Tantangan baru (9) – Abdul Rasyid, ‘tokoh hitam’ illegal logging

Laporan ‘The Final Cut’, ditulis oleh EIA dan LSM Telapak Indonesia pada bulan Agustus 1999. Laporan ini menghebohkan masyarakat kayu di Indonesia dan di LN. Isinya dokumentasi penebangan liar besar-besaran oleh Abdul Rasyid, pemilik grup Tanjung Lingga Kalimantan Tengah. Abdul Rasyid merampok kayu di hutan lindung Taman Nasional Tanjung Puting yang luasnya 415.000 ha dan yang sangat terkenal diseluruh dunia karena tempat penangkaran orang utan. Kehidupan orang utan di hutan lindung TN Tanjung Puting sekarang dalam keadaan terganggu. EIA adalah NGO yang sangat terkenal di Inggris. Investigasi lapangan dilakukan EIA/Telapak Indonesia sebanyak 11 kali. Penghancuran hutan lindung yang amat parah oleh Abdul rasyid dan grupnya Tanjung Lingga, adalah kejahatan amat jahat. Bayangkan Abdul Rasyid dan grup Tanjung Lingga, melakukan pencurian kayu ramin secara terang terangan dan grupnya masih menampung kayu ramin yang dicuri oleh penduduk.

Suripto melakukan pengechekan dan mampu mengungkapkan keterlibatan personil keamanan, dari Indonesia dan dari Malaysia. Kepada pers, Suripto mengatakan bahwa penyelundupan kayu ramin mencapai 100.000 m3 per bulan. Kalau harga kayu ramin Rp 1.000.000 per m3, maka nilai yang diselundupkan Rp 100 milyar per bulan atau 1,2 Triliun per tahun. Angka yang fantastik.

EIA/Telapak Indonesia telah menemukan persengkokolan rahasia tentang pengaturan kayu konsesi antara Abdul rasyid dan pejabat keamanan dan sipil. bahkan EIA/Telapak Indonesia menyaksikan sendiri jalur truk pengangkut kayu untuk membawa kayu curian keluar dari kawasan Hutan Lindung Tanjung Puting. Mereka menyamar sebagai pembeli kayu,dan menghitung jmlah saw mill tak berizin dan tongkang pengangkut kayu. EIA/Telapak Indonesia mengidentifikasi bahwa semua dikoordiner oleh Abdul rasyid dan Tanjung Lingga grup.

Menurut Laporan ‘The Final Cut’, Abdul Rasyid mampu menutupi kejakatannya dengan mengkonsolidasikan kekuatan politik dan uangnya untuk meredam rencana polisi dan jaksa untuk mem-pidanakan kejahatan Abdul Rasyid sebagai pencuri kayu milik negara. Abdul Rasid mampu meredam pada tingkat lokal, tingkat propinsi dan tingkat nasional. Dengan kekuatan ‘uang haramnya’ Abdul Rasyid berhasil menjadi anggota MPR mewakilil Kalimantan Tengah. Bukan main. Bisnis Abdul Rasyid tetap berjalan mulus dan cengkeraman Abdul Rasyid terhadap masyarakat dipertahankan oleh Abdul Rasyid sehingga tidak ada tindakan hukum yang nyata dari pejabat hukum tingkat lokal, tingkat propinsi dan tingkat nasional. Luar biasa. Gila.. benar benar gila ..

Menurut ‘The Final Cut’, kerusakan Taman Nasional Tanjung Puting oleh grup Abdul Rasyid itu menghancurkan aset masyarakat/negara yang sangat bernilai dan aset masa depan Indonesia dan dunia yang amat penting. Keuntungan triliun rupiah dari pencurian kayu besar besaran telah dinikmati grup Abdul Rasyid dan segelintir orang.

Menurut ‘the Final Cut’, gubernur Kalimantan Tengah waktu itu yaitu Rafiudin Hamarung ditekan oleh Abdul Rasyid dan pejabat Sipil maupun Militer dari Pusat agar mengeluarkan ‘izin’ konsesi hutan lindung kepada Abdul Rasyid. Dunia sudah gila. Cara khas yang dipakai Tanjung Lingga untuk melegalkan kayu curian adalah dengan membeli kayu sitaan pada pelelangan. Pada 21 September 1999, para aktivis dari EITdan Telapak Indonesia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa dokumentasi dar kayu kayu dari Sungai Buluh Kecil diprsiapkan untuk kayu kayu ilegal yang baru ditebang dan dipersiapkan untuk diolah.Para aktifis melihat kapal kapal yang dimuati dengan kayu ramin bernilai sangat tinggi ditambatan di teluk Kumai.

Saking jengkelnya, ada dua aktivis yang mengunjungi Saw Mill kayu sepanjang Sungai Arut, yang memproses kayu curian yang digasak dari Tanjung Puting. Saw Mill itu bernama PT. Memdawai Putra milik Abdul Rasyid. Didepan saw mill terdapat tumpukan kayu ramin bernilai tinggi , Rp 1.000.000 per m3, menunggu untuk diproses. Keduanya masuk menyamar sebagai calon pembeli. Namun ada staf PT Mendawai Putra yang mencurigai keduanya sebagai aktivis LSM/NGO. Mereka diintimidasi dengan kasar. Inilah ceritera yang saya baca dari ‘The Final Cut’.

quote..Begitu masuk kearea saw mill kedua aktivis diajak masuk keruangan atas dari gedung kantor. Diruangan itu telah menunggu Sugiarto Sabran Efendi, sepupu Rasyid dan Een Juhaeriyah, keduanya Direktur Tanjung Lingga. Dengan dihadiri gerombolan orang yang bergaya preman, menakutkan dan seram wajahnya, kata kedua aktivis di buku ‘The Final Cut’.

Ruswindriyanto

Salah satu aktivis bernama Ruswindrijarto langsung diteriaki oleh Sugiarto dan dimaki-maki didepan orang banyak. Aktivis kedua bernama Doherty pun mengalami perlakuan yang sama. Terjadilah percekcokkan dan adu argumentasi. Kedua aktivis itu dipukul dan ditendang oleh gerombolan dari Tanjung Lingga. Tangan Dovery luka karena dipukul dengan benda keras sampai sekarang cacat, mukanya dihadiahi bogem mentah yang dilakukan oleh gerombolan Tanjung Lingga. Kamera dan barang barang pribadi mereka dicampakkan kelantai sampai kameranya rusak. Yang lebih gila lagi, Sugianto mengeluarkan pistol dan mengancam akan membunuh Ruswidriyarto. Tiba tiba Ruslan, saudara kandung Rasyid masuk ruangan. Ruslan juga ikut menendang Suswidriyarto. Tak lama kemudian Polisi datang, rupanya ada anggota tim LSM/NGO yang tidak ikut masuk kantor melapor kekantor polisi setempat. Tiga polisi berpakaian preman dan seorang berpakaian dinas menyelamatkan kedua aktivis dari kantor Tanjung Lingga. Kedua korban kekerasan dibawa ke pos polisi, diizinkan menelpun dan akhirnya ditolong oleh polisi dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan.

Kapolres setempat yaitu Letkol Koto lalu menginterograi kedua aktivis. Dan melarang mereka berdua keluar dari kota. Rupanya dikota itu sudah ada teman Ruswidriyarto dari beberapa LSM, merekalah yang berjuang untuk membawa keluar kedua aktivis yang sudah terluka. Duta Besar Inggris ikut campur tangan mendesak Kapolres agar mengizinkan keluar Pangkalanbun. Pejabat Militer dan Polisi di jakarta pun rame rame menekan Kapolres Koto untuk mengizinkan kedua aktivis keluar dari kota. Alhamdullilah… Akhirnya keduanya dapat naik pesawat kecil dan terbang menuju Banjarmasin. Keesokan harinya terbang ke Jakarta. Itu sepenggal kisah keberanian dua aktivis LSM/NGO dalam membela kekayaan Indonesia yang sedang dirampok oleh Tanjung Puting. Ceritera itu saya sarikan dari buku ‘The Final Cut’…. unquote..

Mendengan berita ini Suripto naik pitam. Dia kumpulin nama nama orang Tanjung Puting yang menangkap dan menyiksa kedua aktivis, baik yang ada di Pangkalanbun maupun yang ada di Palangkaraya.

Berita penyiksaan kedua aktivis lingkungan di Pangkalanbun menjadi berita utama di koran koran Jakarta dan di koran LN. Dan masuk ke CNN serta BBC News. Mereka rame-rame mendesak pejabat sipil dan militer untuk memeriksa bisnis Abdul Rasyid. Tak lama kemudian Suripto berangkat ke Kalimantan untuk mendatangi kantor Abdul Rasyid di Pangkalanbun dan mengungkapkan kejahatan pencurian kayu ramin oleh Abdul Rasyid dan Tanjung Lingga kepada Pers. Semua orang yang membaca geram dan marah. Suripto juga mengungkapkan keterlibatan politik tingkat tinggi dalam melindungi bisnis haram Abdul Rasyid. Dari daftar yang dikumpulkan terlihat nama-nama pejabat sipil dan militer. (bersambung)

quote : Dengan cukupnya bukti penganiayaan dan penculikan terhadap wartawan dan anggota EIA. Sudah selayaknya Abdul Rasyid di bawa ke pengadilan. Sudah saatnya hutan kalimantan dijaga dan dirawat. Ini tidak akan terjadi selama Abdul Rasyid duduk di kursi MPR. Abdul Rasyid telah mencoret arang di muka International atas ketambengannya. Hargai lah perjuangan angkatan 45 yang membebaskan kita semua dari penjajahan. Termasuk penjajahan hutan Kalimantan yang dilakukan oleh abdul rasyid dan perusahaannya. KAPAN HUTAN KITA AKAN DIBIARKAN BERNAFAS DAN SELERUH ANGGOTA BINATANG LANGKA-NYA MERAIH KEMERDEKAAN SEPERTI KITA MEMENANGKAN DEKLARASI 45. unquote. testimoni sdr Hary Sukartono, pembaca Banjarmasin Post.

quote : Tanjung Lingga yang Tak Terjamah
Sebuah ilustrasi gamblang tentang kegagalan total sistem hukum Indonesia menangani kejahatan hutan dapat dilihat pada aktivitas-aktivitas ilegal Tanjung Lingga Group milik Abdul Rasyid, terutama keterlibatannya dalam kasus tiga kapal yang mengangkut kayu curian yang berhasil dicegat oleh TNI AL pada bulan November 2001. Keterlibatan Tanjung Lingga dalam illegal logging di Tanjung Puting terdokumentasi dengan baik.

Tahun 1999, nama Rasyid tercantum dalam daftar 18 cukong kayu yang dituduh melanggar hukum oleh Departemen Kehutanan. Agustus 2000, sebuah kapal berbendera Panama, Progress A, milik Lingga Marintama anak perusahaan Tanjung Lingga, ditahan di lepas pantai Propinsi Riau, setelah kepergok mengangkut kayu meranti tanpa disertai dokumen yang diperlukan. Di bawah undang-undang kehutanan Indonesia tahun 1999,pengangkutan kayu secara ilegal dapat dikenai hukuman penjara hingga sepuluh tahun. Namun, kasus ini tidak pernah dibawa ke pengadilan dan kapal tersebut dibebaskan karena setelah penahanan tiba-tiba dokumen-dokumen pengangkutan muncul secara misterius. Oktober 2001, enam kapal ditahan di Pelabuhan Kumai, dekat Tanjung Puting,sedang mengangkut kayu ilegal. Salah satu kapal tersebut adalah tongkang Lingga Marine006, milik Lingga Marintama. Lagi-lagi, kapaltersebut dibebaskan setelah terbit ijin angkut.Selain mengangkut kayu secara ilegal, para direktur Tanjung Lingga terlibat dalam penganiayaan dan mengeluarkan ancaman serius terhadap dua anggota staf LSM EIA / Telapak
Above:
LinggaMarintama’sProgress A,seized offRiau carrying logswithoutdocumentation inAugust 2000.
Left:
Abdul Rasyid controls the Tanjung Lingga Group.unquote

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in manajemen and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s