Asosiasi Nazhir Wakaf Uang (1)

Judul dari tulisan tentu mengundang tanda tanya. Asosiasi apa pula ini. Rupanya yang perlu berhimpun dalam wadah asosiasi bukan hanya para masyarakat bisnis yang mempunyai usaha berbentuk perseroan, yang mempunyai industri yang menghasilkan keuntungan, yang mempunyai jaringan perdagangan ke LN dan DN saja.

Kata Ketua di Badan Wakaf Indonesia, bahwa para nahzir wakaf uang pun perlu berhimpun dalam satu payung, yang diyakini tentu banyak manfaatnya dari pada kerugiannya.

Adalah Badan Wakaf Indonesia, yang dipimpin bapak Prof DR.KH Tholhah Hasan yang mengundang saya selaku Ketua Umum Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa untuk menghadiri suatu silaturahim dan sosialisasi perwakafan uang di Indonesia. Inilah pertama kalinya BWI menggelar pertemuan itu. Tempatnya tidak tanggung-tanggung, menyewa tempat yang bagus sekali di hotel bintang 5 terletak di daerah peristirahatan yang sangat terkenal di Cisarua. Hotel bintang 5 bernama Hotel Seruni, yang dimiliki oleh pebisnis non-pri asal Bali. Areanya sangat luas sekali, dan ada arena renang kelas internasional, ada arena terjun indah kelas internasional, lengkap dengan tempat duduk yang berkelas dan ruangan-ruangan penunjang untuk para atlit, para panitia dan para penonton. Suatu investasi yang mengagumkan, tentu tidak murah biaya yang telah ditanamkan untuk menyelesaikan proyek prestis ini.

Nah kembali ke pertemuan yang diprakarsai dan didanai oleh BWI. Selama dua hari para peserta disuguhibn dengan banyak materi tentang perwakafan, terutama wakaf tunai / uang. Kami di isi secara non stop dengan berbagai informasi tentang BWI. Dimulai dari pengarahan oleh Bapak Tholhah Hasan mengenai BWI, misi dan visinya, serta pencapaian di Indonesia yang masih kalah jauh dibanding negara Islam lainnya. Menarik sekali. Kami dimotivasi agar siap untk bekerja keras mengimplementasikan konsep sosio economy berprinsip Islam, yang sangat dahsyat kalau dikelola dengan sungguh-sungguh. Dipaparkan oleh bapak Tholhah Hasan bahwa pengelolalan wakaf di Indonesia sudah lama hanya berwujud tanah dan kuburan saja. Pengelolalaan wakaf uang dan tunai masih sangat kecil dan masih sangat terbatas sekali. Para tokoh Islam menyadari bahwa harus ada undang-undang dan terobosan agar kegiatan pengumpulan dan pengelolaan wakaf uang segera dimulai. Itulah awal berdirinya Badan Wakaf Indonesia.

Peraturan Wakaf Tunai dan undang-undang dijelaskan oleh Ibu Prof DR Uswatun Hasanah. Disambung dengan Pola hubungan BWI dengan Nahzir Wakaf Uang oleh bapak DR Edwin Nasution, dengan sangat baik sekali. Dari dua topik itu saja sudah jelas kelihatan bahwa Pemerintah sangat mendukung kegiatan wakaf uang. Pemerintah ingin melihat bahwa di Indonesia sudah berdiri banyak Badan Wakaf Uang yang dikelola secara profesional. Amal yang akan dicapai ada dua, amal didunia dan amal di akherat.

Di beberapa negara seperti Mesir, Yordania, Saudi Arabia, Turki dana wakaf uang dipakai untuk sarana dan prasarana ibadah, pendidikan, pertanian, perkebunan, flat, saham, obligasi, real estate, meningkatkan kesehatan masyarakat, rumah sakit dan lain-lain. Semuanya produktif dan semuanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Wakaf Uang diatur tersendiri yaitu di Undang-undang no 41 tahun 2004 tentang Wakaf Wakaf. Dan Peraturan Pemerintah no 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang no 41 tahun 2004 tentang Wakaf, Dan Peraturan Menteri Agama no 4 tahun 2009, mengenai Pendaftaran Wakaf Uang, yang ditandatangani 29 Juli 2009. Lengkaplah sudah perundangan dan peraturan yang akan dipakai sebagai dasar pengelolaan wakaf uang.

Tampaklah bahwa tugas Nahzir maupun orang yang bertugas di LPS tidaklah ringan, kerene mereka wajib menjaga harta wakaf yang diamanatkan kepadanya.

Apa itu Nazhir? Apa hak dan kewajiban Nahzir?

Nazhir berasal dari kata kerja bahasa Arab nazhara, artinya menjaga, memelihara, mengelola dan mengawasi. Nazhir wakaf adalah orang yang diberi tugas menjaga dan mengelola wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan. Dia berhak bertindak atas harta wakaf untuk mengurus , memelihara dan mengembangkan dan mendistribusikan kepada yang berhak menerima atau mengerjakan segala sesuatu agar harta itu tumbuh dengan baik dan kekal. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in wakaf and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s