Husnayain III (2) – Kisah pendirian pesantren Husnayain di Salullebo, Mamuju, Sulawesi Barat.

ImageAtas seizin Bapak KH Galib Mas’ud, Pimpinan Pesantren Husnayain III, Sallulebo, cerita awal pendirian pesantren Husnayain III yang ditulis beliau kami load ke weblog kami di wordpress.com. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat Nya kepada Bapak KH Galib Mas’ud sekeluarga. Amin.

 .

Asa yang terkuak, bagian 1- Oleh Galib Mas’ud.

 .

Medio 1999, aku meninggalkan Tobinta, log pond Rante Mario menuju ke kota Makasar, kami melewati kota Mamuju, kota Majene, kota Pare-pare, sampailah ke kota Makassar …… perjalanan 10 jam yang terasa menjemukan …. pemandangan indah Pantai Barat Sulawesi tak lagi menarik minatku, kehijauan kebun kelapa sawit dengan tandan buah ranum yang besar tergeletak ditepi jalan menunggu angkutan menuju ke pabrik terasa biasa biasa saja, yang ada hanya bayangan pengalaman di Salulebbo terasa terkesan.

..

Salulebbo telah hadir dalam impianku. Inilah kesempatanku untuk menjadi orang yang bermanfaat. Aku alumni Gontor. Aku teringat nasehat pimpinan Gontor :

“Anak-anakku, hidayah itu mahal sekali, maka masuknya santri ke pondok Gontor merupakan hidayah tersendiri. Ingatlah selalu, berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja. Ketahuilah, orang yang berangkat dari ‘mau’ akan menjadi perusak, namun orang yang berangkat dari ‘benar’ akan menjadi orang bermanfaat,” KH.Hasan Abd.Sahal pimpinan Gontor pada Reuni Alumni 1995 di Malang.

Didalam mobil ada Pak Kyai Kholil, alumni Gontor,  dan Pak Hanief AR staf Rante Mario, kepercayaan pak Gufron, keduanya tidur terlelap kelelahan, saya hanya duduk terpaku disamping Pak Herly sang sopir yang dengan tenang mengendarai mobil. Jam menunjukkan pukul 4 Subuh, kami telah memasuki kota Makassar.

.

Tiba dirumah, saya pun berlari kecil dilorong rumahku dan segera mengetuk pintu, cukup lama saya berdiri menunggu istri membukakan pintu …. tak lama kemudian pintu pun terkuak …. Uztad Galib dan istri tercintadihadapanku sesosok perempuan berjilbab dikeremangan lampu. Saya tak percaya karena sepeninggalku ke Mamuju sepekan lalu tak ada wanita berjilbab di rumahku, yang ada, kedua putriku yang masih kecil kecil adalah dan istriku yang terbiasa memakai celana atau rok pendek dan  badannya terbiasa dibalut dengan blus lengan pendek dan kaos singlet ….. kemanapun ia pergi membiarkan rambutnya terurai tanpa penutup kepala …..

Subhanallah Wal Hamdulillah …

.

Sang perempuan pembuka pintu berujar pelan : ” Pa …..ini saya …. saya istrimu …. ” sayapun tak mampu berkata kata lagi selain tak henti bersyukur dan memeluknya erat .

.

Karena Azan Subuh telah berkumandang …. kutepis dulu pertanyaan pertanyaan yang bergelayut dikepalaku dan segera mengambil air wudhu ……. setelah Sholat berjamaah bersamanya dan anak anakku pun telah terbangun maka dialogpun kumulai dengan sebuah pertanyaanku …..” Hidayah apa yang mengantarmu berjilbab istriku ….??????” ia pun menjelaskan bahwa sepeninggalku ke Mamuju ternyata ia banyak berkomunikasi dengan beberapa sahabat sahabatnya ketika kuliah dulu di Universitas Hasanuddin dan diantaranya telah berjilbab sejak masih di bangku kuliah ….. diantaranya adalah Almarhum Marwah F.Dini,SH (Wawa) dan Insinyur Muthmainnah Burhan ….. dalam dialognya mengatakan bahwa sanya Kak Galib sekarang kembali berjuang di habitatnya (Pesantren) setelah sekian lama berperilaku sekuler …… rupanya sepenggal kalimat itu menggugah kawan kawannya untuk kembali mempengaruhi istriku berjilbab sembari mengatakan ……”

.

01 hmi 0Bukankah Kak Galib seorang mantan aktifis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dulu ceramah ceramahnya banyak mempengaruhi Mahasiswi berjilbab ….???? dan bukankah Kak Galib sampai kini menjadi perbincangan alumni HMI karena membiarkan istrinya tak berbusana Muslimah sebagaimana ia anjurkan dulu …???” Memang …….. sejak menikah dulu bukannya tak ada upaya menganjurkan istriku untuk memakai busana muslimah …. kendala utama adalah dari kalangan enam saudara kandungku sendiri yang semuanya kala itu tak satupun berbusana muslimah …. istriku kadang menggugat saya dan siap memakai busana muslimah manakala saya bisa menganjurkan saudara kandungku dulu berbusana muslimah ….. dan inilah yang menjadi tantangan ….. terlebih lagi karena lingkungan pekerjaanku di salah satu instansi Kantor Walikota Makassar (5 tahun terakhir) juga tak banyak mendukungku …… dan karenanya banyak sahabat sahabatku baik dari kalangan HMI maupun Alumni Gontor menyebutku telah menjadi “Sekuler”

.

Perbincangan makin hangat disubuh hari ini ….. sembari kedua putri kecilku duduk dipangkuanku …. istriku pun mengatakan …..” Pa ….. mulai saat ini ….. Papa harus Istiqamah dalam perjuangan Islam …… Mama telah siap segalanya dan mama siap mendidik anak anak selagi Papa dalam Perjuangan dan Mama rela jika pergi ke Mamuju sekalipun ……… ” Subhanallah …..

.

Hatiku bergumam ….. sampai saat saya turun terakhir kali bersama Pak Kyai Kholil Ridwan di Mobil sepulang dari Mamuju tadi …. saya belum memberi jawaban dari harapan Pak Kyai memimpin Pesantren HusnayaiN Salulebbo …… padahal istriku dirumah telah terlebih dahulu menerima amanah tersebut ……. kali ini saya berhutang baru setelah saya lunasi hutang sebelumnya di Tobadak IV ………. saya tak serta merta menjawab harapan istri saya ini ….. saya mencoba mengalihkan pembicaraan sambil bercanda rindu dengan kedua putriku ……. karena mereka kutinggal begitu lama …… saya pun kemudian meminta istirahat setelah menyeruput Teh hangat buatan istriku ……..(bersambung)

( What next …… keputusan apa yang lahir setelah kuterbangun …????

.

Asa yang terkuak, bagian 2 – Oleh Galib Mas’ud.

,

Usai perjalanan panjangku ke Salulebbo selama sepekan sayapun mengambil kesempatan untuk istirahat setelah berbincang dengan anak istriku subuh tadi ….

Menjelang Azan Dhuhur sayapun terbangun ….. pernyataan istriku yang mendesak saya menerima amanah Pak Kyai Kholil Ridwan untuk memimpin Pesantren Husnayain Salulebbo tetap bergelayut dalam benakku …. saya hanya bisa diam membisu dan segera berkemas menuju usaha Wartelku yang kutinggal beberapa hari untuk melakukan rekap mingguan …..

.

Kegusaran demi kegusaran pun terus mengganggu sehingga memaksaku memencet nomor telepon Kantor PT Rante Mario di Kawasan Tallo Lama Makassar dan menanyakan keberadaan Pak Kyai Kholil …. jawaban yang kuterima ” Pak Kyai baru saja diantar ke Bandara menuju Jakarta” …..kututup gagang telepon dan segera mengambil air wudhu ….kulangkahkan kakiku menuju sajadah dan bermuhajadah dalam Istikharahku meminta petunjuk yang terbaik bagi perjuanganku berikutnya ….. terasa memang kehilangan langkah setelah saya menganulir komitmenku dengan masyarakat Tobadak IV membangun Pesantren di Tobadak ….. langkah ini tentu bentuk pelunasan hutang bagi masyarakat Tobadak IV dan memberi ruang bagi Pak Kyai Kholil dan PT Rante Mario membangun dan mengembangkan Pesantren Husnayain di Salulebbo ……

.

Sore harinya …. kucoba menelepon Pak Kyai Kholil di Jakarta ….. jawaban yang kuterima ” Pak Kyai sedang istirahat karena kelelahan dari perjalanan panjang bersamaku dan entah kapan beliau terbangun” ….. sekali lagi …. kuletakkan gagang telepon dan termenung dalam kegusaran yang dalam ….. kuraih kunci mobil Hijet ku dan kuajak kedua putriku sekedar berkeliling kota Makassar dan membunuh rasa galau yang membelenggu fikiranku …….

.

Usai Sholat Isha telepon berdering …. ternyata suara diujung telepon adalah Pak Kyai Kholil Ridwan yang juga baru usai sholat Magrib di Jakarta ….. setelah berbasa basi dengan beliau ….secara perlahan saya jelaskan tentang dukungan istriku untuk menerima pinangan Pak Kyai dan PT Rante mario untuk memimpin Pesantren Husnayain Salulebbo ….. terdengar suara Pak Kyai bertahmid berkali kali sembari mengucapkan terima kasih atas kesediaan saya ini ….. sebelum menutup telepon …Pak Kyai pun meminta saya untuk segera ke Kantor PT Rante Mario besok pagi untuk memverifikasi data dan Curicullum Vitae saya dan didaftarkan sebagai Karyawan PT Rante mario yang diperbantukan di Pesantren Husnayain Salulebbo ….

sungai budong meluap

sungai Budong Budong di Salelebbo. Dalem, deras dan lebar. Ada buaya di hulu pinggir. Sangat berbahaya.

menyeberang Budong budong

Riang gembira waktu menyeberangi sungai Budong budong di Salulebbo .. sungainya dalam dan lebar 200 m.. ditambah deras arusnya .. Kadang ada buaya dipinggir sungai … sangat berbahaya ..

01 RM 05a

pak Waspodo Salamun , pak Yul, pak Djoko Sardjono dihalaman pesantren, 1999

01 RM 07a

pak Hartadji, pak Waspodo Salamun , pak Fahmi semua manager Rante Mario

tommy di NKB

pak Tommy diapit jajaran pimpinan PT Rante Mario. Foto diambil di Nusakambangan 2002

.

Selang tiga hari kemudian ….. melalui jasa kurir saya pun kembali dipanggil menghadap Pak Waspodo Salamun ….. ternyata Surat Keputusan Direktur Utama PT. Rante Mario Bapak Gufron Sumariyono,  yang mengangkat Galib Mas’ud, sebagai Karyawan PT Rante Mario yang diperbantukan di Pesantren Husnayain Salulebbo telah selesai dan sudah ditanda tangani ….. dalam Surat Keputusan tersebut tak hanya sekedar mengangkatku sebagai Karyawan tapi juga melengkapi segala Hak dan Kewajiban yang sama dengan karyawan lain , , tembusan SK tsb ke Tommy Soeharto, sebagai pemegang saham Rante Mario….

.

Tak henti saya ucapkan Syukur dan Tahmid karena saya merasa mendapat penghargaan karena selain pengangkatan diriku sebagai Pimpinan Pesantren Husnayain Salulebbo pun juga melekat sebagai karyawan yang berhak mendapat gaji, tunjangan kesehatan dan tunjangan perjalanan setiap bulannya ….. hal ini tentu diluar perkiraanku …. karena sesungguhnya niat membangun Pesantren tak pernah terbetik ingin mendapat gaji …… Subhanallah… Walhamdulillah Wala Ilaha illalah huallahu Akbar …. kupulang mendekap anak istriku ….. derai airmata tak terbendung lagi …. rasa haru campur bahagia membaur menjadi satu …. dengan satu tekad ….” perjuangan harus berlanjut. Sebagai alumni Gontor aku bangga, aku yakin keputusanku menjadi Pimpinan Pesantren Husnayain III adalah benar. Keinginan guruku agar alumni Gontor menjadi orang bermanfaat akan aku jalani. 

LI,LAA,I KALIMATILLAH” Aamiin …………

BERSAMBUNG

.

.

masjid lama pesantren Husnayain III Salulebo

Masjid yang pertama dibangun di Pesantren Husnayain, 1999, dnamakan masjid Ali bin Abi Thalib. Sederhana dari kayu hutan, namu berkah dan sangat berfungsi menjalanka segala kegiatan pesantren. Alhamdullilah.

G

Pesantren Husnayain III di Salulebo Sulawesi Barat

Bapak KH Cholil Ridwan bersama guru yang pertama mengajar di pesantren, Uztad Muhammad Natsir dan Uztad Ichdam Nuramin

Husnayain 3 (1)

Santri angkatan pertama, 1999, bersama pak Hanif dan guru Uztad Galib Mas’ud

.

Asa yang terkuak, bagian ke 3 – oleh Galib Mas’ud

.

Setelah Surat Keputusan pengangkatanku kuterima sebagai legitimasi untuk berbuat di pesantren Husnayain Salulebbo maka segera kubenahi konsep yang telah ada sebelumnya untuk pembangunan Pesantren di Tobadak … tentunya dengan perubahan seperlunya karena apa yang telah tertuang masih similar dengan hasil dialogku dengan Pak Kyai Kholil Ridwan beberapa waktu lalu dengan penambahan main stream PT Rante Mario yang bersentuhan dengan soal soal Kehutanan … dan karenanya akan di padukan keunggulan system Pesantren dan kecintaan akan alam dan lingkungan kehutanan.

.

Atas desakan yang dahsyat dari istriku …. Maka Mobil kesayanganku pun segera kujual dan menyisakan sebuah Vespa tua dan usaha Wartel mini yang kubangun beberapa tahun silam karena disaat yang bersamaan putri sulungku Niina Asrina Galib akan mendaftar masuk Sekolah dasar (SD Favorit) yang tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit ….. kuurus putriku sambil belanja persiapan keberangkatanku ke Salulebbo … dari kelambu, selimut, alat mandi dan alat makan serta kebutuhan lainya di packing rapi mengingat perjalanan saya amat jauh.

.

Tanggal 10 Agustus 1999 ……. Persiapanku telah matang dan siap untuk berangkat … tidak seorangpun keluarga besarku selain anak dan istriku mengetahui rencanaku ini …… ada kekhawatiran mereka akan marah karena sesungguhnya saya masih tercatat sebagai Staff salah satu Dinas strategis di Pemerintahan Kota Makassar …..

.

Malamnya dengan menumpang Bis Malam PIPOSS saya berangkat dari Makassar menuju Kota Mamuju seorang diri …. Malam merayap …. Para penumpang Nampak telah tertidur pulas … saya hanya berdiam diri sambil fikiran jauh menerawang kerumah ….. kubayangkan kedua putriku tertidur dalam pelukan hangat istriku ….. si Ainun ( Ainun Galib) yang masih berumur dua tahun tentunya belum faham benar apa sebenarnya langkahku …. Nina (Niina Asrina Galib) meskipun telah mulai sekolah tapi saya bisa fahami betapa berat ia kutinggalkan …. Istri dan kedua putriku terlihat menitikkan air matanya ketika melepasku di balik pintu dan entah apa yang terjadi sepeninggalku … dalam lamunan pun aku berdo,a ….” Allahumma Ya Allah …. Kulangkahkan kakiku atas restuMu … kuhadapkan wajahku utuk mendapat RidhoMu dan hanya padaMu kutitip buah hati dan istriku” rupanya penghujung do,aku mengantarku ikut terlelap diatas deru mesin bus yang melaju kencang dan kubaru terbangun ketika Bus berhenti untuk istirahat Sholat Subuh di Tappalang ….

.

Jam 6 pagi Bus tiba di Kota Mamuju dan kupilih untuk beristirahat di bangku panjang terminal sambil menatap keramaian Pasar yang mulai bergeliat …… tidak kurang 5 jam saya menunggu kendaraan berikutnya yang akan mengantarku ke Tobinta …. Jam 11 siang dengan menumpang mobil Kijang tua yang sarat penumpang dan barang berangkat dari Mamuju dengan tujuan Tobinta dan Karossa

.

Menjelang Magrib … sayapun tiba di Log Pond Tobinta …. Rona senja matahari yang memerah dibalik punggung Pulau Kambunong menepis kepenatan berhimpitan di Mobil kecil yang hampir reyot itu …. Sayapun melapor dengan memperlihatkan surat perjalananku dari kantor Rante Mario di Makassar……
Dengan sumringah staff PT. Rante Mario di Log Pond ini menyambutku karena ternyata berita keberangkatanku telah diketahui dan disampaikan melalui Radio all Band (satu satunya alat komunikasi saat itu) sayapun dipersiapkan sebuah Mess yang mirip bungalow menghadap laut untuk tempatku sejenak beristirahat

hutan_salulebbo

.

12 Agustus 1999 …. Dengan dijemput sebuah Mobil Taft Wheel Drive (Milik Manager Camp PT. Rante Mario) saya menuju langsung ke Pesantren di Salulebbo …. Selama 30 km mobil melalui hutan nan hijau nan perawan nan lebat dengan kayu besar besar. Tiba di pesantren Husnayain III,  di ketinggian 1.000 dpl. disaat jam belajar masih aktif, Saya di sambut Ustadz Muhammad Natsir dan Ustadz Ichdam Nuramin …. 16 santri culun yang semuanya pria hanya bisa melongo melihatku dan tak tau apa yang ada dalam fikirannya ……

.

Hari ini 12 Agustus menjadi istimewa bagiku ….. selain karena kehadiranku pertama kali dalam tugas di Salulebbo juga adalah hari kelahiranku ….. hari kelahiran yang biasanya saya rayakan kecil kecilan bersama istri dan anak anakku …… ah … saya jadinya sentimental ….. kini kuberada dalam kesepian yang teramat dalam ….. tiada fasilitas …. Tiada hiburan dan tanpa keluarga yang selama ini dalam kebersamaanku …………… Subhanallah …. Wastagfirullah bukankah saya dalam sebuah jihad …..???? aku bergumam memprotes diriku sendiri ……… Kini Asaku semakin terkuak … dan spiritku terlecut dan siap berlari kencang bersama Salulebbo yang tengah dalam pelukanku ……..

Masjid husnayain III 001

Masjid Ali bin Abi Thalib, d Pesantren Husnayain III

masjid husnayain III 003

Uztad Galib Mas’ud didepan Masjid Ali bin Abi Thalib, 2000

masjid husnayain III oo2

Jalan setapak menuju ke pesantren Husnayain III Salulebo

.

 

kh cholil ridwan dan kh masud galib ditenga h-tengah santri husnayain III salullebo sulbar

Bapak Kyai Haji Kholil Ridwan dan KH Galib Mas’ud ditengah santri Husnayain III Salulebbo. Perjuangan yang gigih dan sungguh2 untuk mengentaskan masyarakat Islam Salulebbo dari kemiskinan dan kebodohan.

husnayain salulebo mamuju sulbar 01

masjd husnayain III

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in agama and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Husnayain III (2) – Kisah pendirian pesantren Husnayain di Salullebo, Mamuju, Sulawesi Barat.

  1. Galib Mas'ud says:

    Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh …… Pak Gufron yang dirahmati Allah Subhanahu wata,ala ….. saya sangat senang dan bangga Bapak memposting tulisan sederhana saya dalam Blog Bapak ……meskipun saya sadari bahwa tulisan saya ini sejatinya masih perlu diedit disana sini ….. yang paling membanggakan karena Bapak telah melenglkapinya dengan gambar gambar yang sesuai dengan alur cerita …… semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi kita semua…… khususnya bagi pengembangan dan kelanjutan perjuangan membina Pesantren Husnayain Salulebbo yang kita cintai ….Aamiin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s