Aceh (2) – Sabang, mutiara yang terpendam

1001002610010011100100601002014410010054100201911002021210020193CIMG1263CIMG1302Bayangan saya, begitu tiba di sabang akn disuguhkan dengan lalu lalang mobil mewah bekas Singapore. Nihil. Sama sekali tidak ada kesan hiruk pikuk. Sepi .. sepi.. Hanya senyum ramah warga menyambut kami. Kota Sabang yang terletak di pulau Weh, sebelum Perang Dunia ke II Sabang lebih terkenal dari Singapore, lebih popular dari Singapore. Banyak kapal singgah di pelabuhan Sabang. Sabang adalah pelabuhan alam yang oleh pemerintah kolonial Belanda dikenal sebagai ‘vrij haven’ atau pelabuhan bebas. Sejak dinyatakan sebagai pelabuhan bebas oleh Belanda di tahun 1881, sabang menjadi ramai disinggahi kapal-kapal yang melewati Selat Melaka. Banyak sarana penunjang sebagai pelabuhan bebas yangdibangun oleh Belanda. Lokasi pulaunya sangat strategis sekali. Tahun 1942 Sabang dan pulau Weh diduduki Jepang dan dipakai sebagai pelabuhan militer Jepang. Tahun 1945 Sekutu mengebom Sabang sampai hancur dan rusak. Setelah merdeka Sabang ditetapkan sebagai pelabuhan maritim AL RI dan pelabuhan bebas yang berlangsung dari 1945 sampai 1985. Sabang dimatikan sebagai pelabuhan bebas di tahun 1985. Mengapa? Karena Batam akan dibangun untuk menyaingi Singapore. Ketua Otorita Batam adalah Habibie dan wakilnya adalaha familinya sendiri. Tahun 2000 Sabang dikembalikan sebagai pelabuhan bebas tetapi Abdul Rahman Wahid Presiden RI, tetapi masih setengah setengah karena peraturan penunjang tidak keluar keluar. Berbagai upaya telah dilakukan agar mengembalikan pamor Sabang. Di tahun 1997 di pantai Gapang diadaka Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diprakarsai BPPT. Tahun 1998 ditetapkan sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu oleh BJ Habibie. Tahu 2000 sebagai Kawasan Perdagangan Bebas oleh Abdurrahman Wahid. Tetapi 2004 semua kegiatan terhenti karena Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer. Sampai musibah tsunami datang 26 Desember 2004 baru semua pihak tersentak kaget. Untunglah palung-palung diteluk Sabang sangat dalam, sehingga Sabang selamat dari hantaman gelombang tsunami. Dan Sabang menjadi pelabuhan transit bantuan-bantuan untuk korban tsunami Aceh. BRR menetapkan Sabang sebagai pelabuhan transit materi konstruksi untuk pembanguna rehabilitasi daratan Aceh. Bagaimana kondisi pelabuhan sabang sekarang? Yang saya lihat masih sepi, masih sunyi, gudang-gudang kosong melompong, tidak ada kapal barang yang membongkar muatan, tidak ada truk yang memuat barang, tidak ada manusia yang bekerja. Yang ada orang Aceh yang sedang menikmati kopi Aceh …. Sabang sebuah mutiara yang terpendam.
Yang hebat dan yang indah adalah alam di Sabang, sangat indah dan mentakjubkan. Apalagi pantainya, sungguh indah sekali.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s