Masa muda (3) Account Executive Pertamina

Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Demikian kata orang bijak. Dan saya percaya sekali. Kalau mau maju kita jangan takut gagal. Inilah kisah yang terjadi pada diriku, yang menjadi cambuk, yang menjadi motivasi bahwa kita jangan takut gagal. Kalaupun tidak berhasil harus mampu bangkit. Ceriteranya begini.

Mulai Januari 1972 saya diberi tugas mengcover Pertamina, sebagai Account Executive atau Marketing Representative. Tugas saya adalah membuat sales proposal ke Pertamina. Proposal yang menawarkan produk IBM hardware, IBM System 1130 dan IBM software untuk processing termasuk Programming language Fortran. Jumlah komputer yang ditawarkan ada 4 (komputer kecil/mini dan harga mesin relatif murah) dan akan dipasang di 4 refinery milik Pertamina waktu itu. Refinery nya ada di Balikpapan, di Palembang dan Sungei Gerong dan di Pangkalan Brandan.

Jabatan saya IBM Trainee, proposal yang harus saya buat temasuk ‘high end technology applications’ dan dibuat dalam bahasa Inggris. Susah dan kompleks sekali. Pengetahuan chemical procesing saya tahu, karena pernah kerja praktek di Refinery di Sungei Gerong selama 3 bulan, dimana tugas saya waktu itu ikut pengerjaan maintenance dari Vacuum Pipe Steel Unit. Pokoknya bisa ngerti masalah prosesing. Tetapi hardware and softwarenya saya tidak tahu, harus belajar dahulu. Gila, kepala saya mau pecah rasanya, saking sulitnya.

Proposal saya termasuk merubah atau mengkonversi semua alat2 kontrol dari manual system yang analog ke digital system agar bisa diolah oleh komputer, di Asia belum ada refinery yang ‘fully computerised’ dan ini sangat kompleks sekali. Bayangkan suhu dari tower reaktor, tekanan gas didalamnya, panas yang ditimbulkan, suhu mesin heat exchanger pokoknya semuanya masih analog, dicatat secara manual, akan diotomatisasi dan akan dikontrol dari satu control room dengan 3 orang operator. Matik aku, saya benar2 klenger, ga ngerti apa2. Sebab perubahan dari sistim analog (suhu, tekanan, ada gas ada fluid danmacem2) itu ke sistim digital ini tidak main2. Aplikasinya dikategorikan highly complex application’.

Proposal tidak jadi-jadi. IBM Indonesia mengundang expert dari IBM Petroleum Center Houston yang datang ke Indonesia dan tinggal sebulan, untuk membantu saya menyelesaikan proposal, saya banyak bengong dan stress berat. Memang akhirnya proposal dapat diselesaikan, tetapi saya gagal dalam berdialog dengan para insinyur kimia di refinery-refinery yang umumnya lulusan UGM dan senior-senior saya, dan lulusan ITB. Mereka sudah jago membuat program Fortran. Saya gagal tidak bisa menyelesaikan pekerjaan. Selama 6 bulan proyek berjalan ditempat. Bayangkan seorang Trainee, masih ingusan, insinyur yang baru lulus, masih trondholo, masih kencur diberi beban berat seberat itu. Ya saya gagal.  Setelah direview oleh IBM HQ dari Hongkong memang tidak masuk akal, kesalahan ini ada pada management IBM Indonesia. Job ini harusnya diberikan kepada seorang Sales Engineer yang berpengalaman dibidang Processing System, bukan Trainee yang baru masuk setahun di IBM. Terang saja gagal. Dibulan ke 6, yaitu Juli 1972 saya ditarik dari proyek Pertamina. Penggantinya 2 orang Amerika yang berpengalaman dari Houston Petroleum Center . Saya lega sekali.

(bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s