Situ Gintung, 40 hari sesudah jebol

anak2 yang masih trauma

anak2 yang masih trauma

ukuran 3x3 m per kk

ukuran 3x3 m per kk

bedeng penampungan  korban

bedeng penampungan korban

tanggul yang jebol, lebar 100 m

tanggul yang jebol, lebar 100 m

berdzikir bersama korban

berdzikir bersama korban

Tanggul yang jebol di Situ Gintung itu menganga mengerikan. Lebar tanggul yang jebol +/- 100 meter dengan ketinggian setinggi 30 meter. Dari atas tanggul sebelah kiri terlihat pemandangan masjid yang tegak berdiri, dilembah yang dalam. Persis berada dimulut tanggul yang jebol. Subhannallah. Ajaib sekali. kekuatan air danau yang tumpah dengan kekuatan yang dhsyat, setinggi 30 meter, tidak mampu menganyutkan rumah Allah, tempat para hamba menyembah Allah, Yang Maha Pencipta dan Maha Melindungi. Hari Minggu 3 Mei 2009, 40 hari setelah tanggul jebol, kami datang jam 7 pagi untuk menjenguk para korban. Bedeng penampungan ukuran 3x3m berjejer rapi, sumbangan dari DD. Kami menjenguk sambil membawa Al Quran, selimut, makanan2 kaleng, beras dan uang. Kami juga melakukan zikir bersama para korban Situ Gintung. Tausyiah yang dibawakan oleh rekan kami dari ESQ, sdr Ridwan, telah dengan baik mengajak agar para korban bersabar. Ceritera Nabi Ayyub, nabi yang terkenal kesabarannya, nabi yang kaya raya, sehat walafiat, raja yang berkuasa pada waktu itu telah dicabut kenikmatannya oleh Allah, atas permintaan setan. Namun nabi Ayyub tetap beriman dan mencintai Allah. 7 tahun penderitaan tidak apa-apa dibanding 70 tahun kenikmatan yang telah diberikan Allah. Semua milik nabi Ayyub hilang dicabut, mulai ternak2nya mati semua, rumah dan kekayaan terbakar semua, semua anak2nya yang dicintai mati semua karena bangunan rumah itu ambruk, ditambah penyakit kulit yang menimbulkan rasa jijik dan bau ditempelkan disekujur tubuh nabi Ayyub. Namun nabi Ayyub tetap mencintai Allah, tetap beribadah kepada Allah, tetap mensyukuri apa yang terjadi. Hanya satu istri yang masih setia menungguinya ketika nabi diusir keluar dari rumahnya untuk tinggal digua yang terisolasi. Nabi Ayyub malu memohon pertolongan kepada Allah. Namun Allah mengembalikan semua kenikmatan setelah 7 tahun menderita.
Ceritera yang memotivasi semangat dan spiritual para korban.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in bencana alam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s