Raja Ampat (1) – Sorong yang sudah maju

Hari Kamis 27 Desember 2012 jam 05:00 WIB pesawat Merpati yang kami tumpangi tinggal landas dari bandara Soekarno Hatta.
bandara-sorong
Jam 1400 WIT pesawat mendarat di airport Sorong. Bandara Dominik Eduard Osok. Kaget juga saya melihat kemajuan di  Sorong. Tidak jauh dari bandara Sorong, ada pangkalan ojek dengan pemuda-pemuda Papua berkulit legam dan berkaos kutung, duduk berlindung menjauh dari sengatan mentari. Nampak pula wajah-wajah dari etnis lain, yang berambut lurus-lurus seperti dari  Jawa, Makassar,  Ambon. Masyarakat Papua Barat mampu  berbaur harmonis. Lambaian tangan dan senyuman adalah signal adanya persahabatan.

Sorong itu Kabupaten Sorong Propinsi Papua Barat. Letaknya di kepala burung pulau Papua. Sorong yang saya kenal di tahun 1993-1997 tidak seperti Sorong sekarang ini. Dulu Sorong masih sebagai Kabupaten bagian dari Propinsi Irian Barat. Sekarang bagian dari Papua Barat.Tidak seorangpun dari manager di Barito Pacific Sorong menyebutkan tempat indah Raja Ampat. Padahal pak Setienven itu sering mampr ke kantorku di Wisma Antara di jalan Merdeka Selatan. Ya memang dimaklumi, karena Raja Ampat baru dikenal setelah National Geographic Edisi September 2007 menceriterakan keindahan alam bawah air nya yang luar biasa.

Kedekatan emosi saya dengan kota Sorong dimulai waktu saya menjadi Dirut di Humpuss Trading tahun 1993. Setiap bulan kapal tanker PT Humpuss Intermoda yang dikomandani Pak Subroto, eks IBMer, membawa methanol dagangan Humpuss Trading.  Komoditi yang diangkut adalah methanol sebanyak 2.000 MT kadang-kadang sampai 5.000 MT dikirim ke Pabrik plywood milik Barito Pacific, yang dimiliki oleh ImageTaipan Prayogo Pangestu. Selama 4 tahun, dari 1993 – 1997, pabrik plywood Barito Pacific menjalin kerja sama yang erat dan apik banget. Mereka kawatir, Humpuss Trading memberikan jatah methanol dibawah kapasitas pabriknya. Harga plywood tahun 1993-96 sedang bagus-bagusnya, yaitu FOB USD 400 per MT. Bandingkan dengan sekarang cuma berharga FOB USD 200 per MT kadang kurang. Salah satu sebabnya karena kayu logs Indonesia bagian timur dicuri besar-besaran oleh gerombolan bandit dan bajingan international yang dipimpin china-china dari Malaysia. https://gsumariyono.wordpress.com/2012/07/29/pencuri-kayu-dimpimpin-china-china-malaysia/  Pabrik plywood di China berkembang dengan pesat sejak 1998, sejak zaman reformasi. Bahan baku 100% dari Indonesia. Gila ga itu. Sesuai dengan MOU yang diteken oleh Soeharto dengan IMF. Antara lain eksport logs dibuka krannya, diturunkan pajak exportnya secara drastis. Membuat rakyat Indonesia gigit jari. Kalau dulu Prayogo, Bob Hasan dan siapapun yang berdagang plywood dan bergerak dibidang perkayuan itu sering disebut sebagai orang ‘jahat’ yang merusak hutan dan lingkungan, maka sekarang ‘orang asing’ itu jauh lebih jahat, lebih tamak, lebih berjiwa perampok. Saya mengulas di wordpress.com.   Orang kita belum apa-apanya dalam menggarong sumber daya alam.

Ustad Fadzlan GaramathanYang kedua, saya punya sahabat alumni ESQ dan saudara spiritual, namanya  ImageUztad Fadzlan Rabbani Al-Garamatan, asli orang Irian, berkulit gelap, berjenggot, kemana-mana membalut tubuhnya denghan jubah, tinggalnya di Fak-fak di Papua Barat. Sangat sering ke Sorong.  Markas organisasinya Al Fatih Kaafah Nusantara disingkat AFKN. Alumni ESQ yang sangat aktif dan kami dari ESQ sangat mendukung program beliau. http://jejakrina.wordpress.com/2011/12/13/berdakwah-di-papua-luaar-biasa-nikmatnya/ Sesudah lulus Sarjana Ekonomi, beliau lebih memilih untuk bekerja sebagai Da’i penyeru agama Islam. Uztadz Fadzlan memang dari keluarga Islam. Misinya ingin mengangkat harkat dan martabat orang Papua Fak-fak, Asmat, dan orang Papua lainnya. Beliau tidak sudi dan tidak rela orang Papua dibiarkan tidak berpendidikan, telanjang, mandi hanya tiga bulan sekali, berlumur lemak babi sepanjang masa, tidur dengan babi. Bagi Uztad Fadzlan semua itu adalah penghinaan. Penghinaan yang mengatas namakan budaya dan pariwisata. Beliau berjuang dan berdakwah untuk semua itu. 

Kali ini saya membawa 4 buah bola untuk olah raga sepakbola. Saya harap bisa dipakai untuk rekreasi anak-anak asuh Uztad Fadzlan di LK AFKN.

Raja Ampat adalah keajaiban. Keajaiban alam dan panorama dibawah laut.

Terkuaknya panorama alam bawah laut Raja Ampat yang tadinya cuma gugusan pulau yang sebagian besar tak berpenghuni dan kemudian menjadi perhatian dunia tak lepas dari kedatangan Max Ammer seorang petualang pemburu harta karun kelahiran Belanda yang besar di Nigeria. National Geographic edisi September 2007 mengulas tentang saat tahun 1990 Max ke Raja Ampat untuk memburu harta karun kapal dan pesawat yang karam pada masa Perang Dunia II. Max ini kemudian menjadi legenda Raja Ampat, karena melupakan niat awalnya akibat terpesona dengan keindahan alam bawah laut. Dia menjadi bagian penting dari konservasi lingkungan, melibatkan pemuda-pemudi lokal Papua untuk mencari nafkah sambil menjaga lingkungannya. Sayang kami tidak sempat bertemu dengan Max yang menurut warga Raja Ampat adalah orang yang paling tahu tentang wisata bahari Ampat.

 
Tahun 1998 Max melakukan penyelaman dengan didampingi Gerald (Gerry) Allen, seorang ahli perikanan dari Australia. Dalam satu kali penyelaman, Gerry terkejut karena menciptakan rekor menemukan dan menghitung 283 spesies ikan. Tahun 2002 hasil survey lembaga konservasi dunia Conservation International dan The Nature Conservation menemukan bahwa Raja Ampat memiliki 75% spesies karang dunia, yang tidak dimiliki tempat-tempat yang lain. Hal ini disebabkan karena Raja Ampat merupakan jantung dari segitiga koral dunia yang terletak di antara negara Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, Philippines, Solomon Islands dan Timor-Leste. Kondisi ini yang kemudian membuat para ilmuwan dan penikmat keindahan bawah laut menjadikan Raja Ampat sebagai sesuatu yang wajib dikunjungi. Terbagus, terbaik, terindah dan tidak ada duanya. Kepulauan Raja Ampat bisa ditempuh dari Halmahera lama perjalanan memang lebih lama. Tetapi lebih murah.
 
(bersambung)