Hanoi (4) – pemerintah sosialis komunis vs agama

imam orang Hanoi

imam orang Hanoi

gerbang masjid

gerbang masjid

Semua orang muslim laki2 yang dewasa diwajibkan sholat zuhur berjamaah di masjid pada hari Jumat. Saya sholat Jumat di satu-satunya masjid di Hanoi.

Masjid di Hanoi ini kecil dan terjepit diantara ruko-ruko yang ukuran kecil dan kumuh karena debu dan sudah lama. Mirip kondisi di Kartini disekitar pasar Asem Reges Jaakrta. Bentuknya masjid bukan seperti masjid yang kita jumpai di Jawa, samasekali jauh dari itu. Berupa gedung yang bentuknya lucu. Saya mengira-ira dulu-dulunya adalah ruko untuk berdagang, yang disulap menjadi masjid. Ruang utama masjid ukuran 8 m x 10 m, ruangan sayap tambahan dikiri ukuran 2 m x 10 m, paling kiri ada lagi ruang ukuran 2 x 6 m untk wanita. Jumlah jemaah seluruhnya sekitar seratus orang. Lebih dari separuh berwajah asia melayu, sebagian lain berwajah asia selatan (Pakistan dan Bangladesh), dan sebagian lagi berwajah timur tengah. Imamnya bernama Abdus Salam, asli orang Vietnam yang mendapat beasiswa belajar Islam di Libia. Kotbahnya berbahasa arab dan berbahasa inggris.
Menurut Reihan, staf KBRI yang menjadi pengurus masjid, masjid ini hanya dibuka untuk sembahyang berjamaah. Sesudah selesai sembahyang pintu pintu masjid akan dikunci oleh petugas pemerintah. Di Hanoi tidak boleh ada pengajian atau pertemuan yang memakai masjid sebgai tempatnya. Kegiatan keagamaan seperti itu dilarang. Disamping itu saya mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan yang halal, karena hamper semua restoran, warung selalu menyajikan babi sebagai makanan utama. Resto halal memang ada tetapi tersembunyi dan jumlahnya sedikit.

Beberapa tahun yang lalu, ada kasus dimana Pemerintah Vietnam mengambil alih tanah dan gedung milik Kedutan Vatikan di Hanoi. Menurut pemerintah Vietnam, Kedutaan Vatikan di Hanoi adalah sarang orang2 yang mau mengacau Vietnam dengan cara menggerakkan HAM, menggerakkan demokrasi dan menggerakkan paham liberal. Dana nya besar dari LN. Ketiga kegiatan sangat dilarang dan harus segera dibasmi dan dienyahkan dari bumi Vietnam. Hanya ada satu dasar negara yaitu sosialis dan komunis yang boleh hidup di Vietnam. Keyakinan2 lain harus lenyap dan dibasmi. Vietnam yakin bahwa negara Vietnam akan utuh , akan maju, akan aman dan akan stabil kalau paham2 liberal, paham demokrasi dan paham HAM tidak hidup. Semua staf kedutaan Vatikan diusir, gedungnya diambil alih. Reaksi yang timbul dari masyarakat lokal, masyarakat dunia tidak digubris. Kesan saya walaupun Vietnam itu negara miskin, negara yang menang perang melawan Perancis dan Amerika, pemimpin2nya mempunyai keyakinan yang kuat dan berwibawa. Dan rakyat Vietnam harus tunduk, harus nurut dan harus loyal kepada keyakinan tunggal yaitu sosialis dan komunis. Saya teringat akan kasus pengambil alihan gedung kedutaan RRC yang terletak di kota, depan Harco, ditahun 1965. Tetapi itu karena masalah politik waktu itu, sebagai akibat dari kegiatan komunis di Indonesia dan peranan RRC waktu itu.

Diawal tahun 2008, ada lagi kasus yang terjadi di Hanoi. Ada sebuah gedung tua yang berdiri diatas tanah milik umat katholik. Rencananya akan direnovasi, maka mereka minta ijin kepada pemerintah Vietnam. Permintaan mereka ditolak. Pemerintah Vietnam tidak memberikan ijin. Lalu pemerintah Vietnam mengambil alih gedung dan tanah, dipagarin dengan seng. Lalu gedung itu diruntuhkan oleh pemerintah dan dibangunlah taman yang diatas tanah itu dalam waktu dua – tiga bulan. Protes muncul dari umat katholik di Hanoi dengan cara demonstrasi di depan gedung pemerintah dikota Hanoi. Tentara dan polisi lalu mengambil tindakan keras dengan cara, para demonstran diangkut dengan truk ke kantor polisi dan dipenjara. Para pemimpinnya diinterograsi dan dimasukkan ke penjara. Ributlah dunia internasional dengan tindakan yang benar2 melanggar HAM ini. Tetapi pemerintah Vietnam tidak perduli. Semalam saya diajak melihat taman yang dibangun diatas tanah milik umat katholik, tamannya memang bagus sekali. Ada lampu2, ada bunga warna warni dan ada tempat duduk serta ada jalan untuk para penikmat taman.

Pemerintah Sosialis Vietnam mempunyai hubungan kurang bagus dengan China RRC. Orang China banyak yang diusir dari Hanoi, dan harta bendanya di sita oleh pemerintah Vietnam. Itu terjadi ditahun 1975-an, ketika Amerika berhasil diusir dari Vietnam. Gara gara Vietnam minta bantuan ke RRC, tetapi ditolak oleh Chou En Lai, karena negerinya butuh dana untuk dibangun. Pemerintah Vietnam marah, lalu orang China yang ada di Hanoi diusir keluar, dengan kapal, yang lalu ditampung di pulau Galang oleh Indonesia. Jadi yang ditampung adalah China Vietnam, bukan penduduk asli Vietnam. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan2 ke luar negeri and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s