Tantangan baru (6) – HPH

Aku pernah bekerja sebagai Dirut perseroan yang mengelola HPH, pabrik kayu moulding dan pabrik plywood. Cukup lama saya bekerja sebagai Dirut di perseroan tersebut, ada HPH yang luasnya mencapai 117.000 ha, ada pabrik moulding yang membuat berbagai olahan kayu mulai bikin lantai kayu, bikin wall panel, bikin kosen pintu dan berbagai panel sesuai order customers. Suka dan duka mengelola perseroan selama tujuh tahun dari 1997 sampai 2004, menambah pengalaman ku di industri logging dan perkayuan. Inilah ceriteranya.

Seluk beluk mengoperasikan kegiatan logging HPH cukup remit. Dimulai dari Penataan Areal Kerja (PAK) yang luasnya setiap tahun rata-rata 1.500 ha, dari total 117.000 ha, inilah area yang akan ditebang kayu-kayunya. Secara matematis dan acak akan dihitung kayu-kayu yang akan ditebang. Untuk survey dan cruising ini biayanya sudah mencapai hampir satu milyar. Hasil hitungan diserahkan ke Departemenr Kehutanan untuk dibuatkan RKT tahunan. (Rencana Karya Tahunan). Semua diatur oleh Dephut. Mulailah perseroan menginvestasikan dananya untuk pembukaan wilayah hutan, untuk membuat jalan utama dan jalan cabang. Bayangkan HPH itu terletak di tengah hutan perawan, maka penebangan hutan berarti tebang ‘matahari’. Artinya ditebang sampai matahari bisa mencapai tanah. Kayu-kayunya diangkut ke logpond untuk dijual. Harga per m3 ditahun 2002 mencapai Rp 300 – 400 ribu.
Biaya eksploitasi sangat tergantung kepada jarak logpond ke areal yang ditebang. Ditahun 2001 itu jaraknya mencapai 52 km, melalui bukit yang naik dan turun, masih harus menyeberang sungai Budong-Budong yang lebar nya mencapai 200 meter. Dan kalau musim hujan airnya penuh, arusnya deras, sungainya dalam. Potensi kayu di lokasi tebangan cukup tinggi maklum masih masuk kategori ‘firgin forest’.
Biaya eksploitasi dari tahun ke tahun meningkat disebabkan karena harga spareparts semakin mahal, harga solar meningkat walau sudah disubsidi, Upah Minimum Regional pun naik. dan yang memberatkan adalah pajak PBB dan pajak Retribusi daerah akibat otonomi daerah.
Alat berat yang ada yang jumlahnya 47 unit, akan ditingkatkan jumlahnya dengan cara merekondisikan beberapa yang rusak. Tenaga mekanik diupayakan memadai, malahan kami mengontrak tenaga mekanik dari Asem Reges, yang berkompetensi tinggi. Manajemen supplai spareparts ditingkatkan melalui sistim konsinyasi.
Tetapi yang tidak bisa dihindari adalah tantangan alam dan kondisi cuaca. Curah hujannya tinggi. Kalau hujan, maka jalan licin sekali sehingga truk pengangkut log tidak berani berjalan, takut terpeleset dan jatuh kedalam jurang. rata rata hari cerah hanya 12 hari per bulan, artinya yang 20 hari itu kondisi cuacanya hujan.
Kami harus merencanakan dana untuk penanaman, mulai biaya SDM pengadaan bibit, penanaman kiri kanan dan tanah kosong. Kamipun menyisihkan dana untuk pemeliharaan tanaman dan pembinaan lingkungan. Ada juga pengendalian kebakaran dan pengamanan hutan, biaya pemungutan hasil hutan, kewajiban terhadap negara dan kewajiban terhadap lingkungan dan sosial.

Pesantren Husnayain III di Salulebo Sulawesi Barat

Pesantren Husnayain III di Salulebo Sulawesi Barat

Tahun 1998 saya dan guru spiritual saya Kyai Haji Cholil Ridwan ke Mamuju. Dan kunjungan itu membuahkan hasil yaitu sepakat untuk membangun Pesantren. Kami membangun Pesantren Husnayain III yang bekerja sama dengan Pondok Gontor. Dari Pondok Gontor menyediakan guru-guru, ada 4 sampai 5 orang, lengkap dengan kurikulum. Saya selaku Dirut PT Rante Mario membuat keputusan yang strategik dengan menyediakan tanah seluas 10 ham, 4 ruang kelas, 3 ruang asrama, 1 masjid, 1 ruang serba  guna dan biaya operasi pesantren. Murid didatangkan dari sekitar HPH. Ada anak transmigran, ada anak Bugis dan anak sekitar HPH. Pesantren itu berkembang dengan natural dan hasilnya luar biasa. Semua guru dari Gontor kalau mengajar memakai dasi. Kurikulum 100% dari Gontor. Husnayain III menjadi sekolah SMU Umum dan selalu meraih juara di Sulawesi Barat. Tamatan Husnayain III mampu berbahasa Inggris dan berbahasa Arab. Ada alumni Husnayain III yang ke LN yaitu ke Timur Tengah. Ada yang sekolah agama. Dan ada yang bekerja sebagai perawat di RS d Dubai, setelah setahun mengambil license perawat di Sekolah perawat di jakarta. Subhanallah.

Bob Hasan Ketua APHI

Bob Hasan Ketua APHI

Perseroan dimana aku bekerja otomatis menjadi anggota APHI. (asosiasi pengusaha hutan indonesia). Ketua APHI adalah Bob Hasan. Ini suati asosiasi yang menghimpun semua perseroan yang bergerak di industri kehutanan, dimulai HPH, pabrik moulding, pabrik plywood dan industri furniture. Setiap rapat tahunan. Diorganisasi APHI saya belajar banyak, tentang permasalahan, tentang tokoh-tokoh yang bergerak di kehutanan, tentang para pencoleng, para preman dan para pencuri hasil hutan. Ada LSM baik dari LN maupun DN yang secara berkala menyelenggarakan presentasi tentang kerusakan hutan dan siapa-siapa tokoh ‘hitam’ dibalik kerusakan hutan di Indonesia. Dari situlah aku mengenal tokoh ‘putih’ dan tokoh ‘hitam’. Seperti Abdul Rasyid dari Kalimantan Tengah yang dikategorikan sebagai tokoh ‘hitam’ dengan segala kelakuannya yang merugikan masyarakat dan bangsa Indonesia. (bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in manajemen and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s