Hanoi (12) Saudaraku Djauhari dan Pakpahan. Sharing pengalaman dan pengetahuan.

Komentar bung Djauhari (alumni asrama Realino 1976, alumni UGM Ekonomi, sekarang Duta Besar RI untuk Rusia) : (a)
Pak Gufron yang baik,
Menikmati tulisan Pak Gufron dari seri 1 sd 11 serasa kita dibawa serta menikmati perjalanan, laporan pandangan mata dan sentilan halus buat kita semua (tulisan seri 11), mestinya Mas Pitono meminta atau mendaulat pak Gufron menjadi  Senior Advicer KBRI Hanoi. Tolong sampaikan salam hangat saya buat Mas Pitono dan Mbak Ratna. Kapan kembali ke Jakarta pak???. Saya tanggal 24 Desember tiba kembali di Belanda, langsung persiapan Natal. Kemarin baru perayaan dengan warga kristiani di Belanda, lumayan, hampir 2000an yang datang, jadi rada pegal juga tangan salaman….semua berjalan lancar.

Salam hangat dari Belanda,
djauhari-Realino 76

Komentar bung Normin : (b)
Bung Djauhari,
Saya sangat merasakan kehangatan persaudaraan sesama orang Indonesia  di luar negeri. Di setiap perayaan keagamaan, (Idul Fitri, Natal, dll), hari2 nasional, terutama perayaan Agustusan, semua warga Indonesia tanpa kecuali terlibat. Betul-betul Merah Putih dan Garuda Pancasila mempersatukan semua anak bangsa. Selama 6 tahun saya tinggal di Manila, saya merasakan betul arti seorang Indonesia. Dalam upacara bendera 17 Agustus, hampir semua orang, , meneteskan air mata saat menyanyikan Indonesia Raya. Sayang, begitu kembali ke Tanah Air…saya melihat dan mengamati bhw visi ke Indonesiaan meredup dan bahkan tererosi.  I wonder… semangat SeV bisa menghidupkannya. Bukankah kebersamaan kita sebagai warga Realino sudah teruji???
 
Mas Marjono,
 
Reportase anda ttg perjalanan ke Vietnam sangat mengasikkan. Calon power house sedang berbenah. Saya mengamati Vietnam sejak awal mereka mebuka diri dengan sangat gagap menerima “capitalism” dalam konteks sosialisme komunisme. Namun dengan mentor dari utara, mereka slowly but sure membangun ekonomi dengan paradigma yang dianut China dengan doktrin Deng Chiao Ping. Mereka berhasil karena “iron fist” dan disiplin komunis. Issue yang penting bagi China, Vietnam, Cambodia dan Laos adalah menuju kesejahteraaan dengan sosialisme komunis melalui jalan kapitalis.  Menurut pandangan konservatif klasik, ini mustahil. Namun sedang terjadi. Bagaimana mungkin dua metode dengan landasa filosofi yang bertentangan bisa jalan bersama mencapai tujuan tertentu? Bagaimana mungkin ekonomi pasar dikomando? Ini pertanyaan bagi para ilmuwan Realino. Ah, enteng-enteng sajalah… saya cuma menggelitik kawan-kawan yang ahli dan mumpuni.
 
Selamat Tahun Baru
Normin Pakpahan-Realino 65

Komentar Gufron : (c)
bung Normin,
Saya senang dapat berbicara bebas di forum forsino ini. Landasan Realino yaitu Sapientia et Virtus memang universal, dengan latar belakang pendidikan dari Realinowan2 yang beda2 dan dengan pengalaman2 yang beda2 pula, kita mulai menyatu kembali. Luar biasa memang S et V ini.

Selama 10 hari saya berlibur di Vietnam, saya melihat, mengamati, mengevaluasi dengan mata kepala sendiri, bagaimana Vietnam ini membangun. Pengalaman yang luar biasa untuk saya. Dengan pengalaman 35 tahun didunia swasta asing dan swasta nasional saya bisa memotret kondisi sosial, politik dan bisnis di Vietnam.

Landasan politiknya Vietnam adalah Republik Sosialis, with single party Communist State. Partai di Vietnam hanya ada satu, yaitu Partai Komunis. Rakyat Vietnam yang 86 juta, di utara dan di selatan dipersatukan dengan azas sosialis yang dasar pemikirannya dari Lenin dan dikembangkan dimodifikasi oleh Ho Chi Minh. Kedua orang itu diangkat sebagai pahlawan, sangat dihormati dan dipakai sebagai pemersatu bangsa Vietnam. Di Vietnam tidak ada HAM, tidak ada demokrasi, tidak ada demonstrasi, tidak ada Serikat Pekerja… semua disingkirkan dan dilarang hidup. Baru tumbuh sudah di’hapuskan’ . Pemerintah Vietnam tidak peduli akan kritik dari luar. Para pemimpin Vietnam yakin bahwa dengan landasan sosialis komunis digabung ekonomi yang liberal, rakyatnya akan makmur. “Kami bebas memerintah sesuai denagn asas yang kami yakini, yaitu sosialis komunis. Ekonomi nya bebas dan liberal” itulah kata2 orang Vietnam

Dan saya melihat sendiri, bahwa Pemerintah Vietnam mengeluarkan pengumuman bahwa upacara kebaktian misa natal malam, yang biasanya tgl 24 malam jam 0000, dilarang pemerintah. Bahwa kebaktian misa natal hanya boleh tgl 25 Desember pagi sampai sore, dan harus berbahasa Vietnam atau Perancis, tidak boleh berbahasa Inggris. Gedung Kathedral di Hanoi diawasi pemerintah, kunci gerbang dipegang oleh staf pemerintah. Masjid setali tiga uang..

Lalu ekonomi Vietnam dibangun secara sangat liberal, mengundang investor asing sebanyak mungkin, boleh bergerak di semua industri.. Hebat memang.. Mereka tidak boleh ber-politik. Untuk swasta, politik tidak dicari dan bukan tujuan utama, yang mereka cari adalah uang, jadi tidak peduli dengan ‘politik tangan besinya’ pemerintah Vietnam, yang penting keamanan terjamin, tenaga manusia sangat murah, buruh2 tidak boleh ber serikat pekerja, tidak ada demo buruh..Investasi asing sangat dilindungi, tidak boleh diganggu. Buktinya harga TV LCD 29 inchi, merk Samsung buatan Vietnam, dijual denga harga USD 300, sangat sangat murah sekali.Akibatnya pertumbuhan ekonomi melejit dengan pesat.
Gufron-Realino 63
Komentar bung Normin : (d)
Bung Maryono dan Realinowan semua,
Memang dari sudut pandang ekonomi makro, luar biasa negeri-negeri tirai bambu itu. Saya telah melakukan perjalanan ke segala pelosok China, Laos, dan Cambodia, serta Vietnam saat mereka memulai gerakan baru melaksanakan doktrin Deng dan kemudian di tahun ’99-2001 dan terakhir 2004 menjelang saya pensiun dari ADB. Kesenjangan luar biasa antara the haves (pejabat birokrat, fungsionaris Partai Komunis dan para kaki tangan mereka) dengan rakyat  biasa terutama  di daerah hinterland China (Xin Zhiang, Hebei, Xi Chuan, Yunnan dan propinsi2 lain di wilayah barat). China modern hanyalah wilayah pantai timur dari Beijing ke selatan sampai dataran Pearl River dengan mahkotanya Shanghai. Hampir semua para pemain ekonomi adalah birokrat dan fungsionaris partai. Di Cambodia dan Laos, yang menikmati kue nasional relatif hanya disekitar Pnompenh dan Luang Prabang..  
VIetnam agak berbeda karena sisa-sisa semangat kebebasan individualisme rezim sebelum Komunis di Vietnam Selatan segera bergerak cepat menyambut angin perobahan dari Hanoi. Geliat ekonomi  sangat terasa di seluruh pelosok Vietnam Selatan sehingga industri-industri PMA mereka kebanyakan berlokasi di daerah ini.
 
Kilas balik, sesungguhnya Suharto telah melakukan apa yang sdng terjadi di negeri-negeri tirai bambu itu. Suharto memerintah dengan tangan besi dengan one party system (yang lain hanyalah embel2). Sewaktu saya seorang birokrat saya diwajibkan menjadi fungsionaris Golkar dengan jalur “B” bergandengan dengan kawan-kawan dari jalur “A” (tentara) dan “G” (yg bekerja sbg karyawan/pejabat partai dan ormas-ormasnya) . We did a lot of things dan Indonesia menjadi a miracle economy di dekade 70 & 80an. Namun apa yang terjadi??? Indonesia menjadi negara “pariah” sampai sekarang yang suaranya tidak didengar dan yang rakyatnya dilecehkan oleh “adik kandung dari seberang”. Bagi saya ini semua misteri. Apakah memang negara-negara dari Timur (termasuk Indonesia) dengan tingkat kebudayaan yang adiluhung hanya akan menjadi lahan subur bagi penerapah kapitalisme/ ekonomi pasar dengan fasilitasi pemerintahan tangan besi dengan sistem komando terpusat yang tidak menghargai kebebasan individu? Sesudah penguasa tangan besi jatuh lantas ditinggalkan? Apakah Indonesia mau belajar dengan mengedepankan kepentingan diri sendiri dan membangun ekonomi sendiri dengan kemampuan sendiri dan melepaskan diri dari permainan global karena ternyata Indonesia hanyalah sekedar pion?
Keterpurukan Indonesia paska 1998 membuktikan hal ini.
 
Berdikarinya Bung Karno seperti sayup-sayup terdengar. Namum perlu direvitalisasi dlam konteks pembangunan bangsa yang bermartabat dengan landasan kebinnekaan bukan keseragaman, atas nama apapun alasannya. Our founding fathers are indeed wise persons. We just don’t listen to them or certain segment in our society are playing mute and deaf.
 
Sekedar wacana mengelitik para sedherek Realino menjelang tutup tahun.
Salam SeV,
Normin Pakpahan-Realino 65

Komentar Gufron : (e)
Teman2 Realinowan,
saya mau bicara sejujur-jujurnya :
Bung Normin menulis  : Sewaktu saya seorang birokrat saya diwajibkan menjadi fungsionaris Golkar dengan jalur “B”
GS menjawab : selama 15 tahun saya ada di ‘ring satu’, untuk urusan bisnis. Saya pahami  dan saya laksanakan. Tetapi itu langkah yang salah. Sekarang saya sadar.

Bung Normin menulis : Indonesia menjadi negara “pariah” sampai sekarang yang suaranya tidak didengar dan yang rakyatnya dilecehkan oleh “adik kandung dari seberang”. Bagi saya ini semua misteri
GS menjawab : Memang bung Normin, negara tetangga, negara barat, negara adi kuasa ramai2 merampok kekayaan Indonesia. Pemerintah mereka membiarkan perusahaan swasta mereka  mengeruk harta karun Indonesia sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya. Saya tahu dan paham sekali, tetapi saya tidak mampu mencegahnya. Saya tidak mempunyai power, yang saya miliki hanya kompetensi (mungkin diatas rata2 ) dalam hal-hal bisnis internasional. Banyak buku yang menulis tentang itu.. Sekarang Pem Indonesia dan the new power country seperti India dan China sudah menyadari itu. Kekayaan Indonesia harus dikelola oleh bangsa Indonesia. Harus dan harus. Indonesia itu kaya raya, mengapa harus digadaikan ke asing?

Mari kita bersatu, mari kita yakinkan bahwa kita bisa dan kita mampu.
Generasi mudalah yang meluruskan dan melaksanakan
Bagaimana kawan2 setuju kah dengan apa yang saya utarakan?
Trip saya ke Vietnam membuka mata hati dan membuka telinga saya, bahwa bangsa Indonesia mampu menggarap kekayaan sendiri.
Gufron – Realino 63

Komentar bung Djauhari (alumni Realino 1972, sekarang Dubes RI untuk Rusia) : (f)
Realinowan yang baik,
Kebetulan saya baru mulai terlibat dalam proses pengambilan keputusan kebijakan luar negeri (kecil-kecilan termasuk kebijakan ekonominya dalam konteks WTO) baru mulai tahun 1997, pas kita mulai memasuki krisis ekonomi. Memang banyak hal yang saya mulai tahu dan pahami, khususnya dalam proses pemberian konsesi dalam perundingan- prundingan ekonomi secara umum dan perdagangan secara khusus. Pak Gufron, Mas Pitono cukup tahu banyak karena saya yang menggantikan beliau di Jenewa saat proses pembentukan WTO, dan juga menggantikan beliau sekembali saya ke Jakarta dari Jenewa (menangani WTO, IMF dan World Bank – di deplu). Pada satu saat, memang nurani kita yang membuat keputusan, dengan segala resiko, termasuk resiko dipecat saat itu, saya membedah LOI I Indonesia dengan IMF dan dimuat di Jakarta Post serta Warta Ekonomi ( sekitar februar1 1998). Istilah saya saat itu… kalau salah kelola maka akan ada social backlash (terjadi mei 2008). Detailsnya mungkin dalam kesempatan kumpul-kumpul bersama  bisa saya ceritakan.

Bagi saya perundingan Internasional, baik itu moneter, keuangan maupun perdagangan adalah perundingan politik, tekanan-tekanan politik biasanya dilaksanakan pada saat-saat terakhir perundingan, dimana semua argumen mikro maupun makro akan rontok dengan sendirinya ( biasanya hot line antar kepala negara terjadi… saya menyaksikan beberapa kali). Sialnya didalam negeri, kita terlalu sektoral, ini kelemahan, masing-masing sektor merasa paling canggih. Siapa yang berani intervensi kedalam otoritas moneter maupun keuangan kita pada saat itu? (Perlu pencerahan dari pak Normin). Ekonom kita merasa paling cangggih dan bisa menangani semuanya, padahal telepon seorang Clinton ke RI 1, merontokan semua “kegagahan perundingan” yang kita perlihatkan. Keputusan seorang menteri Ekonomi untuk memberikan konsensi pada Super Power, merontokan hasil negosiasi di lapangan (Pak Gufron, please confirm ke Mas Pitono soal Quota Tekstil dan Phasing Out kacang kedele – muka Mas Pitono saat  berubah marah dan ngeduml ngak ada juntrungnya karena ngak tahu mau ngomel ke siapa).  Kita buka pasar susu kita (Des 1997), hanya karena seorang menteri diimingi beasiswa untuk post degree bagi 2 stafnya di suatu negara pengekspor susu, dampaknya, petani susu kita gulung tikar.(Mas Pitono dan saya ditegur menteri ekonomi dan nyaris dipecat karena tidak rela mendepositokan konsesi ini).Finalcial services kita (bank-bank asing dan asuransi asing bebas beroperasi di Indonesia) dibuka hanya karena advice seorang juru bisik lebih ampuh dari advice juru runding, kasus Mobnas dll. Masih banyak lagi cerita lainnya saat saya bertugas di New York dan ikut mendampingi petinggi-petinggi negara (eksekutif, legislatif dan judikatif) pada saat bertemu atau pun berunding dengan pihak-pihak lain. Ada beberapa kiat untuk keluar dari perangkap ini, kiat politis dan kiat teknis. Istilah saya… kita biasanya punya otak tetapi tidak punya “guts”.

NKRI masih lebih pada slogan politik karena sesungguhnya kita belum benar-benar satu dalam mengekspresikan kepentingan kita keluar, dan ini sangat dipahami oleh pihak luar. Syukur bahwa tahun-tahun terakhir ini mulai ada perbaikan kearah sana.

Soal jalur B, saya kira tak terhindarkan pada saat itu, tetapi soal nyoblos di bilik suara kan pilihan masing-masing.

Saya sependapat dengan pernyataan Pak Gufron yang terakhir… sebenarnya kita mampu… asal saja, saya senang pakai iklan sprite “KUTAHU YANG KUMAU” alias kita tahu apa yang kita mau.

RDC bisa dilanjutkan pada saat copy darat… Pak Katua, kami siap dikumpulkan.
salam hangat,
djauhari Realino 76

Komentar bung Djauhari : (g)
Pak Gufron,
Terima kasih kompilasinya, jadi menarik… he…he..

Pak Normin,
Beberapa waktu yang lalu time menulis tentang runtuhnya kapitalisme, nanti tanggal 7 dan 8 januari 2009 Presiden Perancis dan mantan PM Inggris Toni Blair akan menyelenggarakan seminar di Paris, judulnya Runtuhnya Kapitalisme, pembicaranya mereka berdua, jefrey sachs, amarthya sen (pemenang nobel dari india pengajar di colombia univ new york), joseph stiglitz (anti globalisasi, anti IMF anti world bank, mantan petinggi World Bank dan UNCTAD) dan beberapa nama besar lainnya. Kebetulan saya juga ikut diundang, saya akan cari waktu untuk buat reportase khusus re hal ini.

Intinya, belajar dari krisis sekarang, sejauh mana pemerintah harus intervensi, apakah invisible hands masih valid… atau kita kembali ke keynessian.. . intervensi pemerintah, tapi seberapa jauh. Globalisasi dibiarkan jalan sendiri ataukah pemerintah ada sebagai pengemudi kereta globalisasi. … pasti menarik. Pelajaran berharga, seperti tulisan pak Normin, bukankan ini dilakukan China, Vietnam. Singapura, Malaysia dll, dimana “demokrasi’ dikesampingkan sesaat untuk “kemakmuran bersama” (baca pencapaian target pertumbuhan ekonomi). Sementara itu ada contoh menarik juga yang sambil menjalankan “demokrasi”, dengan ekonomi pasar, pertumbuhan tetap terjaga (saya belum bicara distribusinya) , Afrika Selatan, India, Brazil, Costa Rica, Equador. Yang sedang begolak mencari bentuk, Indonesia, Thailand, Argentina, El Salvador, Venezuela, Cuba (sebentar lagi), Liberia, Rwanda, Nigeria (???).

Satu yang pasti dari 3 bentuk diatas, terasa adanya desakan yang kuat dari kekuatan-kekuatan baru ini (3 kelompok diatas), untuk keluar dari hegemoni kekuatan ekonomi besar (G 8 ). Contoh, perundingan WTO macet selama 8 tahun (nyaris) karena keras kepalanya kelompok ISAB (India, South Africa, dan Brazil) plus Indonesia (kelompok 33… Ibu Mari berperan besar) dan tentunya China. Selain itu ada desakan kuat untuk mengkaji ulang International Financial Architecture, dimulai dari IMF (weighted vote), hal ini telah dibahas tahun 2001 di Monterey, krisis global saal ini membukkan mata lagi. Bukankah pertemuan G20 di Washington beberapa waktu yang lalu kearah sana, walaupun AS masih ngotot, UE sudah “lean” ke 3 kelompok negara berkembang tersebut diatas (Indonesia termasuk yang diundang).

Kesimpulan seperti yang ditulis pak Normin, dua faham yang bertolak belakang sedang mendekatkan diri untuk mencari bentuk baru. Indonesia berada dalam pusaran itu baik secara internal (domestik) maupun eksternal (internasional) . Untuk itu kembali ke pemikiran awal pak Gufron, kita perlu punya “cetak biru” agar tidak salah melangkah lagi…..tahun 2009 adalah tahun pemilu… mudah-mudahan cetak biru yang dihasilkan kelak tepat.

Kita  bisa mulai dengan memberikan sumbangan pemikiran karena pernah hidup dalam satu “Rumah Nusantara” yang bernama Realino.

salam hangat dari Den Haag.
djauhari – Realino 76     
Komentar bung Normin : (h)
Bung Djauhari,
Much appreciated if you could share the conference proceedings with the rest of us.
Akibat financial crisis di AS yang mengglobal paradigma ekonomi mulai dikaji ulang. Keynesian yang bagaimana yang dinilai workable atau Monetarism yg bagaimana yang bisa memberi menjamin the sustainability of the open market? Keynes adalah salah satu otak Bretton Woods yang memberi jawaban apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki dunia dari kehancuran perang dunia ke II. The invicible hands of government diganti dengan the multilateral institutions, Bank Dunia, IMF dan Regional Development Banks mengawasi pergerakan ekonomi global untuk kepentingan “bersama”. Sayang the momentum hilang karena berlarut-larutnya “putaran” perundingan perdagangan yang semestinya memberi aturan main global; namun yang berobah menjadi kancah perdebatan politik. Meskipun akhirnya Marrakesh menghasilkan WTO, namun seperti Bung Djauhari katakan, perundingan -perundingan internasional di bidang ekonomi sesungguhnya adalah debat kepentingan politik negara-negara. Yang menang adalah mereka yang memiliki “leverage”. Dalam rangka membangun leverage itulah maka beberapa negara mencoba menempuh pendekatan regional, spt NAFTA (AS menjadi motornya) dn AFTA. Pd awalnya AFTA disambut baik. Saya msh ingat betapa Singapore menaruh harapan besar pd Indonesia (sbg power house waktu itu) karena dia sadar betul bhw yang dia miliki adlah keahlian seorang broker. Anggota ASEAN lainnya mendukung, namun Mahathir curiga..
.Ditataran konsepsi, kita jago, namun begitu pada timgkat pengambilan keputusan… wah…baru kelihatan belang orang orang bisnis dan pejabat kroni yang suka “pintu belakang”  entah ke Cendana  atau ke pintu-pintu belakang lainnya demi keuntungan sesaat. Kesimpulan saya, Indonesia terpuruk karena “tidak satu kata dengan perbuatan”.
 
Saat krisis, tahun 1997/98, Indonesia bagai orang mabuk yang duduk diatas koper uang banyak tetapi tidak mengerti bahwa yang didudukinya uang. Suharto meneken IMF Agreement dengan Camdesus di bulan Januari 98. tanpa peduli dan tidak mengindahkan nasehat para pembantunya. Mar’ie Muhammad dan Saleh Afiff (bos saya waktu itu) sama sekali tidak digubris. Mas Dradjat Djiwandono (Gubernu BI waktu itu) juga mengaku tidak didengar. Dengan sedikit pengetahuan saya mengenai Hukum, saya berkeras waktu itu untuk tidak memakai uang pinjaman IMF “menyelamatkan” para konglomerat termasuk bisnis keluarga Cendana. Akibatnya saya hrs tanggung sendiri…pensiun dini…(Selentingan waktu itu, sang putri mebisikkan bahwa dengan uang IMF itu selamatlah bisnis keluarga dan para kroni. so Bapak tekenlah…) . Cilakanya selalu saja ada opportunist  dari kalangan para ahli ekonomi yang memberi alasan pembenar, a.l., Menkeu satu bulan dengan ahli Mr. Hanky Panky yang mencoba memberi resep Currency board.
 
Bung, ini saya ceritakan untuk dijadikan referensi. Anda beruntung kalau anda didengar oleh bos maupun BOS. Zaman kami-kami para “bala-dupakan” kenikmatan ini hanya sampai tahun 1998 saat Suharto Bapak Pembangunan dan semestinya kalau dia Orang Jawa tulen yang memahami ilmu Kejawen mestinya sadar itulah waktu terbaik menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada penggantinya.  So pasti patungnya setinggi MONAS akan dibangun di Taman Mini… Sayang…He and his family must live in disgrace, at least for now.
 
Sampai jumpa tahun depan
Normin Pakpahan-Realino 65 

Saat krisis, tahun 1997/98, Indonesia bagai orang mabuk yang duduk diatas koper uang banyak tetapi tidak mengerti bahwa yang didudukinya uang. Suharto meneken IMF Agreement dengan Camdesus di bulan Januari 98. tanpa peduli dan tidak mengindahkan nasehat para pembantunya. Mar’ie Muhammad dan Saleh Afiff (bos saya waktu itu) sama sekali tidak digubris. Mas Dradjat Djiwandono (Gubernu BI waktu itu) juga mengaku tidak didengar. Dengan sedikit pengetahuan saya mengenai Hukum, saya berkeras waktu itu untuk tidak memakai uang pinjaman IMF “menyelamatkan” para konglomerat termasuk bisnis keluarga Cendana. Akibatnya saya hrs tanggung sendiri…pensiun dini…(Selentingan waktu itu, sang putri mebisikkan bahwa dengan uang IMF itu selamatlah bisnis keluarga dan para kroni. so Bapak tekenlah…) . Cilakanya selalu saja ada opportunist  dari kalangan para ahli ekonomi yang memberi alasan pembenar, a.l., Menkeu satu bulan dengan ahli Mr. Hanky Panky yang mencoba memberi resep Currency board.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan2 ke luar negeri and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s