Masa muda (14) ke Mexico City nonton bullfight

Aku pernah dikirim oleh IBM untuk menghadiri pertemuan para manager IBM External Programs se Amerika dan Far East di Mexico City. Jabatan saya waktu itu adalah Manager External Programs and Communications untuk Indonesia.

Kesempatan yang langka ini saya manfaatkan dengan cara tiba di Mexico City 2 hari sebelum acaranya dimulai. Hari Minggu siang ini aku mau nonton acara bullfight atau adu banteng. Lokasinya di stadion “The Plaza de Toros”, konon katanya tempat adu banteng yang terluas, yang terbesar dan termegah di dunia. Menurut brosurnya tempat duduknya bisa muat maximum 45,000 penonton. Dibangun tahun 1946, sudah lama sekali tetapi masih dirawat dengan baik.

Menuju ke stadion gampang, naik taksi. Beli tiketnya di hotel USD 25. Stadion nya tidak jauh dari hotel. Gerbangnya bagus, dan ada patung banteng diatas. Begitu masuk, lalu naik ketangga-tangga menuju kursi. Wah besar sekali. Dan berlapis-lapis, mirip Stadion Senayan di Jakarta. Dilapangan tengah ada tanah berwarna merah coklat, yang cukup luas, bentuknya bulat. Tidak ada rumput warna hijau. Semua tanah merah. Pagarnya setinggi orang berdiri, diseliputi kain warna merah. Karena baru pertama kali melihat, maka saya mengamati sampai lama sekali.  Setelah menunggu setengah jam baru ada announcement bahwa show akan dimulai. Bahasa yang dipakai dua bahasa, bahasa spanyol danabahasa inggris.

Musiknya khas Spanyol. dengan trumpet yang keras. Para bullfighter matadornya diarak keliling. pakaiannya bagus, enak dipandang.

Spanish-style bullfighting yang saya tonton disebut corrida de toros = running of bulls Traditional corrida, ada 3 matadores, dan masing-masing akan fight dua banteng. Masing2 punya 6 assistants—dua picadores yang naik kuda, tiga banderilleros – selalu ikut matador disebut toreros (“bullfighters”) di Spanish dikenal dengan nama “torero”. Pakaiannya para matadores dan banderillas asyik, masih tradisionil zaman Andalusia di abad 17. dengan hiasan gold trace de luces (suit of lights). Enak dilihat, apalagi terkena sinar matahari jam 14:00.

Berikutnya , masuklah banteng banteng yang liar dan besar. Dimain-mainin dulu atau dites dulu oleh matador dan banderilleros dengan magenta dan gold cape.
Stage pertama, matador main-main dengan capotenya, istilahnya passing and observing kelakuan banteng, diganggu agar marah.

Stage kedua, picador masuk arena naik kuda yang sudah dilindungi dengan pakaian kuda tebal agar kalau disruduk banteng tidak luka atau terpental. Picador akan menusukkan pedangnya di punggung banteng bagian depan..ih.. sadis juga pertama kali saya melihat. Membuat banteng terluka dan nampak beringas, marah dan mengejar picador yang menusuk punggungnya. Picador langsung masuk kebelakang kayu penghalang. Aman si banteng tidak bisa menyentuh. Rupanya tusukan sukses, dan terlihat bantengnya marah dan memasang tanduknya kebawah dan memutarin arena. Berlari kekanan dan balik. Matador bermain lagi dengan lebih dekat, disini seni bermain-main matador dan banteng. Sampai setelah banteng nya capek lalu matador mengambil pedang dan ditusuklah si banteng persis di punggungnya, sambil matadornya melompat. si Banteng belum juga mati. Malahan makin mengamuk, makin beringas, dan makin galak dan garang.

Di stage ini “the third of banderillas” dengan naik kudanya mendekati banteng, tiga banderilleros menusukkan dua pedang ke punggung si banteng. Barbed sticks yang sangat tajam menghunjam dipunggung banteng. Banteng makin marah, makin liar, dan pertunjukan makin menarik.
Lama-lama si banteng kecapean dan semakin lemah saja. Akhirnya si matador menusukkan banderillas nya sendiri ke punggung banteng. Dan matilah si banteng, diiringi tepuk tangan yang riuh dari penonton.
Terakhir matador masuk lagi sambil membawa small red cape, dan dengan pedangnya sendiri dikenal dengan nama “estoque” dia memotong kuping si banteng yang sudah amblas nyawanya. Mayat banteng lalu diseret masuk kedalam.
Pertunjukan diulang kembali, dan masuklah banteng lain, yang beringas, yang liar dan berlari-lari didalam arena. Lalu matadores muncul, mendekati banteng, main-main dengan capotenya. si banteng ditusuk pedang oleh pengendara kuda, banteng marah, dan matador bermain-main dengan banteng, ditusuk pedang lagi, main-main lagi dan si matadores menusukkan pedangnya nya sendiri sampai banteng mati.
Urutannya sama. Kalau ga salah ada 5 banteng yang diadupada hari itu.
Di show yang pertama bantengnya muda dan ganas, bagi saya itu saja sudah bagus. Si banteng menyeruduk ke arah matador, matador beralih kesamping dan yang disruduk hanya ‘capote’nya warna oranye kuning. Jarak matador dengan banteng yang sedang marah sangat dekat sekali, hanya beberapa sentimeter saja, kadang si matador mengelus pantat banteng karena srudukan banteng tidak mengenai badan matador.
Show kedua bantengnya lebih ganas, lebih garang dan lebih pemarah. Kuda yang dinaiki banderillas disruduk keras, sampai kudanya terpelanting kekanan dan bergeser. Dengan ‘capote’nya si matador mengganggu banteng, agar nyruduk ‘capote’ yang mula-mula ditaruh didepan, ketika sudah hampir sampi, matador bergeser kekanan atau kekiri. Inilah seni bullfight. Salah sedkiti saja, badan matador akan kena tanduk banteng.

Show ketiga dan show keempat sama urutannya. Terakhir di show ke-5 adalah puncaknya pertunjukkan bantengnya sangat ganas, sangat beringas, dan matadors nya pun paling top, paling populer dan variasi melawan banteng bagus sekali. Ngeri juga menontonnya. Kok mereka ga takut ya. Saya beli tiket yang duduknya di tribun tengah-tengah. Saking kepengin punya foto yang bagus, saya melompat ke kursi dibawahnya, terus turun sampai ke lingkaran kedua, dekat sekali dengan banteng dan matadores. Pengalaman yang tak terlupakan.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan2 ke luar negeri and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s