidang pendidikan. Bermanfaat buat lingkungan dan masyarakat Pati. Benih kebaikan yang ditabur almarhum ayah telah dibalas langsung oleh Allah SWT didunia, kami putra-putri nya merasakan sekali kemudahan dan kelancaran didalam bersekolah, didalam mencari rezeki dan didalam kegiatan sehari-hari. Teladan almarhum ayah secara kontinyu dam konsisten diikuti oleh putra-putrinya.

‘pak Giek’ telah meninggal dunia tanggal 6 Desember 1996.  Namun jasa-jasa ‘pak Giek’ sebagai pendidik karakter pemuda pemudi Pati, sebagai pendidik kaum muda di Pati yang mengajarkan kecintaan kepada nusa dan bangsa melalui menyanyi aubade bersama di setiap upacara 17 Agustus dari 1950 sampai 1963, lagu nasional, lagu perjuangan yang membangkitkan semangat untuk membangun Indonesia, tidak lah dilupakan oleh bekas anak didiknya. Sampai sekarang anak didik 1950-1960 selalu membicarakan bagaimana ‘pak Giek’ membina dan memimpin aubade agar pemuda pemudi Pati selalu cinta kepada nusa dan bangsa dan semangat 45. Jasa ‘pak Giek’ sebagai pendidik di kota Pati sangat besar. Sangat terasa. Luar biasa.

Cerita serial ‘Anak guru’ saya akhiri sekian dahulu. Mudah-mudahan serial ini dapat menjadi tulisan sejarah tentang pak Giek dan putra putrinya dan juga menuliskan kenangan yang baik dari almarhum ayahanda saya, yang telah meninggal dunia pada bulan Desember 1996. (selesai)

ibunda asli Djuwana, adik no 11, adik no 5, adik no 8 dan adik no 7, putri putri Mertokusuman Pati alumni SMA N 1 Pati.

ibunda asli Djuwana, adik no 11, adik no 5, adik no 8 dan adik no 7. Putri putri Mertokusuman Pati semuanya alumni SMA N 1 Pati.

Gufron Sumariyono

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir, pendidikan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s