Masa muda (7) Instructor di IBM Education center di Bangkok

Yang saya kejar menjadi Manager di IBM Indonesia di Jakarta. Yang saya dapatkan menjadi Instructor IBM untuk Region di Bangkok. Allah memberikan yang terbaik buat saya. Alhamdullilah. Ceriteranya begini. Menjadi manager multinasional company seperti IBM adalah menjadi idaman dari setiap karyawan IBM. Sayapun tak luput dari angan-angan itu. Sudah ada dua orang teman seangkatan 1971, yang dipromosikan menjadi manager IBM di akhir tahun 1976. Fasilitas sebagai manager IBM antara lain dia mempunyai kamar kerja sendiri, dia mempunyai anak buah, dia diberikan kendaraan kantor berupa mobil datsun baru, yang boleh dibawa pulang dan naik kelas jabatannya yang dibarengi dengan gaji yang lebih tinggi. Saya iri dan mengharapkan akan dipromosikan menjadi manager di IBM Indonesia dalam kesempatan yang dekat ini. Saya berani meminta promosi menjadi manager karena budaya IBM memperbolehkan karyawannya mengemukakan keinginan2 nya asal sesuai dengan prestasinya.

Prestasi kerja saya sedang ngetop sekali. Saya dijuluki “Super salesman” dari Indonesia. Populer dikalangan IBM Sales di Asia Tenggara. Namun apa yang saya peroleh di Indonesia? Penantian dipromosi menjadi manager tidak kunjung terjadi. Kontribusi membesarkan revenue IBM Indonesia sangat besar, prestasi saya sebagai Rep untuk membangun komputer di Pemda DKI sangatlah signifikan. Bayangkan bahwa Pemda DKI lah yang pertama memakai komputer di wilyah Asia Tenggara. Negara lain seperti Pemda Singapore, Pemda di Malaysia, Pemda di Thailand, Pemda di Philippines, Pemda di Taiwan semuanya masih manual. Hanya Pemda DKI yang memproses aplikasi dengan komputer. Ada perlakuan yang tidak wajar di IBM Indonesia.

Pada Maret 1977 kawan seangkatan saya yang prestasi kerjanya biasa2 diangkat menjadi manager. Pengumuman ini membuat saya geram dan kecewa, dan saya lalu protes keras ke management, mengapa “dia’ dipromosikan menjadi manager? Mengapa bukan saya, yang jelas-jelas menonjol prestasi kerjanya? Kontribusi kerja saya telah menghasilkan keuntungan yang sangat besar buat IBM. Ini tidak fair. Ini tidak adil. Jawaban2 dari management tidak memuaskan dan tidak menyenangkan. Maka saya menghadap ke bos yang lebih tinggi di IBM Indonesia. Protes sayapun dijawab dengan tidak memuaskan. Maka saya lapor ke Direktur Marketing di Hongkong. Bahwa saya dizolimi oleh executive IBM Indonesia di Jakarta. Saya menuntut keadilan ke bos saya di Hongkong, kalau protes saya tidak dijawab dengan memuaskan, maka saya akan keluar. Dan saya akan bergabung dengan competitor IBM, yang telah menawarkan kepada saya jabatan manager, gaji yang lebih tinggi dan mobil. Protes saya ke Hongkong rupanya didengarkan. Datanglah Mr William Deranggo, Director Marketing IBM HQ di Hongkong ke Jakarta untuk mengevaluasi masalah di IBM IndonesiaJakarta.

Kesimpulannya memang saya dizolimi. Memang saya diperlakukan dengan tidak adil oleh executive Jakarta. Memang ada ketidak adilan dalam pengangkatan manager di bulan Maret 1977 yang lalu. Untuk menjaga kewibawaan management IBM Indonesia, maka saya ditawarkan jabatan yang setingkat manager tapi tempat kerjanya berada diluar Indonesia. Wibawa management IBM Indonesia harus tetap terjaga, dan permintaan saya untuk promosipun dikabulkan.

Saya ditawarkan menjadi IBM Trainer di Pusat Pendidikan IBM Region (REC) yang akan akan dibentuk. Lokasinya di AIT di Bangkok. Saya diminta menjadi salah satu dari 4 trainer yang akan mendidik para IBM trainee seluruh Asia. Mulai IBM Korea, IBM Hongkong, Taiwan, Philippines, Thailand, Malysia, Indonesia dan Singapore. Setiap tahun ada 300 trainee baru yang perlu dididik menjadi professional IBM.

Sebelumnya para IBM trainee dari Asia dididik oleh Trainer dari IBM Australia. Tempat training berpindah-pindah di kota-kota di Asia, namun tetap semua Trainer datang dari Australia. Ini mahal sekali. Kadang2 para trainee dikirimkan ke Sydney untuk dididik disana. Mulai tahun 1977 tempat pendidikan dipindahkan ke Asia. Kota Bangkok dipilih sebagai tempat penggemblengan para trainee. Bisa menghemat banyak. Dan para Trainernya dipilih dari orang IBM Asia yang menonjol prestasinya. Saya termasuk yang berprestasi menonjol.

bangkok 11

Setelah berunding dengan istri tawaran menjadi trainer IBM itu langsung saya terima. Rejeki datang dari arah yang tidak terduga-duga. Bulan lalu saya protes karena ada ketidak adilan dalam promosi. Supaya adil saya hanya meminta dipromosi menjadi manager lokal. Karena tidak ada posisi manager yang baru di Jakarta, dicari jalan lain. Yang saya dapat adalah menjadi “expatriate” IBM WTC dan ditempatkan di Bangkok. Saya dan istri tinggal di Bangkok selama 2 tahun.
Alhamdullilah.
Tawaran sebagai Trainer itu diprioritaskan ke saya. Kalau saya menolak, maka tawaran sebagai Trainer akan diberikan kepada Cacuk Sudarijanto yang prestasinya di IBM Indonesia pun menonjol. Waktu Cacuk tahu bahwa saya menerima tawaran sebagai Trainer, maka beliau kecewa. Tapi tidak bisa protes apa-apa. Dia bilang memang belum rejekinya untuk menjadi Trainer IBM di Bangkok.

Saya menjadi IBM Trainer meliputi IBM Asia Tenggara sampai Korea, Taiwan dan Hongkong. Jabatan yang prestisius sekali. Sebulan sesudah itu tepatnya 1 Juni 1977 saya dan istri sudah pindah ke Bangkok, menjadi “expatriate” IBM WTC. Mendapat fasilitas2 seperti expatriate yang datang dari Amerika.

Saya bangga menjadi IBM Instuctor untuk IBM Asia Tenggara. Bosku baru namanya Khun Pravit, setelah setahun ganti lagi menjadi Shelby Molter. Rumah yang saya tempati selama 2 tahun bagus di lokasi yang mahal, di Sukumvit Road, lantainya dari kayu jati yang di furnish mengkilap. Ada balkoni di lantai 2. Tangganya dari kayu jati yang artistik. Mendapat fasilitas mobil Ford Cortina baru, listrik dan air dibayarin kantor, pembantu dibayar kantor. Rumah itu fully furnished, mulai AC, furniture2, refrigerator, mesin cuci yang besar, kompor gas yang besar lengkap dengan ovennya. Kitchen utensil, dining utensil semua baru dan lengkap, kami boleh memilih sendiri apa-apa yang kami butuhkan, dan kantor yang bayar.

Saya dan istri “shock” berat mendapat segala kemewahan duniawi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Pantas expatriate di Indonesia dari perusahaan minyak itu bahagia dan betah, karena inilah kenikmatan yang mereka dapat dan sekarang kenikmatan expatriate ada di tangan saya. Gaji saya pun dilipat ganda kan dua kali, sehingga hampir-hampir pingsan melihat angka itu. Gembira, senang, bahagia dan bersyukur ke YME. foto klik disini(bersambung).

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s