Masa muda (11) zona nyaman membuat terlena.

Saya mulai kerja di IBM sejak 1971, selama sepuluh tahun yang pertama sampai 1981 saya berkerja dan merasakan kondisi yang sangat nyaman sekali. A growing company seperti IBM masa itu sungguh idaman bagi pekerja profesional seperti saya. Gaji saya tinggi, masih ada bonus, semua fasilitas seperti asuransi, pendidikan, medical expense tersedia dan dibayar 100% dan sangat luar biasa. Tiap dua tahun sekali ada opinion survey ke karyawan, menanyakan fasilitas apa yang sudah bagus dan apa kekurangannya. Pokoknya nyaman sekali, enak sekali, membuat saya terlena dan betah bekerja. Tidak ada setitik kecil pikiran saya akan pindah bekerja ketempat lain. Tidak ada keinginan untuk mencari tantangan baru. Yang ada ingin menikmati apa yang sudah disediakan perusahaan dan selalu berharap bahwa kondisi yang bagus seperti ini akan berlangsung selama-lamanya sampai pensiun. Zona nyaman sepuluh tahun membuat saya terlena.

6a00d83451cc8269e2010535c75537970bSepuluh tahun kedua dimulai tahun 1981, dimana penugasan saya ke luar negeri selesai. Saya harus kembali ke Jakarta.Saya diberi tugas sebagai External and Communications Manager. Departemen yang baru yang belum pernah ada sebelumnya. Meletakkan dasar-dasar divisi baru. Saya harus menemukan cara berpikir dan sudut pandang yang baru, melakukan perubahan mendasar agar perusahaan IBM di Indonesia tetap sukses. Tantangan baru yang sukarnya bukan main.

Disepuluh tanun kedua, tantangan bisnis diawal 1980 semakin bertambah komplek dan dinamis. Perkembangan politik yang berdampak besar kepada cara berbisnis di Indonesia semakin nyata. IBM Indonesia dipandang sebagai perusahaan dagang asing, harus menunjuk perusahaan lokal sebagai partner dagangnya. IBM HQ di Hongong dan NY sangat tidak setuju, maka mulailah IBM HQ negosiasi dengan Pemerintah Pusat agar IBM tetap exist dan tidak keluar dari Indonesia. Setelah setahun lebih bernegosiasi jalan keluarnya adalah IBM Indonesia akan membentuk PT USI Jaya sebagai lokal partner. USI Jaya ini sebenarnya adalah bonekanya IBM di Indonesia. Tidak punya kekuasaan apa-apa. Sebagian dari pegawai IBM Indonesia disuruh keluar dan bergabung ke PT USI Jaya. Gajinya sama dan fasilitas sama, yang membayar semua biaya operasi tetap IBM, dibayar ke USI Jaya lalu USI yang membayar semua expenses. Inilah perusahaan boneka.

Pegawai2 pindah dari IBM ke USI Jaya, mereka senang sekali, karena mereka mendapat pesangon yang besar untuk ukuran waktu itu. Pekerjaan sama, gaji sama, fasilitas sama. Semua peraturan dari Pemerintah telah dilaksanakan maka tidak ada pelanggaran. Saya memerlukan waktu 2 tahun untuk beradaptasi dengan suasana baru dan kondisi baru itu.

Permintaan pasar di Indonesia akan komputer masih tinggi. Adanya perubahan regulasi, perubahan politik dagang, perubahan ekonomi, banyaknya pesaing yang berdatangan, adanya kebijakan fiskal membuat IBM Indonesia dan PT USI Jaya harus membuat strategi baru. Strategi yang dibuat dengan dibantu expatriate dari IBM HQ. Strategi baru itu akhirnya sudah dibuat. Namun eksekusinya luar biasa susahnya.

Secara internal, biaya operasi naik, produktifitas karyawan menurun, sistem dan proses pun berbeda dengan sebelumnya, managerial dan leadership masih tetap orang yang sama namun karena banyaknya problem eksekusinya diserahkan ke level yang lebih rendah. Budaya kerja masih tinggi namun tereliminasi juga karena kesulitan yang setiap hari datang dan saking sukarnya mencari kontrak-kontrak baru.

Masalah eksternal pun bertambah. Pasar lebih dinamis, teknologi berkembang dengan pesat, lebih-lebih adanya konsep Personal Komputer yang arsitekturnya terbuka, sedang IBM masih mengandalkan mainframe untuk revenuenya. Pesaing semakin banyak dan semakin lincah serta berani, mereka menawarkan dengan lebih inovatif, lebih bervariasi. Dan yang membuat pelanggan IBM tergiur adalah adanya komisi kalau pelanggan membeli komputer nya pesaing. IBM masih sangat ketat, bahwa tidak ada komisi yang berupa uang yang di kick back balik ke pelanggan.

Secara teknik, IBM masih kuat, masih prima. Mesin komputer mainframe masih sangat kuat dan hebat. Pelanggan yang besar besar seperti DKI, Garuda, Bank BNI, Bank BBD, Nurtanio semua masih tetap loyal ke IBM karena service after sales IBM masih prima. Tetapi sejak tahun 1985, secara pelan-pelan mainframe IBM mulai tereliminasi. Sejalan dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Stabilitas bisnis IBM di Indonesia menurun dan sangat mengganggu kenyamanan bekerja. Review marketing semakin ketat, hasil dan kontrak baru berkurang, hutang pelanggan naik. Itu semua membuat CEO USI Jaya pusing dan terus menerus memikirkan jalan keluarnya.

Tahun 1984 saya dipindahkan ke departemen marketing, mula-mula ke Education Center sampai 1986, Lalu dipindahkan sebagai marketing Manager sampai 1989. Karena hasilnya kurang menggembirakan, banyak target yang tidak tercapai akhirnya pindah lagi ke Departemen Personnel bagian Hubungan dengan Pemerintah. Zona tidak nyaman mulai terasa disaat saya pindah ke marketing. Tanda-tanda bisnis IBM menurun mulai kelihatan.

Andalan IBM ditahun 1980-an adalah IBM AS/400 dan IBM PC. Sukses masa lalu tidak menjamin apa-apa. Untuk tetap bertahan dan bisa lebih maju, karyawan IBM dan USI Jaya harus menemukan cara berpikir yang baru, mencari sudut pandang yang baru. Dan ini tidak mudah. Kami berada di company yang produknya sudah aging, perlu mencari terobosan produk baru. Kami harus membuat strategi yang berbeda, kami harus merombak cara kerja kami, karena kurve dari company life cycle sudah mulai menurun. Perubahan ini sudah kritis. Suasana dikantor sudah tidak menyenangkan. Review demi review diadakan secara lebih ketat dan lebih sering. Kalau marketing target tahunan tidak tercapai, maka pimpinan IBM dan USI Jaya tegang semua.

Kami telah terjebak terhadap kesuksesan masa lalu. Berpegang pada bisnis model sebelumnya sudah tidak mungkin. Kami kehilangan kecepatan dan kelincahan. Kami telah terbuai akan budaya kenyamanan dan over confidence. Saya mulai berpikir sebenarnya kemana arah perusahaan. Sebagai profesional pindah ke perusahaan lain, mencari tantangan baru, yang lebih menarik adalah wajar-wajar saja.

Nilai Saham IBM jatuh. Revenue terus melorot sejak tahun 1985, dan profit pun turun drstis sejak 1985-1990. IBM berada dimasa sulit, IBM berada diambang bangkrut. IBM telah mem-PHK ribua karyawan di seluruh dunia, terlebih-lebih di USA. Pabrik IBM yang besar di Bocaraton USA ditutup. mainframe tidak laku dijual, kalah dengan small system dan kalah dengan Personal Computer. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in memoir and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s