Hanoi (10) Sapa Highland. Peristirahatan Vietnam, 1500 m dpl

Hanoi (10)
Sampailah kami di Sapa Highland, setelah menempuh perjalanan yang lancar dari Hanoi ke Lao Chai naik kereta malam, disambung mini bis dari Lao Chai ke Sapa.

Ada dua gerbong kereta, masing2 didalamnya ada 7 kamar ukuran 2,5 m x 2,15m, lorongnya lebar 1 meter lebih dikit. Didalam kamar ada 2 bed susun ukuran o,8 m x 2,10 m, pas ukuran badan saya untuk tidur. Kami bertiga dapat satu kamar, yang keempat kosong.  Pulangnya juga begitu, satu kamar hanya untuk kami bertiga saja, bed keempat kosong. Di Sapa nginap di Victoria Hotel. Karena kepagian maka kamar hotel belum siap, kami  disuruh sarapan. Baru tengah2 makan, ditegur oleh Ofice Manager, pak Winoto Prasojo,  wah kaget juga. Soalnya Sapa itu sangat remote  sekali. Rupanya ada 2 manager dari Indonesia, yang satu mbak Natasya, Room Division Manager.  Kamar kami langsung diupgrade dari ‘de luxe’ ke ‘sweet room’. Alhamdullilah. bang JH, ini kkn apa bukan?

Kota Sapa Highland adalah satu2nya tempat istirahat digunung di Vietnam yang terletak 1.500 m diatas laut. Dekat sekali dengan perbatasan RRC. Selama tiga hari di kota Sapa, cuacanya kota kecil ini penuh kabut, jarak pandang hanya 5 meter saking tebalnya. Suhu di pagi 0C kalau siang naik ke 8-10 C. Dingin sekali. Kabut tebal itu hari pertama datangnya lama , namun dihari kedua hilang barang beberapa jam, kota Sapa terang benderang, lalu datang lagi.

Dari stasiun Lao Chai ke kota Sapa, mobil kami naik gunung melewati jalan berkelak kelok, mirip jalan ke Kopeng atau ke bandungan atau ke Puncak pas atau ke Bukittinggi dari Padang. Kiri kanan sawah yang ber-terasering. Bagi saya tidak aneh, kita di Indonesia punya pemandangan yang lebih banyak dan lebih bagus2. Sawah2 di Bali yang menuju ke Ubud itu sangat luar biasa bagusnya, juga sawah2 dan kebon teh yang menuju ke puncak, sawah2 ke Bandungan, ke Kopeng, di Padang panjang, di Malino.

Kami masuk ke kota Sapa jam 7 pagi, penuh kabut tebal dan udara dingin.  Tidak bisa melihat apa2, gunung2 dan pemandangan dari hotel hanya kabut dan kabut yang tebal.  Jam 11 siang kami keluar hotel, ditengah kabut tebal, kami tidak melihat apa2, sampai sore dan malam benar2 seperti berada didalam awan kabut yang tebal. Besoknya baru terang benderang, tetapi hanya beberapa jam. Lalu berawan lagi, terang lagi. Kotanya kecil, di  penuh turis asing.

Yang menarik, bagi saya, adalah pakaian yang dipakai oleh suku asli ‘etnic minority group’ dari desa2 sekitar kota Sapa yaitu suku H’mong, suku Dao dan suku Tay. Kami jalan untuk menengok desa mereka yang terletak dekat kota Sapa, dilembah yang bawah. Baru mau turun kelembah, kami urungkan niat kami karena tidak menarik sama sekali.

Terus terang pemandangan di Kotogadang, di Bukittinggi, di Kopeng, di Bandungan, di Kaliurang, di Puncak, di Malino itu mirip sama, bahkan pemandangan ditempat2 kita itu jauh lebih bagus, tetapi mengapa tidak bisa dijual ke turis2 asing ya?

Kami mengisi waktu dengn jalan2 di kota Sapa, dan mengambil foto2 di Sapa, memotret wanita2 dari desa2 disekitar Sapa dengan pakaian tradisionil mereka. Baju2 mereka ditenun sendiri, dengan warna warni yang menarik. Mirip dengan orang2 etnic minority group di Chiangmai, ya kira2 begitulah warna warni dari baju wanita2 tradisionil di Sapa.

Ditahun 1909, kota Sapa ini dibangun oleh pemerintah kolonial Perancis, karena suasananya mirip di Perancis Selatan. Tentara Perancis kalau berlibur mereka menghabiskan waktunya di Sapa. Banyak bangunan bergaya dan berarsitektur Perancis yang dibangun waktu itu. Tahun 1920, semakin banyak orang2 kaya dari Perancis yang punya rumah dan vila yang bagus2 di Sapa.
Gedung2 itu mulai dirusak di awal Perang Dunia ke-2 sampai diawal2 revolusi Vietnam yang dipimpin oleh Paman Ho. Kerusakan  dan penghancuran besar2an terjadi tahun 1950 oleh tentara Vietcong. Baru di tahun 1970-an kota Sapa mulai dibangun kembali oleh Rezim Sosialis yang memerintah Vietnam. Dan sekarang menjadi kota pariwisata yang didatangi oleh wisatawan2 dari luar negeri. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan2 ke luar negeri and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s