Ibunda (6) – kebanjiran di Semarang

ImageAdik saya no 11 Titik berceritera. Nama saya Titik, putra ibunda no 11, hampir ragil, saya masih punya adik satu laki-laki bernama dik Ciput, yang sekarang menjadi Rektor UKWK di Malang. Saya sekarang bekerja di Asuransi Sinarmas, posisi di perusahaan asuransi sudah lumayan tinggi, maklum sudah bekerja 35 tahun, sudah makan asam garam didunia perasuransian.
Saya ingin sharing menceriterakan tentang ibunda. Waktu saya kecil saya sangat disayangi ibunda, sekarang gantian saya yang amat sayang ke ibunda. Mulai tahun 1970, satu demi satu mas-mas dan mbak-mbak lulus SMA N Pati dan meninggalkan kota Pati. Tinggal saya sendirian di rumah menemani ibunda.
Menjadi anak ragil seorang diri banyak senangnya ada sedikit susahnya. Ini bagian cerita senangnya. Saya masih di SMP dan SMA saya teringat kalau ibu mendapat order merias penganten, saya sering diajak untuk menemani dan menjadi asisten ibunda. Saya tidak paham merias penganten, saya bertugas menyiapkan peralatan yang akan dipakai ibu. Selama ibu merias penganten kerjaan saya makan sampai puas. Sesudah selesai merias, tugas saya mengatur makanan yang diberikan atau dihadiahkan oleh pemangku hajat untuk dibawa pulang. Ada buah2an, ada kue2 dan ada makanan lain. Yang saya senangi karena selalu ada 1 ingkung ayam utuh yang digoreng untuk kami bawa pulang. Saya paling rajin untuk membereskan semua makanan untuk dinikmati dirumah. Tugas sebagai asisten perias manten ini yang saya sukai, dan akan saya kenang terus. Bulan2 yang banyak penganten, menurut hitungan jawa, yang saya ingat adalah Rejeb nanti penganten banyak kawan, Jumadilakhir nanti penganten menjadi kaya akan emas dan perak, bulan Ruwah nanti akan selamat perkawinannya, bulan Puasa .. wah yang ini jangan dipakai karena banyak bencana, bulan Syawal nanti rejekinya sedikit banyak hutang. Boleh percaya boleh juga tidak, berlaku untuk orang Jawa semacam saya.</p>
<p>Kegiatan ibu banyak ada arisan dengan ibu2 pejabat Muspida, pertemuan yang dimanfaatkan oleh ibu  untuk menjajakan batik model baru, kain brokat model baru, dan perhiasan emas satu set. Kalau ada yang membeli tugas saya yang menagih, karena ibu memberi servis boleh bayar tiga kali. Kata ibu hasilnya lumayan untuk membayar ongkos pondokan mas2 dan mbak2, walau sudah disokong oleh mas Anto atau mas Yono atau mas Jadik.
banjirkaligaweCerita yang unik lainnya. Saya pernah ditugaskan sebagai Branch Manager Asuransi Sinar Mas untuk daerah Jawa Tengah 1991 sampai 1993. Saya menyewa rumah di Perumahan Puri Anjasmoro. Karena dekat saya sering pulang ke Pati, lebih2 kalau  week end. Kondisi kesehatan bapak kurang bagus. Waktu itu penyakit diabet bapak sudah mulai parah, maka bapak setiap hari rabu periksa ke dokter Djoko di Semarang. Kebetulan pas musim hujan yang tidak berhenti-henti, air mulai membanjiri perumahan Puri Anjasmoro. Bapak dan ibu ada di Semarang untuk periksa, air banjir naik sudah menggenangi jalan dan masuk rumah tetapi masih sedikit, lalu Rabu sore dibersihkan oleh pembantu. Hari kamis bapak dan ibu mau pulang ke Pati, tetapi saya tahan kaarena hujan masih turun agar pulangnya hari sabtu pagi bias saya ikut. Nggak tahunya hujan deras tidak berhenti dan malam jam 21:00 terjadi banjir bandang. Air masuk kerumah pelan2 naik dan tahu2 sudah sampai sepinggang. Kami panik. Listrik mati. Suasana dirumah gelap. Bayangkan air didalam rumah sampai sepinggang. Ibu naik ke meja makan dan duduk diatas meja makan semalam suntuk, dari jam 9 malam sampai pagi. Pengalaman kebanjiran pertama bagi bapak, ibu dan bagi saya sendiri. Oh begini toh kalau rumah kebanjiran. Saya menikmati banjir naik pelan sampai setinggi pinggang. Ibu orangnya sabar. Tidak terlihat diwajah beliau rasa sedih atau murung. Ibu senyum terus dan menasehati ke saya agar tetap sabar dan tenang. Peristiwa banjir bandang di Puri Anjasmoro bersama bapak ibu tidak akan pernah saya lupakan.
Ibunda yang Titik sayangi, dihari ulang tahun ibu yang ke 90 ini Titik mengucapkan selamat ulang tahun. Saya menyaksikan sendiri perjuangan ibu mengasuh, mendidik, memberi makan kepada 12 orang putranya. Ibu tidak pernah mengeluh. Ibu tidak pernah  merasa capek. Ibu merasa bersyukur diberi 12 anak, yang tidak cacat, yang dengan sabar, dengan ikhlas Ibu pelihara kami semua. Ibu adalah pahlawan keluarga. Ibu selalu mendorong kami semua. Matur nuwun ibu. Saya tidak mampu membalas kasih sayang yang ibu berikan kepada kami. Ya Tuhan ampunilah dosa ibuku. Terimalah semua amal beliau selama hidup didunia, selama membesarkan 12 orang anak2nya dengan sabar dan ikhlas. Ya Tuhan berikan kepada ibu tempat di surga. Amin.semarang banjir semarang banjir 01

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s