Raja Ampat (8) – Raja Ampat memang luar biasa.

Raja Ampat (7) – Kisah di hari Minggu, 30 Desember 2012

01 raja ampat map, wayag ada diujung atas kiridari kantor Konservatorium di p Sayangp Sayang, 2 jam dari Waisai, paling ujungSaya blusukan masuk ke kantor LSM Raja Ampat, saya memotret map/gambar/data yang tergantung didinding. Saya pelajari bahwa lokasi p Sayang, tempat dimana kita berkemah rupanya terletak paling ujung dari Kabupaten Raja Ampat.  Wayag terdiri dari pulau, pulau, pulau dan pulau. Semuanya berukuran kecil mungil. Semua pulau-pulau kecil di Kepulauan Wayag tidak berpenghuni, bahkan tidak punya nama. Pulau Sayang juga tidak dihuni oleh penduduk asli Papua. Kosong melompong. Yang hilir mudik di perairan laut di Wayag adalah kapal speed boat yang dinaiki turis domestik dan turis asing. Jumlah speed boat dihitung dan dicatat setiap hari di white board didinding, oleh 9 petugas yang masih muda-muda. Saya sempat bertemu dengan mereka, dikenalkan oleh pak Husin dari LSM. 5 anak muda semuanya berkulit hitam, berambut keriting dan asli Papua. Anak muda ini bangga menjadi pegawai LSM CI yang tugasnya menjaga kelestarian di Wayag. Bukan main. Semangat mereka benar-benar masih bagus dan tulus.

Saya memotret rumah kayu yang berfungsi untuk kantor LSM, disebelahnya ada rumah kayu untuk tamu, dan dibelakang ada rumah kayu untuk tempat tinggal 9 orang pegawai LSM CI. Design rumah kayu exotik banget, modis dan indah sekali. rumah karyawan di p SayangSaya menjumpai ada 2 parabola yang terpasang. Ada panel untuk pembangkit listrik tenaga surya. Didalam keterbatasan sumber daya energi yang tersedia dan yang tidak dapat diperbaharui, energi surya di p Sayang menjadi pilihan utama. Saya tahu bahwa pembangkit listrik tenaga surya itu ramah lingkungan, hemat dan dapat diperbaharui. Tidak perlu batubara, tidak perlu diesel dan tidak akan mengeluarkan CO2. Biaya konstruksi rendah dan cepat selesai. Pemeliharaannya mudah, aman, tahan lama. Bla bla bla

Area pulau Sayang bersih sekali. Keasrian pulau terjaga, wisatawan dan tamu yang datang tidak boleh sembarangan membuang sampah. Pagi-pagi sudah ada yang menyapu mengumpulkan daun yang berjatuhan. Kami sarapan pagi dengan lauk mie rebus dan telur dadar. Kopi dan teh tersedia cukup untuk kita semua. Jam 4 pagi, saya melihat bahwa 2 tukang masak yang dibawa dari Hotel Waisai Beach telah bekerja didapur yang bersebelahan dengan tenda kami.

Setelah makan pagi, bang Ondo dibantu tim Stalagmite dan bang Iwan membongkar tenda. Udara p sayang pagi pagi sudah panas, benar-benar minta ampun panasnya.  Keringat saya bercucuran. Beruntung air tawar di pulau Sayang banyak, mampu memenuhi kebutuhan kita. Debby dan 8 temin-temin cewek menyewa bungalow, mereka tidak tidur ditenda. Mereka menyewa bungalow sejuta semalam. Bungalow yang diperuntukkan tamu yang datang ke p Sayang. Kebetulan kosong, jadi bisa dipakai. Saya tidur ditenda bersama thabrani. Tenda kedua bang JH, mpok cecile. Tenda ketiga Rosie, Nico, Firsta istrinya Nico. Tenda keempat cewek non IBM. Rupanya ada 3 cewek non IBM yang tidurnya didermaga, disebelah kapal Ugelan. Kenyataannya Thabrani, bang Ondo, mas Ade memilih untuk tidur di dermaga, beratap langit yang penuh bintang-bintang dan muncul bulan yang bulat penuh, yang purnama, karena pas tanggal 15. Suasana malam pertama di pasir sangat bagus, sangat exotik. Deburan suara ombak menambah syahdunya malam. Saya sangat menikmati suasana malam di pulau Sayang. Saya ketagihan. Kalau ada kesempatan saya akan kembali lagi melihat Wayag. Insya Allah.

Kapal meninggalkan p Sayang dan langsung menuju TKP Pendakian kedua. Medan nya sama, pulau batu karang yang mencuat ke laut, dengan ketinggian 150 meter, kecuraman 60 derajat sampai 70 derajat. a99a8Jarang ada pohon di pulau ini. Para pendaki berpegangan ke batu karang nan tajam, nan lancip dan tidak bersahabat, batu karang nan lancip dan tajam menjadi andalan utama agar bisa merangkak naik keatas. Saya dan bang JH serta mbak Elizabeth memilih menunggu di kapal. Hampir semua cewek memutuskan untuk naik bukit berbatu karang nan tajam dan runcing runcing. Semangat mereka dahsyat. Jiwa cewek cewek ini memang petualang sejati. Tidak terlihat rasa lelah setelah kemarin mendaki bukit di TKP Pendakian pertama. Beruntunglah pria yang bersuamikan mereka. Cewek cewek ini tahan banting. Mereka tidak cengeng. Mereka tidak lekas putus asa. Mereka berbadan sehat. Mereka gembira sepanjang perjalanan. Terus terang saya merasa malu, karena tidak ikut naik bukit batu karang nan tajam nan runcing yang kedua. Saya tahu diri. Saya masih lelah. Tenaga yang terkuras kemarin, di TKP pendakian pertama, masih belum bisa pulih 100%. Ditambah semalaman saya tidak bisa tidur. Ini yang membuat saya untuk tidak mengambil risiko. Andaikata saya bisa tidur, andaikata tenaga saya sudah pulih normal, saya pasti akan ikut naik bukit itu.

Setengah jam mendaki bukit kedua, satu jam diatas dan setengah jam turun kembali kekapal. Setelah selesai mendaki bukit karang nan tajam dan runcing, saya perhatikan cewek cewek ini tidak ada yang mengeluh capai, tidak ada yang mengeluh negatip, semua bilang bagus, semua bilang indah sekali, semua bilang luar biasa. Mereka berbicara akan saling tukar menukar foto sesampainya didarat atau sesampainya di Jakarta. Salut.. salut .. Ini benar benar srikandi zaman sekarang.ImageImageImageImage

Mbak Firsta, putri Solo,karyawan  IBM yang masih aktif, yang baru menikah dengan Nico setahun yang lalu pun terlihat riang gembira. Mbak Firsta ini jago berenang dan berani. Naik bukit nan runcing dan tajam sangat cepat sekali, dalam waktu 15 – 20 menit sudah sampai di puncak. Hebat mbak Firsta.Image

Udara tetap panas, diperkirakan suhunya 33 derajat. Kapal meninggalkan TKP Pendakian kedua menuju ke pulau yang paling ujung, yang tidak berpenghuni, karena kita akan berkemah di pulau sepi itu.

Pemandangan tetap bagus sekali. Wayag memang benar-benar icon dari raja Ampat. Foto-foto Wayag sudah pernah saya akses dari google dan dari you tube, sebelum ikut trip. Ya seperti inilah. Saya sungguh beruntung, saya sungguh bahagia mendapat kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri. Saya menjadi saksi bahwa pemandangan di Wayag Raja Ampat memang benar-benar spektakuler, indah dan dahsyat. Biaya yang keluar sebanding dengan yang saya dapat. Saya ketagihan, pengin ke Wayag lagi.

Kata bang JH, bahwa TKP pertama dan TKP kedua itu hampir sama. Kalau yang pertama lebih diluar kepulauan dan waktunya sudah agak sorean. Pulau pulau yang dilihat di TKP pertama lebih banyak dan hasil foto di TKP pertama pasti lebih bagus karena pencahayaannya mendukung sekali. Di TKP kedua, lokasi bukit lebih kedalam, pulau pulau yang di cover lebih sedikit, dan sinar matahari sangat terik sekali akan membuat hasil foto menjadi kurang bagus dibanding kemarin, terlalu banyak pencahayaan. Analisa bang JH ini benar sekali. Pinter juga bang JH ini ya dalam hal foto mem-foto.

Kapal Ugelan tetap ngebut di laut Wayag Raja Ampat. Anginnya keras sekali, suhu udaranya panas sekali, tidak bersahabat, tidak nyaman. Namun tidak ada yang mengeluh. Semua seperti tersihir menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Beruntung lah bang Odon membawa air minum 12 galon. Semua peserta petualang minum.. minum.. dan minum..sepanjang perjalanan.

Kapal menuju ke pulau yang ada penduduknya. Yana membagikan 50 buku tulis kepada anak-anak di pulau itu lewat Kepala SD. Saya membagi permen. Dan  cewek cewek lain membagi biskuit yang dibawa dari jakarta. Ramai dan meriah. Sesudah itu disambung acara berfoto ria bersama anak-anak papua yang sebagian tidak berpakaian, yang kulitnya hitam, yang innocent. Wajah yang masih belum terkontaminasi. Anak anak ini perlu ditolong. Anak-anak ini perlu dibantu. Dipulau itu hanya satu SD dan dua guru. Sekolahnya tandem dan bergantian. Saya langsung teringat Uztad Fadzlan, sahabatku asli Papua. Dia sekarang fokus ke pendidikan anak Papua. Sudah puluhan anak anak Papua diusung ke pulau Jawa untuk disekolahin. Banyak Organisasi yang membantu, antara lain Hidayatullah, ESQ, Husnayain. Puluhan bahkan ratusan anak Papua dididik di pesantren pesantren di seantero jawa. Beberapa yang pandai di beri beasiswa untuk kuliah. Sekarang hasilnya sudah mulai terlihat. Ada yang sudah S-1, bahkan ada yang sudah S-2. Subhanallah.

Ditengah perjalanan ke pulau Yeben kecil, ABK mancing dahulu. Luar biasa. Dalam waktu 10 menit satu ikan sudah didapat. a99b05a99b15Ukurannya besar beratnya diperkirakan 10 kg, namanya ikan mubarak (?). Ikan kedua dan ikan ketiga pun diperoleh dalam waktu singkat. Ketiga ikan akan disantap untuk makan malam. Satu ekor di gulai. Dua ekor dibakar.

Kapal akhirnya sampai di pulau Yeben kecil, pulau tidak ada penduduknya, kosong, sepi, pasirnya putih bersih jernih … masya Allah … bening sekali air lautnya, disitu kita berkemah. Ini kemah kedua. Tidak ada penduduk. Tidak ada cottage. Tidak ada bungalow. Jadi semuanya harus nginap di tenda. Jumlahnya tenda 5 biji. Ditepi pantai. Dipinggir hutan nan lebat. Tidak ada toilet. Kalau mau buang air besar tempatnya ya dipantai, digali dulu dan ditutup dengan pasir setelah hajat selesai. Alternative lain tidak ada. Secara mental cewek cewek kota ini sudah siap. Namun begitu melihat TKP, timbul keragu-raguan. Apa bisa? Apa sanggup? Kenyataannya bisa. Perginya ber rombongan bertiga atau berdua. sangat lucu dan sangat seru, pengalaman di hari tua.. ha..ha..ha…

Tim Stalagmite Adventure memang hebat. Mereka memasang tenda dari terpal warna biru dengan tiang kayu yang dipotong dari hutan, tenda terpal biru ini untuk tempat memasak nasi dan gulai ikan. Peralatan seperti kompor, panci, cabai, kecap, kopi, teh, termos, gelas, piring, sendok, air minum semua disiapkan di tenda biru. Lalu bang Ondo dibantu Astrid, memasang 5 tenda kemah nan hijau, yang akan dipakai untuk tidur.a99b26 Pak Husin, pak iwan menyiapkan perapian untuk membakar 2 ekor ikan yang barusan ditangkap. Ikannya besar sekali, beratnya diperkirakan 8-10 kg, butuh dua orang untuk membalik-balikkan ikan. Kayu bakar banyak, tinggal dipungut. Bakar ikan menjadi acara yang khusus. Bayangkan ada 2 ekor ikan besar dibakar dipantai nan sepi nan indah, disaksikan orang kota macam kita kita. Perpaduan alam laut, alam pantai, alam hutan,pasir putih nan bersih. Luar biasa suasananya. Tempat jemuran dibuat dengan memotong kayu hutan oleh Yudhi ABK  dibantu pak Iwan dan pak Husin. Setelah jadi tempat jemuran menambah eksotik. Wah.. hebat.. Sangat sensasional. Saya sholat dipinggir tenda nan hijau. Sampai menitikkan air mata, melihat kebesaran Allah SWT. Melihat sendiri ciptaan Allah, yang tidak ada bandingnya. Semua ciptaan Allah menyatu, saling menunjang dan tidak ada yang merusak. Subhanallah.

Panorama sunset juga luar biasa indahnya. Kami benar-benar tersihir dengan suasana yang spektakuler, yang dahsyat, yang indah, yang eksotik, yang sensasional. Saya kehabisan kata-kata tidak mampu menggambarkan suasana di pulau Yeben.

Etelah gelap, mesin gen set kecil yang dibawa mulai dihidupkan. Suaranya keras, tidak indah, tidak selaras dengan alam, tidak nyaman. Namun kita semua butuh penerangan, mau apa lagi. Ya nrimo dan menyerah saja. Dari pada gelap, maka kita semua men-tolerir suara genset Yamaha yang kecil ukurannya tetapi gemuruh dan kasar suaranya.

Makan malam bersama di tepi pantai diiringi suara genset. Saya memperhatikan wajah-wajah yang ceria, yang gembira terpampang di semua peserta. Kami duduk di atas tenda biru yang digelar dipasir nan putih ditepi pantai. Nasi yang panas, ikan bakar yang pedas dan harum dan gulai ikan yang berkuah dan pedas, membuat saya merasa muda. Hilang lenyap rasa lelah. Yang ada gembira, happy dan sangat menikmati suasana. Rasa daging ikannya manis. Dicocol dengan kecap, cabai dan tomat …hem … sempurna… Satu ekor ikan bakar tidak bisa habis. Masih ada satu ekor ikan bakar yang masih utuh, belum dimakan. Kita semua kenyang, senang dan gembira. Ditutup dengan minum kopi, minum teh. Luar biasa.

Acara sebelum tidur adalah main gaplek. Saya tidak ikut main gaplek. Saya memilih masuk ketenda, untuk mencoba tidur, karena malam sebelumnya saya sama sekali tidak bisa tidur. Saya harus menjaga kondisi badan saya, agar jangan sakit. Maklum faktor usia. Saya yang paling senior di rombongan ini, disusul bu Elizabeth, lalu Nunuk Waluyo dan bang JH. Ke-empat orang ini usianya sudah kepala 6.OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERAIMG-20121229-00281_DSC9330

_000_DSC9400 _000_DSC9402 _000_DSC9415  Anak-anak Papua Barat di Raja Ampat yang memerlukan pendidikan. Kontras sekali. Mereka hidup diatas tanah yang kaya akan sumber daya alam. Namun kesejahteraan belum menyentuh ke mereka. Hayo kawan. bantu mereka.  ..(bersambung)

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan-jalan dalam negeri and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s