Tantangan baru (7) – Husnayain III Sallulebo dan Penebangan Liar

Sejarah berdirinya Pesantren Husnayain III di Salulebo. Yang menulis Uztad Galib Mas’ud. Beliau sekarang Pemimpin di Husnayain III Sallulebo. Untold story dari Uztad Galib Mas’ud. Semoga Allah memberikan perlindungan dan ampunan atas dosa beliau. Amin.

Quote : dikelompokkan ke Husnayain III, dengan pengarang bapak KH Uztad Galib Mas’ud, Penanggung jawab HusnayainIII. Semoga Allah SWT menganugerahi pahal berliapt ganda didunia da di akherat untuk bapak galib Mas’ud dan keluarga. Amin. Unquote.

Sepuluh persen dari hutan tropis dunia berada di Indonesia dan menjadi habitat yang penting bagi keanekaragam fauna dan flora yang unik dan langka. Penggundulan hutan yang sistematik mempercepat kerusakan lingkungan. Dampak sosial yang negatip sangat dahsyat. Hancur lebur, menghilang dan lenyaplah kekayaan yang dimiliki Indonesia anugerah dari Allah SWT. Manusia membuat kerusakan yang dahsyat dari penggundulan hutan. Saya akan ceriterakan sebagian dari apa yang saya alami selama 7 tahun. Kondisi hutan di Indonesia yang begitu lebat sekarang rusak parah.

Apa penyebabnya? Yaitu penebangan liar, pengelolaan konsesi hutan yang jelek, perubahan hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan…. itu semua membuat hutan tropis semakin menyusut. Spesies unik seperti orang hutan, harimau sumatra semakin punah. Diperkirakan hutan tropis milik negara akan habis dalam dua dekade, dipercepaat dengan desentralisasi otonomi daerah, dimana Bupati dapat mengeluarkan SK Bupati untuk menebang hutan seluas 1.500 ha. Kalikan saja 10 – 15 SK yang diterbitkan, maka lengkap sudah kepunahan hutan tropis kita.

Bank Dunia meramalkan bahwa ditahun 1979 – 1980 Indonesia kehilangan 1,5 juta kawasan hutan tropis setiap tahun. Kalau per 1 ha menghasilkan logs gelondongan sebesar 100 m3 maka logs gelondongan yang ditebang manusia di Indonesia mencapai 150.000.000 m3. Kalau harga logs gelondongan Rp 300-400 ribu per m 3, maka nilai logs yang ditebang di hutan tropis di Indonesia Rp 50.000.000.000.000 (50 Triliun rupiah) setiap tahun. Biaya pokok 50%, maka keuntungan yang dikantongin para pengusaha HPH adalah Rp 25 Triliun per tahun.

Kapasitas sawmill liar tak berizin itu dua kali sawmill resmi berizin. Bayangkan bahwa konsumsi logs gelondongan melebihi persediaan. Analisa Bank Dunia menunjukkan bahwa jenis hutan dataran rendah yang paling menderita. Jenis hutan itu sudah digunduli di Sulawesi, di Kalimantan, di Sumatra , di Papua dan pulau-pulau di Maluku seperti pulau Halmahera, pulau Buru dll. Hutan dataran rendah merupakan habitat untuk spesies langka.

Siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan hutan kita? Tentulah Suharto, keluarganya dan kroni-kroninya. Sebab dialah yang memulai memberikan izin konsesi.

Kerusakan itu semakin parah setelah Suharto lengser. Betul-betul parah sekali. Illegal logging semakin menjadi-jadi. Dari 1998 sampai sekarang muncul cukong cukong kayu baru dari berbagai daerah, pribumi dan non pribumi, menggunakan cara cara kekerasan, dibekingi oleh pejabat daerah, pejabat pusat, baik sipil maupun militer. Otonomi daerah memperparah kerusakan hutan. Yang menjadi korban adalah rakyat setempat yang hanya gigit jari. Mereka tetap miskin. Kerusakan lingkungan semakin parah. Taman Nasional yang merupakan hutan lindung pun dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Kayu ditebang, spesies langka lari menghilang banyak yang mati. Persengkokolan petugas hutan lindung dengan penebang liar semakin banyak. Maklum saja. Biaya untuk operasi para pejabat yang bertugas menjaga hutan lindung semakin tahun semakin minim, semakin merosot.ebih lebih setelah tahun 1997.

Pencurian kayu yang besar-besaran yang tidak tertangani akan berdampak mengerikan kepada Indonesia. Hutan menjadi gundul, kehidupan liar menyusut, hilang pendapatan vital bagi negara dan ank cucu, subur iklim korupsi, tidak ada hukum yang berlaku. Inilah tantangan Pemimpin Indonesia mulai Gus Dur yang gagal, Megawati pun gagal, SBY pun gagal, dan sampai presiden berikutnya tetap tantangan yang harus diselesaikan. Pemerintah banyak bicara sedikit bertindak.

LSM LSM Indonesia dan NGO dari LN telah berupaya menekan pemerintah Indonesia. saya masih ingat akan suatu Seminar tentang Melestarikan hutan Tropis di Indonesia. Dibiayai oleh NGO dari LN dan Lembaga Donor International. Seminar itu diadakan pada bulan Januari 2000. Yang hadir di pembukaan banyak, sekitar seribu, dari seluruh dunia, termasuk beberapa menteri RI dan tetangga, beberapa Dirjen dan pejabat Pemerintah yang terkait dengan hutan seperti Dep Dalam Negeri dan Dep kehutanan. Sayang seribu sayang mereka para pejabat executive hanya hadir di pembukaan saja, yang membukasemina gus Dur. Setelah pembukaan, semua menteri ngacir pergi, sebagian dirjen, sebagian besar pejabat Dalam negeri pun ngacir pergi, hanya satu menteri yang tinggal sampai akhir. Padahal hasil seminar sangat bagus sekali. Pemerintah RI setuju untuk membentuk Komisi Antar-Departemen yang concern tentang kehutanan, didanai oleh NGO dan Lembaga Donor International. Sesen pun pemerintah RI tidak keluar biaya.

Masjid husnayain III 001

Masjid Ali bin Abi Thalib, Pesantren Husnayain III Salulebbo

masjid husnayain III 003

pak Uztad Galib Mas’ud didepan masjid sederhana masjid Ali bin Abi Thalib

01 RM 04b

Gufron bersama 4 guru pertama yang mengajar  dengan ikhlas di pesantren Husnayain III. Keempat guru pertama ini lah pioneer dan cikal bakal pesantren Husnayain III. Hidup ditengah hutan, tanpa hiburan tanpa fasilitas. Semoga Allah memberikan pahala berlipat ganda didunia dan diakherat. Amin

masjid lama pesantren Husnayain III Salulebo

para santri barusan menunaikan sholat berjamaah. Sinar Islam memancar dari masjid sederhana dan santri2 nya merasakan hasilnya. Bayangkan sesudah lulus Husnayain III, mereka pandai berbahasa Inggris dan bahasa Arab. Dan memahami berbagai ilmu tentang Islam. Mampiu berdakwah. Wasyukurillah.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in manajemen and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s