Raja Ampat (6) – Wayag sebagai icon Raja Ampat

Nunuk Waluyo panik……

Nunuk Waluyo sahabat dan teman kerja di IBM sejak 1970-an, adalah seorang nenek yang masih cantik dan energetik yang mempunyai 5 orang cucu, yang usianya 2 tahun dibawah saya, dia panik karena kehilangan tas. Nunuk Waluyo panik..Dicari di kapal tidak ketemu. Dicari di mobil tidak ketemu. Sopir Avanza yang ditumpangi bilang sudah dikeluarkan dan dibawa ke kapal, mobilnya sudah kosong. Tidak ada tas yang ketinggalan. Wah kemana tas saya? Kata Nunuk yang wajah nya pucat. Beberapa teman peserta tur petualang Raja Ampat ikut membantu mencari tasnya Nunuk. Kata Nunuk, isinya tas adalah harta dia yang berharga, semua uang yang dibawa ada disitu, ditambah ada handphone, ada dompet berisi kartu kredit. Berkali-kali Nunuk bilang semua harta berharga ada di tas itu.

Jam sudah menunjukkan 07:30, sudah waktunya berangkat. Dan tasnya Nunuk belum nongol-nongol juga. Bang Ondo dan mas Ade paling sibuk, paling stress juga.  Aneh bin ajaib. Sesudah satu jam baru tasnya Nunuk ketemu di mobil lain, bukan yang ditumpangi Nunuk, terselip di kursi bagian tengah. Bukan ditaruh di bagian bagasi belakang, karena sudah penuh kata sopirnya. Saya bilang ke Nunuk, agar Nunuk segera ber infak dan bersedekah, untuk mensyukuri tas nya yang sudah kembali.

Kapal akhirnya berangkat jam 0830 lebih, dengan tujuan pertama ke teluk Kabui. Rombongan tur diajak naik pulau karang kecil menyerupai batu karang untuk pemanasan. Bukit gunung yang didaki tidak tinggi, dan pemandangan mirip di Wayag, hanya kurang sedikit gunung pulaunya. Trailnya tidak terlalu parah. ImageImageAda tangga yang diturunkan dari kapal. Saya tidak ikut pemanasan, menunggu dibawah sambil berfoto ria. Sebenarnya sekeliling kami sudah indah, sudah bagus, sudah memberikan kesan baik buat orang kota. Cuma kurang tinggi, makanya kami disuruh naik kebukit yang tidak terlalu tinggi.

ImageImageImageDari sejak meninggalkan Waisai, pemandangan lautnya yang biru, langit yang sangat biru dan pulau kecil kecil yang timbul diair seperti zamrud hijau, pohon nan hijau yang tumbuh dipulau….. sungguh sangat spektakuler. Subhannalah. Jepretan foto dari kamera semua peserta membuat suasana hening, sepi. Semua kagum. Semua tersihir dengan keajaiban yang indah. Semua memuji keindahan alam yang baru pertama kali dilihat. Yang pasti tidak ada duanya didunia. Halong Bay di Vietnam yang pernah saya lihat, bukan apa-apanya. Keindahan halong bay kalah jauh dengan kemolekan di Raja Ampat.

Tempat kedua kami mengunjungi Diving Centre, di PEF Island, miliknya gadis bule asal Switzerland bernama Maya, yang tingginya 1,8 m masih muda, masih gadis dan berparas OK. Di pulau PEF hanya ada 7 cottage, terbuat dari kayu dan atap daun pohon siwalan (lontar) dan dinding dari daun pohon siwalan juga. Di wilayah diving PEF island ini, kami dilarang memotret. Alasannya karena ini resort pribadi dengan tamu tamunya yang istimewa, orang kaya asal Eropa, orang berduit tebal yang tidak suka publikasi. Sampai Mei 2013, kata Maya cottage sudah fully booked. Harganya USD 3,000 per 6D/5N, hanya untuk makan dan tidur. Diving bayar lagi. Transport ke Sorong USD 200 bayar lagi. Gadis bule asal switzerland bernama Maya itu sendirian mengelola Diving Resort, disini ada restoran dengan harga sangat mahal, ada butik menjual kaos dan pakaian yang sangat mahal. Satu kaos harganya Rp 200.000.   Coca Cola Rp 30.000. Kopi trubuk Rp 20.000. Dalam sekejap dagangan kaosnya laku puluhan lembar, termasuk saya membeli satu.

ImageSepanjang perjalanan kami disuguhin pemandangan laut nan biru, langit nan biru dengan awan sedikit, daun yang hijau yang menempel di pulau kecil-kecil yang mencuat dari air. Air yang tenang tidak berombak. Luar biasa. 

Hari berjalan sangat cepat, tahu-tahu sudah jam 1300. Kami makan siang nasi bungkus pakai telor ceplok di atas kapal. Mesin kapal dihentikan diantara dua pulau yang selatnya sempit dan kedua pohonnya rindang. Arus air deras sekali. Nyali Nico yang bule, Thabrani yang selalu senyum, bang JH dan Firsta cewek IBM istrinya Nico, memang luar biasa hebat. Mereka berani terjun dari kapal ke air laut, dan berenang ke pinggir, padahal arusnya deras. Bang JH menemui hambatan di air, langsung bang Ondo nyemplung diikuti Yudi ABK dan menurunkan pelampung kapal untuk menolong bang JH yang keseret arus laut yang deras. Rupanya tidak apa-apa, bang JH memang sengaja istirahat di air untuk ngaso, katanya. Setelah puas berenang, rombongan meneruskan perjalanan menuju Wayag.

Wayag itu apa?

ImageImageImageWayag itu nama kepulauan, terdiri dari pulau kecil-kecil yang jumlahnya ratusan. Pemandangan di Wayag telah dijadikan icon foto promosi Raja Ampat. Ada satu pulau di kepulauan Wayag, namanya pulau Sayang. Dipulau Sayang ini didirikan camp oleh Pemerintah RI dengan partnernya LSM dari luar negeri. Di pulau Sayang ada 9 orang staf LSM yang tinggal disini. Setiap hari mereka harus melakukan patroli, untuk mengawasi keluar masuknya kapal-kapal. Kapal penangkap ikan dilarang keras masuk di area ini. Mereka akan diusir dengan ‘kasar’, kalau masih bandel akan di kirim ke pengadilan, kapalnya disita, orangnya langsung dimasukkan ke penjara. Kapal turis akan dichek izinnya. 

 Raja Ampat terletak di katulistiwa. Wayag terletakj di lintang utara 0 derajat sekian sekian sekian. Bang JH bisa menghitung melalui GPS Nokia.

Setelah 2 jam berlayar, disuguhin pemandangan yang spektakuler dan dahsyat, lihat kekiri dan kanan adalah gunung kecil-kecil yang mencuat ke udara dari dasar laut. Membuat pemandangan menjadi sangat indah. Wayag adalah icon nya Raja Ampat. ImageSampailah kami ke lokasi pendakian. Sebuah gunung tingginya 300 meteran, dengan kecuraman yang ‘berbahaya’ yaitu 45 derajat, kadang ada yang 60 – 70 derajat. Medan untuk naik sangat payah. Semuanya batu karang yang lancip-lancip, lagi yang tajam-tajam. Ada pepohonan yang kecil yang bisa dipakai sebagai pegangan yang membantu tangan untuk bertumpu. Saya memakai sepatu karet yang biasa. Baru dipakai mendaki 10 menit, kira-kira baru 30 meter, karet alasnya terlepas semua,karena lama tidak dipakai. Saya mengikat dengan tali rapiah yang saya bawa, tetapi tidak menolong. Ditengah jalan pemandu yang selalu mendampingi saya saya suruh untuk menarik agar terlepas. Untung masih ada lapisan kedua.

Untuk naik keatas saya harus memegang batu karang nan tajam tanpa sarung tangan. Kaki saya diarahkan oleh pemandu, melangkah keatas kekiri dan kekanan. Setapak demi setapak, selangkah demi selangkah. Napas saya cepat naik alias ‘krenggosan’. Berhenti 5 menit untuk mengatur napas. Lalu naik lagi 10 menit. Berhenti lagi 5 menit mengatur napas yang krenggosan. Sesudah sejam climbing di batu karang nan tajam, akhirnya saya sampai di puncak. Keringat saya bercucuran banyak sekali. Kaos yang saya pakai basah kuyub. Image

Kecapaian yang saya derita, terbayar dengan hidangan pemandangan Wayag. Inilah pemandangan yang menjadi icon Raja Ampat. Luar biasa indahnya. Luar biasa bagusnya. Keindahan nya sukar dan tak mungkin dituliskan, harus lihat gambarnya, harus lihat fotonya. Yang paling bagus ya datang sendiri dan melihat sendiri.

Bak zamrud hijau yang muncul dari laut nan biru. Air laut nan biru yang sangat tenang. Tidak ada ombak. Yang ada angin yang bertiup sangat lembut. Sangat sopan menerpa wajah saya yang basah kuyub oleh keringat.

Inilah puncak petualangan saya di Raja Ampat. Mendaki bukit karang nan tajam dengan kemiringan 45 derajat, bahkan ada yang 70 derajat. Risiko jatuh kebawah ada. Dan kalau jatuh pasti akan menderita luka berat. Semua peserta yang berjumlah 20 mampu naik keatas. Saya nomer 19 (no 2 dari bawah) dan Debby nomer 20 alias paling buncit. Tim dari Stalagmite Adventure dibantu ABK, dibantu juru masak, dibantu staf LSM CI semua turun tangan, semua bergerak menjaga dan menuntun kami agar selamat. Luar biasa.

Pemandangan dari puncak bukit Wayag pertama sangat spektakuler. Terlihat puluhan gunung kecil mencuat dari laut tidak beraturan. Indah sekali. Besok akan naik bukit Wayag yang kedua.

Turun dari puncak, relatip lebih mudah. Namun saya tetap didampingi oleh staf Stalagmite agar selamat dan membantu mengarahkan kaki. Bayangkan kemiringan dindingnya ada yang 70 derajat. Yang lain 45 derajat. Batu karangnya runcing, tajam, keras, mudah melecetkan kaki yang mulus.

Setengah jam sudah sampai di pantai. Langsung buka kaos dan berendam di laut untuk mendinginkan kaki dan badan.

Kacamatanya Cecile yang jatuh kelaut akhirnya bisa ditemukan. Setelah sore sekali, hampir magrib kapal kembali ke pulau Sayang, di pulau ini kami akan berkemah. Malam ini saya siap-siap untuk tidur ditenda. Kenyataannya semalaman saya tidak bisa tidur. Saya angkat sleeping bag dari tenda dan saya gelar di dermaga kayu disamping Thabrani. Masih juga ga bisa tidur, malahan ada rintik hujan kecil-kecil. Saya angkat kembali sleeping bag dan saya kembali ke tenda. Saya ambil Pop Mie kepunyaan Thabrani dan dapat air panas sisa minum sore tadi. Masih belum bisa tidur. Pemandangan malam di tenda nan sepi, hanya bunyi serangga dan nyamuk yang lumayan ada. Namun yang membuat ngeri adalah ada semut merah, atau semut api yang mengelilingi tenda. Satu dua sudah ada yang masuk kedalam, namun belum menggigit saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan-jalan dalam negeri and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s