Ibunda (10) – Ibu bapak mendorong saya agar maju

Tulisan dari Kristiyono adikku putra ibu Sugiyono no 10.

Ibunda Sugiyono yang Kris sayangi. Izinkan Kris menyampaikan ucapan Selamat Ulang Tahun yang ke 90.

ImageLuar Biasa. Hebat sekali. Ibu sudah melahirkan 12 orang anak dengan segala penderitaan terutama diwaktu sedang hamil 12 orang anak, lalu ibunda juga turut aktif menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk membantu ekonomi keluarga, agar 12 anak yang ibu lahirkan dapat makan, minum, berpakaian dan bersekolah dengan normal.

Saya masih teringat betapa ramai dan hebohnya rumah di Pati di Jalan Pangeran Diponegoro nomer 108, pagi menjelang mau sekolah. Andre dan saya bergantian mengisi jeding kamar mandi agar selalu tersedia air untuk mandi mbak2 dan mas2. Ibu setiap pagi mengontrol makanan pagi yang termasuk sederhana, nasi dengan lauk tempe goreng dan sambel trasi dari Juwana. Dan ibu masih sibuk memindahkan es mambo dari refrigerator kedalam termos agar saya dan Andre dapat membawa ke warung2 untuk dititipkan dijual.

Setelah semua anak kesekolah, rumah memang sepi tetapi ibu masih berkutat dan sibuk dengan macam2 mulai ngurusin mbok bakul sayuran yang membawa sayur, dan ikan bandeng. Ibu masih aktif berkomunikasi dengan ibu Darsono dengan 1001 macam urusan mulai merias penganten, urusan doa Rosario bersama, urusan organisasi WK.

Siang hari kami pulang sekolah, ibu masih harus mengontrol agar tersedia makanan siang buat Kris, Titik, Ciput, mas Andre, mbak Wawang, mbak Nunuk. Sampai mas Andre lulus SMP Keluarga lalu memutuskan untuk sekolah di Seminari Mertoyudan Magelang. Saya melihat sendiri bahwa bapak dan ibu ikhlas melepas mas Andre yang baru berumur 15 tahun, atas kemauan sendiri, pergi dari rumah Pati untuk sekolah di seminari Mertoyudan. Malamnya kami dikumpulkan untuk berdoa Rosario bersama dan memohon melalui Bunda Maria agar selama Andre sekolah di mertoyudan selalu dalam lindungan Tuhan.

Sesudah mas Andre pergi sayalah satu2nya putra laki2 yang tinggal di pati, karena Ciput masih kecil masih SD jadi tugas mengisi jeding jatuh ke saya. Beban dirumah berkurang satu. Padahal waktu itu saya sedang senang2nya ikut latihan drumband pimpinan pak Dalidjo. Dengan lemah lembut ibu selalu mengingatkan agar sebelum pergi latihan drumband semua tugas rumah dapat diselesaikan. Pulang dari latihan drumband saya mandi dan kemudian mengerjakan PR dan makan malam. Sebelum tidur masih sempat membantu membungkusi es mambo. Kris juga ikut latihan gamelan di rumah pak Supar yang terletak dibelakang rumah.

Sampai Kris SMA Kris masih nganter es mambo ke warung2, karena pendapatannya lumayan sekali. Setiap hari dihitung berapa sisanya dan dicatat dibuku catatan es mambo. Kris sekolah di SMA Negeri Pati selama 3 tahun, belum pernah juara, yang dijaga setiap tahun Kris naik kelas. Terima kasih kepada bapak dan ibu yang selalu memberikan dorongan agar Kris tetap memiliki semangat untuk sekolah, walau kadang2 ada kondisi negatip artinya Kris merasa jenuh dengan sekolah. Aneh memang, tetapi ya begitulah. Spirit sekolah Kris dapat terjaga karena dorongan dari Bapak dan Ibu agar nantinya tidak menjadi orang yang kleleran. Harus mampu membiayai hidup, mampu mencari nafkah yang halal untuk membiayai hidup bersama keluarga yang Kris akan bangun. Waktu itu itu Kris belum berpikir seperti itu.

Lulus dari SMA Kris meneruskan ke Sekoah Pelayaran P3B di Semarang. Kris dapat masuk ke P3B Semarang karena ditolong oleh teman mas Jadik lulusan AIP yang menjadi dosen di P3B. Sesudah 3 tahun sekolah di sekolah pelayaran P3B Semarang, lalu Kris bekerja dikapal selama 4 tahun, di bagian mesin kapal. Selama 3 tahun sudah banyak pelabuhan yang Kris singgahi. Semua pelabuhan di Asia Tenggara dan Asia sudah Kris lihat.

Dan di tahun keempat Kris berlayar ke Eropa. Tujuan kapal berlabuh di Antwerpen, kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa setelah Rotterdam, dan kota terbesar kedua di Belgia setelah Brussel. Mbak Nunuk dan mas Pitono sedang bertugas sebagai diplomat di KBRI di Brussels, maka saya minta izin turun dari kapal menuju ke Brussel untuk menengok mbak Nunuk. Sesudah berdiskusi dengan mbak Nunuk dan mas Peter Pitono Kris memutuskan tidak kembali kekapal. Alias melarikan diri. Saya kursus bahasa Inggris, sambil mengurus izin tinggal di Belgia dibantu mas Peter Pitono. Berhasil.

Ketika mbak Nunuk dan mas Peter meninggalkan Brussel mereka tidak kawatir, karena izin tinggal di Belgia sudah ada ditangan. Benelux itu terdiri dari Belgia, Belanda dan Luxemborg, ketiganya dalam satu administrative bersama. Maka saya bebas mencari pekerjaan di Belgia atau di belanda. Nasib baik untuk Kris karena akhirnya mendapatkan pekerjaan di Belanda, menetap di Den Haag sampai sekarang. Kris bekera di Perusahaan Kereta Api milik Kerajaan Belanda di bagian teknis mesin.

Sekarang Kris sudah berkeluarga. Istri Kris namanya Sila. Anak ada dua, Reza dan Neyla. Kami hidup berbahagia di Den Haag. Kris tidak kecewa memutuskan untuk tinggal di Den Haag. Banyak orang Indonesia dan membuat hidup kami kerasan. Alhamdullilah.Image Gallery 10 kris3

About Gufron Sumariyono

Born in Pati, Central Jawa on Nov 5, 1945. Retired in 2004. Joined ESQ group. Executive of LK ESQ and Yayasan Wakaf Bangun Nurani Bangsa. Believe in the Islamic Socio Economic Concept.
This entry was posted in keluarga and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s