Husnayain III (1) – kisah awal berdirinya pesantren

galib MasudKisah ditulis oleh Uztad KH Galib Mas’ud Pimpinan Pesantren Husnayain III Salulebbo Mamuju Sulawesi Barat. Atas izin pak Uztad Galib kami me-load kisah ‘un told story’ ini ke weblog kami di wordpress.com.  Semoga pahala amal terus mengalir ke Bapak Uztad, didunia dan nanti di akherat.  Semoga Allah selalu melindungi pak Uztad Galib Mas’ud sekeluarga Amin.

.

Judul asli : 

.

AWAL PERJUANGAN MENUJU HEAVEN bagian 1 of 2

Peta_Sulawesi_Barat

.

Semuanya berawal ketika aku sakit Lever yang akut …. ada sebuah nazar …. “Ya Allah … jika nanti kau beri aku kesempatan dan kesehatan … saya siap mengabdikan hidupku untukMU” ….. enam bulan lamanya saya tak mampu berinteraksi dengan perut besar dan buncit …. mencium buah hatiku “Niina Asrina Galib” saja tak diperbolehkan oleh dokter Nico yang merawatku …. ada rasa frustasi ketika itu meskipun kegelimangan materi tercukupkan ……

.

Subhanallah …. wal hamdulillah ….rupanya do,aku terkabulkan …. perlahan kesehatanku pulih dan menyusul kemudian putri keduaku “Ainun Galib” telah lahir ….. sejak saat itu ….. nazarku mulai terngiang seakan menagih janjiku yang terhutang ….. kucoba mengumpulkan kembali kawan2ku alumni Gontor dalam wadah IKPM Gontor di Makassar (saya adalah perintis dan pendiri IKPM Gontor Cabang Sulawesi Selatan) untuk membincangkan niat dan nazarku …… gayungpun bersambut … kawan2 memberiku mandat untuk pendirian sebuah Pesantren berafiliasi Gontor di Sulawesi Selatan …

.

Awal 1999, perjalanan pun kumulai …… pejabat pejabat terkait juga tak luput kutemui dan bernegoisasi (termasuk Syahrul Yasin Limpo sepupuku yang kala itu masih Bupati Gowa) …… kebuntuan kebuntuan bukannya tak ada … Bupati Gowa merekomendir lahan strategis di hamparan Desa Biring Ere Tinggi Moncong …. namun yang menjadi kendala adalah tidak ketemunya ide ini ditataran alumni Gontor kawan2ku ….

.

Dimedio tahun 1999 …. saya mendapat telepon dari kerabat istriku (Muhammadia ) yang menjadi staf Transmigrasi di Mamuju …. selain mengirimkanku buah Durian … juga mengundangku berkunjung ke Mamuju (sebuah daerah kala itu menjadi daerah pembuangan PNS nakal di Sul Sel) …. bagiku ketika itu … mamuju adalah daerah antah berantah yang ramai dibicarakan buaya yang ganas maupun ular ular raksasanya ….. sehingga tak sekalipun terfikir olehku untuk tertarik mengunjunginya …. beberapa kali Muhammadia tak bosan menelfonku … dan akhirnya … atas desakan istri saya pun tekadkandiri berangkat ke Mamuju ….

.

Perjalanan kumulai pagi hari (tak tau kalau ke mamuju kala itu ada Bis Malam) yang membuatku kalang kabut gonta ganti mobil hingga sampai di Kota mamuju di malam hari …. setelah dua hari tiba di Kota mamuju … Muhammadia dan istri mengajakku ke lokasi tempatnya bekerja di Desa Trans Tobadak IV Kecamatan Budong Budong saat itu …. tak ada yang kulakukan di Tobadak selain hanya mengaji sepanjang hari dan malam …. rupanya hal tersebut membuat tokoh masyarakat setempat tertarik … sehingga kemudian mendaulatku untuk Khotbah Jum’at di Masjid Tobadak IV ….. disinilah berawal …. entah apa yang menarik dalam khotbahku ………dan sepulang Khotbah Jum,at beberapa tokoh Masyarakatpun (diantaranya Sukardin Arsyad Asty Al-Nufy) menemuiku dan berdiskusi sepanjang hari …. dari soal politik, ekonomi sosial, pendidikan hingga keterbelakangan ummat Islam di pedalaman Mamuju menjadi topik pembicaraan dan tentunya saya menjadi narasumber tunggal (mungkin karena saya Sarjana Hukum dan pernah menjadi aktifis HMI he he ) …..

.

Dalam diskusi yang panjang dan ber hari hari (selama sepekan) berakhir dengan sebuah kesimpulan … Masyarakat Tobadak dan sekitarnya membutuhkan lembaga Da’wah yang mumpuni untuk membentengi diri dan generasi muda dari penetrasi budaya barat dan mengimbangi arus kristenisasi di Mamuju (maklum ..penduduk Transmigran di Mamuju antara Ummat Islam dan Kristen persentasenya berimbang) … terlebih lagi bahwa missi kristenisasi di Kawasan Transmigrasi itu massiv dan punya donasi yang kuat dari luar negeri ….. dan pilihan utama adalah “Pesantren” …. maka ditunjukkanlah lokasi yang luas utara rumah Pak Muhammadia (kini menjadi lokasi Pasar Tobadak IV) ………… (bersambung ………)

 .

AWAL PERJUANGAN MENUJU HEAVEN,  bagian – 2 0f 2

.

Sepekan rasanya sangat singkat di Tobadak IV …. sungguh banyak hal yang dapat kupetik disini ….khususnya kondisi Ummat Islam di daerah terpencil seperti Tobadak dan daerah terpencil lainnya …. ketika segera saya akan meninggalkan desa ini …maka berdatanganlah masyarakat membawakanku barang untuk oleh oleh … bertandan tandan pisang, lima karung durian, langsat, jeruk nipis hingga berliter liter cabe dan tomat …. he he (bisa dibayangkan repotnya membawa pulang) …. sebelum kuberanjak pulang …. selentingan kudengar info bahwa diseberang Sungai Budong Budong (2 kilometer dari Tobadak IV) sedang dibangun sebuah Pesantren oleh sebuah Perusahaan Besar yang berpusat di Jakarta …. ah saya coba tak bergeming …. selain waktu yang mepet mau pulang ke Makassar juga saya dan masyarakat Tobadak IV sudah satu tekad membangun Pesantren di Tobadak IV sehingga tak cukup waktu untuk mendiskusikannya …..

.

Alhasil ….. setelah perjalanan panjang selama dua hari …dengan melewati jalan kebun Sawit milik Astra Agro Lestari, yang berlumpur …. kurang lebih ada 20 jembatan putus ….akhirnya tiba di Makassar dengan selamat …

.

Gerilya pun dimulai ….. beberapa tokoh senior Alumni Pondok Modern Gontor di Makassar pun kutemui …. diantaranya Prof. DR H. Abdurrahman A Basalamah, Prof. Azhar Arsyad, pengusaha Baharuddin Abu dan lainnya … semua meng amini dan setuju niatku dengan masyarakat Tobadak IV sebagaimana saya paparkan …..

.

Sepekan sepulang dari Tobadak IV …. kh kholil ridwan 01secara kebetulan saya ketemu Alumni Gontor di Dinas Kehutanan Prov Sul Sel bernama KH. A. Kholil Ridwan Lc (Seorang Aktifis Dewan Da,wah Pusat dan salah satu Ketua MUI Pusat) ditemani seorang manager Perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) besar bernama Waspodo Salamun …. pertemuan tak sengaja ini berbuah keseriusan…… karena rupanya Pesantren selentingan yang saya dengar jelang pulang itu adalah ternyata dirintis oleh beliau …… dan niat saya dengan Masyarakat Tobadak IV pun telah terdengar kencang oleh beliau …. dan atas niat tersebut juga membuat Pak Kyai dan Pihak Persahaan besar itu cukup galau ….. saya pun diundang bertemu serius dengan beliau di Hotelnya untuk membicarakan hal ini ….

.

Malam harinya …. saya pun datang menemui KH. Kholil Ridwan …ada 3 jam dialog ini berlangsung ….ada tarik ulur oleh beliau untuk menghentikan niat saya ini karena beliau bersama PT Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Rante Mario yang di nakhodai Bapak Gufron Sumariyono saat ini sedang membangun Pesantren di areal HPH Rante Mario di Salulebbo dan Pesantren ini adalah afiliasi dari Pesantren Husnayain milik Pak Kyai yang ada di Jakarta dan Sukabumi ….. saya pun tak serta merta menerima ajakan Pak Kyai … karena saya masih terikat janji dengan masyarakat Tobadak IV … terlebih lagi karena saya telah mengantongi restu senior alumni Gontor di Makassar …. akan tetapi saya juga tak menutup diri dengan Pak Kyai …. saya pun saling bertukar nomor telpon dan berjanji untuk tetap berkomunikasi … … Bersambung …. judul baru : IN REAL in Heaven at Salullebo.

.

·        

 

RREAL IN HEAVEN (bagian 1 of 5)

.

·         by. Ghalib Mas’ud

 

.

Usai diskusi 3 jam bersama Pak Kyai Kholil Ridwan di Hotel Imperial Makassar tak serta merta menggoyahkan niatku mendirikan Pesantren di Desa Trans Tobadak IV ……. setidaknya ada tiga alasan kenapa hal tersebut saya pertahankan ….

.

Pertama, bahwa komitmen saya dengan masyarakat Tobadak tak dapat dianulir begitu saja ……

Kedua, bahwa saya telah mendapat restu dari kawan-kawan Alumni Gontor yang ada di Makassar dan bahkan Afifuddin Fattah (saudara sepupu Jusuf Kalla) siap mem back up material dan meminjamkan beberapa Dump Truk nya yang telah ada di Karossa …..

Ketiga …. saya terhenyak setelah mengetahui bahwa Pesantren yang sementara dibangun Pak Kyai bersama Perusahaan besar dari Jakarta itu (PT HPH RANTE MARIO) adalah merupakan bagian dari HUMPUSS GROUP milik Tommy Soeharto …. Humpusstommy- dan gufron 01Asumsi saya … bahwa saya ini adalah mantan aktifis Mahasiswa (HMI salah satu Pergerakan Mahasiswa terbesar di Indonesia) yang cukup apriori dengan rezim Soeharto ketika masih menjabat Presiden …. dan karena Tommy Soeharto adalah putranya (dibaca kroninya) tentunya ada hubungan langsung dalam pengembangan usahanya yang menggurita itu …. .

.

Kekhawatiran utama saya adalah idealisme saya bisa luntur dan dicemooh kawan kawan se pergerakan dengan bergabungnya saya dibawah payung HUMPUSS …… Tomi 1

.

Bapak Kyai Kholil Ridwan tak hentinya menelpon saya ….. berusaha meyakinkan saya tentang kondisi riel dan niat suci Direktur Utama PT. Rante Mario Bapak Gufron Sumariyono dalam pendirian Pesantren di areal HPH (Hak Pengelolaan Hutan) yang dikelolanya …… dan karenanya saya diminta untuk menemui General Manager PT. Rante Mario di Tallo Makassar (Waspodo Salamun ) yang dulu berjumpa bersamanya di Kantor Kehutanan …..

.

Dengan menghormati saran Pak Kyai Kholil Ridwan …. sayapun meluangkan waktu berkunjung ke Kantor PT. Rante Mario di Makassar ….. secara panjang lebar Pak Waspodo menjelaskan ide Pendirian Pesantren yang diberi Nama “HUSNAYAIN” dan konon bertempat di Kawasan HPH Salulebbo ….. gambaran apa dipaparkan Pak Waspodo tersebut tentu tak menggoyahkan niat saya sebagaimana ketiga alasan saya sebelumnya ………… Entah Pak Waspodo telah berkomunikasi dengan Pak Kyai Kholil Ridwan sebelumnya ….. saya pun ditawari berkunjung ke areal Pesantren tersebut mendampingi Pak Kyai yang akan datang dalam waktu dekat ……. sayapun tak menolaknya dan juga belum menerimanya karena tentu juga saya harus konsultasikan dengan istri saya ……..

.

Kepulangan saya dari Kantor PT Rante Mario membuat saya galau ….. telpon Pak Kyai Kholil Ridwan dari Jakarta tak henti membujuk saya untuk sekedar berkunjung ke Mamuju (Salulebbo) …… akhirnya setelah berkonsultasi dengan istri ….. kuputuskan untuk ikut mendampingi Pak Kyai Kholil Ridwan ke Mamuju dengan catatan hanya mendampingi ……. Bersambung …. What Next in Heaven ….??????

 

 

.

IN REAL IN HEAVEN, bagian 2 of 5

.

08.

Bulan Juni 1999 ………….. Pak Kyai Kholil Ridwan di dampingi Pak Hanief AR (Staff khusus Dirut PT HPH Rante Mario) pun telah tiba di Makassar dari Jakarta … saya pun dikontak untuk siap-siap berangkat ke Mamuju karena diperkirakan perjalanan pulang pergi memakan waktu seminggu …… pada waktu yang telah ditentukan …. saya, Pak Kyai Kholil, Pak Hanief dan seorang driver yang telah dipersiapkan oleh pihak Perusahaan berangkat ke Mamuju ……

.

Dua hari dua malam perjalanan dari Makassar ke Camp Rante Mario di Salulebbo, menginap semalam di Majene ….. Istirahat di Desa Tobinta, area Log Pond HPH Rante Mario ……

.

Dalam rentang waktu yang panjang, jarak dari Makassar ke Tobinta kurang lebih 600 kilometer, tentu sangat melelahkan … akan tetapi karena sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang indah nan hijau, maka kelelahan bisa kami tepis ….. dan sudah tentu terjadi pula dialog yang panjang antara kami bertiga …. disinilah Pak Kyai dan Pak Hanief cukup banyak menjelaskan tentang ide pendirian Pesantren di Areal HPH …..

.

a01abIde ini bersumber dari Pak Gufron Sumariyono , Direktur Utama PT HPH Rante Mario, Pak Gufron mengenal pak Kholil, dan ingin memajukan umat Islam di Salullebo yang ketinggalan. Tataran tersebut akhirnya mengerucut menjadi ide Pendirian Pesantren di Areal HPH Hutan Rante Mario di Salulebbo Kabupaten Mamuju, dimana saat itu masih termasuk wilayah Sulawesi Selatan, dan dimana pak Gufron menjabat sebagai Direktur Utama PT Rante Mario. 

.

Berdasarkan penuturan Pak Kyai Kholil …. bahwa ide mendirikan pesantren di Salulebbo tersebut, oleh kawan kawannya pak Cholil di Jakarta baik yang aktif di Dewan Da,wah maupun yang tergabung di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, ditanggapi sebagai ide yang irrasional. Yang tidak masuk akal. Yang nyleneh. Lah siapa yang akan menghuni, jadi santri, dan siapa pula yang akan mengajar di tengah hutan ….??? timpal mereka …… 01a diameter 2 meter..01Kegalauan yang timbul tersebut tidak menjadikan nyali Pak Gufron dan pak Cholil ciut. Pak Gufron mengundang pak Pak Kyai Kholil berkunjung ke areal HPH Rante Mario di Salulebbo , Mamuju dan agar secara langsung melihat aktifitas para pekerja di hutan dan masyarakat disana. Dan karenanya Pak Kyai pun terlecut menerima tawaran dan ide Pak Gufron ini …….

.

Singkat cerita …… setibanya kami di Desa Tobinta ternyata persiapan penjemputan telah matang disiapkan …. Mobil Taft 4×4 WD telah terpajang depan Kantor Log Pond Tobinta,  sebagai pengganti mobil Fanther yang kami tumpangi dari Makassar ……. sebenarnya memang timbul pertanyaan …. kenapa Mobil harus diganti ……?????? setelah meninggalkan area Log Pond di Tobinta dan baru sekitar 3 kilometer beranjak kitapun sudah berhadapan dengan tanjakan yang tinggi ….. jalan yang kami tempuh menuju Salulebbo ternyata bukan jalan umum …. tetapi sebuah jalan khusus HPH yang dibuat Rante Mario, untuk menurunkan logs yang besar dari atas gunung ke pantai Tobinta. Jalan yang berbahaya, jalan yang tanpa aspal, hanya batu kerikil yang ditaburkan. Khusus dibuat untuk trailer dan  kendaraan type 4×4 ….. dan mempunyai peraturan tersendiri …..

.

Perjalanan dari pantai Tobinta, log pond nya Rante Mario menuju  ke Salulebbo, suatu lembah ditengah hutan belantara nan perawan nan lebat, menempuh waktu selama satu jam lebih, jaraknya 30 km,  dengan melewati tebing tebing, lembah-lembah , tanjakan yang tinggi, turunan yang tajam, berkelok kelok dengan diselingi hutan yang lebat dan jurang jurang yang sangat dalam (Punggung burungpun terlihat dari Mobil he he) …… sungguh sebuah perjalanan yang penuhmoulding logs sebelummoulding Malaysia_-_Kedah2 tantangan tapi mengasyikkan

. diperjalanan ini sesekali kami berpapasan dengan mobil Logging (Baru pertama kali melihat) yang memuat kayu yang besar yang panjangnya bisa 15 meter dan berdiameter 100 sampai 200 cm ….. saya sesekali hanya berdecak kagum melihat pemandangan ini sembari ketar ketir melihat kelincahan driver menyetir mobil …. Tiba di Camp Pusat HPH Rante 09Mario di Salulebbo jelang magrib setelah mobil berenang di Sungai Salulebbo nan jernih …… kami disambut Manager Camp PT Rante Mario Ir. Muhammad Rakhmat dan Ir. Hajri (Kabid Persemaian) …..

.

Sekali lagi saya tercengang ….. saya melihat Kota ditengah Hutan yang lebat ….. gemerlap lampu yang terang benderang dan banyak manusia yang berlalu lalang (Karyawan PT. Rante Mario ketika itu ada lebih 300 orang) ….. kami pun ditempatkan di Mess yang lebih mirip Bungalow yang berfurniture mewah …. lalu timbul pertanyaan dalam hatiku ……….. dimanakah sebenarnya Pesantren itu …..?????         bersambungcolil ridwan


.

IN REAL IN HEAVEN, bagian 3 of 5

oleh Galib Mas’ud

rante mariorante mario01

.

Setelah kami bersih bersih badan, makan dan ngobrol dengan Manager Camp dan jajarannya ….. kamipun diantar ke Pesantren yang berjarak 2,5 kilometer dari Camp Pusat di Salulebbo …. kami di sambut 16 Santri pertama yang baru direkrut sebulan lalu dan didampingi Ustadz Muhammad Natsir dan Ustadz Ichdam Nuramin dari Sukabumi serta Kader Pak Kyai yang magang di PT Rante Mario saudara Fauzan Zn dan Muhammad Yunus ….. tak banyak kami lakukan malam ini … hanya bersalam salaman dengan Santri dan Ustadz dan kami pun istirahat di Camp Pembinaan Hutan (Binhut) yang berhadapan dengan Pesantren ……

.

Subuh hari …. usai Sholat subuh dan halaqah Pak Kyai dengan Santri …. dan bersamaan dengan mulai terbitnya matahari …. saya tercengang dan kagum melihat lokasi Pesantren ini ….. sungguh hatiku bergumam ….. inilah tempat yang ideal buat persemaian anak bangsa dan ummat ….. lokasinya berada di kaki hutan Salulebbo yang sejuk …. diapit Sungai Budong Budong dan Sungai Salulebbo yang sangat jernih …serta bangunan bangunannya berada dibawah pohon pohon yang rimbun … saya sedikit terusik …. terlebih saya punya komitmen dan janji dengan masyarakat desa Trans Tobadak IV beberapa bulan lalu ….. saya mencoba menelusuri area Pesantren yang dicadangkan PT Rante Mario ini seluas 6 hektar (Termasuk Binhut) … saya temukan areal persemaian yang mirip kebun Raya Bogor di bagian belakang … ditengah ada Arboretum (Hutan buatan) yang lebih dari seribu Pohon asli Mamuju ditanam Perusahaan beberapa tahun silam …. dan dibagian depan terletak bangunan bangunan Pesantren yang terbuat dari kayu (Masjid, ruang kelas, Asrama serta rumah Ustadz ) …..

.

Semuanya masih baru dan asri ….. sekali lagi saya berdecak kagum dan salut buat Pak Gufron Sumariyono atas ide dan ikhtiarnya ini …. Usai sarapan Pak Kyai Kholil Ridwan mengajakku diskusi dan memintai tanggapanku tentang Pesantren ini dan sudah barang tentu mendesakku dan atau mencoba merayuku menerima amanah memimpin Pesantren ini ……. tentu saja harapan Pak Kyai tak dapat kupenuhi karena komitmen dan janji saya pada masyarakat Tobadak juga menjadi hutang saya ……

.

Pak Kyai pun menjelaskan bahwa Pesantrten ini kelak tetap akan memakai kurikulum Gontor yang juga tentu identik dengan rencana saya membangun Pesantren di Tobadak IV …. “bukankah ini mubazir ” timpal Pak Kyai …… saya pun terhenyak …. apalagi Pesantren Husnayain Salulebbo juga oleh Pak Gufron diperuntukkan untuk masyarakat Mamuju dan sekitarnya …… disela kebingungan akan kebenaran yang dilontarkan Pak Kyai ini beliaupun memberi solusi sambil berucap ” Pak Galib ….. bagaimana kalau Pak Galib segera menyeberang ke Desa Tobadak IV dan menemui Tokoh masyarakat disana dan menyampaikan kedatangan saya (Pak Kyai Kholil) dan siap berceramah Tabligh Akbar dalam kapasitas saya sebagai salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ” ….. ditambahkan oleh Pak Kyai Kholil …. pada kesempatan tersebut saya akan jelaskan ke masyarakat Tobadak IV bahwa pendirian Pesantren Husnayain Salulebbo tak ada perbedaan dengan apa yang diikhtiarkan Pak Galib dengan masyarakat Tobadak (karena kami sama Alumni Gontor)…. dengan demikian maka kita bisa menyatukan ide ke Salulebbo terlebih di Salulebbo sudah tersedia sarana dan prasarananya ….. lama saya terdiam dan terpaku (teringat komitmen dengan masyarakat Tobadak) ….. tapi karena desakan Pak Kyai sangat kuat disertai argumen yang bisa meluluhkan perasaanku …saya pun bersedia menyeberang ke Tobadak IV …….. siangnya ….

.

Dengan disertai karyawan Binhut PT Rante Mario (Firman Mappiasse) saya pun menyeberang ke Tobadak IV dengan naik motor dengan didahului naik Perahu menyeberang Sungai Budong Budong (sebuah pengalaman baru) dengan dikayuh tongkat ….. setelah melalui jalan tikus dihutan serta sela sela kebun coklat kami pun tiba di rumah Pak Muhammadia (Dayat Chipaz) dan menjelaskan kondisi ini ….. ada saya lihat kekecewaan dari Pak Muhammadia tapi tetap bisa menerima penjelasanku …. beliaupun segera mengumpulkan Tokoh Masyarakat yang sebelumnya membuat komitmen pendirian Pesantren di Tobadak IV dengan saya …. kami berdiskusi panjang lebar ….. dialog terjadi Pro dan kontra ….. mungkin karena bekal sebagai mantan aktifis kampus …

.

Alhamdulillah apa yang saya jelaskan diterima baik Tokoh masyarakat Tobadak IV dan bersedia melaksanakan even Tablgh Akbar di Tobadak IV dua hari kemudian dengan penceramah tunggal Pak Kyai A. Kholil Ridwan Ketua MUI Pusat dan aktifis Dewan Da’wah dari jakarta ….. Masyarakat Tobadak IV tentu bergembira … karena sosok Pak Kyai Kholil tidak asing bagi mereka karena sering tampil ceramah di Televisi Swasta nasional …. sorenya … kondisi ini saya ceritakan kepada Pak Kyai yang ternyata juga menanti informasi dari saya ………. BERSAMBUNG ……..

 

.

IN REAL IN HEAVEN, bagian 4 of 5

oleh Galib Mas’ud

.

Dua hari terakhir jelang Tabligh Akbar di Tobadak IV … Tak banyak kulakukan selain mencoba mengenal lebih dekat Pesantren Husnayain Salulebbo …. Sesekali juga saya membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat Tobadak IV seputar persiapan Tabligh Akbar …. Ketika tiba saatnya ….. Sejatinya saya dan Pak Kyai dapat melakukan perjalanan Sendiri dengan naik motor dan menyeberang pakai perahu ke Tobadak ….. Akan tetapi pihak managemen Camp Rante Mario berkeberatan akhirnya diputuskan memakai kendaraan operasional Perusahaan demi menghormati Pak Kyai …. Padahal bila naik motor menyeberang jarak tempuh cuma 15 menit …. Perjalanan naik Mobil memakan waktu tidak kurang 3 jam ….. Medan perjalanan sangat berat … Selain jalan HPH yang telah saya ceritakan sebelumnya …kini kita berhadapan jalan berlumpur dikawasan kebun Sawit di Tobadak II dan III …. Berkali kali Tim rombongan terhenti di jebakan jalan berlumpur dan memaksa kami turun membantu mendorong Mobil …. Dan karenanya membuat gelisah Panitia Tabligh Akbar karena waktu semakin mepet ….. Karena kegelisahan ini ….Pak Muhammadia pun mengirim beberapa unit motor menjemput saya dan Pak Kyai diarea jebakan lumpur …. Saya pun segera meraih satu motor dan membonceng Pak Kyai …. subhanallah ..didepan lumpur semakin tebal …. Motor tak Dapat bergerak ….. Dengan terpaksa dan berkali kali Pak Kyai membantu mengangkat dan mendorong motor dari kubangan lumpur …. Setelah perjuangan berat ini kami lalui kami pun tiba di Tobadak IV …… Hal yang menakjubkan kami saksikan …. Ternyata ribuan masyarakat telah menanti terlaksananya Tabligh Akbar ini…. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru luar Desa Tobadak IV …. Rupanya Panitia sangat antusias atas kegiatan yang baru pertama kalinya dilaksanakan ……..terlebih lagi yang akan ceramah adalah Kyai Kholil dari Jakarta …. Ini sebuah surprise bagi masyarakat Tobadak IV dan sekitar nya …. KH-Kholil-Ridwan

.

Satu jam lebih Pak Kyai memberikan Tablighnya … Masyarakat tentu mengikuti dengan seksama dan penuh perhatian ….terlihat kepuasan masyarakat karena dapat secara langsung melihat Pak Kyai Kholil yang Selama ini dilihatnya dilayar kaca …..dipenghujung ceramah Pak Kyai tak lupa menjelaskan eksistensi Pesantren Husnayain Salulebbo yang didirikannya Bersama PT. Rante Mario dan memohon masyarakat untuk mendukungnya …… Usai penjelasan Pak Kyai ini ….secara spontan Pak Kyai mempersilahkan saya tampil di podium melanjutkan penjelasannya ….. Saya pun menjelaskan apa yang diharapkan Pak Kyai dan PT. Rante Mario dengan secara resmi menganulir niat pendirian Pesantren di Tobadak IV dan mengajak masyarakat menyatukan potensi untuk mendukung kelangsungan Pesantren Husnayain Salulebbo ….karena menjelang magrib ….. Kusudahi sambutanku ….dan kami pun diajak santap malam dirumah Pak Muhammadia (Dayat Chipaz) ……pada acara santap malam ini selain dihadiri Manager Camp jajarannya juga dihadiri Tokoh tokoh masyarakat Tobadak IV …. Kesempatan ini tentu tak disia siakan untuk saling silaturrami ….. BERSAMBUNG

.

IN REAL IN HEAVEN, bagian 5 of 5

oleh Galib Mas’ud

.

gontor 01

Pesantren Gontor

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

guru dari lulusan Gontor mengajar di Husnayain III Salulebbo. Kurikulum Gontor 100% diterapka di Husnayain II. Bahasa Ingris dan bahasa Arab wajib dipakai.

Ada peristiwa kecil yang membuatku terhenyak dan tertawa geli ketika membaca Al Qur’an di Masjid Ali Bin Abi Thalib Pesantren ini ….. kudapati hampir semua kalimat Wal yatalatthaf yang berada ditengah Al Qur’an menghilang ….. dan semua Qur’an bolong pada kalimat tersebut …. rasa ingin tau saya yang kuat mendorong saya menanyai santri santri yang ada …. kenapa tengah Al Qur’an pada bolong ….???? dengan spontan dan lugu ….. mereka menjawab ” kami makan Ustadz” he he … lantas apa manfaatnya …..??? kata mereka “biar bisa hafal Al Qur’an Ustadz” ….. hati saya tentu tergelitik mendengar jawaban polos para santri …. saya pu menjelaskan bahwa sebagaimana ilmu pertama yang mereka dapatkan di Pesantren ” MAN JADDA WAJADA” merupakan modal awal untuk dapat menghapal Al Qur’an …. begitu pula ilmu ilmu lain ” Hanya dengan kesungguhanlah apa apa yang diikhtiarkan bisa digapai” dan bukan memakan petikan ayat Al Qur’an …..

mandi di kali

menikmati air jernih di salulebbo

S

jimat RM

jimat yang dipakai anak santri

.

Suatu ketika ….. dengan tergoda beningnya Sungai Budong Budong 200 meter selatan Pesantren ….saya mengajak seluruh santri untuk berenang bersama … saya sekali lagi terkejut ….. dari keenam belas santri tersebut dipinggangnya terlilit benda asing …. setelah saya tanya … apa itu …??? jawabnya “jimat dari orang tua” …. lantas apa isinya …???? semua menjawab ….tidak tau Ustadz …. he he sekelumit pengalaman bersama santri awal ini juga adalah bahan cerita yang tak habis habisnya …..

.

Sepekan sudah saya bersama Pak Kyai di Pesantren Husnayain Salulebbo ….. sejuta pengalaman dan bahan cerita untuk dibawa pulang sebagai oleh oleh buat istri dan kedua putriku ….. kami pun beranjak pulang …. perjalanan ini relatif sama dengan kedatangan kami …. dua hari perjalanan tentunya sangat melelahkan …. saya pun tiba di Makassar jam 4 subuh ….. kuketuk pintu rumah kontrakanku …. ada perempuan berjilbab yang membuka pintu ….. saya terpaku didepan pintu karena sepeninggalku ke Mamuju ….tak ada perempuan berjilbab dirumahku …… siapakah perempuan berjilbab itu …..?????

.

BERSAMBUNG

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in agama and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s