Jepang (4) – Kyoto yang antik dan kuno namun menawan

Jepang (4) – Kyoto yang antik dan kuno namun menawan.

Kyoto itu kota yang antik dan kuno, sering disebut kota dengan 1000 temple. Disetiap sudut kota banyak temple temple kuno yang masih dipelihara dan masih dipertahankan. Hampir semua temple yang bagus, yang besar, yang istimewa pernah saya kunjungi di tahun 1982. Karena memang saya pernah tinggal di Kyoto selama 2 bulan, tapi itu dulu terjadi tahun 1982. Kyoto yang sekarang saya menduga pasti berbeda dan saya menduga pasti banyak bangunan baru. Ternyata dugaan saya salah. Bangunan yang baru hanya satu yaitu Stasiun Kyoto, yang dibangun ditengah kota, dipergunakan oleh jutaan masyarakat Kyoto. Dinikmati oleh rakyat Jepang baik yang kaya maupun yang sedang atau yang miskin. Setasiun yang super modern sangat lengkap sekali, setasiun yang kuno yang dulu tahun 1982 saya pakai sudah dibongkar dan diganti yang baru nan modern.

Kyoto station

Kyoto station

Perjalanan saya ke Kyoto dimulai dengan melihat Rural Ohara Village, kampungnya masyarakat Jepang yang masih kuno dan masih sangat tradsionil sekali dan masih dipertahankan untuk tidak dirubah. Sebelum ke Jepang saya melihat foto foto Rural Ohara Village yang ada di internet, kami membayangkan akan melihat pemandangan yang ada seperti yang di film The Last Samurai. Ternyata benar dan tidak salah. Rural Ohara Village itu kampungnya orang orang Jepang dizaman kuno. Istimewa dan hebatnya masih dipertahankan oleh pemerintah Jepang, untuk diperlihatkan ke turis, baik untuk turis local maupun asing.

Lokasi Rural Ohara Village terletak di pegunungan diutara kota Kyoto. Dari Kobe ke Osaka ke Kyoto kami naik kereta. Ganti lagi dengan bis kira2 1,5 jam dari Kyoto Station arah ke utara. Dari stop bus terakhir menuju lokasi kampong Jepang the Rural Ohara yang ada Sanzenin temple, kami jalan kaki sejauh 1,5 km. Kami berjalan kaki dijalan yang tidak mulus melewati sawah2 yang ditanami dengan padi umur 2 bulan yang hijau royo2. Ditengah sawah ada rumah2 tradisionil Jepang, yang dibuat dari kayu dan bambu. Pagar rumah rumah yang terletak dipinggir jalan yang kami lalui dibuat dari batu besar2, dari kayu kayu murahan, dari ranting ranting kayu yang diikat ikat eksotik sekali, pokoknya khas Jepang, dan sangat bersih sekali. Ada sumur lengkap dengan ember dan tali, seperti di film ‘Oshin’. Lalu kami melewati sungai kecil yang airnya mengalir deras jernih dan ada ikan kecil, saya menikmati sekali alam pegunungan, ada sawah, ada pinus, ada warung kuno macam macam yang tidak ada di kota besar. Benar benar alam pedesaan Jepang kuno.

Melihat sawah dihampari dengan warna hijau saya teringat akan beras Jepang. Beras Jepang itu enak sekali dan mahal. Baunya wangi dan mampu menggoyang lidah. Lain sekali dengan beras rojolele. Petani di Jepang mendapat subsidi dari pemerintahnya, kalau gagal panen karena hama atau bencana alam, pemerintah Jepang kontan akan akan mengganti 100% nilai beras yang akan dihasilkan sawah itu. Jepang dilarang meng-export beras keluar negeri.

padi jepang di Rural Ohara

padi jepang di Rural Ohara

Sanzenin Temple yang berada di Rural Ohara Village itu bangunannya sedang, kira2 hanya 400 meter persegi saja, tidak luas malahan bisa disebut kecil. Lorong dipinggir berlantai kayu, tiang dan tembok juga dari kayu, atapnya khas berciri jepang dari daun rumbia pokoknya persis seperti yang ada di film. Yang penting Temple itu sudah masuk film The Last samurai.

Senzenin temple di Rural Ohara

Senzenin temple di Rural Ohara

Hari berikutnya kami ke Kyoto lagi. Kali ini akan melihat pasar tradisionil di Kyoto yang disebut Nishiki Market atau Kyoto’s Kitchen. Saya menikmati dan merasa senang merasakan dan melihat kenyataan bersentuhan dengan masyarakat Jepang. Saya sengaja tidak mengikuti paket pariwisata, tetapi berpetualang dikota memakai kereta api, memakai bus, berjalan kaki. Dengan berbekal map kota Kyoto, bolpen dan buku nota catatan kami berdua dengan nyonya jalan jalan. di Kyoto. Kami tidak bisa bahasa Jepang tetapi tidak takut dan tidak was was, semua orang di jepang kalau saya tanya tentang arah perjalanan, tentang arah stasiun kereta api bawah tanah (subway), tentang arah bis, semua yang saya tanya akan menjawab dengan ‘full action’. Luar biasa. Mereka tidak bisa berbicara bahasa Inggris, tetapi sangat tulus menolong. Sampai ada seorang cewek muda dan cantik, yang mengantarkan saya untuk menuruni tangga subway, lalu menolong membelikan tiket yang otomatis, lalu kami dituntun dan diantar menuju ke tempat kereta api berhenti, saya ditungguin sampai kereta apinya muncul dan dan saya disuruh naik. Dari map ditembok saya disuruh keluar setelah empat stasiun. Padahal dia mau pergi ketempat lain, dan ditinggalkanlah urusannya dan khusus mengantar saya ketempat yang benar.

Apakah karakter menolong orang asing itu hanya dimiliki oleh cewek muda nan cantik itu ? Ternyata semua orang begitu. Orang Jepang memiliki karakter bagus, yaotu suka menolong orang asing yang kesulitan. Ketika mencari arah ke Ohara Village. Saya tersesat, dengan bahasa tarzan bias diatasi. Luar biasa menyenangkan.

Pasar tradisionil yang kami kunjungi namanya Nishiki Market dikenal dengan nama Kyoto’s kitchen. Dipasar ini dijual macam macam sayuran, macam macam fresh seafood, deep fried kebabs (kushikatsu), macam macam manisan, macam macam kue yang semuanya mampu menerbitkan airliur dan mampu membangkitkan selera makan atau ingin seklai mencicipi. Ada yang terkenal yaitu tsukemono (pickles), ada kaiseiki (traditional japanese meal). Semua makanan menarik, menggoda untuk dicoba, warna warni dan sangat bagus difoto. Itulah Nishiki Market atau Kyoto’s kitchen. Saya memotret makanan siap saji, ready to eat, yang punya tidak marah walau tidak membeli.

Sashimi lolly, di Nishiki market, Kyoto's kitchen

Sashimi lolly, di Nishiki market, Kyoto\’s kitchen

Kami berhenti istirahat sambil makan siang di ‘warteg’ nya Jepang. Dari luar sederhana sekali, tetapi kebersihan dari piring dan makanan sangat terjaga. Makanya kami berani makan tidak ada perasaan takut nanti akan sakit perut. Selesai makan kami melanjutkan perjalanan untuk melihat ke Golden Temple, dengan naik bis.

Golden temple atau disebut Kinkaku-ji, artinya Temple of the Golden Pavilion, atau juga disebut Rokuon-ji adalah temple Buddhist Zen yang ada di Kyoto. Menurut sejarah, Kinkaku-ji dibangun 1397 oleh Shogun Ashikaga Yoshimitsu. Temple pernah kebakaran dua kali, yang pertama ketika Onin War. Yang kedua temple dibakar oleh biksu yang gila alias tidak waras, Hayashi Yoken di tahun 1950. Sesudah membakar temple si biksu yang gila berusaha bunuh diri, tetapi gagal. Dan akhirnya diadili dan dihukum 7 tahun, dia meninggal di penjara.

Golden temple memang sangat dipelihara, sangat indah, sangat bagus, sangat bersih dan masih ramai dikunjungi wisatawan dari luar maupun local. Temple yang indah ini terdiri dari bangunan tiga tingkat, dimana dua tingkat diatas pavilion nya di cover dengan gold leaf (atap emas). Disitu difungsikan sebagai ‘shariden’, housing relics of Buddha (Buddha’s ashes). Bagi mereka yang mengunjungi Kyoto, maka kami menyarankan melihat Golden temple, karena inilah primadona dari Kyoto. Berfoto foto didepan Golden temple akan menjadi memori yang tak terlupakan.

Hari sudah gelap dan kami meninggalkan Golden temple menuju ke sungai besar yang panjang membelah kota hingga tersambung dengan kota Osaka. Dikenal dengan sebutan ‘Kamogawa’ atau ‘Sungai Bebek’. Menelusuri sungai ini hingga ke pusat kota, maka kita bisa menemui kehidupan masa lalu yang dipertahankan itu. Pusat kota ini dikenal dengan sebutan Kawaramachi Dori. Di sekitarnya ada wilayah bernama Pontocho. Disini ada dua desa yang paling bergengsi dan sekaligus distrik yang paling banyak geisha-nya yaitu Gion dan Pontocho. Di Gion dan Pontocho, geisha lebih dikenal dengan sebutan geiko. Pada akhir abad 20 masih ada 10 ribu geisha, di tahun 1920-an konon ada 80 ribu geisha. Di wilayah ini berderet rumah makan yang kental dengan nuansa Jepang.

geisha gion 2

Geisha di Gion Kyoto

Mulai dari bentuk bangunannya. Geisha itu bermakna ‘orang yang bisa berkesenian’. Menurut buku yang baca, dan film The Memoir of geisha, Geisha bukan pelacur dan juga bukan istri. Geisha menjual keahlian dan ketrampilan, bukan tubuh. Geisha tidak dibayar untuk melakukan hubungan seks. Geisha hanya boleh punya hubungan khusus dengan laki-laki yang menjadi dannanya (pelindung) yang menyokong biaya hidup sehari-harinya yang cukup besar. Dengan kata lain, geisha hanya bisa menjadi setengah istri, yaitu istri-istri di malam hari. Geisha tidak menikah, tetapi bukan berarti dia tidak boleh punya anak.
Kyoto yang kuno, yang penuh temple, yang eksotik, yang masyrakat dan penghuninya ramah, suka menolong, ternyata masih mampu menyimpan pesona yang luar biasa. Aku jatuh cinta kepada Kyoto.

1aa 1b 1c 3b Akira-Gufron, Kobe 2006 Amanohasidate 02 Batu besar2 sebagai tembok pagar, alami dan indah Berkimono

Foto foto Kyoto ada disini. (bersambung)

http://picasaweb.google.com/g.sumariyono/Kyoto#

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan2 ke luar negeri and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s