Menara 165 (1) – Menara 165 sebagai simbol kebangkitan Umat Islam di Indonesia

Menara 165 berlokasi di Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan, Indonesia. Gedung ini didirikan sebagai simbol semangat membangun Peradaban Emas. Sebagai pusat kebudayaan ESQ, Menara 165 menjadi wadah untuk membangun 7 Budi Utama ESQ yaitu: Jujur, Tanggung jawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil, dan Peduli sebagai karakter bangsa. Menara 165 selain akan menjadi tempat penyelenggaraan training ESQ juga menjadi pusat seluruh kegiatan Alumni ESQ. Di Menara165, Alumni akan menjalin kerjasama untuk membangun kekuatan ekonomi, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lapisan bawah seperti kaum dhuafa dan anak yatim piatu.

Saat ini, Menara165 dibangun dan dikelola secara profesional oleh PT. Grha 165 sebagai perusahaan terbuka yang terdaftar di BAPEPAM. Sebagian besar saham PT. Graha 165 dimiliki oleh Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Yayasan ini didirikan oleh para Alumni ESQ untuk mengelola kegiatan sosial bagi kaum dhuafa dan anak yatim.

Dimulai dari sebuah buku yang ditulis pendirinya, “ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual”, kini ajaran dan inspirasi ESQ sudah dikenal dunia. ESQ kini juga menjadi lembaga training  yang tujuannya membangun karakter bangsa menjadi lebih baik.

Krisis ekonomi di tahun 1998 yang dibarengi dengan adanya kerusuhan di penjuru tanah air memang meninggalkan kenangan pahit yang tidak terlupakan. Mereka-mereka yang terkena dampak langsung dari peristiwa ini adalah sebagian besar pengusaha, karena bisnis yang mereka bangun selama ini hancur seketika karena terjadinya penjarahan dimana-mana.

Namun, peristiwa ini memberikan hikmah tersendiri bagi sebagian orang, termasuk kepada Ary Ginanjar Agustian yang mulai merenung, lalu menuliskan sebuah buku  berjudul “ESQ: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Spiritual”, setelah bisnisnya hancur dan hilang.

“Sejak peristiwa itu saya mulai merubah pola berfikir. Yang awalnya mindset hanya ke uang saja, lalu mulai sadar bahwa sesungguhnya kebahagian itu bukan terletak pada uang. Dari situlah saya mulai menulis buku setelah semuanya hancur dan hilang,” ujar Ary Ginanjar, yang kemudian hari dikenal sebagai pengagas dan pendiri training Emotional Spiritual Quotient (ESQ).

Mantan dosen Politeknik Udayana, Bali yang  juga beberapa kali menerima penghargaan karena integritasnya didalam menjalankan ESQ ini mengaku, melalui buku-buku yang dipelajari, perenungan mendalam serta pengalamannya tersebut, akhirnya bisa menyampaikan gagasan melalui buku yang ditulisnya. Di dalam bukunya dijelaskan bahwa untuk mencapai keberhasilan, kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup. Diperlukan kecerdasan emosional (EQ) yang akan memberikan keterampilan dalam bersosialiasi dan berhubungan dengan orang lain, serta kecerdasan spiritual (SQ) yang akan memberikan jawaban atas eksistensi diri. Untuk menggabungkan ketiga kecerdasan tersebut, Ary Ginanjar merancang sebuah konsep yang disebutnya The ESQWay165, yaitu sebuah konsep pembangunan karakter yang komprehensif dan integratif berdasarkan 1 nilai universal, 6 prinsip pembanguan mental dan 5 langkah aksi.

Lembaga training ini dikenal dengan nama ESQ Leadership Center. Program-program ESQ berkembang lebih banyak dan lebih luas. Untuk itulah ESQ mendirikan Gedung Menara 165, yang menjadi tempat pusat kegiatan program-program ESQ.

Sampai saat ini, jumlah trainer ESQ yang mendapatkan lisensi dari Ary Ginanjar sudah mencapai hampir 100 orang. Mereka telah mendapatkan pembinaan dan pendidikan secara sistematis melalui rangkaian training dengan sistem mentoring, computer based training (CBT), dan sebagainya.

“ESQ dibangun secara mandiri dan independent, tidak ditopang oleh lembaga manapun atau pengusaha siapapun, tetapi didukung oleh para alumni ESQ yang peduli melalui saham dan wakaf. Semoga semangat dan upaya membangun moral bangsa ini tetap terjaga melalui Menara 165 sebagai warisan untuk generasi mendatang,” kata Ary Ginanjar.

Apa yang bisa kita dapatkan dari ESQ Character Building Training
Training ESQ bukanlah sebuah ceramah agama seperti informasi yang mungkin pernah diberitakan. Meski banyak mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, training ESQ sesungguhnya adalah sebuah konsep baru training manajemen dan sumber daya manusia yang mensinergikan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) secara ilmiah. Training ESQ akan menciptakan manusia-manusia unggul dan paripurna yang bermanfaat, baik untuk pribadi maupun kepentingan kinerja perusahaan secara transcendental. Peserta training akan mengalami transformasi diri agar hidup bahagia, lebih bersemangat, lebih bernilai dan penuh makna.

Beragamnya orang yang mengikuti training ESQ karena materi dan metode yang diberikan dapat diterima oleh semua kalangan. Tak mengherankan jika dalam sebuah training, kita akan menemui orang-orang yang memiliki latar belakang sosial, politik, dan budaya yang berbeda.

Kami menempatkan ESQ sebagai oksigen. Kehadirannya netral dan tak berwarna tetapi sangat penting bagi kehidupan. Kami tidak berafiliasi dengan kelompok, golongan, dan aliran tertentu.

Kami ingin mewujudkan Indonesia Emas 2020 bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya, berdasarkan Pancasila dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu terwujudnya masyarakat Indonesia yang berhati emas.

 Visi dan misi dari ESQ
ESQ memiliki misi membangun moral bangsa dengan konsep 165. Konsep 165 adalah sinergi dari nasionalisme dengan spiritualisme, antara dasar negara Pancasila yang lahir pada 1-6-45 dan semangat cinta tanah air dengan spiritualitas dan moralitas , yaitu 1 hati, 6 prinsip, dan 5 langkah.

Misi kami adalah kebangkitan moral bangsa dan pembentukan karakter bangsa dengan tujuh nilai dasar. Ketujuh nilai dasar itu adalah: jujur, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama, adil, dan peduli. Untuk mewujudkan misi di atas, ESQ membentuk wadah yang independen dan profesional. Visi ESQ adalah terwujudnya Indonesia Emas. Yaitu, kondisi ketika ketujuh nilai dasar telah menjadi budaya di seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Bapak Ary Ginanjar telah mencanangkan pencapaian Indonesia Emas di tahun 2020, 2030 dan 2045. Yang didefinisikan menjadi 7 hal.

  1. Pertama, Indonesia yang jujur, jujur itu tidak korupsi dan berbohong.
  2. Kedua, Indonesia yang tanggung jawab, jadi pekerjaan apapun dia amanah dan mengerjakan tugasnya dengan jujur tapi amanah.
  3. Ketiga, visioner yaitu tidak berfikir hanya untuk hari ini saja tetapi berfikir akibat kedepannya.
  4. Keempat, Indonesia yang disiplin, bukan hanya sekedar absensi tetapi disiplin dengan visinya, cita-citanya, kejujurannya serta tanggung jawabnya.
  5. Kelima, kerjasama yang berarti dia senantiasa bekerja bersama-sama dan gotong royong atau bersatu.
  6. Keenam, manusia yang adil, dimana kebersamaan itu dipersatukan dan dijaga dengan keadilan agar tetap terjaga nilai-nilai keadilan.
  7. Ketujuh adalah peduli, dimana kelompok yang kuat membangun yang lemah, kaya membantu yang miskin dan yang kuat membantu yang tidak mampu.

Inilah yang disebut 7 budi utama yang dicoba diangkat kepermukaan karena dianggap penting dan utama. Mengapa? Karena selama ini orang menganggap bahwa yang utama didalam hidup manusia adalah kalau dia punya harta banyak, punya jabatan tinggi dan puna kekuasaan hebat. Bapak Ary Ginanjar ingin membalik hal itu, minimal paradigma yang disebut utama didalam hidup adalah jika bermoral tujuh tadi.

Kalangan yang harus mengikuti training ESQ ini
Semua lapisan masyarakat bisa mengikuti training ESQ, tapi yang pertama diincar adalah lapisan pemimpin. Karena, kalau pemimpinnya berubah, maka dia akan merubah, mempengaruhi dan mengajar kebawah sehingga akan menjadi panutan. Oleh sebab itu target pertama yang dikejar adalah pemimpin atau orang-orang yang punya pengaruh di Indonesia.

Lapis kedua diambil calon pemimpin yaitu mahasiswa. Sehingga apabila di lapis pertama gagal di tahun 2020 maka harapan di tahun 2030 generasi baru tercipta. Contohnya, dimasukkan ke kurikulumdi Akademi Kepolisian (Akpol), pendidikan calon Jaksa dan calon hakim dengan harapan ketika mereka menjadi penguasa sudah punya mindset yang lebih baik. Sekolah2 SMU dan beberapa Perguruan Tinggi tertentu telah mencantumkan training ESQ sebagai pengganti Ospek. Misalnya UNY di Yogya, UNS di Solo.

Generasi berikutnya dikelompok teen and kid. Dimulai dari anak-anak kelas 3 SD sampai SMA. Mereka dilatih dengan tujuan kalau dilapisan kedua gagal, maka di tahun 2030 dan 2045 masih punya harapan.

Kelompok terakhir adalah kelompok level ibu-ibu, yaitu keluarga, ibu hamil atau yang punya anak kecil. Mereka dilatih dan dididik bagaimana agar memiliki ilmu ESQ untuk membangun anak-anak mereka sendiri.

  Klik disini

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in manajemen, pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s