Hanoi (3) – businessman Indonesia yang sukses di Vietnam

Ciputra di Hanoi

Ciputra di Hanoi


ciputra sukses di hanoi

ciputra sukses di hanoi


Ada tiga pebisnis asal Indonesia yang sukses menanamkan modal dan menangguk untung yang besar di Vietnam.
Pertama adalah Ciputra dengan nama proyeknya adalah ‘Khu Do Thi Nam Thang Long – Ciputra Hanoi International City’. Pintu gerbang ukuran raksasa dengan hiasan kuda2 liar menghiasi pintu masuk ke real estate kepunyaan Ciputra di Hanoi. Ciputra membangun International City di Hanoi. Dan berhasil. Ketika awal Pemerintah Vietnam baru bangun dari tidur, Ciputra sudah mendatangi pejabat komunis Vietnam. Berani sekali Ciputra. Sebagai Dirutnya adalah mantunya bernama Ir Budi, insinyur sipil tamatan Inggris asal dari Semarang.

Dengan luas lahan real estate 400 ha, dan dengan pembangunan yang sudah sampai ketahap kedua dan dengan fasilitas didalam real estate yang sangat lengkap dan kwalitas tinggi, berupa sekolah internasional, mall, pasar, lapangan golf, kolam renang, lapangan tennis maka penjualan kapling larisnya bukan main. Harga jualnya USD 600.000 untuk kapling seluas 400 m2 itu dan bangunan 2,5 lantai. Waktu saya tengok nampak deretan rumah town house mirip di BSD saja. Jalan2nya lebar bak seperti boulevard. Staf KBRI Rehan cerita bahwa yang membeli terbagi menjadi tiga golongan, yaitu kelompok swasta yang kaya, kelompok pejabat pemerintah dan kelompok pejabat partai.

Orang bagian pemasaran Ciputra real estate, yang sering ke KBRI cerita ke Rehan, bahwa mereka juga heran akan larisnya penjualan kapling-kapling Ciputra Hanoi itu. Pernah ada 2 orang wanita membeli kapling seharga USD 600.00 dibayar cash. Uangnya dibungkus plastik kresek, mereka berdua naik Honda motor berboncengan menuju kantor pemasaran. Dan kata Rehan, rata2 para swasta membelinya cash, jarang yang mencicil. Bukan main amat kuat daya beli masyarakat yang baru bangkit ini. Para wiraswasta di Hanoi berbisnis macam-macam, jarang menggunakan Bank untuk menyimpan uangnya. Hampir semuanya mempunyai peti besi/brandkas untuk menyimpan uangnya. Mereka takut ditanya macam-macam oleh penguasa Vietnam yang menganut sosialis komunis. Mereka takut kalau ketahuan pemerintah bahwa mereka mempunyai banyak uang.

Selain real estate, Ciputra juga memiliki Hotel Horison. Memang Ciputra sangat piawai dalam berbisnis real estate dan Ciputra sukses menangguk untung dinegeri orang Vietnam. Dia sudah masuk ke Vietnam ditahun 1985-an. Diwaktu itu orang2 belum berani kesana, Ciputra sudah mulai mendekati pejabat pemerintah Vietnam. Sekarang tinggal menuai hasilnya. Saingan di real estate mulai masuk ke Hanoi, tetapi para pesaing yang berasal dari Thailand dan Malaysia belum sukses karena mendapat lahan real estate yang jauh dari kota.

Yang kedua adalah Robby Sumampauw atau dikenal dengan nama Robby ketek.

Dia berbisnis di pertambangan batubara di Vietnam. Lokasinya didekat Ha Long di Vietnam Utara. Nama perusahaannya adalah Vietmindo Energitama, Dirutnya anak laki2 Robby bernama, Dani Sumampaow, masih sangat muda usia belum 30 tahun, baru menikah beberapa bulan yang lalu. Ada 50 orang Indonesia yang bekerja di Vietmindo. Sukses luar biasa… Keterangan lengkap ada diklik disini

Yang ketiga adalah JAPFA, yaitu industri makanan ternak di Indonesia. Usaha yang mula-mula dikerjakan Japfa di Vietnam adalah pabrik makanan ternak untuk ayam dan babi. Sekarang berusaha dibidang peternakan ayam dan babi yang terbesar di Vietnam. Babi adalah makanan utama orang2 Vietnam. Demand daging babi sangat besar, lebih besar dari dmand daging ayam dan daging sapi.

Selama dua hari jalan2 di Hanoi, saya mempunyai kesan kalau orang Vietnam itu rajin dan
ulet. Tidak ada PKL didalam kota. Kata Rehan staf KBRI, pemerintah Vietnam melarang PKL berjualan dikota Hanoi. Namun saya menjumpai ibu2 yang berjualan buah dan sayur masih ada dan barang2 dagangannya dipikul keliling atau mangkal didepan pasar tadisionil, seperti pasar yang ada didekat KBRI. Mereka sering digaruk oleh polisi.

Kemarin sore saya diajak ke pasar Don Xuan, sebuah gedung yang terdiri dari 3 lantai. Didalam pasar dijual barang2 hasil pabrik rumahan dari Vietnam. Ada sepatu, baju2, jaket2, pakaian musim dingin, keramik2 seperti set of tea yang bagus2 warna-warni. Mirip di tanah abang, Selain juakln grosir dipasar ini juga dijual eceran. Yang menarik mata saya adalah sepatu boot lars tinggi dengan hak tinggi, warna-warni, ada merah kuning dengan hiasan yang apik dijejer-jejer dengan manis sehingga menarik untuk difoto. Pembeli disini banyak, umumnya adalah cewek2 atau gadis2 Vietnam. Kulit para cewek ini umumnya kuning2 dan mulus2, tinggi badannya rata2 155cm ada juga yang 160 cm. Termasuk pendek-pendek. Kecil mungil putih kulitnya. Merekalah yang membeli sepatu boot ber hak tinggi warna warna itu. Tidak ada rasa malu atau risih memakai sepatu boot berhak tinggi ditempat umum. Di airport banyak saya jumpai, didalam kota juga menjumpai cewek naik motor memakai sepatu boot warena-warni. Pakaiannya juga modis. Kalau di Jakarta sepatu2 dan pakaian modis seperti itu dipakai oleh para artis kalau lagi menyanyi dipanggung. (bersambung)

About these ads

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan2 ke luar negeri and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s