Raja Ampat (7) – Kegiatan LSM di pulau Sayang.

Pulau Sayang tidak berpenghuni. Terletak di paling ujung arah ke barat dari kabupaten Raja Ampat. Lokasinya sangat remote, sangat terisoler, sangat sepi. Butuh waktu 5 jam untuk ber speed boat dari Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat menuju pulau Sayang. Ada 9 anak muda yang tinggal di pulau Sayang. Mereka staf karyawan LSM yang menjaga pulau Sayang dan sekitarnya agar tidak dimasuki kapal penangkap ikan. Ada fasilitas berupa rumah  kayu untk kantor LSM CI, untuk tempat tinggal 9 orang staf LSM CI dan masih ada 1 bungalow untuk tamu LSM CI, dari kayu yang eksotik dan sangat menawan dibuat dari kayu yang indah sekali. Artistik sekali. Ada 2 parabola, ada lapangan voli, ada genset yang besar, ada 2 speed boat untuk tugas mengawasi Kepulauan Raja Ampat. Karena pas tidak ada tamu, maka bungalow itu disewa oleh ibu-ibu mbayar sejuta rupiah. Lumayan ibu-ibu 9 orang dipimpin Debby tidak tidur di tenda yang dipasang di lapangan voli. 

Di dermaga pulau Sayang banyak ikan yang sedang besarnya dan jinak, ada juga saya lihat 3 ekor ikan hiu seukuran lengan laki2 yang berenang diantara ikan jinak, karena makanan roti dan indomie yang ditebarkan oleh kami. Pantainya… wahhh indah sekali, warna putih nan bersih, tidak ada kotoran, tidak ada sampah plastik, tidak ada kotoran lain. Air yang bening nan jernih menggoda kita semua untuk berenang atau sekedar nyemplung mendinginkan badan dan kaki yang kepanasan.

01 raja ampat map, wayag ada diujung atas kiridari kantor Konservatorium di p Sayangmap p Sayang, Wayag, Raja Ampat IMG_461205b arus dibawah deras, tetap turun untuk snorkeling, dijagainQuote: Sebanyak tujuh buah kapal ikan ilegal asal Halmahera, Maluku Utara, mencuri ikan hiu secara ilegal di perairan Pulau Sayang, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Terjadi bulan Mei 2012. Mengapa ? Itu terjadi karena mereka menganggap Pulau Sayang bagian dari Maluku Utara padahal itu masih bagian dari daerah teritorial Kabupaten Raja Ampat.

Melihat pelanggaran itu, Sekretariat Bersama Forum LSM, seperi CI,TNC, dan WWF. Yang beroperasi di bentang kepala Burung menyurati Gubernur Papua Barat Abraham O Atururi, untuk menindak tegas para pelaku pencurian ikan secara ilegal itu, Rabu (2/5) mengirim surat yang ditandatangani Pieter Wamea selaku Partnership BHS dan DR. Karel Philip Erari selaku senior Marine Policy dan Adviser CI, TNC, dan WWF menyatakan Pulau Sayang merupakan bagian dari wilayah Kawasan Konservasi Perikanan Nasional KKPN) Kawe, yang tidak boleh diganggu gugat untuk dilakukan penangkapan secara ilegal tanpa izin.

Bulan mei 2012 yang lalu, masyarakat adat Kampung Selpele Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, bersama aktivis lembaga swadaya masyarakat dari Conservasi International (CI) serta tim patroli TNI Angkatan Laut menangkap tujuh kapal berisi 33 nelayan yang mencuri biota laut secara ilegal di Pulau Sayang, Kabupaten Raja Ampat.

Pelaku dibekuk saat beroperasi pada kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN) Waigeo Barat, Taman Nasional Raja Ampat.

Menurut keterangan Advision Senior Marine Policy CI, TNC, WWF (tiga LSM internasional yang berkolaborasi dalam program konservasi bentang laut kepala burung), Phil Erari, kapal itu diketahui membawa udang lobster, teripang dan hiu yang sudah diambil siripnya. “Mereka juga membawa dua unit kompresor selam, longline hiu atau tali rawai,” kata Erari.

Tujuh kapal itu terdiri dari satu kapal ikan asal Buton, dua kapal ikan dari Sorong, dan empat kapal ikan asal Kampung Yoi, Halmahera.

Aktivitas pelaku mulai tercium tim Patroli pada 28 April 2012. Saat akan ditangkap, kapal-kapal ini sempat mengintimidasi kapal Tim Patroli dengan cara menjepit speed Patroli Kawe. Pasca insiden itu, Tim Patroli Kawe kemudian melaporkan ke kantor CII (Conservasi Internasional Indonesia) di Sorong melalui email, dan diteruskan ke Angkatan Laut di Waisai, Raja Ampat.

Pada 30 April 2012 pagi, petugas patroli Pos Angkatan Laut Waisai bergerak ke KKPN Waigeo Barat dan menangkap ke tujuh kapal ikan di Pulau Sayang. Seluruh dokumen kapal, alat- tangkap dan hasil tangkapan disita sebagai barang bukti untuk dibawa ke Waisai. Unquote. Sumber: Conservation International Indonesia.

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in jalan-jalan dalam negeri and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s