Masa muda (4) Proyek Komputerisasi DKI

Pertengahan tahun 1972.

Tugas kedua saya adalah Marketing Representative IBM dengan teritori Pemerintah Daerah Tingkat 1 seluruh Indonesia. Proyek utama adalah mengembangkan komputerisasi di DKI.

IBM mempersiapkan tugas baru saya dengan teliti dan sungguh sungguh. IBM mengirim saya ke IBM Sales School, Juli 1972  di Taipeh, kursusnya selama 2 minggu.
Kisah perjalanan ke Taiwan menambah wawasan, menambah pengalaman, dan menambah percaya diri. Luar biasa. Inilah kisahnya. .

Perjalanan ke Taipeh menginap semalam di Hongkong, pertama kali kekota Hongkong,  kami keliling Hongkong dan Kowloon. Kami menyeberang dengan kapal ferry dari Hongkong ke Tsim Tsa Tjui, Kowloon. Kami window shopping, melihat-lihat toko2 yang gemerlapan menjual aneka barang lux di Central area, di Causeway bay, di Kowloon. Saya kaget melihat lalu lalang manusia Hongkong yang seperti semut jumlahnya dan berjalan cepat sekali. Pertama kali melihat orang tinggal di flat yang kumuh, yang sederhana, yang pintu depan ditutup dengan pintu besi. Kesan saya Hongkong lebih kumuh dari Singapore dan orang Hongkong lebih kasar, kalau berbicara keras dan seperti teriak dibanding dari orang Singapore

IBM Sales School menugaskan 2 orang asal dari IBM Australia sebagai trainer, yang kalau ngomong masih medhok sekali accentnya. Sales School ini bagi saya tidak terlalu berat, case studynya membuat proposal, lalu setiap hari ada working session, dan setiap hari dilatih sales call. Subyek yang diajarkan lebih kearah psychology, yaitu latihan presentasi, latihan sales call terutama untuk meyakinkan customer, dan cara membuat proposal. Saya lulus dan dinyatakan sudah qualified untuk menjadi IBM Salesman.

Obyek turis di Taipeh yang utama adalah The National Palace Museum. Merupakan Art Gallery dan Museum di kota Taipei berisi ribuan artifacts of ancient China. Hampir mirip dengan Palace Muceum yang ada di Forbidden City di Beijing. Dua museum ini seolah-olah museum kembar. tetapi Museum di Taipei di klaim sebagai museum yang memiliki artifacts dan artworks China yang terbesar didunia. Ada lukisan, bronze, jades, ceramics, calligraphy, buku2 dll. Gambaran nya dapat dilihat dari website dibawah ini.

Pulang dari Taipei, saya menggarap sales territory yang baru yaitu Pemda DKI dan seluruh Indonesia. Di DKI aplikasi semua masih manual. Tanggung jawab saya meng-komputerisasikan semua aplikasi di DKI. Saya dipercaya menjadi Proyek Leader. Betapa bangga saya dipercayai mendapat jabatan seprestige dan setinggi itu.

Ali Sadikin sebagai gubernur terkenal amat gandrung dengan kemajuan dan pembangunan. Saya meyakinkan pimpinan DKI bahwa komputer akan menjadi alat managemen untuk mengelola DKI dengan lebih modern dan efektif. Tagihan pajak dan Air Minum yang diketik manual akan dikomputerisasikan, lebih cepat dan lebih akurat. Tagihan Pajak Ipeda (sekarang PBB) akan diproses lebih modern dan lebih cepat serta akurat. Sumber pembangunan DKI adalah pajak, yang akan dikelola secara modern dan hasilnya akan lebih baik, lebih besar penerimaannya. Semua data2 persil tanah yang ketika itu berjumlah 900.000 persil yang selama ini disimpan dikartu Ipeda akan dipindahkan datanya ke magnetik tape. Data di magnetip tape akan diproses komputer jauh lebih cepat dan hasilnya surat tagihan tahunan Ipeda/PBB selesai dibulan Januari.

Sampai 1972, Kantor Ipeda mempunyai 32 pegawai yang pekerjaan setiap hari mengetik Billing Ipeda. Waktu yang dibutuhkan 6 sampai 8 bulan. Waktu penagihan sangat singkat hanya 4 bulan. Dengan komputer, Surat tagihan sudah selesai Januari dan waktu tahihan sampai Desember. Dua aplikasi itu akan diselesaikan 1972, dan saya bertanggung jawab atas selesainya dua aplikasi itu. Volume data besar, namun proses kalkulasi sangat simpel. Aplikasi ini dikategorikan ‘Bread and Butter Applications’. Hal ini sangat berbeda dengan aplikasi Pertamina yang dikategorikan ‘Highly Technology and Complex Applications’.

Dilihat dari segi revenue yang masuk ke IBM, maka pendapatan dari DKI itu jauh lebih besar daripada Pertamina. Dari awal penugasan saya sudah optimis bahwa saya mampu mengerjakan proyek komputerisasi DKI.

Strategi saya adalah saya harus mengenal DKI. Saya harus mengenal Ali Sadikin. Saya harus mengenal asisten2, pembantu2, mulai dari semua Kepala Biro, Kepala Dinas, Wakil2 Gubernur Bidang Ekonomi, Kesra, para Walikota yang jumlahnya 5 orang. Saya harus mendidik mereka agar mendukung program komputerisasi DKI. Wah sebuah tugas raksasa yang dilemparkan oleh IBM kepundak saya. Tujuan akhir yang dicapai sangat jelas yaitu mengkomputerisasikan semua aplikasi DKI. Saya memimpin tim komputerisasi IBM, yang terdiri dari 2 System Engineer dan CE dan tim komputerisasi DKI, berjumlah 20 orang. Saya harus memulai dari nol.. benar2 nol besar, tidak satupun orang DKI yang tahu komputer. Hanya kami orang IBM yang tahu komputer. Saya menyelenggarakan seminar sehari dengan judul ‘Introduction to Computer’ hampir setiap minggu selama 2 atau 3 bulan. Saya bertindak sebagai EO dan pembicara tunggal, hari berikutnya meninjau instalasi komputer di IBM dan demo aplikasi. Hasilnya sungguh luar biasa, pejabat DKI antusias dan mendukung proyek komputerisasi Pemda Tingkat-1 yang pertama di Indonesia, dan pertama di South Asia Region. Saya sangat menikmati pekerjaan mengkomputerisasi aplikasi DKI. Orangnya baik2 semua, mau menurut apa yang saya katakan, mau bekerja sama, saya ikut didalam tim yang memilih staf Divisi Komputer DKI dan saya memilih yang muda dan masih bujangan.

Bagaimana dengan gaji ? Gaji hanya dibayar 70% dari gross salary. Sisanya yang 30% akan dibayar kalau ‘Sales Contract’ sudah ditandatangani Gubernur DKI dan Tagihan IBM sudah dibayar oleh Pemda DKI. Saya terkejut dan protes ke managemen, tetapi tidak digubris karena memang peraturan penggajian para Salesman IBM seperti itu. Pantesan gaji saya tinggi untuk ukuran waktu itu. Hal ini memotivasi untuk mengejar target agar semua kontrak ditandatangani dan semua tagihan dibayar oleh Pemda DKI.

Peranan IBM Education Center di Jakarta sangat besar. Disitulah diajarkan teori2 komputer, dan bahasa2 PL/I, Cobol, RPG. Diajarkan mendesign suatu sistem aplikasi. Salah satu murid 1973 bernama ‘Widia’, yang belajar komputer, PL/I, Cobol dan RPG. Siapakah Widia? Widia adalah pendiri ‘Bina Nusantara’, tetapi waktu tahun 1973 itu kursusnya masih kecil-kecilan. Yang menjadi pelatih adalah kawannya sendiri yang belajarnya di Kursus IBM Education Center. Widia mempunyai feeling bahwa pelajaran komputer akan berkembang dan menjadi bisnis yang raksasa. Dan itu benar. Luar biasa.

Saya didukung oleh kekuatan teknik IBM seluruh World Trade yang dahsyat, mulai dari IBM Indonesia, IBM South East Asia Region yang berkantor di Hongkong. Tenaga2 expert yang ada di IBM Tokyo, yang ada di South of Mounth Pleasant di New York dan tenaga expert ahli ‘Government Aplication’ di Brussels. Semua membantu proyek komputerisasi DKI, yang dijadikan proyek prestige. Dan harus berhasil. Setiap Jumat siang sampai malam, managemen mereview progress nya. Saya baru merasakan kerja ya saat itu, Di akhir bulan membuat Highlight Report yang dikirim ke Hongkong dan Tokyo.

Pulang dari Taipei saya sibuk luar biasa, berangkat kekantor pagi pulang malam, hampir tidak ada waktu untuk istirahat, Sabtu dan Minggu masih kerja dikantor menyelesaikan banyak adminstrasi, membuat proposal untuk aplikasi Pembuatan Billing PAM (air minum), untuk aplikasi Ipeda, sekarang dikenal dengan nama pajak PBB (pajak bumi dan bangunan) saya bisa menyelesaikan dalam tempo kurang dari sebulan. Karena DKI belum punya komputer, maka dua aplikasi diproses memakai mesin IBM S.360 model 30 yang sudah dipasang di kantor IBM Indonesia. Negosiasi harga alot sekali, karena maunya IBM untung besar, sayalah yang harus meyakinkan Gubernur dan para pembantuya. Mula2 presentasi kebawahan dulu, diskusi sistim design, dan harganya. Setelah semua setuju baru presentasi ke pak Ali Sadikin. Akhirnya kontrak ditandatangani oleh Gubernur Ali Sadikin.

Pengalaman yang amat berharga bisa langsung dengan Gubernur Ali Sadikin. Ajaran IBM bahwa Leadership harus dimulai dari membangun kepercayaan, komunuikasi yang intensif serta role model benar-benar saya praktekkan. Diusia yang masih belia saya telah mampu berperanan sebagai konsultan. Saya berani merubah cara berpikir yang lama dengan yang baru, yaitu beran memakai komputer untuk mempercepat proses bisnis di DKI. Saya sangat fokus kepada eksekusi, tidak terpaku kepada strategi. Percuma memiliki stategi hebat kalau eksekusinya lemah. Saya berani dan kuat dalam menindaklanjuti. Disini saya menemukan pribadi Ali Sadikin sebagai Leader yang misi, visi dan goalnya jelas. Yang mampu membangun budaya kerja keras. Istilah sekarang adalah High Commitment dan High Performance. Pak Ali Sadikin bangga dan senang bekerja sama dengan IBM, kata beliau “we can’t do business without great people”.

Saya mulai merasakan kegembiraan, karena apa yang saya kerjakan di DKI, merubah sistim pajak dan biling air minum DKI yang administrasinya manual, ke sistim yang modern menggunakan komputer. Ibarat gelas yang tadinya kosong mulai diisi dengan air-air yang bermanfaat bagi orang lain, terutama Ali Sadikin, yang memang gandrung akan kemajuan. Saya langsung membantu beliau memodernkan administrasi DKI.

Sukses pertama ini mencambuk dan memotivasi diri sendiri untuk mencari sukses yang berikutnya. Ternyata aku bisa bekerja. Ternyata aku mulai punya karya nyata. Karya yang bisa dilihat dan diapresiasi oleh Ali Sadikin dan masyarakat Jakarta.

Apa yang saya kerjakan itu merubah budaya kerja DKI. Ini dikenal dengan nama ‘Transformasi Budaya dan Transformasi Bisnis”. Bayangkan ditahun 1972, dan sebelumnya, setiap wajib pajak harus pergi ke 4 kantor (pajak daerah, kepolisian, asuransi dan administrasi mobil) sekarang disatukan hanya ke satu kantor, hanya satu kali bayar dan semuanya kewajiban sudah dicakup. Menurut saya inilah Transformasi Bisnis dan Transformasi Budaya yang pertama dilaksanakan di Indonesia. DKI menjadi pelopor yang semuanya untuk mencapai modernisasi. Uang pajak yang masuk, oleh komputer nanti akan dibagikan ke instansi yang bersangkutan. Lebih efisien, lebih simpel, lebih mudah dan lebih cepat. Subhanallah. Aku sudah mampu merubah budaya kerja.

Transformasi bisnis di DKI adalah seluruh proses perubahan yang diperlukan oleh DKI untuk memposisikan diri agar lebih baik dalam menyikapi dan menjawab tantangan-tantangan bisnis di DKI yang baru, lingkungan usaha yang berubah secara cepat maupun keinginan-keinginan baru yang muncul dari DKI yang memiliki pemimpin yang punya visioner, yaitu Ali Sadikin. Perubahan dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap pola pikir, pola pandang dan pola tindak di DKI, strategi bisnis, budaya di DKI maupun perilaku dan kemampuan organisasi. Luar biasa.

Berita bahwa DKI sudah punya komputer sejak 1973, terdengar sampai ke pak Harto dan Bu Tien. Pak Harto memuji kehebatan Ali Sadikin dan keberanian Ali Sadikin dalam memodernisasi adminstrasi di Pemda DKI. Maka pak Harto mengutus bu Tien untuk meninjau instalasi IBM System 370 model 148 yang di pasang di gedung DKI di Jalan Merdeka Selatan. Pak Ali Sadikin sendiri turun tangan dan memberi penjelasan bahwa DKI paling maju di Asia Tenggara. Bu Tien memyatakan kekagumannya. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir and tagged , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Masa muda (4) Proyek Komputerisasi DKI

  1. Adi Darmawan says:

    Salam, pak Gufron.
    Apa benar bahwa DKI tahun 1973 adalah pemerintah kota termaju di Asia Tenggara di bidang IT? Lebih maju daripada Singapura? Mohon penjelasan, terima kasih.

    • Gufron Sumariyono says:

      penduduk sing cuma 1,6 juta, waktu merdeka 1965 ga punya apa2, ga punya air, ga punya sumber alam, diperinah tnganbesi oleh Lee lewat partai PAP. Dari negara berkembang sarangnya malaria dengan penduduk 1,6jt oranng, Singapura telah beralih rupa menjadi salah satu negara paling maju dengan penghasilan per kapita AS$ 34,470, menyalip Hong Kong.. Orang IBM Singapore datang Jakarta 1973, belajar cuma 2 jam, pulang nya bikin IT sendiri untk kota Sing yang lebih baik,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s