Ibunda (1) – Perias manten

Ibu saya dikenal dengan nama Bu Giek adalah perias manten yang populer di Pati dan sekitarnya di tahun 70-80 an. Beliau adalah perias manten jawa tradisionil yang akan puasa minimum 3 hari sebelum merias pengantin. Puasa mutih sambil terus menerus berdoa agar riasannya bagus, riasannya disukai oleh banyak orang, tidak diganggu macam-macam, termasuk mendoakan agar pengantin akan senang dan hidupnya sukses di kemudian hari. Sebagai perias penganten ibu mempunyai penghasilan yang cukup dan statusnya juga terhormat. Ini tidaklah mengherankan karena juru paes seperti ibu saya memiliki ketrampilan dan keahlian khusus, juru paes sering disebut dukun manten.

Paesan adalah tata cara mempercantik wajah calon pengantin puteri dengan menggunakan sarana lengkap seperti bahan paes, sarana dan gaya tertentu. Paesan sangat diperhatikan karena seorang pengantin adalah raja dan ratu sehari yang menjadi pusat perhatian, sehingga dandanannya harus berbeda dengan yang lain sesuai dengan statusnya sebagai raja dan ratu sehari. Harus kelihatan  anggun, cantik, gagah dan menarik. Untuk rias pengantin Jawa itu ada pakem soal warna, bentuk dan guratan untuk mendandani si pengantin. Pokok-pokok paes adalah paes wajah dan busana. Tidak ada pengantin yang bisa memaes dirinya sendiri. Paesan pengantin adat Jawa sangat rumit. Semua acara merupakan simbol-simbol dan perlambang yang seharusna diadakan.


Waktu pengantin dipaesi biasanya sudah disediakan beberapa sesaji oleh perias mantennya, seperti
1. Sesaji Alas Paes.
2. Sesaji Paes ditempat di kamar pengantin pada waktu rias
3. Sembanga

Tata rias busana adat pengantin Jawa Solo dan Jawa Yogya adalah suatu karya budaya yang sacral, agung, elegan dan penuh makna filosofi tinggi. Tradisi tata rias busana ini terinspirasi dari busana para bangsawan dan raja keraton Kasunanan Surakarta, Istana Mangkunegaran, keraton Kasultanan Yogyakarta dan istana Pakualaman.

Gaya Solo

001solo-putri02Untuk tata rias busana pengantin Solo Putri, pengantin pria menggunakan baju beskap langen harjan dengan blangkon dan batik wiron bermotif Sidoasih prada. Penganten wanita menggunakan kebaya panjang klasik dari bahan bludru warna hitam berhias sulaman benang keemasan bermotif bunga manggar dan bagian bawah berbalut kain motif batik Sidoasih prada. Tata rias pengantin wanita Solo Putri laksana putri raja dengan paes hitam pekat menghiasi dahi. Rias rambut dengan ukel besar laksana bokor mengkureh (bokor tengkurep), berhias ronce melati tibo dodo, diperindah perhiasan cundhuk sisir dan cundhuk mentul di bagian atas konde.

 tomi-1Gaya lain yang terkenal adalah Solo Basahan. Busana Solo Basahan berupa dodot atau kampuh dengan pola batik warna gelap bermotif alas-alasan (binatang) dan tetumbuhan hutan. Seiring berjalannya waktu, pilihan motif dan corak warna dodot semakin beragam namun pilihan motif batik kain dodot tetap berpegang pada filosofi derajat mulia yang layak dikenakan pasangan pengantin.

Makna dari busana basahan adalah simbolisasi berserah diri kepada kehendak Tuhan akan perjalanan hidup yang akan datang. Busana basahan mempelai wanita berupa kemben sebagai penutup dada, kain dodot  atau kampuh, sampur atau selendang cinde, sekar abrit (merah) dan kain jarik warna senada , serta buntal berupa rangkaian dedaunan pandan dari bunga-bunga bermakna sebagai penolak bala.

Busana basahan pengantin pria berupa kampuh atau dodot yang bermotif sama dnegan mempelai wanita, kuluk (pilihan warnanya kini semakin beragam, tidak hanya biru sebagaimana tradisi Keraton) sebagai penutup kepala, stagen, sabuk timang, epek, celana cinde sekar abrid, keris warangka ladrang, buntal, kolong keris, selop dan perhiasan kalung ulur.

 Busana Sikepan Ageng / Busana Solo Basahan Keprabon adalah salah satu gaya busana basahan yang diwarnai dari tradisi para bangsawan dan raja Jawa yang hingga kini tetap banyak diminati. Mempelai pria mengenakan kain dodotan dilengkapi dengan baju Takwa yakni semacam baju beskap yang dulu hanya boleh dipergunakan oleh Ingkang Sinuhun saja. Untuk mempelai wanita memakai kain kampuh atau dodot dilengkapi dengan bolero potongan pendek berlengan panjang dari bahan beludru sebagai penutup pundak dan dada. 

 Gaya Jogja

Tata rias dan busana pengantin khas Jogjakarta tentunya terinspirasi dari corak busana pengantin tradisi Keraton Jogjakarta. Ada beberapa style dari pengantin Jogja, antara lain ada Paes Ageng atau disebut Kebesaran, Paes Ageng Kanigaran, Jogja Putri dan Kesatrian.

001paesagengyogjaYang paling terkenal tentunya gaya Jogja Paes Ageng atau Kebesaran. Pengantin Jogja Paes Ageng menggunakan dodot atau kampuh lengkap dengan perhiasan khusus. Paes hitam dengan sisi keemasan pada dahi, rambut sanggul bokor dengan gajah ngolig yang menjuntai indah, serta sumping dan aksesoris unik pada mempelai wanita. Pada pengantin pria, memakai kuluk menghiasi kepala, ukel ngore (buntut rambut menjuntai) dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil.

001Jogja Paes Ageng KanigaranKemudian ada Paes Ageng Jangan Menir. Pengantin pria memakai bahu blenggen dari bahan beludru berhias bordir, pinggang dililit selendang berhias pendhing, dan kuluk kanigara menutup kepala. Paes Ageng Jangan Menir tidak memakai kain kampuh maupun dodot. Kalau Paes Ageng Jangan Menir tidak memakai dodot kampuh, Paes Ageng Kanigaran justru menggunakan dodot kampuh yang melapisi cinde warna merah keemasan pada busana pengantin corak Kanigaran. Kebaya bludru berhias benang keemasan menyatu dengan dodot kampuh, cinde dan detil riasan serta perhiasan.

Untuk Jogja Putri, tata riasnya agak berbeda dengan Paes Ageng. Pengantin Jogja Putri menggunakan sanggul tekuk berhias sebuah mentul besar menghadap belakang dan pelat gunungan bagi mempelai wanita. Busana tradisionalnya menggunakan kebaya beludru panjang berhias sebuah bordir keemasan dan kain batik prada. Namun dengan banyaknya sentuhan modern, muncullah gaya Kesatrian Modifikasi yang terinspirasi dari tata rias Jogja Putri. Yang membedakan adalah busana yang digunakan adalah kebaya bahan lace berpadu kain prada, bersanggul gelung tekuk berhias cundhuk mentul (kembang goyang) serta untaian melati menjuntai di dada . Mempelai pria berbusana beskap putih dipadu bawahan kain batik prada serta blangkon penutup kepala.


  Klik disini

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Ibunda (1) – Perias manten

  1. Pingback: Keina’s Wedding Dream : DIY Javanese Syar’i Shabby | Keina Tralala

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s